
~Happy reading~
Pagi yang cerah, Matahari bertengger dengan indahnya di atas langit. Sudah seminggu berlalu semenjak pertemuan Nadia dan Andika, hari ini adalah hari pernikahan Yusuf. Nadia masih saja duduk termenung di dalam kamar, ia belum siap melihat kembali wajah lelaki yang selalu mengganggu pikirannya.
Ahh.. Hembusan nafas Nadia yang berat, seakan gadis itu menanggung beban yang sangat berat. Bisakah kali ini ia meminta izin untuk tidak datang ke rumah lelaki itu ? Rasanya sungguh sesuatu yang tidak mungkin. Kakaknya akan mengadakan prosesi ijab kabul di sana, mau tidak mau, siap atau tidak, dia tetap harus kesana menyaksikan hari yang paling penting bagi sang kakak. Tapi apakah ia mampu bertemu kembali dengan lelaki itu ???
Tuk tuk tuk
Sebuah ketukan pintu menyadarkannya dari lamunannya, ia segera bergegas membuka pintu itu. Wajah wanita paruh baya muncul di balik pintu, wajah yang selalu memperlihatkan senyuman tulusnya.
"Ummi," ujar Nadia ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan sayang ? Ini sudah jam berapa, semua sudah menunggumu. Kamu sangat lama, sepertinya saja kamu yang akan dinikahkan," Goda sang ibu, Nadia hanya tersenyum. Lalu bergegas mengambil tas selempangnya.
"Maafkan Nadia Ummi, tadi Nadia sakit perut," elaknya, ia tidak mungkin berkata jika ia ragu untuk menghadiri prosesi pernikahan sang kakak.
"Jadi sekarang bagaimana perut kamu? Apa masih kuat untuk ke sana nak ?" Wajah yang tadi tersenyum itu kini berubah dengan rasa khawatir, Ummi Kalsum takut terjadi sesuatu kepada putrinya.
"Alhamdulillah semua sudah baik Ummi, tidak perlu khawatir, Nadia sanggup kok untuk ikut," Ada rasa sesal telah membohongi ibunya. Sungguh ia tidak bermaksud membuat sang ibu khawatir, ia hanya tidak bisa jujur untuk saat ini.
"Syukurlah sayang,"
***
Di tempat yang berbeda seorang pemuda terlihat mondar-mandir, sesekali ia kembali menatap penampilannya di depan cermin.
Andika harus memastikan penampilannya harus rapi dan tetap terlihat tampan. Ia tidak ingin Safira (Nama panggilan Andika untuk Nadia) melihatnya dengan wajah yang biasa-biasa saja.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Andika lalu bergegas keluar dari kamarnya. Ia melangkah sambil bersiul, wajahnya semakin cerah setelah melihat wajah gadis yang telah dinantikannya. Baru saja ia ingin mengganggu gadis itu tiba-tiba Nadia langsung menyuruhnya menjaga Ainun, penokannya itu.
"Eh kamu jaga Ainun sebentar, aku disuruh memanggil Kak Tari." Tanpa menunggu balasan Andika, Nadia langsung berjalan menaiki tangga.
Baru berapa langkah, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andika, "Eh, aku hampir lupa. Kamarnya di mana ?" tanyanya.
__ADS_1
"Kamar kedua dari tangga," Jawab Andika dengan ketus, ia sedikit kesal melihat Nadia. Niatnya ingin mengganggunya malah ia disuruh menjaga sang ponakan yang sudah besar itu.
"Dasar lelaki aneh, ditanya baik-baik malah jawabnya dengan ketus. Pengen Ku jambak tuh rambut," Nadia melanjutkan langkahnya dengan sejuta kekesalan.
"Dasar cewek gila, kayak emak-emak rempong aja ngoce terus," Andika kini menarik Ainun untuk duduk bergabung dengan sang papa.
