Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Extra Part 5


__ADS_3

~Happy reading~


Semalaman Nadia memikirkan ucapan Andika, lelaki itu tanpa sadar telah melukai hati Nadia.


Kenapa ia mengatakan jika mencintaiku akan membuat Bagas menyesal ? Memang aku ini kenapa ? Apa wajahku sangat jelek? Memikirkannya saja membuat dada Nadia bergemuruh.


"Sebegitu buruk kah diriku di matamu?" ujar Nadia bermonolog, air matanya tanpa permisi jatuh membasahi pipi.


Matanya sulit terpejam, ia masih saja memikirkan kejadian kemarin. Ia membolak balikkan badannya di atas kasur. Karena lelah, tanpa ia sadari matanya terpejam dan mulai tertidur.


Kring kring kring..


Bunyi alarm membangunkan Nadia, ia lalu bergagas mandi dan bersiap sholat Subuh. Hari ini ia berusaha datang lebih awal, ia berharap tidak bertemu Andika. Kemarin sebelum pulang Andika mengatakan ia akan menjemput Nadia. Nadia sudah menolak tetapi Andika tetap bersikeras untuk menjemput Nadia. Nadia ingin menghindari Andika, ia masih kesal dengan perkataan Andika.


Seperti biasanya, Nadia sarapan bersama keluarganya. Kali ini ia memakan nasi goreng kesukaannya, ia memiliki banyak waktu sebelum ke kampus.


***


Di tempat lain


Andika yang baru saja bangun langsung membersihkan dirinya, lalu bersiap-siap berangkat. Ia memilih berangkat lebih cepat, ia berharap bisa bertemu dengan Nadia.


"Motor OK, bensin OK, hmm apa lagi ya ?" ujar Andika sambil memperhatikan motornya.


"Sepertinya semua sudah beres, sekarang Si Jaky bisa let's go," sambil memukul motor Kawasaki miliknya.



Dengan hati yang senang, ia langsung tancap gas. Motor Kawasaki milik Andika membelah jalanan yang masih sunyi. Biasanya jalanan akan macet di jam tujuh lewat.


Tujuan Andika adalah rumah Nadia yang berada di kawasan pondok pesantren milik abinya. Andika sengaja berangkat lebih cepat, agar ia memiliki banyak waktu berduan dengan Nadia.


Tapi tanpa diduga, seseorang menghentikan motor Andika. Gadis yang tidak lama ini diputuskan Andika, siapa lagi jika bukan Sasa. Sasa masih mencoba mencari perhatian Andika, ia bahkan suka menggoda Andika.


"Kamu mau kemana Dika ?" tanya Sasa.


"Aku mau ke kampus tapi ada urusan di dalam gang sana," sambil menunjuk gang pesantren Nadia.

__ADS_1


"Bisakah kamu menemaniku ? Aku butuh tumpangan, mamaku pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Bisakah kamu mengantarkanku ?" tanya Sasa penuh harap.


"Hmm bagaimana ya? Tapi aku lagi buru-buru," Andika mencoba menolak.


"Aku mohon, ayolah," Sasa masih berusaha membujuk Andika.


"Baiklah, naiklah," Sasa langsung naik dan memeluk Andika.


Andika kembali mengantarkan Sasa, ia langsung mengirimkan pesan jika ia akan terlambat. Ia berharap Nadia mau menunggunya. Tapi sayangnya, ia berpapasan dengan Nadia.


"Dasar laki-laki playboy, katanya akan menjemputku malah berboncengan dengan cewek lain," ujar Nadia ketika melihat Andika lewat di hadapannya. Ia belum membaca pesan Andika.


"Kenapa Nadia berangkat cepat banget sih? Apa ia sengaja menghindariku?" gumang Andika. Matanya menatap Nadia dengan ekspresi kesal.


"Kamu kenapa? Ayo cepatlah," ujar Sasa. Tanpa menjawab, Andika langsung kembali menyalakan motornya.


***


Andika memasuki parkiran, matanya menelisik mencari sosok yang telah mencuri hatinya. Ia ingin menjelaskan kenapa ia membonceng Sasa, ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara mereka.


Andika berlari menuju ruangan dekan, ia yakin jika Nadia sudah ada di dalam sana. Semoga saja gadis itu belum pulang.


"Untung kamu masih di sini, aku pikir aku telat," ujar Andika dengan senyum manisnya.


"Kamu kesini kan mau bertemu dengan prof kenapa malah berbicara seolah ingin bertemu denganku," Ujar Nadia dengan dingin.


