Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Berjumpa


__ADS_3

Dengan tubuh bergetar Mentari berlari mengikuti para perawat yang membawa Ainun ke ruang IGD. Air mata Mentari mengalir deras melihat tubuh tidak berdaya putri kesayangannya itu. Yusuf hanya bisa menatap iba kepada Mentari, ingin rasanya ia memeluk gadis itu untuk memberikan kekuatan kepada Mentari.


"Maaf Bu, Anda tidak boleh masuk, biarkan dokter memeriksa putri Anda,"


"Iya Tari, lebih baik kita di sini, kita menunggu sambil mendoakan Ainun, In sha Allah ia akan baik-baik saja," Mentari hanya mengangguk dan memilih duduk di depan IGD.


Sudah setengah jam Ainun berada di dalam, tetapi tidak satu pun perawat atau pun dokter yang keluar. Mentari hanya bisa menunggu dengan berurai air mata. Ummi Kalsum yang sudah berada di samping Mentari hanya bisa memeluk Mentari.


Sedangkan Nadia yang merasa bersalah karena ia, Ainun harus mengalami hal ini. Ia ingin mendekati Mentari, tetapi Nabila menahannya.


"Sudahlah, ini bukan salahmu, sudah seharusnya Ainun mengetahui kebenarannya," Nabila menahan langkah Nadia yang ingin berjalan menuju Mentari.


Benar juga, ini salah Mentari, kenapa dia menyembunyikan semuanya kepada Ainun. Pikir Nadia.


Nadia kembali duduk di samping Nabila, ia kini memandang Mentari. Ada rasa iba melihat Mentari yang kini nampak kacau itu, tetapi ego dan kemarahannya membuatnya membuang rasa ibanya itu.


Tidak beberapa lama, seorang perawat keluar.


"Maaf Bu, dokter ingin bertemu dengan orang tua pasien,"


"Saya ibunya Sus, di mana dokternya ?" Mentari berlari mendekati perawat tadi.


" Di dalam sini Bu, apa Anda ayahnya?" Suster itu menoleh kepada Yusuf.


"Dia bu......" ucapan Mentari terpotong.


"Iya, saya ayahnya," Yusuf langsung memotong ucapan Mentari. Ia berjalan mendekati Mentari dan perawat tersebut.


"Baiklah, sekarang kalian ikuti saya,"


Ketiganya pun berjalan menuju sebuah ruangan, di sana ia melihat seorang dokter yang sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan perasaan yang penuh kekhawatiran Mentari duduk di hadapan sang dokter.


"Apa yang terjadi pada putri saya dok ?"


"Begini Bu, setelah kami melakukan pemeriksaan kepada pasien, kami melihat ada masalah terhadap jantung putri Anda,"


"Masalah? Tidak mungkin dok, pasti dokter salah mendiagnosa," teriak Mentari.


"Tari diamlah, kita dengarkan penjelasan dokter terlebih dahulu," Yusuf mencoba menenangkan Mentari.


"Begini Bu, Pak. Putri kalian sepertinya sudah mengalami masalah jantung sejak kecil, ini sepertinya bukan akibat kecelakaan yang ia alami,"


"Tidak mungkin," Mentari hanya bisa menunduk, ia merasa tidak percaya jika putrinya sakit jantung.


" Jadi apa yang harus kami lakukan dok?" Yusuf mencoba berbicara setenang mungkin.

__ADS_1


"Saya akan merekomendasikan dokter ahli jantung, kalian bisa menemuinya. Ia sudah saya hubungi tadi, jadi kalian bisa langsung menemui dokter tersebut," jelas Dokter Hendri sambil menyerahkan kartu nama dokter ahli jantung.


"Baiklah, kalau begitu terima kasih dok atas bantuannya," Yusuf menyalami Dokter Hendri.


Mentari dan Yusuf meninggalkan ruangan Dokter Hendri. Keduanya berjalan dalam diam, sesekali Yusuf melirik Mentari yang sejak keluar dari ruangan Dokter Hendri hanya diam membisu.


Langkah keduanya terhenti di depan sebuah ruangan. Yusuf menatap Mentari yang masih tetap terdiam. Mentari membaca papan nama yang tertera di depan ruangan yang hendak mereka masuki.


Ada sedikit keraguan di dalam hatinya, kakinya seakan sulit untuk digerakkan. Yusuf yang melihat keraguan di mata Mentari merasa bingung. Ia mengajak Mentari untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Tetapi Mentari seolah bagaikan patung, ia hanya berdiri sambil menatap papan nama itu.


"Kamu kenapa Tar? Ayo kita masuk,"


Mentari masih terdiam, membuat Yusuf semakin bingung. Entah apa yang ada di pikiran Mentari sehingga membuatnya seperti itu. Pikir Yusuf.


"Apa yang kamu pikirkan? Ayo kita masuk," ucap Yusuf sekali lagi.


"Tidak, sebaiknya kita cari dokter yang lain," ucap Mentari sambil hendak pergi.


Baru dua langkah kaki Mentari, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Tampaklah sosok yang ingin dihindari Mentari. Sosok lelaki yang pernah mengisi hatinya. Lelaki yang sampai saat ini sulit untuk hilang di benaknya.


