
Azka tertunduk lemas di samping Mentari, ia tidak tidur semalaman menemani Mentari. Dipegangnya tangan Mentari. Sesekali ia kecup, air matanya masih setia membasahi kedua pipinya. Ada luka di hatinya melihat gadis yang dicintainya terluka karena dirinya.
Karena rasa lelah dan rasa kantuk yang terlalu besar, Azka tertidur sambil memegang tangan Mentari.
Tiba-tiba Azka merasakan sebuah tangan menyentuh ujung rambutnya. Ia membuka matanya dan menoleh ke arah tangan yang menyentuhnya. Tanpa ia sadari seulas senyuman hadir di wajah tampannya. Ia melihat gadisnya kini telah terjaga dari tidur panjangnya.
“ Maafkan aku Tar, aku...”
“ Sudahlah, lebih baik kita lupakan apa yang terjadi malam itu Ka,”
“ Tari aku janji akan menikahimu, setelah impian kita terwujud, aku akan menikahimu, aku lelaki pertama yang menyentuh tubuhmu, maka hanya aku yang bisa memilikimu, aku janji,”
Mentari hanya mengangguk, seulas senyum terpancar di wajah cantiknya. Mentari mencoba tegar menghadapi kejadian ini, tidak sepenuhnya kesalahan Azka, Mentari merasa jika ia juga bersalah dalam hal ini, jika saja malam itu ia membiarkan Michael yang memapah Azka masuk ke kamar, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.
Apa yang terjadi malam itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang digariskan untuknya. Ia hanya harus menerima semuanya dengan lapang dada. Ia mencoba tegar menerima kenyataan ini.
“ Kamu pasti lapar, aku ambilkan makanan untukmu ya,” Azka berdiri mengambil sepiring nasi di meja samping ranjang Mentari.
“Biar aku makan sendiri Ka, lebih baik kamu keluar mencari makanan, kamu pasti juga tidak pernah makan dari semalam, sedangkan ini sudah sore,” Mentari mencoba meminta piring yang dipegang Azka.
“ Aku mohon, izinkan aku menyuapimu,” Mentari mengangguk dan membuka mulutnya.
Dengan telaten Azka menyuapi Mentari. Setelah beberapa suap masuk ke mulut Mentari, Mentari menolak suapan Azka. ia sudah merasa kenyang.
Azka yang melihat bubur Mentari masih tersisa banyak dengan lauk yang tidak tersentuh sedikit pun, Azka memutuskan untuk memakan sisa Mentari. Ia tidak merasa jijik. Mentari yang melihat Azka memakan sisa makanannya dengan lahap hanya bisa tersenyum bahagia.
***
Sudah dua minggu sejak kejadian malam itu, Mentari dan Azka kini semakin dekat. Ia terlihat seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Mereka selalu bersama, kemana pun mereka pergi.
Meskipun tidak ada kata jadian di antara mereka tetapi kemesraan dan kebersamaan mereka memperlihatkan hubungan mereka melebihi sebuah persahabatan.
Pagi ini Mentari terbangun. Ia terburu-buru berlari menuju toilet. Entah kenapa mulut dan tenggorokannya terasa tidak nyaman.
__ADS_1
Sesampai di dalam toilet, Mentari memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia terlihat lesuh, tenaganya terkuras saat memuntahkan isi perutnya. Mentari memandang wajahnya yang terlihat pucat, ia memegang perutnya.
Entah kenapa Mentari merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, ia merasa terlihat pucat dan cepat lelah. Mentari keluar kamarnya, ia melihat Azka yang sudah menyiapkan dua piring Nasi goreng di meja makan. Azka tersenyum ke arah Mentari, ia menarik sebuah kursi untuk Mentari.
“ Kamu kenapa ?” Azka memperhatikan wajah Mentari yang terlihat pucat.
Belum sempat Mentari menjawab, ia harus berlari ke toilet. Entah kenapa perutnya terasa aneh. Azka yang melihat itu merasa bingung. Ia mendekati Mentari.
“ Apa kamu sakit ?” Mentari menggeleng, ia berjalan kembali ke meja makan.
“ Aku takut Ka, aku sangat takut,” Mentari terduduk lemas di meja makan.
“ Takut apa Tar ?” Azka masih belum mengerti, entah apa yang dipikirkan Mentari saat ini.
“Aku takut hamil Ka,”Azka terkejut mendengar ucapan Mentari.
