Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Universitas Oxford


__ADS_3

Dulunya, Universitas Oxford adalah satu-satunya perguruan tinggi berbahasa inggris. Namun pada suatu hari, terjadi sebuah kerusuhan antar mahasiswa dengan penduduk kota pada tahun 1209.


Kerusuhan ini menyebabkan terpecahnya mahasiswa jadi dua kubu, satu kubu tetap di Oxford satunya lagi mengungsi ke kota Cambridge untuk mengamankan diri.


Mahasiswa yang mengamankan diri di Cambridge ini pun akhirnya mendirikan ruang belajar sendiri, yang seiring waktu kian berkembang menjadi suatu universitas besar yaitu Universitas Cambridge.


Bangunan Universitas Oxford sangat unik, megah, klasik dan berkelas, bangunan bergaya Victoria ini mampu menarik jutaan mata yang menjadikannya ingin berwisata ataupun berfoto-foto di area kampus.


Universitas Oxford memiliki beberapa museum yang memamerkan benda-benda langka, unik dan bersejarah. Museum ini dibawahi oleh lembaga kampus ataupun fakultas yang berkaitan dengan museum itu.


Lokasi Universitas Oxford tidak terpusat pada satu lokasi saja. Meski letaknya berbeda-beda sudut, namun lokasi Universitas ini tetap berada di kota Oxford. Jarak antara gedung satu dengan gedung lainnya pun tidak terlalu jauh. Bersepeda adalah salah satu cara untuk menjangkau seluruh gedung kampus.


Hari ini Azka dan Mentari memilih berkeliling di kampus mereka. Mereka memesan sepeda untuk di pakai mengelilingi lokasi kampus. Mereka benar-benar terpesona dengan bangunan kampus tersebut, kampus yang masih menjaga eksistensi keunikan dan kemegahan bangunan aslinya yang terlihat klasik.


“ Ayo kita ke sana Ka,” Mentari menunjuk sebuah taman yang sangat asri.


“ Menghirup udara pagi di sini sangat nyaman ya, beda banget di Jakarta,” Mentari berteriak sambil melompat-lompat. Ia menghirup uadara sejuk di sekitarnya.


Taman yang mereka lihat sekarang sangat asri, tidak ada sampah yang merusak pandangan mata.


Ternyata gampang banget membuatmu tersenyum


Azka menatap Mentari yang berlari sambil berteriak. Ia sangat menikmati pandangan langkah ini, wajah Mentari yang akhir-akhir ini terlihat dingin nampak berseri-seri. Azka hanya bisa tersenyum memandang gadis pujaan hatinya.


Secara diam-diam, Azka mengabadikan moment langkah itu. Ia memotret wajah cantik Mentari menggunakan kamera Hpnya. Setelah mengabadikan beberapa moment, ia pun menghampiri Mentari yang kini telah duduk di atas rumput.


“ Setelah ini, kita kemana lagi ?” Azka memilih duduk di samping Mentari.


“ Pulang, hari ini sungguh melelahkan,” Mentari menoleh dan tersenyum kepada Azka.

__ADS_1


Azka menatap lekat wajah Mentari lalu memandang lurus ke depan. Ia mencoba menikmati udara pagi di kampus ini.


Setelah mereka merasa puas menikmati pemandangan kampus Oxford, mereka berdiri dan mengambil sepeda mereka. Azka dan Mentari mengenderai sepedanya kembali ke tempat mereka menyewahnya tadi. Setelah mengembalikan sepeda tersebut, mereka langsung balik ke Apartemen dengan mengederai mobil Azka.


***


Hari ini, hari pertama mereka mulai perkuliahan. Setelah memarkirkan mobilnya, Azka dan Mentari langsung masuk ke gedung perkuliahan mereka. Mereka sudah mengetahui letaknya, karena kemarin mereka sudah menelusuri semua lokasi gedung perkuliahan di kampus ini.


Mereka memilih tempat duduk yang berbeda, Azka memilih duduk berpisah dengan Mentari. Setelah menyimpan tasnya, Azka berkenalan dengan teman-teman kampusnya. Banyak mahasiswi yang mengagumi wajah tampan Azka, di tambah sifatnya yang ramah membuatnya cepat akrab.


“ Hello, aku Azka dari Indonesia, salam kenal ya,” Azka menyalami beberapa temannya.


“ Robert dari Inggris,” Robert memeluk Azka, Azka tersentak kaget lalu tertawa.


“ Ibrahim dari Malaysia,” kini Azka yang memeluk Ibrahim, Ibrahim hanya tersenyum.


“ Apakah gadis itu kekasihmu ?” Robert menunjuk Mentari, Azka hanya tersenyum lalu menggeleng.


“ Perkenalkan namaku Bella dari Indonesia,” menyalami Mentari.


“ Mentari, aku juga dari Indonesia,” Mentari membalas uluran tangan Bella sambil tersenyum.


***


Azka membuka pintu Apartemen dan meletakkan sepatunya di rak sepatu, ia langsung berbaring di sofa. Tidak berapa lama Mentari masuk dan melihat Azka yang berbaring di sofa. Tanpa mempedulikan Azka, ia langsung memasuki kamarnya.


“ Kamu mau makan apa Ka ?” Mentari berteriak sambil berjalan menuju dapur.


“ Terserah kamu mau masak apa saja, pasti aku makan, kalau bisa yang cepat ya, aku sudah lapar banget,” Azka bangun dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Dengan sigap Mentari memasak makanan Indonesia yang sederhana, walaupun ia tidak terlalu pandai memasak, setidaknya ia bisa memasak beberapa menu makanan rumahan yang sederhana, dan membuatnya beruntung, Azka bukanlah tipe orang pemilih makanan.


“ Azka ayo makan,” teriak Mentari sambil memindahkan masakannya di piring. Ia meletakkan makanan itu di meja makan.


Azka keluar sambil mengosok rambutnya, Mentari yang melihatnya hanya melongo. Tanpa ia sadari sendok yang ia pegang jatuh. Azka yang melihat ekspresi wajah Mentari hanya tersenyum, dan muncul ide menggoda sahabat kecilnya itu.


“ Tutup mulutmu itu, tuh udah ileran,” Azka menarik kursi lalu duduk di hadapan Mentari.


Mentari buru-buru membersihkan mulutnya dan tersadar jika Azka hanya menggodanya. “ Ah, kamu tuh ya,” kesal Mentari, Azka hanya tertawa.


“ Lagian kamu, ngelihatin ku kayak mau memakanku saja,” Azka tertawa sambil menikmati makanannya. Mentari hanya mendesah kesal.


Seperti biasanya, selesai makan, Azka yang bertugas untuk mencuci piring. Azka berdiri dan membersihkan meja makan lalu membawa piring bekas makan mereka ke westafel dan mencucinya.


Mentari yang selesai makan langsung masuk ke kamar, ia masih malu dengan perilakunya tadi.


“ Huh.. memelukan banget deh, kenapa aku ngeliatin Azka kayak gitu sih,” gumang Mentari saat masuk di kamar.


“ Pasti wajahku sudah memerah,” Mentari menutup wajahnya dengan bantal sambil membayangkan tingkahnya tadi di meja makan.


“ Tari buruan keluar, aku sudah siap untuk pergi kerja nih,” teriak Azka dari depan kamar Mentari.


“ Kamu duluan aja Ka,” teriak Mentari dalam kamar. Azka lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar.


“ Pasti dia masih malu,” azka tertawa memikirkan wajah Mentari yang terlihat menggemaskan ketika malu.



Foto kampus Universitas Oxford

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏


Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏


__ADS_2