Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Cintaku Berakhir di Pesantren


__ADS_3

Mentari pagi kini bersinar cerah, burung-burung mulai bernyanyi sambil mengepakkan sayapnya ke udara. Suasana di Pesantren kini sangat indah, beberapa santriawati sedang bersenda gurau, mereka tampak sangat bahagia.


Dari kejauhan tepatnya di sebuah ruangan yang berada di lantai dua, seseorang sedang menatap aktivitas yang terjadi di dalam pesantren. Wanita itu tersenyum, ada kelegaan yang ia rasakan. Kini ia bisa bernapas tanpa beban, ia bersyukur bisa berada di antara orang-orang yang beriman.


"Bunda," Seorang anak kecil berjalan ke arahnya, sambil memeluk kakinya.


"Sayang, ada apa?" Ia menurunkan tubuhnya dan berjongkok mengsejajarkan tubuhnya dengan sang putri yang terlihat murung.


"Apa bunda akan tetap menyayangi Ku jika adik kecilku lahir?" Mentari hanya tersenyum mendengar ucapan sang putri. Lalu mengangguk.


"Benarkah? Bunda tidak akan berubah? Apa ayah juga akan tetap menyayangi Ku?" kini wajah itu sudah mulai ceria, sekali lagi Mentari mengangguk.


"Tentu saja sayang, bunda dan ayah akan selalu menyayangi semua anak-anak kami. Tidak akan ada yang berubah sayang, semua akan tetap sama," tangannya kini mengusap rambut Ainun.


"Kenapa kamu bertanya begitu sayang?" Mentari menarik Ainun dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Ainun takut jika kasih sayang ayah dan bunda berubah, kata teman-teman Ainun, jika kita memiliki adik, maka perhatian orang tua kita akan beralih kepada adik," Ainun tidak berani menatap wajah sang bunda, ia memilih menunduk.


"Sayang lihat mata bunda, " Ainun kini memberanikan diri menatap sang bunda.


"Sayang, Ainun adalah permata hati bunda, tidak akan pernah tergantikan. Bagi bunda, dunia bunda adalah Ainun, bunda tidak mungkin berubah," Ainun kini mulai terisak, anak itu hanya merasa bersalah karena telah berpikiran buruk tentang ayah dan bundanya.


Tanpa mereka sedari, sepasang mata telah memperhatikan mereka. Lelaki itu kini melangkah masuk dan menghampiri wanita kesayangannya. Ainun dan Mentari menoleh dan tersenyum ke arah Yusuf.


"Sayang, kesayangannya ayah. Dengarkan sayang, bagi setiap orang tua semua anak-anak mereka adalah hal yang berharga. Semua setara, tidak ada yang lebih istimewa atau kurang istimewa. Semua sangat istimewa, tidak ada orang tua yang ingin membedakan anaknya. Hanya saja terkadang kita sebagai anak tidak memahami perasaan dan perhatian mereka." Yusuf memeluk Ainun, ia tidak ingin putrinya merasa irih apalagi sampai tidak menerima kehadiran adiknya kelak.


"Sayang kamu harus tahu, jika kelak bunda sedikit mengabaikanmu karena sedang mengurus adikmu, kamu jangan marah. Bunda bukan tidak sayang lagi padamu, bunda hanya lagi sibuk, ayah harap kamu bisa mengerti, bahkan jika bisa kamu mau membantu bunda jika ayah tidak ada agar bunda tidak kelelahan, kamu maukan sayang ?" Ainun hanya mengangguk, ia bahagia karena ayah dan bundanya tetap akan menyayanginya.

__ADS_1


"Maafkan Ainun Yah, Ainun sudah berpikiran buruk tentang ayah dan bunda. Ainun telah meragukan kasih sayang bunda dan ayah, maafkan Ainun," Ainun menatap Yusuf dengan penuh iba.


"Kamu tidak perlu meminta maaf sayang, kamu wajar jika merasakan hal itu. Bunda senang jika putri bunda bisa mengutarakan Isi hatinya, bunda ingin Ainun bisa selalu terbuka pada bunda, apapun yang sedang mengganggu pikiranmu, ceritakan pada bunda sayang," Ainun hanya mengangguk.


Mentari langsung memeluk Ainun, dan disusul oleh Yusuf. Mereka senang melihat sikap Ainun yang sudah mulai terbuka.


"Bunda aku sesak, bisakah bunda melepaskanku?" Mentari dan Yusuf langsung melepaskan pelukannya.


"Maafkan bunda sayang," Ainun kini tersenyum dan memeluk Mentari. Yusuf tersenyum dan mengusap rambut Ainun. Mereka terlihat bahagia.


***


Setelah moment mengharukan siang tadi, kini Mentari kembali berdiri di depan jendela kamarnya, sepertinya tempat itu kini menjadi tempat favoritnya, ia bisa melihat pemandangan pesantren di atas Sana.


