
Setelah libur Semester Ganjil berakhir, semua siswa kembali ke rutinitas mereka sebagai peserta didik. Mentari yang tidak jadi pindah ke Malaysia kini kembali menginjakkan kakinya di sekolah yang penuh kenangan itu.
Setelah kematian kedua orang tuanya, Mentari menjadi sosok yang lebih dewasa, dia menjadi pendiam.
Mentari kini tampak berbeda, dia jarang berkumpul bersenda gurau bersama sahabatnya, ia sering menghabiskan waktunya di perpustakaan, membaca beberapa buku biologi dan beberapa buku yang berkaitan dengan kesehatan.
Ia sudah bertekad jika ia akan berusaha mendapat nilai terbaik untuk melanjutkan cita-citanya kuliah di kampus kedua orang tuanya itu.
Sebenarnya selain Universitas Oxford, ada beberapa Universitas di dunia ini menjadi Universitas Kedokteran terhebat yang mencetak dokter-dokter terbaik di muka bumi ini, salah satunya Universitas Harvard.
Tetapi ia malah memilih Universitas Oxford, karena kedua orang tuanya alumni di sana, dan kisah cinta mereka pun berawal di sana.
Mentari merasa dengan melanjutkan studinya di kampus itu, ia akan merasakan cinta kedua orang tuanya.
Awalnya ia berharap kelak ia juga akan menemukan pedamping di sana, tapi sekarang dengan adanya Rio di sisinya, ia tak mengharapkan hal itu lagi, di pikirannya sekarang, ia hanya ingin menjadi dokter berprestasi seperti kedua orang tuanya itu.
Perubahan sikap Mentari membuat sahabat-sahabatnya merasa kehilangan sosok ceria Mentari. Meskipun ketika sedang mengobrol, sesekali Mentari terlihat tertawa, tetapi mereka bisa melihat kesedihan di sorot mata Mentari. Mereka sangat yakin jika Mentari hanya mencoba tegar di hadapan mereka.
Sikap Mentari di sekolah tidak jauh berbeda di rumah Azka, ia juga sering mengurung diri. Jika dulu ketika diajak keluar, Mentari akan menyambut dengan suka cita, maka sekarang ia akan menolak dengan dalih sedang belajar. Azka, Andika dan kedua orang tuanya hanya bisa menatap sendu melihat sikap Mentari seperti itu.
“ Pagi Tari sayang,” Bu Santi menyapa Mentari yang sedang berjalan menuju meja makan.
“ Pagi juga tante,” Mentari menarik kursi dan duduk di samping Andika.
Dia menikmati menu sarapannya dalam diam, semua hanya bisa menghela nafas pasrah melihat sikapnya.
Mentari jarang menampilkan senyum yang selalu menghias wajahnya meski hatinya sedang bersedih. Sekarang wajahnya hanya terlihat dingin tanpa ekspresi, orang-orang di sekitarnya sangat memahami perasaan kehilangan yang ia rasakan. Mereka semua hanya bisa bersabar menghadapi sikap Mentari.
Sikap Mentari hanya akan menghangat jika sedang bersama Rio, meskipun ia bersedih tetapi ia akan tersenyum di kala bersama Rio. Bagi Mentari Rio adalah penyemangatnya, seseorang yang selalu setia menemaninya di kala suka maupun duka.
Seperti biasanya Rio selalu menjemput dan mengantarkan Mentari pulang sekolah. Bahkan semenjak peristiwa kematian kedua orang tua Mentari, Rio kini sering datang mengunjungi Mentari, terkadang dia datang karena inisiatifnya sendiri, terkadang juga Bu Santi yang menyuruhnya. Tentu saja hal itu disambut dengan senang hati oleh Rio.
“ Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan senyum Mentari ya Pa ?” Bu Santi sangat prihatin melihat sikap Mentari seperti itu.
Kini ia memandang punggung Mentari yang sedang berjalan ke luar rumah menemui Rio yang sudah datang menjemputnya. Pak Raihan yang di tanya hanya bisa diam, ia juga merasakan kesedihan dan keputuasaan istrinya itu.
Azka dan Andika juga hanya bisa diam, pasrah dengan keadaan Mentari sekarang. Sekuat apa pun mereka mencoba menggoda Mentari, mereka tetap tidak bisa menghilangkan sikap dingin Mentari.
__ADS_1
***
“ Kok sendiri ? Mana Rio ?” Monika datang menghampiri Mentari yang sedang duduk di depan kelasnya dan diikuti oleh Laura dan Radit.
“ Ke kantin lagi beli cemilan dan minuman, kalian dari mana ?” Mentari melihat ketiga sahabatnya sambil tersenyum.
“ Dari kelas, dan kami melihat kamu di sini jadi kami menghampirimu, soalnya kami sangat merindukan sahabat kami,” Laura berujar sambil duduk di dekat Mentari, Mentari hanya bisa menunduk menyesali sikapnya yang akhir-akhir ini jarang bergabung dengan ketiga sahabatnya itu.
“ Mau sampai kapan kamu seperti ini Tar, kami sangat merindukan Mentari yang dulu, Mentari yang selalu tersenyum walaupun hatinya lagi sedih,” Radit mendekat dan menatap Mentari dengan tulus, memperlihatkan apa yang diucapkannya berasal dari hatinya.
“ Maaf,” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Mentari.
