
Sudah berapa bulan berlalu, hubungan Nadia dan Andika semakin dingin. Jangankan bertegur sapa, bahkan saling tersenyum saja mereka enggan. Ketika bertemu, selalu saja mereka membuang muka.
Tidak terasa wisudanya tinggal seminggu lagi, mereka sibuk mengurus berkas-berkas untuk pendaftaran wisudanya.
"Nad, sebentar lagi kamu wisuda nak. Apa kamu tidak ada keinginan untuk menikah?" Ummi Kalsum bertanya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Nadya tidak menargetkan apapun ummi, tergantung Allah ngasihnya kapan. Nadya tidak ingin menunda atau mau terburu-buru. Pernikahan itu suatu yang sakral, Nadya ingin nikahnya sekali seumur hidup. Jadi harus dipikirkan baik-baik." Jelas Nadya. Ummi Kalsum tersenyum lalu memeluk putrinya itu. Ia bersyukur memiliki anak yang pemikirannya jauh ke depan. Yang mengerti makna dari sebuah pernikahan.
"Apa ada laki-laki yang dekat denganmu atau sedang mendekatimu nak ?" Tanya Ummi Kalsum.
Nadya terdiam, pikirannya tertuju pada seseorang. Tapi ia langsung menggeleng.
"Tidak Ummi, aku tidak dekat dengan siapa pun Ummi. Kalau Nadya boleh tahu, kenapa Ummi bertanya seperti itu ?" Tanya Nadya penuh selidik.
Apakah ada lelaki yang melamarnya ? Nadya mulai gelisah. Ia takut jika ada yang melamarnya, sejujurnya ia belum bisa menerima lelaki lain. Hatinya masih terpaut pada Andika. Lelaki yang selalu membuatnya terlihat kacau dan galau beberapa bulan ini.
"Begini nak, kemarin Ustadz Ismail datang berkunjung bertemu abimu. Beliau ingin meminangmu untuk putra keduanya. Raihan, yang kerja di Kairo," Jelas Ummi Kalsum. Nadya terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Ia begitu takut, apalagi jika harus mengikuti lelaki itu ke Kairo. Ia hanya bisa menunduk, ia belum siap meninggalkan kehidupannya di sini.
"Nadya nggak mau terlalu jauh dari Ummi dan Abi, Nadya tidak siap Ummi," Jawab Nadya sambil menunduk.
Ummi Kalsum mendekati Nadya, dipegangnya tangan putrinya itu. Nadya memberanikan diri menatap ibunya, air matanya kini menetes, jatuh membasahi pipinya. Ditatapnya sang ibu dengan mata yang berair.
"Raihan akan tinggal di sini nak, ia akan mengambil alih hotel milik Ustadz Ismail nak. Insyaallah kita tidak akan berjauhan nak," Jelas Ummi Kalsum.
"Pikirkanlah dulu nak, apapun keputusanmu nak, kami akan menerimanya. Ustadz Ismail dan Nak Raihan akan datang Malam kamis," Ujar Ummi Kalsum sambil mengusap jilbab putrinya itu.
"Baik Ummi, Nadya akan memikirkannya," Jawab Nadya dengan seulas senyuman.
"Kalau begitu Ummi masuk dulu," Ummi Kalsum bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan Nadya yang masih duduk termenung.
__ADS_1
Nadya kini menatap kepergian Umminya dalam diam, ia masih memikirkan ucapan Ummi Kalsum. Ia bingung, haruskah ia menerimanya dan mencoba melupakan perasaannya kepada Andika atau menolaknya. Nadya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Setelah merasa tenang, Nadya memilih masuk. Masih ada waktu tiga hari, ia masih ada waktu untuk memikirkannya. Ia tidak ingin salah pilih, ia juga akan membicarakan dengan Rika. Siapa tahu Rika mempunyai saran.
***
Pagi ini Nadya harus ke kampus untuk mengembalikan buku yang pernah ia pinjam di perpustakaan kampus, ia berjalan dengan santai sambil menenteng tasnya. Nadya tampak tersenyum kepada setiap orang yang dijumpainya, ia akan menunduk menjaga pandangannya jika berpapasan dengan laki-laki.
Dari arah berlawanan Andika berjalan sambil menggandeng seorang wanita, wanita itu tampak tersenyum lebar. Andika belum melihat Nadya, Nadya pun belum melihat Andika. Keduanya berjalan dan tanpa sengaja manik mata mereka bertemu. Langkah keduanya terhenti, membuat wanita di samping Andika menatap heran ke arah Andika. Lalu mengikuti arah pandang Andika.
