
Sudah seminggu Azka mengikuti Rio dan Laura, ia sangat yakin jika keduanya menyembunyikan sesuatu. Tetapi sepertinya nasib baik tak berpihak padanya, ia tidak pernah melihat Rio dan Laura berjalan berdua lagi. Azka pun merasa jika selama ini ia mungkin salah, dan ia berhenti mengikuti Rio.
Semenjak Mentari menanyakan tentang pertemuannya dengan Laura, Rio mulai menjaga jarak dengan Lura. Mereka hanya akan bertemu di rumah mereka. Mereka sudah jarang keluar bersama. Sampai suatu hari tanpa sengaja Azka yang sedang berjalan dengan Rani melihat Rio yang berjalan menuju lapangan Basket.
“ Sayang, kamu tunggu aku di sini ya, aku ada urusan dulu,” ujar Azka sambil berlari mengikuti Rio.
“ Tuh kan, mereka memiliki hubungan di belakang Mentari, kurang ajar tuh Rio,” gumang Azka yang sedang melihat Rio dan Laura sedang bercumbu.
“ Aku harus merekam mereka sebagai bukti,” Azka mencari Hpnya tapi sialnya ia tidak membawa hp.
“ Sialan, aku tidak bawa hp lagi, bagaimana caranya aku memberi tahu Mentari,” Azka sangat kesal melihat Rio dan Laura. Ia pun berlari meninggalkan keduanya dan mencari Mentari.
“ Tari sini, buruan ikut aku,” ujar Azka berlari menghampiri Mentari.
“ Apaan sih Ka, loe kenapa buru-buru gitu ?” tanya Radit yang duduk di samping Monika.
“ Aku mau buktiin ucapan aku seminggu lalu ke Mentari soal Rio dan Laura,” ujar azka sambil menarik Mentari.
“ Cukup ya Ka, mau sampai kapan sih loe mau menfitnah mereka ?” teriak Mentari melepas tangan Azka.
“ Kali ini, ku mohon percaya padaku, kalian bisa lihat sendiri mereka sedang di lapangan basket,” ujar Azka mencoba meyakinkan ketiga sahabatnya itu.
“ Sudahlah Tar, ayo kita pergi lihat,” ujar Monika menarik Mentari.
Mereka berempat berlari menuju lapangan basket, sesampai di sana tidak ada siapa-siapa. Dengan kecewa Azka pun hanya menunduk sambil berjalan kembali ke kelasnya.
Mentari hanya menatap Azka dengan tatapan tidak suka. Tanpa sengaja keempatnya bertemu dengan Rio dan Laura yang sedang membawa minuman dan cemilan.
“ Kalian darimana ? kami dari tadi mencari kalian ?” tanya Laura menghampiri Monika dan Mentari.
“ Kami juga mencari kalian, kalian dari mana ?” tanya Monika.
“ Kami dari kantin membeli ini,” sambil memperlihatkan kantongan yang ia pegang.
“ Tadi kami di suruh membawa peralatan olahraga ke ruang olahraga, jadi kami langsung ke kantin,” ucap Laura.
“ Apa kalian dari lapangan basket ?” tanya Radit penuh selidik.
“ Tidak, kami hanya dari ruang olahraga lalu ke kantin, antrian,” ujar Laura sambil menatap Rio.
__ADS_1
Flasback
“ Sayang setelah ini, kamu ikut aku ya,’ ujar Rio yang membawa beberapa alat olahraga.
“ Kemana sayang ?” tanya Laura yang juga sedang membawa beberapa alat olahraga.
“ Ikut aja, dan nikmati saja,” ujar Rio sambil tersenyum.
Setelah keluar dari ruang olahraga, keduanya berjalan menuju lapangan basket. Sesampainya di sana, Rio langsung menarik Laura, ia mengecup bibir Laura, dan lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi *******. Keduanya pun terlena dengan adegan panas mereka.
“ Sayang kamu tunggu di sini,” ujar Rio setelah melepas ciumannya.