“ Bukan itu yang kami ingin dengar Tar, kami ingin kamu seperti dulu, menjadi sahabat kami yang ceria,” Monika yang sudah duduk di samping kanan Mentari memegang tangan Mentari.
“ Kami memahami perasaan kamu saat ini, tapi apakah salah jika kami ingin melihatmu tetap ceria seperti dulu ?” Monika berujar sambil memandangi Mentari, air matanya sudah nampak di pelupuk matanya.
“ Maafkan saya, saya janji akan bersikap seperti dulu lagi. Terima kasih tetap tidak berubah setelah apa yang aku lakukan kepada kalian,” Mentari berujar dengan posisi yang masih seperti tadi, dia hanya menunduk menahan tangisannya. Ia takut jika ia mengangkat kepalanya, tangisannya akan pecah.
“ Kamu janji ya,” Laura memeluk Mentari dan diikuti oleh Monika.
Radit, Azka dan Rio yang melihat ketiga gadis itu hanya bisa tersenyum. Radit yang berdiri di belakang Monika menghapus sebutir air matanya yang tiba-tiba melucur, begitu pun Azka yang melihat ketiganya dari kejauhan. Sedangkan Rio yang berdiri di belakang Radit sambil membawa dua minuman dan beberapa cemilan hanya tersenyum.
Azka pun berjalan ke arah teman-temannya, ia berharap jika Mentari juga akan bersikap baik kepadanya. Ia pun berlari dan terus berlari.
“ Kalian di sini ? maaf ya saya cuman bawa dua buah minuman nih. Saya nggak tau kalau kalian di sini,” Rio berjalan dan menyerahkan satu minuman kepada Mentari.
“ Nggak apa-apa bro, walaupun hanya satu kan bisa dinikmati bersama,” Azka yang baru saja sampai langsung menarik minuman di tangan Rio. Rio pun tersentak kaget.
“ Benar tuh bro, apa pun jika dinikmati bersama akan terasa nikmat,” kini Radit yang mengambil minuman itu dan meneguknya yang membuat Rio mendesah kesal.
“ Sabar Rio, berbagi itu indah, asal jangan berbagi cewek,” semua pun tertawa mendengar ucapan Laura.
Betapa indahnya persahabatan mereka, hubungan tanpa ikatan darah itu terasa erat dan menarik. Mereka saling menjaga dan mendukung satu sama lain.
Persahabatan mereka membuat orang-orang yang melihatnya sangat irih. Mereka berhasil menjaga hubungan indah itu, mereka sangat menyadari jika suatu hubungan akan mudah terjalin, tetapi yang sulit adalah menjaga hubungan itu agar tetap terjalin dengan baik.
***
__ADS_1
Setelah jam pelajaran berakhir, semua siswa berlari menuju kantin untuk mengisi kampung tengah. Seperti halnya siswa lain, Mentari dan kelima sahabatnya itu pun telah berada di kantin.
“ Tumben loe nggak bareng Rani ?” ujar Radit sambil menyendoki nasi goreng Azka.
“ Kami sudah sepakat agar bisa membagi waktu untuk sahabat dan kekasih,” Azka berujar setelah menelan nasinya itu.
“ Wah bagus dong, jadi kamu nggak terlihat bucinnya kalau begitu,” Azka langsung mengetok dahi Rio dengan sendok di tangannya.
Mentari yang melihat kekasihnya dipukul oleh sahabatnya pun langsung memukul lengan Azka. yang malah membuat Azka tertawa.
“ Kamu tuh ya Tar, setelah berpacaran dengan Rio jadi suka belain Rio,” Azka mengusap lengannya, pasalnya Mentari memukulnya dengan keras.
“ Sabar bro, cinta membuatnya lupa dengan kita,” kini Radit menggoda Mentari yang membuat yang lainnya tertawa.
Mentari hanya melirik ke arah Radit, ia pun memandang Radit dengan tatapan kesal. Bukannya takut, Radit malah tertawa melihat ekspresi Mentari yang terlihat menggemaskan. Azka hanya bisa tersenyum memandangi Mentari.
Menggemaskan pikir Azka ketika melihat Mentari yang sudah memajukan mulutnya dengan kesal.
Rio yang melihat Azka memandang Mentari hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menyadari jika Azka sudah mulai jatuh cinta kepada Mentari.
Hmm salah, bukan mulai tetapi baru menyadari perasaannya itu, seperti itulah pikiran Rio ketika melihat Azka yang tersenyum memandangi Mentari.
“ Sayang, kamu tidak perlu mempedulikan mereka, orang sirik hanya bisa mengganggu saja,” Rio berujar sambil memberi penekanan ketika menyebut kata sayang seolah memperlihatkan kepada Azka bahwa gadis yang dipandanginya itu adalah milik orang lain.
Rio mengusap rambut Mentari dengan lembut sambil menatap Mentari dengan penuh cinta, Azka yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecut. Ia pun mencoba membuat dirinya terlihat tenang, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia sedang memaki Rio.
“ Woi jangan mesra-mesraan deh, bikin enek mataku saja,” Azka melempar tissu ke arah Mentari dan Rio.
“ Sirik aja sih loe Ka,” Mentari melempar kembali tissu tersebut ke arah Azka.
Mereka pun menghabiskan jam istirahat sambil bercanda di dalam kantin, terlihat sangat jelas kebahagian terpancar di wajah keenam orang tersebut.
***
Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏
Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏
__ADS_1