"Om Dika dan Tante Nadia cocok banget ya," celoteh Ainun. Andika hanya tersenyum lalu mengusap rambut ponakannya itu. Benarkah mereka serasi? Hah Andika hanya bisa tersenyum memikirkan ucapan Ainun.
Matanya kini beralih ke arah tiga wanita yang memiliki ruang di hatinya. Yang pertama sang mama, wanita yang telah melahirkannya. Kedua Mentari, wanita yang pernah dicintainya dan sekarang ia anggap seperti kakaknya sendiri. Dan yang terakhir Safira, gadis yang akhir-akhir ini telah mengganggu pikirannya. Matanya fokus pada Safira, yang terlihat sangat cantik dengan kebaya modern yang ia kenakan.
Anggap aja ya Syifa Hadju lagi memakai hijab dengan kebaya tersebut. ๐
"Cantik," kata itupun lolos dari bibir Andika.
Pak Raihan mendengar apa yang diucapkan oleh puterannya itu, ia mengira jika Andika memuji penampilan Mentari. Ia tahu juga anaknya itu pernah menaruh hati kepada Mentari, dan kali ini ia tidak akan membiarkan putranya itu masih berada dalam bayang-bayang cintanya pada Mentari.
"Sadar Dik, dia telah ada yang punya. Bukankah papa sudah mengatakan kepadamu untuk membuang jauh-jauh perasaanmu itu," Andika tersentak dengan ucapan sang papa, perasaan apa yang harus ia buang.
"Tentu saja perasaan kamu ke Mentari, papa tidak ingin jika kamu terlihat bodoh karena cinta," Andika hanya bisa mendengus mendengarkan ucapan sang papa.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Kak Tari, semua telah tergantikan dengan rasa cintaku pada seseorang,"
"Jangan bilang kalau kamu menyukai putri Kiayai Lukman ?" Pak Raihan mulai tampak bahagia, matanya kini beralih menatap Nadia yang berjalan di samping Mentari.
"Ah, mana mungkin aku menyukai gadis gila itu. Aku mengatakan Kak Tari cantik, tapi bukan berarti aku masih menyukainya. Lagian kini hatiku telah dimiliki oleh yang lain," Tanpa Abdika sadari, tatapannya masih saja tertuju pada Nadia.
Pak Raihan bisa melihat kabut cinta yang ada dalam mata putranya, ia sadar jika putranya kini telah jatuh hati pada sosok gadis yang sedang bercengkrama dengan keluarganya.
Ditepuknya pundak sang putra sambil berujar, "Jika cinta maka ungkapkan, jangan menjadi sosok lelaki pengecut yang hanya bisa Memendam rasa cintanya,". Andika memilih terdiam, matanya masih saja tertuju pada Nadia, seolah Nadia adalah objek pemandangan yang sangat menarik.
Tidak bisa ia pungkiri jika gadis itu telah mengisi ruang hatinya, cinta telah merasuk dalam kalbunya.
Ia ingin sekali mengungkapkan perasaannya tetapi lidahnya selalu saja mengeluarkan kata-kata kasar dan menjengkelkan jika berada di hadapan Nadia.
__ADS_1
Nadia yang merasa jika ada yang tengah memperhatikannya, ia langsung menoleh dan manik matanya bertemu dengan manik mata Andika. Jantung keduanya tanpa permisi berpacu dengan kencang. Nadia buru-buru mengalihkan tatapannya, ia kembali menatap kedua mempelai pengantin yang tengah duduk bersanding di pelaminan.
"Apa perlu bantuan papa ?" Pak Raihan mencoba menawarkan bantuan, ia yakin jika putranya benar-benar mencintai Nadia.
"Aku pasti akan mendapatkannya dengan caraku pa, papa nggak perlu khawatir. Papa sabar aja menunggu calon mantu papa," ujarnya penuh keyakinan, seolah ia mampu mengungkapkan Isi hatinya. Pak Raihan hanya mengangguk, dan kini serius memperhatikan prosesi pernikahan Mentari dan Yusuf.
