Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Kesepakatan


__ADS_3

Pagi ini Mentari terbangun, ia melihat Ainun yang masih setia dengan tidur panjangnya. Tanpa ia sadari air matanya terjatuh, digenggamnya tangan Ainun. Ada rasa sakit yang menggelitik hatinya melihat putri satu-satunya terbaring lemah.


Pikirannya melayang menerawang mengingat percakapannya dengan Azka. Sebuah persyaratan yang diberikan Azka kepadanya. Ia belum bisa menjawab permintaan Azka, ada rasa ketidakrelaan yang ia rasakan.


Air matanya semakin jatuh dengan derasnya, ia tidak sanggup melepaskan putrinya. Satu-satunya alasan yang membuatnya terus bertahan selama ini.


Diciumnya tangan sang putri, air matanya masih setia menghiasi wajah cantiknya. Ia terduduk dengan lemas memikirkan ucapan Azka semalam.


Flash back


"Silahkan baca dengan baik, ini persyaratan yang harus kau lakukan,aku yang akan membiayai semua pengobatan Ainun," sambil menyerahkan sebuah map kepada Mentari.


"Syarat? Kamu sudah gila ya? Ainun itu juga putrimu," teriak Mentari sambil mengambil map itu.


Betapa terkejutnya Mentari setelah membaca isi map itu. Kecewa iya itulah yang ia rasakan saat ini. Ia sangat kecewa dengan sikap Azka, yang malah menggunakan cara licik untuk membawa Ainun darinya.


"Aku tidak akan merelakan Ainun untuk ikut kepadamu, tolong jangan lakukan ini kepadaku," Mentari memohon kepada Azka.


"Aku tidak akan memisahkan kalian, jika kamu mau, aku akan sangat bahagia jika kamu juga ikut bersamaku," ucap Azka.


"Tidak, aku tidak akan pernah ikut dengan kamu. Aku tidak akan mau hidup bersama lelaki licik seperti dirimu," teriak Mentari sambil melemparkan map di tangannya kepada Azka.


Dengan penuh emosi, Mentari meninggalkan ruangan Azka. Ia berlari menuju kamar Ainun, ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan putri satu-satunya.


Flash on


Ditatapnya wajah pucat sang putri, sesekali diciumnya tangan dingin putrinya. Ia benar-benar merasa tidak berdaya. Akankah ia merelakan putrinya demi kesembuhan Ainun.


"Sayang maafkan ibu, ibu tidak bisa jauh darimu," ucapnya dengan berderai air mata.


"Aku akan berusaha mencari uang untuk membayar biaya pengobatanmu," lanjutnya.


Mentari mencoba setegar mungkin, dihapusnya air mata yang membasahi wajahnya. Ia tidak akan merelakan Ainun diambil oleh Azka.


Tok tok tok..


Azka masuk ke dalam kamar perawatan Ainun, ada rasa bersalah melihat wajah Mentari. Tetapi tidak ada cara lain untuk kembali bersama Mentari , yang harus ia lakukan kecuali memberikan persyaratan tersebut.


Ia sangat mencintai Mentari, tetapi ia tidak mampu membuat Mentari untuk kembali kepadanya. Ia harus melakukan hal ini. Tetapi ternyata ia salah, rasa benci Mentari sudah sangat besar, sehingga Mentari dengan tegas menolak persyaratan tersebut.


"Apakah kamu sudah berubah pikiran?" tanya Azka.


"Tidak, aku tidak akan pernah menerima persyaratan itu," tolak Mentari.


"Aku akan berusaha mencari uang untuk membayar biaya pengobatan putriku," lanjut Mentari.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Apa kamu tega melihat Ainun seperti itu? Dia harus segera dioperasi," teriak Azka. Tangannya sudah dikepalkan untuk menahan emosi.


"Kamu yang tega, dengan egomu itu kamu menjadikan putrimu sendiri sebagai alat mendapatkan yang kau inginkan," teriak Mentari.


"Aku sangat mencintaimu, ini satu-satunya cara agar kamu bisa bersamaku," ucapnya dengan nada yang sedikit melemah.


"Kamu salah, dengan sikapmu seperti ini membuatku semakin membencimu," Mentari mencoba berbicara dengan tenang.


"Aku tidak bisa kembali kepadamu lagi, aku akan menikah dengan Yusuf. Sekarang aku sangat mencintainya," lanjut Mentari.

__ADS_1


"Berarti kamu harus merelakan Ainun ikut bersamaku," ujar Azka lalu pergi meninggalkan Mentari.


Mentari terduduk lemas, ia benar-benar merasa tidak berdaya. Matanya kini beralih ke tubuh Ainun. Mentari pun berdiri dan berjalan mendekati ranjang putrinya.


"Bersabarlah sayang, ibu pasti akan mendapatkan uang itu secepatnya," ujarnya sambil memandang wajah pucat sang putri.


Kring kring kring..


Suara dering handphone berbunyi, Mentari mengambil handphone miliknya. Dahinya berkerut melihat nama yang tertera di layar handphone miliknya.


"Halo Assalamualaikum, ada apa Nad?"


"......"


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang, kebetulan ada beberapa barang yang harus aku beli juga,"


"....."


"Waalaikum salam,"


Mentari mematikan teleponnya lalu mengecup kening Ainun. Ia pun bergegas meninggalkan ruangan Ainun.


***


Di sebuah kafe..


