
Hari ini Nadia dan Rika menemui Mentari di kediaman Azka, keduanya berjalan dengan anggun memasuki perkarangan rumah Azka yang terlihat bersih dan nyaman. Mereka sengaja datang pagi-pagi di saat Azka berangkat ke rumah sakit agar mereka bisa leluasa untuk berbicara dengan Mentari. Kemarin Nadia telah melakukan kesepakatan dengan orang yang menabrak Ainun, dia akan menjadi saksi di persidangan nanti. Orang itu sekarang menjadi tahanan, polisi harus mengawasi orang tersebut.
Mentari menyambut kedua tamunya itu dengan senyum yang tulus, Nadia dan Rika bisa melihat ketulusan wanita tersebut. Keduanya langsung masuk setelah dipersilahkan, Nadia masih terlihat canggung. Ia merasa malu dengan atas apa yang telah ia lakukan selama ini kepada Mentari. Mentari hanya tersenyum ketika menyadari sikap Nadia, dia tanpa sungkan memeluk gadis itu. Nadia terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Mentari, dan setelah merasa tenang ia pun membalas pelukan Mentari seraya meminta maaf. Rika hanya tersenyum menatap keduanya.
"Tante Nadia !!! Tante Rika !!!" Ainun berlari memeluk keduanya, Nadia semakin terharu.
"Sayang jangan begitu, kasian tante-tante kamu. Disuruh duduk dulu dong,"
Ainun langsung menarik tangan Nadia dan Rika dan memilih duduk di sofa dekat mereka. Mentari sangat bahagia melihat putrinya tersenyum bahagia, dia bersyukur Ainun memiliki sifat sepertinya yang tidak mudah membenci seseorang.
"Kenapa tante baru datang? Aku kangen dengan tante, begitu pun dengan eyang dan Om Yusuf,"
Deg
Hati Mentari berdesir mendengar nama seseorang yang sangat dirindukannya. Jika ia bisa jujur, ia ingin sekali mengatakan hal yang sama dengan ucapan putrinya. Tetapi apakah ia bisa berkata seperti itu, sedangkan mereka kini telah memutuskan untuk berhenti berkomunikasi untuk menjaga perasaan Azka.
Tik..
Tanpa ia sadari setetes air jatuh di kedua pipinya, ia buru-buru berbalik dan menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan putrinya. Nadia yang berada tepat di sampingnya bisa melihat Mentari yang menghapus air matanya, ia tahu betul arti air mata itu. Ia bisa melihat kerinduan yang amat besar di kedua mata indah itu.
"Oya kak, sebenarnya kami ke sini ingin membicarakan sesuatu. Ini sangat penting tetapi bisakah kita berbicara tanpa Ainun?" Nadia berbisik kepada Mentari, ia tidak ingin Ainun mendengar percakapan mereka. Mentari mengangguk lalu menoleh ke arah putrinya.
"Sayang, bukankah kamu memiliki tugas untuk besok? sebaiknya kami kerjakan sekarang. "
Walaupun belum puas berbicara dengan Nadia dan Rika, Ainun memilih pergi. Ia tahu jika ada sesuatu hal yang penting yang ingin ketiganya bicarakan yang tidak bisa ia dengar. Sebelum pergi, ia menyalami dan memeluk Nadia dan Rika terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kak silahkan baca chat ini," Nadia memilih menyuruh Mentari sendiri yang membaca chat Nabila dan Azka.
Setelah membaca isi chat itu, Mentari terlihat menegang. Ia tidak percaya dengan apa yang ia baca, benarkah Azka tega melakukan itu? Tapi chat itu benar-benar nyata. Matanya beralih menatap Nadia dan Rika seolah meminta penjelasan atas apa yang sebenarnya terjadi. Jujur saja ia bingung dengan semua ini, Otaknya masih menolak informasi tersebut.
"Saya menyadap WA Kak Nabila, saya ingin mencari tambahan bukti untuk menjerumuskan Kak Nabila ke dalam penjara. Tetapi saya malah mendapat informasi itu,"
"Jadi benar mereka telah merencanakan semuanya?"
"Iya kak, saya harap kakak mau menuntut mereka. Sebenarnya Bang Yusuf yang mau ke sini tapi dia tidak mau membuat Kak Azka marah dan memberi masalah buat kakak, jadi kami deh yang di suruh ke sini," Jelas Nadia.
"Tapi aku tidak memiliki kenalan seorang pengacara, aku juga tidak...."
"Tenang aja kak, Bang Yusuf telah mengurus semua. Kakak hanya perlu melapor aja kok. Karena kakak dan Ainun adalah korban jadi hanya kakak yang bisa melapor,"
Nadia dan Rika mengangguk, mereka bersyukur jika Mentari mempercayai mereka. Mentari langsung naik ke kamarnya dan menyuruh Ainun berganti pakaian, mereka akan pergi ke pondok pesantren. Mereka harus bergerak cepat sebelum Azka kembali dari rumah sakit.