"Hehehe, iya sih. Tapi aku juga ingin bertemu dengan kamu, aku mau menjelaskan kejadian tadi," Andika menjelaskan dengan tawanya.


"Sepertinya kamu tidak sadar, kita tidak memiliki hubungan apapun. Tidak ada yang perlu kau jelaskan," ujar Nadia dengan sinis.


Andika tersentak kaget, entah mengapa ucapan Nadia bagai tamparan keras yang membuatnya kembali tersadar. Seolah semua yang terjadi kemarin itu hanya mimpi belaka.


"Maksud aku...."


"Cukup Dik, aku tidak mau mendengar apapun. Aku tidak mau bersikap seolah kita memiliki hubungan yang manis tapi malah membuat dirimu menyesal," ujar Nadia kembali. Ia benar-benar sakit hati dengan ucapan Andika.


"Menyesal ? Maksud kamu apa ? Aku hanya ingin...." Lagi-lagi ucapan Andika harus terhenti.

__ADS_1


"Aku bilang cukup, aku tidak mendengar apapun," Suara semakin meninggi.


Tanpa mendengar jawaban Andika, ia langsung bergegas meninggalkan Andika. Nadia berjalan tanpa menoleh, ia harus sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Andika.


"Kalau itu mau mu, aku tidak akan menyapamu mulai hari ini. Anggap kita tidak pernah saling mengenal, jika kita bertemu aku tidak akan menghiraukan keberadaanmu," Teriak Andika.


Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini lolos juga jatuh membasahi pipi Nadia. Sungguh sangat sakit mendengar ucapan Andika, bukankah ini yang diinginkannya tapi kenapa terasa sangat menyakitkan.


Nadia mengusap air matanya lalu melanjutkan langkahnya, hatinya begitu sakit. Andika hanya bisa menatap dengan sendu kepergian Nadia. Tangannya mengepal menahan gemuruh di hatinya.


Andika berbalik dan berjalan menuju ruangan dekannya dengan perasaan sendu.


***


Keesokan harinya sesuai ucapan Andika, dia benar-benar bersikap seolah tidak mengenal Nadia. Seperti saat ini, mereka tanpa sengaja berpapasan di depan gedung perpustakaan.


Andika hanya berjalan tanpa menoleh sama sekali kepada Nadia, walaupun dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan gadis itu. Nadia hanya bisa menatap Andika dengan tatapan sendu.


"Tumben kamu tidak mengganggu Nadia ?"Tanya Bagas, maklum selama ini ia tahu betul bagaimana sikap Andika jika bertemu dengan Nadia. Lelaki itu pasti akan mengganggu Nadia untuk mencari perhatiannya.


"Aku malas berurusan dengannya, dan mulai saat ini jangan kau sebut namanya di hadapanku," ujar Andika tanpa menoleh sedikit pun pada Bagas.


Bagas hanya terdiam mendengar ucapan Andika, apa yang terjadi di antara mereka ? Pikir Bagas. Sepertinya ia harus mencari tahu dab mencari solusinya.


Nadia berjalan terburu-buru, ia sangat sakit melihat sikap dingin Andika. Ia tidak menyangka jika Andika akan cuek seperti itu, ternyata ini sangat menyakitkan.


Nadia berlari menuju toilet, ia ingin menumpahkan kesedihannya di dalam sana. Sungguh perasaan ini sangat menyiksanya. Sesampai di dalam Nadia menangis sambil menutup mulutnya agar tidak bersuara.


"Kenapa sangat menyakitkan seperti ini ? Kenapa aku harus mencintai lelaki sepertinya ? Aku tidak sanggup terus-terusan memendam semuanya," ujar Nadia bermonolog.


"Sakit, sungguh sangat sakit. Memendam rasa kepadamu sangat menyakitkan tapi entah mengapa aku sulit melupakanmu. Aku hanya bisa menyimpan luka, memendam rasa sakit itu. Maafkan aku yang harus menutup perasaanku selama ini," Nadia masih bermonolog. Nadia hanya bisa meratapi perasaannya.


Setelah merasa cukup baik, Nadia membersihkan wajahnya yang terlihat sembab. Ia kembali memoleskan make up tipis pada wajahnya dan memakai lipstik. Setelah memastikan tidak terlihat kacau lagi, Nadia bergegas keluar. Kembali beraktivitas seperti tadi.


~Bersambung~


Maaf ya telat update, lagi sakit jadi nggak konsen nulis🙏

__ADS_1


Jangan lupa kasi like, komentar, hadiah dan vote ya🙏


Jangan lupa juga singgah di novel lainku sambil menunggu upnya😊


__ADS_2