Yusuf menghampiri Mentari lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang, dihirupnya wangi sang istri yang selalu membuatnya nyaman.


"Biarkan seperti ini sebentar sayang, aku merindukannya seharian ini, wangi yang selalu menyejukkanku," Yusuf semakin mempererat pelukannya. Kini Mentari hanya diam membiarkan Yusuf memeluknya.


Keduanya terdiam saling merasapi cinta yang hadir di antara mereka, pernikahan yang telah berjalan beberapa bulan ini semakin mempererat cinta mereka. Setelah merasa puas Yusuf menarik sang istri masuk dan duduk di ranjangnya. Dilepasnya jilbab sang istri dan ditatapnya dengan penuh damba.


Mentari bisa melihat gairah sang suami, ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tanpa membuang waktu Yusuf lalu mengecup dahi sang istri dan memanjatkan doa


Bismillah, allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa. 


Setelah melafaskan doa tersebut Yusuf mulai melakukan penyatuan dengan sang istri dengan penuh kelembutan. Tidak ada ***** yang menguasainya, hanya cinta yang nampak di matanya.


Setelah penyatuan keduanya, mereka langsung membersihkan diri. Mentari dan Yusuf memilih duduk sambil berbincang-bincang, saling berbagi cerita tentang apa yang mereka lakukan seharian ini. Mereka menjadikan hal itu sebagai rutinitas sebelum tidur, agar tidak pernah ada kesalahpahaman antara keduanya.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, aku sangat bahagia bisa memilikimu,"


"Saya pun sangat bahagia sayang, kamu adalah wanita yang penuh kesabaran, Mas bersyukur bisa bersamamu,"


"Aku tidak menyangka jika cintaku kini berakhir di pesantren ini, aku pikir aku akan bersama dengan Azka. Kehadiran Ainun akan memperkuat hubungan kami, tetapi ternyata malah sebaliknya. Kehadirannya adalah malapetaka hubungan kami, menghancurkannya menjadi puing-puing tak bersisa," Setetes air jatuh di pipinya, ada rasa sesak mengingat masa lalunya, terlebih lagi ia menyesal suaminya bukanlah lelaki yang pertama yang menjamah tubuhnya.


"Sayang jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi, semua telah diatur oleh-Nya. Kita hanya bisa berusaha memperbaiki masa lalu itu agar kelak kita tidak akan pernah jatuh di lubang yang sama. Sayang kehadiran Ainun dalam hidupmu bukan sebuah malapetaka, kehadirannya adalah anugerah yang harus kamu syukuri. Kehadirannya bukan sebuah kesalahan, yang salah di sini adalah kelakuan kamu dan Azka. Maaf sayang bukan maksud aku menyinggung masa lalumu, aku hanya tidak ingin kamu selalu meratapinya," Ditariknya sang istri ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah menyesali apa yang telah ada, kseharusnya kita bersyukur atas kehadiran Ainun, karena hal itulah yang mempertemukan kita. Ingatlah sayang di balik setiap ujian, akan ada sesuatu yang indah, kita harus terus bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Aku harap kamu jangan terus-terusan meratapi masa lalu itu,"


"Maafkan aku mas, aku hanya malu kepadamu atas masa lalu Ku, aku merasa hina di hadapanmu,"


"Husss, kehinaan seorang hamba, hanya Allah yang tahu sayang. Jangan pernah merendahkan diri kita di hadapan manusia lainnya, karena kita ini semua sama bagi Allah. Dengarkan sayang, mulai sekarang kamu harus melupakan aib di masa lalu, jadikan sebagai sebuah motivasi untuk membenahi diri kita. Bukankah kita telah berjanji untuk saling berpegang tangan, sama-sama belajar membenahi diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi," Mentari hanya bisa mengangguk di sela tangisannya. Ia sangat bersyukur telah dipertemukan dengan lelaki seperti Yusuf. Lelaki yang telah mengajarkannya banyak hal, lelaki yang senantiasa bersabar mendampinginya serta relah menerima masa lalunya yang kelam.


"Aku mencintaimu mas,"


"Aku juga sangat mencintaimu sayang,"


Keduanya kini hanyut dalam pelukan penuh cinta dan kasih sayang. Rumah tangga yang mereka bina masih panjang, mereka yakin di depan Sana akan banyak ujian yang akan datang, tetapi mereka selalu yakin jika semua pasti akan bisa mereka lalui. Mereka selalu yakin, Allah memberikan ujian berdasarkan kemampuan hambanya, dan mereka yakin setelah kesulitan akan ada kemudahan.


~Tamat~


*


Akhirnya tamat juga😁


Maafkan author yang jarang up ya, maklum author masih baru belajar nulis, imajinasi author masih kadang bleng😀

__ADS_1


Terima kasih telah selalu menanti dan setia membaca karya author ya🙏


__ADS_2