Mentari memasuki sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Ainun dirawat. Ia pun menatap ke sekelilingnya mencari sosok orang yang menghubunginya tadi.


Tidak berapa lama, ia pun melihat Nadia dan Rika sedang melambaikan tangan kepadanya. Mentari pun melangkahkan kakinya menuju meja tempat Nadia dan Rika.


"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Mentari lalu duduk di hadapan Nadia.


"Apa yang ingin kalian bicarakan? Sepertinya sangat penting," tanya Mentari.


"Iya, ini berkaitan dengan Kak Nabila, apa yang kamu lakukan kepadanya?" tanya Nadia dengan suara sedikit tinggi.


"Nadia, pelankan suaramu. Lihat semua orang menatap ke arah kita," tegur Rika.


"Aku tidak melakukan apapun, kemarin aku cuman di rumah sakit, dan keluar sebentar untuk membeli keperluan Ainun, seharian kemarin saya tidak bertemu dengan Kak Nabila," jawab Mentari.


"Kamu tidak perlu berbohong, jujur saja. Apa yang kamu katakan kepada Kak Nabila?" tanya Nadia dengan sinis.


"Demi Allah, aku tidak pernah bertemu dengan Kak Nabila. Aku tidak berbohong, untuk apa aku menemui Kak Nabila," Mentari mencoba membela dirinya.


"Kamu juga jangan terlalu percaya dengan ucapan Kak Nabila, aku juga merasa aneh dengan sikap Kak Nabila beberapa hari ini," ujar Rika.


"Kenapa kamu malah membela gadis itu?"


"Aku tidak membela siapapun, beberapa hari lalu aku melihat Kak Nabila menyuruh seorang lelaki untuk membunuh seseorang."


"Apa? Kamu pasti salah lihat," Nadia tidak mempercayai ucapan Rika.


"Ini fotonya saat menyerahkan sejumlah uang kepada lelaki itu," Rika memberikan handphonenya kepada Nadia.


Nadia melihat dengan saksama foto tersebut, ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang yang sangat ia percaya ternyata menyimpan rahasia besar.

__ADS_1


Mentari tanpa sengaja melihat foto tersebut dan mengenali lelaki yang ada dalam foto itu. Mentari pun menarik handphone Rika, dan memperhatikan lebih dekat.


"Lelaki ini kan yang kemarin mengikutiku," gumang Mentari.


"Kamu mengenalnya?" tanya Nadia dengan penuh selidik.


"Tidak, aku tidak mengenalnya. Tetapi lelaki ini yang kemarin mengikutiku, untung adik teman saya tiba-tiba datang,dan laki-laki ini malah kabur," ungkap Mentari.


"Jadi benar kecurigaanku, orang yang ada di foto itu adalah kamu, Kak Nabila ingin menyingkirkan Mentari," ucap Rika.


"Kita harus..." ucapan Nadia terpotong.


Kring kring kring


"Halo Assalamualaikum," jawab Mentari saat mengangkat teleponnya.


"......"


"Apa? Baik, aku akan ke sana sekarang," ujar Mentari lalu mematikan teleponnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Nadia dengan cemas.


"Ainun kritis, aku harus segera ke sana," ucap Mentari lalu berlari meninggalkan kafe tersebut.


***


"Bagaimana keadaan Ainun?" tanya Mentari.


"Ini semua karena keras kepalamu," ujar Azka.


"Jika saja kamu langsung menyetujui persyaratan yang aku berikan, Ainun sudah pasti sadar," lanjut Azka.


Mentari semakin bingung, ia tidak tahu lagi apa yang akan dilakukannya. Ia tidak bisa melihat Ainun terus menerus seperti ini. Dengan berat hati, ia pun menerima persyaratan Azka.


"Baiklah, aku dan Ainun akan ikut bersamamu," ucapnya sambil terisak.


Dengan perasaan bahagia Azka pun masuk ke ruangan operasi. Ketika ia hendak masuk, ia berpapasan dengan Yusuf. Ia tersenyum penuh kemenangan kepada Yusuf.


Yusuf memandang Mentari, ada rasa kecewa di dalam hatinya. Tetapi ia mengerti alasan Mentari menerima persyaratan tersebut.


"Mas?" Mentari terkejut melihat Yusuf yang berdiri di belakangnya.


"Maafkan aku mas, aku...."


"Aku mengerti, aku akan menerima semuanya. Aku yakin jika kita berjodoh, kita pasti akan bersama," ucapnya sambil memeluk Mentari.


"Aku sangat mencintaimu, tetapi aku tidak mau egois. Aku selalu yakin akan kebesaran Allah, dia yang telah mengatur jalan hidup kita." Yusuf melonggarkan pelukannya, ia menatap wajah Mentari.


"Yakinlah dengan kekuatan doa, semua ini belum berakhir. Kita serahkan kepada Sang Pemilik Cinta. Kita akan dipertemukan kembali jika kita berjodoh, yakinlah. Jangan pernah berhenti berdoa." lanjutnya kembali.


"Aku akan selalu menyebut namamu di sela-sela doaku, aku sangat mencintaimu mas," ujar Mentari sambil terisak.


Yusuf kembali menarik Mentari ke dalam pelukannya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang melihat kemesraan mereka.


Nabila yang melihat kemesraan itu hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi yang mulai menguasai dirinya. Ia semakin membenci Mentari.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan comentnya 🙏


__ADS_2