“ Nggak mungkinlah Tar, kitakan hanya melakukannya sekali,” Azka merasa tidak yakin jika benih yang ia simpan akan tumbuh subur di rahim Mentari.
“Tapi kalau kamu ingin tahu lebih jelas, nanti aku akan membelikan tespect untukmu,”. Mentari hanya mengangguk.
***
Bagaikan disambar petir, Mentari yang melihat dua gari merah itu hanya bisa gemetaran. Ia tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi di dalam hidupnya. Dua garis merah pertanda di rahimnya tumbuh darah dagingnya.
Mentari terduduk lemas menatap benda panjang yang ada di tangannya itu. Air matanya kini meluncur turun tanpa permisi.
“Maafkam Mentari Yah, Bunda,” Mentari hanya bisa menunduk dalam tangisnya.
Dengan langkah lesuh, Mentari berjalan keluar kamarnya. Ia memegang alat tespect itu, air matanya masih saja terus mengalir membasahi pipinya.
Dengan gemetar, ia memutar gagang pintu kamarnya. Ada rasa sesak yang hinggap di dadanya. Ia berjalan ke arah kamar Azka.
Tok tok tok.
__ADS_1
Mentari mengetuk pintu Azka, beberapa kali ia memanggil nama Azka. tidak berapa lama, pintu terbuka dan terlihatlah sosok yang ia cari. Azka menatap bingung kepada Mentari.
Tanpa bersuara Mentari menyerahkan alat tespectnya kepada Azka. setelah melihat dua garis merah itu, Azka terduduk di lantai. Ia bingung apa yang akan ia lakukan.
Azka mencoba berdiri dan menatap Mentari, ia menarik Mentari ke dalam pelukannya. Azka mencoba menenangkan gadis yang ia cintai, walaupun sebenarnya ia sendiri sedang gusar, ia bingung apa yang akan ia lakukan saat ini.
“ Apa yang akan kita lakukan Ka ?” Mentari terisak dalam pelukan Azka.
“ Kita gugurkan anak itu, umurnya pasti baru beberapa minggu Tar,” entah apa yang merasuki pikiran Azka. sebuah ide yang sangat tidak pantas ia lakukan, ia lontarkan begitu saja.
“ Apa kamu gila Ka ? ini darah daging kita, anak kita Ka, aku nggak tega Ka,” Mentari melepaskan pelukan Azka, ia tidak menerima ide Azka.
“ Tapi Tar, kita tidak ada pilihan lain,” Azka mencoba membujuk Mentari.
“ Bukankah kamu berjanji akan menikahiku ? ayo kita nikah,” Mentari masih mencoba mempertahankan janin yang ada di dalam rahimnya.
“Tapi tidak saat ini Tar, masih banyak impian yang ingin aku penuhi Tar, bukankah kamu juga ingin menggapai mimpimu menjadi seorang dokter ?” Azka menolak permintaan Mentari, bukannya ia tidak cinta, ia masih ingin mengejar mimpinya, ia tidak ingin menikah muda, ia ingin menikahi Mentari setelah ia menjadi seorang dokter ahli.
Mentari hanya bisa menangis, ada rasa kecewa yang ia rasakan. Ia tidak menyangka jika Azka akan menolak menikahinya dan mempertahankan janin itu.
Kini Mentari bingung harus bagaimana lagi, di satu sisi ia ingin mempertahankan janin itu, tetapi di sisi lain ia membenarkan ucapan Azka, ia ingin menggapai mimpinya. Ia tidak ingin mengecewakan almarhum kedua orang tuanya.
“Tari, aku mohon pikirkan baik-baik, ini demi masa depan kita berdua, lagian kedua orang tuaku akan sangat terpukul dengan berita ini,” Azka mendekati Mentari, ia memegang pundak Mentari.
“Tapi aku takut aborsi Ka,” Mentari menggeleng menolak ide Azka. Ada rasa takut yang menyelimutinya.
“ Kamu hanya perlu meminum obat penggugur janin dan jamu pembersih rahim, seolah-olah kamu keguguran, aku akan menemanimu di rumah sakit kelak,” Azka mencoba meyakinkan Mentari.
“Demi masa depan kita Tar, ku mohon lakukanlah, suatu hari nanti kita akan memiliki penggantinya kelak setelah kita menikah,” Mentari menatap Azka, mencoba melihat kejujuran di mata Azka.
Setelah merasa yakin, Mentari mengangguk. Ia bersedia menggugurkan janin yang telah tumbuh di dalam rahimnya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan comentnya 🙏