
Tanpa terasa waktu berputar dengan cepatnya, Semester Ganjil akan berakhir yang menandakan kebersamaan Mentari dan sahabat-sahabatnya akan berakhir. Ia sudah mulai mengurus perpindahannya.
Hari-hari yang dilaluinya semakin menyenangkan, karena ia dan Azka kembali seperti itu, walaupun di sekolah mereka harus menjaga jarak demi menjaga perasaan pasangan mereka.
“ Bagaimana urusan kamu Tar, besok ulangan sudah berakhir,” ujar Monika yang duduk di samping Mentari. Seperti biasanya mereka nongkrong di kantin sambil bercerita.
“ Semua sudah beres, tinggal nunggu hasil ulangan untuk pengisian rapor di semester ini,” ujar Mentari sambil memakan baksonya.
“ Kamu mau lanjut di mana nanti kalau kuliah ?” tanya Laura yang duduk di dekat Rio.
“ Aku ingin seperti bunda jadi Dokter Spesialis Anak, rencananya aku mau lanjut di Oxford,” ujar Mentari sambil membayangkan dirinya memakai jas kebesaran para dokter.
“ Wah, berati kita bakal satu Universitas dong, tapi aku ambil Manajemen dan Bisnis sih, Papa aku yang suruh,” ujar Laura dengan lesuh membayangkan ucapan papanya saat memaksanya mengambil jurusan bisnis.
“ Benarkah? Berarti kamu akan bareng Rio dong Ra.” Ujar Mentari dengan semangat.
Karena pasalnya demi bersama Mentari, Rio akan kuliah di Oxford walaupun beda jurusan, karena seperti papanya Laura, Rio pun dipaksa oleh papanya mengambil jurusan bisnis.
“ Bagus dong, setidaknya aku ada teman di sana,” ujar Laura dengan senyum bahagianya.
“ Kalian bagus iya, kalian akan ke luar negeri, sedangkan aku lanjut di sini,” ujar Monika dengan lesuh.
“ Tapi kan Radit juga lanjut di sini kan?” tanya Rio, yang diangguki Monika sambil tersenyum. Dia sudah janjian dengan Radit untuk mengambil jurusan perhotelan.
“ Azka mau lanjut di mana sayang?” tanya Rio.
“ Ambil Kedokteran juga, sama dengan aku di Oxford. Cuman nanti kalau untuk keprofesian nanti pas ambil spesialis beda ma aku, dia mau jadi spesialis jantung,” ujar Mentari.
“ Berarti kalian akan lama dong di sana, karena Ambil gelar S,Ked, terus Dr, baru ambil gelar Sp,?” tanya Rio.
Mentari hanya mengangguk. Ucapan Rio memang benar untuk menjadi seorang dokter spesialis itu susah banget, tapi demi cita-citanya menjadi seperti ibunya, ia akan melalui tahapan-tahapan itu dengan senang hati.
***
Hari ini adalah hari terakhir Ulangan Semester Ganjil, sangat jelas terpancar wajah puas nampak di wajah cantik Mentari. Bagaimana tidak, sebagai penutup ulangan hari ini adalah mata pelajaran kesukaannya, yaitu Biologi.
Tak lama kemudian Azka dan Rio juga keluar, seperti Mentari, Azka juga tersenyum legah karena ia bisa menjawab dengan baik pertanyaan ulangannya tadi. Tapi berbeda dengan Rio, ia malah keluar dengan tampan lesuh.
“ Sepertinya kamu lesuh banget Yo,” ujar Azka menggoda sahabatnya itu.
“ Kamu kenapa sayang?” tanya Mentari mendekati Rio.
“ Aku jawabnya asal tadi, aku pusing, ada beberapa bagian aku tukar-tukar kayaknya,” ujar Rio sambil menyandarkan kepalanya di pundak Mentari. Mentari hanya terkekeh geli melihat wajah lesuh kekasihnya itu.
__ADS_1
“ Makanya kalau punya basis Ilmu Sosial jangan ambil jurasan IPA kan jadinya gini,” ejek Azka sambil tertawa. Mentari pun memukul Azka yang malah membuat Azka semakin tertawa lepas.
Tak lama kemudian Andika berlari menghampiri ketiganya. Sontak membuat ketiganya menatap Andika dengan heran, karena saat ini Andika terlihat kacau, bahkan matanya terlihat memerah.
“ Kamu kenapa dek?” tanya Azka. Andika mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab.
“ Ada yang gangguin kamu ?” kini Rio yang mendekati Andika.
“ Bukan, bukan karena itu,” Andika masih mencoba mengatur nafasnya.
“Itu, Mama nyariin Kak Tari dan Kak Azka, mama ada di ruang kepala sekolah,” ujar Andika sambil ngos-ngosan.
“ Buruan kak,” teriak Andika, mereka pun berlari ke arah ruang kepala sekolah.
Sesampai di sana, mereka terkejut karena keadaan Mamanya Azka tidak kalah kacaunya dengan keadaan Andika.
“ Mama kenapa?” tanya Azka yang heran melihat penampilan mamanya yang hanya memakai Daster ke sekolah.