Di tempat lain
Azka berlari menuju mobilnya, entah mengapa hatinya terasa sesak. Ia tiba-tiba ingin segera pulang, perasaannya tiba-tiba aneh. Setelah memasang seatbelt, ia langsung menjalankan mobil secepat mungkin.
Hatinya semakin menggebu-gebu, jantungnya berdetak sangat kencang ketika melihat rumahnya tampak sepi. Azka langsung berlari masuk, dan meneriaki nama Mentari dan Ainun.
Tak seorang pun yang menyahut panggilannya, apakah mereka kabur? Hatinya mulai berkecamuk, ia mencari keduanya di segala sudut rumah dan semua ruangan tetapi tidak ada.
Setelah lelah mencari keduanya, Azka memilih duduk mengatur nafasnya. Ia benar-benar bingung, entah kemana mereka pergi? Apakah benar mereka kabur? Tapi kenapa tiba-tiba Mentari kabur? Ahh memikirkannya saja sudah membuat kepalanya serasa mau pecah.
__ADS_1
Di tempat lain Mentari didampingi Yusuf dan pengacaranya melaporkan Azka dan Nabila, mereka menyerahkan beberapa bukti. Persidangan akan dilangsungkan minggu depan, surat pemanggilan pengadilan akan dikirimkan ke kediaman Azka dan Nabila.
***
Hari persidangan
Azka dan Nabila duduk berdampingan didampingi dengan pengacara masing-masing, matanya melirik ke bagian penuntut, di sana terlihat Mentari didampingi jaksa penuntut. Nabila mencari keberadaan Yusuf, ternyata lelaki itu berada di kursi pengunjung sidang bersama dengan kedua orang tua, serta Nadia dan Rika. Di sisi lain terlihat keluarga Azka yang nampak menyedihkan. Mereka menatap putranya dengan tatapan sendu. Selama ini mereka menganggap semua berjalan aman saja, dan berita tentang penangkapan putranya seminggu lalu membuatnya terpukul. Apalagi yang melaporkan putranya adalah wanita yang dicintainya.
Persidangan berjalan lancar, semua bukti dan seorang saksi memperkuat tuntutan jaksa. Kedua terpidana dijatuhi hukuman penjara 5 tahun dengan pasal 339 KUHP tentang perencanaan pembunuhan. Keluarga Nabila dan Azka hanya bisa menangis. Mentari menatap Azka dengan tatapan sendu, walau bagaimana pun lelaki itu pernah menjadi seorang yang spesial dalam hidupnya dan merupakan ayah dari putrinya.
Azka meminta izin untuk menemui Mentari, ia ingin meminta maaf dan memohon agar putrinya tidak perlu tahu kejahatan yang ia lakukan. Ia tidak ingin putrinya kelak membencinya. Mentari hanya mengangguk, sejujurnya tanpa diminta, ia juga tidak akan menceritakan keburukan Azka kepada Ainun. Di tidak ingin Ainun membenci ayahnya.
Setelah selesai berbicara Azka dibawa keluar dari ruangan, matanya beralih ke seorang wanita baya yang berdiri menatapnya dengan tatapan sendu. Ada sebuah kesedihan melihat putra pertamanya digiring aparat. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat putra yang ia sayangi berada di posisi seperti itu, seburuk apapun perilakunya dan sebesar apapun kesalahan yang dilakukan seorang anak, hatinya akan tetap sakit.
Azka menatap sang bunda dengan tatapan penuh penyesalan, sang ayah yang berada di samping bundanya hanya bisa menunduk malu. Ia tidak bisa memaklumi perbuatan Azka, kesalahannya kali ini amat fatal. Ia seorang ayah, ia merutuki sikap Azka yang tega menyuruh seseorang mencelakai anaknya sendiri. Ada kekecewaan yang sangat besar yang ia rasakan, baginya ia telah gagal mendidik Azka menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Azka yang melihat sikap sang ayah yang memilih menunduk hanya bisa bersabar, ia tahu betul saat ini lelaki itu sangat kecewa kepadanya. Ingin rasanya ia berlari dan meminta maaf kepada kedua orang tuanya karena telah mempermalukan keduanya.
Azka dan Nabila hanya bisa tertunduk lesuh dibawa oleh petugas meninggalkan ruangan, mereka sudah tidak sanggup menatap orang yang ada di ruangan itu. Menyesal ? Iya mereka amat menyesal, tapi apa gunanya penyesalan itu, semua telah terjadi. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
*
Terima kasih telah membaca 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar ya 😊
Tetap patuhi protokol kesehatan 🙏
__ADS_1