Kehebohan terjadi ketika sang mempelai laki-laki tiba-tiba mengecup sang istri, mereka begitu terlihat bahagia. Andika juga turut berbahagia melihat wanita yang pernah mengisi ruang khusus dalam hatinya. Sakit ? Tidak, ia malah senang jika wanita itu kini berbahagia setelah apa yang dia alami selama ini karena ulah sang kakak.
Andika kini menoleh ke arah Nadia yang tengah berbicara dengan Rika, sepertinya gadis itu tidak memiliki teman selain Rika. Andika mengajak Ainun berjalan menuju Nadia dan Rika, ia akan menjadikan Ainun sebagai objek pembicaraan di antara mereka.
"Ehem," Andika berdehem dan tanpa permisi langsung duduk di hadapan Nadia.
"Kenapa kamu duduk di situ? Sana noh, banyak kursi kosong. Aku malas berdebat denganmu," ujar Nadia dengan ketus, membuat Andika ikut kesal.
"Eh, aku kesini bukan ingin berdebat denganmu, aku ingin membawa Ainun ke sini. Tadi kamu nitipinnya ke aku, jadi aku kembaliin," Nadia melotot mendengar ucapan lelaki itu, bisa-bisanya ia berkata begitu seolah Ainun adalah barang.
"Eh, kamu...." Semua mata mengarah ke meja mereka karena tanpa sadar Nadia mengebrak meja mereka karena kesal. Membuat gadis itu tersenyum seolah mengatakan tidak ada apa-apa.
Tanpa basa basi, Nadia langsung menarik Andika. Entahlah ia sadar atau tidak melakukan hal itu. Karena jengkel ia tanpa berpikir langsung menyeret Andika untuk mengikutinya menuju pojok ruangan. Andika hanya tersenyum memperhatikan tangannya yang ditarik Nadia tanpa sadar.
Setelah sadar atas apa yang ia lakukan, Nadia langsung menghempaskan tangan Andika.
"Bisakah mulutmu itu menyaring setiap ucapan yang akan kau keluarkan? Apa kamu tidak bisa menjaga perasaan Ainun, kamu seolah menganggap Ainun itu sebuah barang yang bisa dititipkan dan dikembalikan saja. Kalau kamu hmmmmm," Belum selesai ucapan Nadia, Andika langsung tanpa permisi menghentikan bibir itu berucap dengan mengunakan bibirnya. Nadia melotot mendapat ciuman tiba-tiba Andika, ia langsung menampar pipi Andika.
Andika pun kaget dengan apa yang ia lakukan, ia tidak sadar tiba-tiba mencium Nadia. Ia kini merasa bersalah atas apa yang lakukan barusan, ia bisa melihat sebutir air jatuh membasahi pipi Nadia. Nadia langsung berlari meninggalkan Andika yang masih bingung dengan tindakan dadakannya tadi.
"Ahhhhhhh, kenapa aku bodoh sekali ? Ya ampun aku malah mebuatnya semakin membenciku dan berpikiran buruk tentangku, Ahhhh bodoh, bodoh," Andika langsung menjambak rambutnya dengan kasar merutuki kebodohannya.
Andika tahu betul, bagi gadis seperti Nadia hal seperti itu adalah sebuah hal yang memalukan. Ia hanya bingung bagaimana cara menghentikan gadis itu marah-marah, ia tidak bermaksud untuk melakukan hal yang tidak baik kepada gadis itu.
Andika memilih keluar menghirup udara segar, ia bingung harus bagaimana menghadapi gadis itu. Ia ingin dekat, tetapi selalu saja mereka terlibat perdebatan jika bertemu. Lebih baik ia menyendiri dan menenangkan pikirannya terlebih dahulu lalu mencari Nadia dan meminta maaf.
~Bersambung~
Terima kasih ya telah membaca novel baru author ๐
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komentar dan beri hadiah dan vote untuk mendukung author๐