Baru kali ini mamanya keluar rumah dengan pakaian itu. Bukannya menjawab, Bu Santi malah mendekati Mentari dan langsung memeluknya.
“ Tante kenapa?” tanya Mentari yang kaget karena tiba-tiba Tante Santi memeluknya.
“ Kamu yang sabar ya nak, apa pun yang terjadi, Tante, Om, Azka dan Dika akan selalu bersama mu,” seketika detak jantung Mentari semakin kencang.
“ Maksud mama apa?” tanya Azka yang masih belum mengerti situasi saat ini.
Bagaikan tertusuk pisau, dada Mentari menjadi sesak, kedua matanya sudah terasa panas, ia hanya terdiam menatap tante Santi.
Dring.. Dring.. dring..
“ Halo pa,” ujar Bu Santi
“....”
“ Innalillahi wainnailahi rajiun, baik pa,” ujar Bu Santi lalu mematikan telponnya.
Tanpa diduga, Mentari yang mendengar kata terakhir Bu Santi pun merasa lemas, dan ia terjatuh tak sadarkan diri, mebuat orang di sana keget.
Azka yang berdiri di belakang Mentari dengan sigap langsung menangkap Mentari, dia langsung menggendong Mentari keluar dan berlari ke mobil Mamanya. Rio yang berada di luar terkejut melihat Azka membawa Mentari, ia ikut berlari.
“ Azka ada apa ini ?” tanya Rio sambil berlari mengikuti Azka.
“ Loe suruh Monika bawa motorku pulang ya, kami harus pulang ke rumah, kedua orang tua Mentari meninggal Yo,” ucap Azka.
__ADS_1
“ Tolong bawa tasku dan tas Mentari ya bro,” ujar Azka yang diangguki Rio. Rio pun berlari mencari Radit, Laura dan Monika.
***
Sesampainya di rumah Azka, Rio dan ketiga sahabat Mentari pun berlari masuk ke rumah Azka. sudah banyak orang yang datang, jasad kedua orang tua Mentari juga sudah ada di ruang tengah yang biasa mereka tempati untuk bersenda gurau. Melihat ke sekeliling, tapi mereka tidak melihat keberadaan Mentari dan Azka.
Pak Raihan yang melihat sahabat putranya langsung menghampiri keempatnya. Dia langsung menyuruh keempatnya masuk ke kamar Mentari.
Mereka pun melangkah menuju kamar yang ditunjukan Pak Raihan. Sesampainya di sana, mereka melihat Mentari sedang berada dalam pelukan Azka. Di sana juga terlihat Bu Santi dan Andika.
“ Tari,”teriak Monika dan Laura.
Mentari pun menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sendu, dan beralih menatap sosok lelaki yang selalu menyemangatinya.
“ Kamu yang sabar ya Tar, kamu nggak sendiri kok, kami ada di sini bersama kamu,” ujar Laura memeluk Mentari. Dan diikuti Monika, ia pun memeluk Mentari.
Bu Santi yang melihat kedatangan teman-teman Mentari memilih keluar untuk memberikan waktu kepada mereka saling memberikan semangat.
“ Sayang,” kini Rio yang berjalan mendekati Mentari, Mentari pun berlari ke pelukan Rio.
“ Yo, bunda dan Ayah aku, mereka ninggalin aku Yo,” ujar Mentari sambil menangis dalam pelukan Rio.
Rio pun mengelus rambut Mentari, ia mencoba meberikan ketenangan kepada Mentari. Azka yang melihat itu pun berdiri dan berjalan ke arah Radit.
“ Tari, ayo keluar nak, kita antar bunda dan ayahmu ke tempat peristirahatan terakhirnya,” ujar Bu Santi yang berdiri di pintu kamar Mentari. Azka pun ingin melangkah ke arah Mentari ditahan oleh Radit.
“ Ayo kita keluar, sekarang ada Rio di samping Tari bro, tahan diri loe,” ujar Radit memegang tangan Azka.
Rio berjalan memapah Mentari, ia tak pernah melepas pelukannya. Ia terus merangkul Mentari, seraya memberikan kekuatan kepada gadis yang dicintainya itu. Rio dengan sabar menemani Mentari.
Setelah pemakaman kedua orang tua Mentari selesai, Rio masih betah dalam posisinya, ia tidak pernah melepaskan Mentari.
Ia pun meminta izin kepada kedua orang tua Azka untuk memperbolehkannya menemani Mentari di dalam kamar. Setelah mendapat izin, ia membawa Mentari dan membaringkan Mentari di kasurnya.
Kini Mentari mencoba memejamkan matanya, tangannya masih memegang tangan Rio, ia tidak ingin jika Rio pergi jauh darinya. Azka yang melihat interaksi keduanya di depan pintu kamar Mentari hanya bisa terdiam.
“ Sekarang kamu sudah menyadari kan perasaan kamu bro?” tanya Radit yang tiba-tiba berdiri di belakang Azka.
Azka hanya mengangguk, tatapannya tidak pernah lepas dari Mentari dan Rio.
“ Kamu harus merelakannya, sepertinya Mentari kini bahagia bersama Rio” ujar Radit sambil menepuk bahu Azka.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏
Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