Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Menggugurkan


__ADS_3

Azka berjalan ke sebuah Apotek untuk membeli beberapa obat penggugur janin, ia juga membeli makanan yang dianggap bisa menggugurkan janin. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Azka berlari pulang ke Apartemennya.


Azka menyerahkan semua yang sudah ia beli kepada Mentari. Mentari langsung meminum obat yang Azka beli. Sebuah obat yang dirasa ampuh untuk menggugurkan kandungan.


Setelah sejam meminum obat itu, tetapi tidak ada perubahan. Mentari tidak merasakan hal yang aneh di dalam perutnya.


“ Sepertinya anak kita kuat ya Ka,” Mentari mengelus perutnya, ada rasa bahagia yang menyelip di relung hatinya.


“Tapi kita harus selalu berusaha, aku juga sudah membuat janji bertemu dengan seorang dokter, besok kita akan kesana,” Azka masih bersikeras untuk menggugurkan janin itu. Mentari hanya bisa menerima keputusan Azka.


`


“Sebaiknya kamu tidurlah, besok kita akan ke klinik,” Mentari berjalan masuk ke kamarnya.


***


Azka dan mentari berjalan di sebuah lorong klinik. Mentari mulai merasa takut, Azka yang melihat ketakutan Mentari memegang tangan Mentari. Ia mencoba menenangkan Mentari.


“Tenanglah, aku akan menemanimu,” Azka mengecup punggung tangan Mentari.


“Ka, aku ke toilet dulu ya,” Mentari berjalan menuju sebuah wc umum. Sedangkan Azka melanjutkan langkahnya menuju ruangan dokter Zein.


Ketika Mentari berjalan menuju toilet, langkahnya terhenti saat melihat sepasang suami isteri yang sedang bersedih.


“ Yang sabar sayang, mungkin Allah belum mempercayakan kita untuk memiliki anak,” kata sang suami.


“Tapi kedua orang tuamu sudah mendesak kita memiliki anak,” ujar si Isteri sambil terisak dalam pelukan suaminya.


“Yang penting kita jangan berhenti berusaha, insyaallah suatu hari nanti kita akan memilikinya,” Si suami masih mencoba menyemangati isterinya.

__ADS_1


Mentari yang mendengarkan percakapan itu sontak langsung memegang perutnya, ada rasa tidak rela jika ia harus menggugurkan janin itu.


Mentari langsung melanjutkan langkahnya ke toilet. Sesampai di dalam toilet, Mentari mengelus perutnya. Kini ia tidak rela jika ia harus menghilangkan janin yang ada di dalam rahimnya.


“Aku tidak boleh menggugurkannya, janin ini tidak bersalah, Ayah dan Bunda pasti akan marah jika aku melakukan hal bejat itu,”


“Tapi bagaimana caranya aku ngomong ke Azka, ia pasti akan menolak,”


“Tidak, aku tidak akan mengatakan hal itu, sebaiknya aku menjauh darinya, aku pasti bisa membesarkan anak ini sendiri,”


Mentari mencoba meyakinkan dirinya, setelah mengalami pertentangan batin, Mentari memutuskan untuk melahirkan dan membesarkan anaknya. Ia pun bergegas keluar dari dalam toilet.


Ia berjalan meninggalkan klinik tersebut, langkah kakinya semakin dipercepat. Ia mencari sebuah taxi, ia akan ke suatu tempat yang jauh dari kota Oxford. Tidak beberapa lama sebuah taxi berhenti di hadapannya. Mentari langsung naik dan merasa legah ketika ia sudah jauh dari klinik itu.


***


Di sisi lain


“ Maaf apakah di dalam ada seorang perempuan berbaju Navi?”


“Tidak ada satupun orang di dalam, dan tadi aku menemukan kertas ini, sepertinya seseorang yang dari dalam sengaja menyimpannya,”


“Astaga Tari, apa yang kamu lakukan ? kenapa malah kabur ?” Azka mengepalkan kertas itu setelah membaca isinya.


Azka berlari meninggalkan klinik itu, mencoba mencari Mentari di sekitar klinik. Siapa tahu Mentari masih tidak jauh dari klinik tersebut. Azka seperti kesetanan, ia berlari tanpa merasa lelah. Ia berusaha mencari Mentari.


“Atau jangan-jangan ia kembali ke Apartemen,” Azka langsung berlari menuju mobilnya.


Azka mengedarai mobilnya menuju Apartemennya, ia berharap jika Mentari masih ada di sana. Azka terlihat kacau, ia sangat mengkhawartirkan Mentari, sesekali ia memukul stir mobilnya.

__ADS_1


“ Kumohon jangan tinggalkan aku Tar,” Azka bergumang. Ada rasa sesal yang ia rasakan.


Tidak beberapa lama mobilnya tiba di Apartemen. Azka berlari keluar dari mobil, ia mempercepat langkahnya. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan Mentari, ia takut jika Mentari akan meninggalkannya.


Azka langsung membuka pintu Apartemen, dan berlari ke kamar Mentari. Kosong, Mentari tidak ada di dalam. Azka memeriksa lemari Mentari, dan betapa terkejutnya ia melihat beberapa pakaian Mentari tidak ada. Kini Azka yakin jika Mentari memilih pergi darinya.


Azka terduduk lemas, ia hanya bisa menunduk. Ada rasa sesal di dalam hatinya, ia sangat menyesal telah memaksa Mentari menggugurkan janin itu.


Kini ia hanya bisa menangis penuh dengan penyesalan. Azka berjalan ke subuah meja di dekat ranjang Mentari, ia mengambil sebuah figura wajah Mentari.


“Kemana kamu pergi Tar ?” Azka memandang figura itu sambil terisak.


“Aku mohon kembalilah,” Azka berteriak kesetanan. Rasa khawatir, takut dan menyesal kini sedang ia rasakan sekaligus.


Di sisi lain


“Sayang kamu harus kuat ya, ibu akan menjagamu,” Mentari mengelus perutnya. Ada rasa legah setelah mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


“Ibu akan selalu berusaha membahagiakanmu kelak,” Mentari masih saja asyik berbicara dengan janin di dalam perutnya.


“Apakah kamu sedang hamil ?” Sonia yang sedari tadi memperhatikan interaksi seorang ibu dengan janinnya itu kini menoleh dan bertanya kepada Mentari.


“Iya, baru beberapa minggu,”Mentari sangat senang bisa bertemu dengan orang Indonesia.


Keduanya pun terlibat sebuah percakapan setelah berkenalan. Mentari menceritakan apa yang ia alami saat ini, Sonia merasa iba mendengarkan cerita Mentari dan mengajak Mentari tinggal bersamanya. Tentu saja Mentari menyambut tawaran itu dengan suka cita.


***


Jangan lupa like dan comentnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2