"Tari ? Apakah itu kamu?" Azka berdiri mematung di depan pintu ruangannya.


Mentari yang mendengar suara yang tidak asing di telinganya itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia kini berhadapan dengan sosok lelaki yang amat ia benci.


Azka yang melihat Mentari, melangkah kan kakinya menuju Mentari. Langkahnya tiba-tiba dihentikan oleh Mentari. Azka berhenti seketika.


Yusuf yang melihat tatapan mata Azka dapat dengan jelas mengerti maksud tatapan itu. Kini ia menoleh ke arah Mentari, tatapan yang tidak jauh berbeda terlihat pula di wajah Mentari.


"Selama ini aku mencarimu, mama dan papa juga merindukanmu, mereka juga sudah mengetahui tentang anak kita,"


"Anak kita? dia bukan anak kamu, hakmu atasnya telah hilang semenjak kamu menyuruhku menggugurkannya," ucap Mentari dengan sinis.


"Tari maafkan aku, waktu itu aku bingung harus bagaimana lagi, aku memiliki cita-cita yang ingin aku gapai, dan aku tidak mau anak itu menghancurkan semua cita-cita dan harapanku,"


" Dan sekarang cita-cita itu sudah aku gapai, kini kita bisa hidup bersama,"


Mentari hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Azka. Setelah apa yang telah ia lalui seorang diri, Azka dengan mudahnya mengajaknya kembali.


"Tari aku sangat mencintaimu, aku ingin bersamamu untuk selamanya,"


Yusuf kini menyadari jika di antara keduanya, ada hubungan yang erat. Ia seolah berada di antara dua hati yang sedang merindu. Ia pun berniat memberikan ruang terhadap keduanya.


Langkah kaki Yusuf terhenti, Mentari dengan sigap menarik tangan Yusuf. Azka yang melihat adegan itu terlihat bingung, ia menatap Yusuf.


"Mas jangan pergi, tetaplah di sini,"

__ADS_1


"Tidak, kalian butuh waktu untuk berbicara berdua," tolak Yusuf, walaupun di dalam hatinya, ada ketidakikhlasan melihat Mentari bersama lelaki lain.


"Sudah tidak ada yang perlu kami bicarakan, semuanya telah berakhir," ucap Mentari dengan tegas.


Azka kini terdiam mendengar percakapan kedua orang di hadapannya itu. Ingin rasanya ia memotong pembicaraan tersebut, tetapi ucapan Mentari seolah menegaskan antara ia dengan Mentari kini tinggal sebuah kenangan.


"Kami ke sini untuk membicarakan keadaan putri kami," Mentari kini menoleh ke arah Azka.


Azka yang mendengar ucapan Mentari menyebut putri mereka semakin mempertegas jarak antara mereka. Kini penantian dan cinta yang selama ini ia jaga untuk Mentari sirna.


Rasa sesal di dalam hatinya menyeruak seketika. Hatinya hancur dengan perasaan kecewa. Azka menatap wajah Mentari dengan tatapan penuh penyesalan.


"Apakah kita bisa membicarakannya di ruangan Anda?" ucap Mentari.


"Oh, Maaf. Tentu saja bisa, mari silahkan masuk,"


Azka kini berbalik dan langsung terburu-buru masuk kembali ke ruangannya. Mentari dan Yusuf mengikuti langkah Azka. Ketiganya pun terlibat pembicaraan yang serius.


***


Di sisi lain...


Di sebuah taman, tampak seorang wanita yang tengah duduk sambil mengepalkan tangannya. Dari raut wajahnya sangat nampak bahwa kini ia sedang menahan emosi.


Wanita itu terlihat sangat cantik dengan hijabnya yang menutupi rambutnya. Ia sesekali menatap ke layar handphone yang ada di tangannya. Dan sesekali pula ia melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


"Maaf membuat kamu menunggu terlalu lama," ucap seorang lelaki bertubuh kekar.


"Duduklah," ucap sang gadis.


"Ini tugas kamu kali ini, singkirkan wanita ini,"


Lelaki itu mengambil selembar foto yang diberikan sang gadis tersebut. Ia menatap wajah yang ada di dalam foto tersebut. Ia lalu menatap gadis itu dan mengangguk seolah mengatakan ia menyetujui tugas yang diberikan untuknya.


Seringai licik terpancar di wajah cantik gadis itu. Kini ia tersenyum puas, ia telah memikirkan langkah apa yang akan ia ambil setelah menyingkirkan seseorang yang ada dalam foto tersebut.


"Ini uang mukanya, sisanya saya akan berikan setelah tugas kamu terselesaikan,"


Setelah memberikan sejumlah uang kepada lelaki itu, Nabila kini pergi meninggalkan restoran tersebut. Ia berjalan sambil tersenyum bahagia. Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang memperhatikannya.


Setelah memastikan Nabila pergi, Rika pun berdiri meninggalkan mejanya. Sejak sepulang dari rumah sakit, ia mengikuti Nabila yang terlihat aneh. Dan benar saja, sesuatu telah direncanakan oleh Nabila.


Entah siapa orang yang ingin disingkirkan oleh Nabila. Pikir Rika.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan comentnya 🙏


__ADS_2