"Sayang kenapa berhenti ? Aku lapar nih," Rengek Namira, wanita yang sedari tadi berjalan beriringan dengan Andika.
"Hhmm ayo," Ujar Andika lalu memeluk pinggang Namira, keduanya berjalan melewati Nadya. Nadya memilih menatap arah lain lalu melanjutkan langkahnya dengan tenang walau hatinya begitu sakit.
Nadya terus berjalan tanpa menoleh kepada Andika, hatinya begitu sakit. Dengan sekuat hati, Nadya menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia tidak ingin terlihat rapuh.
Dari kejauhan seseorang melihat hal itu, ia hanya tersenyum sinis. Ia tidak bisa mengerti sikap sahabatnya itu, cinta tapi selalu menyakiti.
***
Andika dan Namira memasuki kantin kampus, keduanya memilih meja yang paling dekat dengan pintu masuk. Andika kembali berdiri dan mendekati kios makanan berat. Ia ingin makan bakso begitu pun dengan Namira. Andika memesan dua porsi bakso dan dua es teh manis.
Setelah memesan, ia kembali ke mejanya. Ia tersenyum menatap Namira, wanita yang kini menjalin kasih dengannya. Ia sengaja mengencani Namira agar ia mudah melupakan perasaannya terhadap Nadya. Walaupun belum sepenuhnya, tapi setidaknya ia sudah bisa sedikit teralihkan dari memikirkan Nadya.
Tidak beberapa lama, seseorang menghampiri mereka dan bergabung. Andika santai dan tidak masalah, berbeda dengan Namira, gadis itu tidak menyukai jika waktu berduanya dengan Andika terganggu. Apalagi lelaki yang duduk di hadapannya itu selalu memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Kamu sudah pesan ?" Tanya Andika ketika pesanannya datang.
"Sudah, tadi aku pesan nasi goreng terlebih dahulu baru duduk di sini," Jawab Bagas dengan mata tertuju pada gadis depannya dengan senyum sinisnya. Bagas tidak menyukai Namira, ia tahu betul bagaimana sifat asli gadis itu. Egois, Matre dan Sok Kalem.
__ADS_1
"Kalau begitu aku makan duluan," Ujar Andika lalu melahap bakso kesukaannya. Bagas hanya mengangguk.
" Dika, kamu sudah dengar berita yang beredar ?" Tanya Bagas sambil memainkan handphone miliknya.
"Berita apa ?" Andika menghentikan suapannya dan menatap Bagas dengan penuh tanda tanya.
"Raihan bakal balik ke Indonesia, ia akan mengambil alih hotel milik bapaknya," Ujar Bagas. Kini ia mulai menyantap makanannya yang baru saja datang.
"Bagus dong, berarti kita tidak lagi hanya berjalan berdua tapi bakal bertiga lagi," Ujar Andika, ia mulai menyantap kembali baksonya.
"Iya kamu benar, tapi mungkin kita akan jarang bareng seperti dulu karena Raihan akan menikah beberapa bulan lagi," Andika terdiam, ia menatap Bagas lalu tersenyum lebar.
Andai kau tahu siapa yang akan dia nikahi, senyummu tidak akan selebar itu. Batin Bagas.
"Apa kamu tidak ingin mempertanyakan siapa yang akan dinikahinya ?" Tanya Bagas.
"Tidak perlu, siapapun dia yang kita harapkan mereka akan selalu bahagia," Ujar Andika. Dia bukan tipe orang yang suka mengurusi urusan orang lain.
"Iya baguslah kalau begitu. Hmm Raihan meminta kita untuk ikut menemaninya ke rumah wanita itu malam kamis nanti," Andika hanya mengangguk dan tersenyum. Ia turut berbahagia atas berita yang ia dengar. Salah satu sahabat baiknya akan menempuh kehidupan baru.
Andika dan Bagas kini mengobrol mengenai banyak hal, sedangkan Namira hanya terdiam dengan wajah cemberut. Bagaimana tidak, setiap kali ia ingin mengajak Andika bercerita, selalu saja Bagas memotongnya.
Tanpa terasa makanan mereka telah habis, Bagas berpamitan untuk pulang. Ia langsung meninggalkan kantin dan berjalan menuju parkiran. Andika juga mengajak Namira pulang, ia harus mengurus keperluan wisudanya.
~Bersambung~
Terima kasih atas dukungan likenya ya, ditunggu komentarnya ya๐
Jangan lupa mampir juga di novelku yang lain๐
__ADS_1
Hijrah bersamamu dan Cinta Sang Asisten CEO๐ค๐