“ Ada apa sayang,” ujar Laura sambil mengatur napasnya.
“ Sepertinya ada yang sedang melihat kita,” ujar Rio sambil berjalan ke pintu, dan benar seperti dugaannya, ia melihat Azka yang sedang berlari.
“ Azka tadi melihat kita, saya yakin ia akan memberitahukan Mentari, sebaiknya kita pergi ke kantin membeli minuman dan cemilan untuk sebagai alasan,” ujar Rio.
“ Ayo sayang, sebelum mereka datang ke sini,” ujar Laura sambil memperbaiki pakainnya.
Flash on
“ Sialan loe Rio,” gumang Azka sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
“ Kami percaya kok sayang, mungkin ada orang yang tidak menyukai hubungan kita, jadinya suka ngarang cerita,” ujar Mentari lalu menggandeng tangan Rio sambil melirik Azka. Azka hanya diam.
Mentari dan Rio pun berjalan sambil bergandengan tangan, diikuti oleh Monika dan Laura yang berjalan di belakang mereka. Sedangkan Radit menemani Azka yang terlihat sedang menahan emosi.
“ Kamu sebenarnya kenapa sih Ka ?” tanya Radit setelah keempatnya tidak terlihat lagi.
“ Sudahlah kamu pasti tidak akan mempercayaiku, percuma aku ngomong, kalian semua lebih mempercayai si brensek itu,” ujar Azka dengan emosi lalu meninggalkan Radit yang masih berdiri penuh keheranan.
“ Sepertinya aku harus mencari tahu kebenaran ini, nggak mungkin Azka tega menfitnah orang lain, apalagi sahabatnya sendiri,” gumang Radit menatap punggung Azka.
***
“ Apa Azka berbicara aneh lagi tentang kami sayang ?” tanya Rio sambil memegang tangan Mentari. Mentari hanya mengangguk.
“ Kamu tidak percayakan dengan omongannya ?’ tanya Laura yang sedang menikmati minuman dan cemilan yang ia bawa tadi.
__ADS_1
“ Tentu saja saya tidak percaya, kalian tidak mungkin mengkhianatikukan ?” ujar Mentari, yang diangguki Rio dan Laura.
“ Sepertinya Azka masih mencintaimu sayang, makanya dia ingin memisahkan kita,” ujar Rio.
“ Sudahlah, tidak usah memikirkan dia, aku males mikirin itu,” ujar Mentari dengan malas.
Kenapa saya malah ikut mencurigai mereka berdua ya ?. batin Monika.
“ Sayang nanti sepulang sekolah aku tidak bisa mengantar mu ya, aku ada urusan,” ujar Rio kemudian.
“ Iya nggak apa-apa kok sayang,” ujar Mentari.
“ Aku main futsall dulu ya,” ujar Rio sambil berlari ke lapangan futsall.
“Tar, aku mau nanya, apa Rio pernah menciummu ?” tanya Laura.
Brurrr... uhuk,uhuk,uhuk..
“ Kenapa kamu nanya itu Ra ?” tanya Mentari sambil terbatuk-batuk. Monika hanya tertawa melihat ekspresi Mentari.
“ Kenapa ? aku kan cuman mau tau aja, gimana sih rasanya ?” tanya Laura.
“ Tanya sama Monika aja, aku nggak pernah ciuman,” ujar Mentari, ia tiba-tiba mengingat saat Azka mengecup bibirnya.
Berarti aku cewek pertama yang dicium Rio. Batin Laura sambil tersenyum.
Monika pun tambah merasa aneh melihat tingkah Laura, ia merasa jika kakhir-akhir ini Laura kelihatan berbeda. Ia selalu memandangi wajah Laura, ia mencari sesuatu yang aneh.
" Kenapa menatapku seperti itu ?" tanya Laura kepada Monika.
"Kamu aneh banget, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu ?" Monika melihat Laura seakan meminta penjelasan.
" Emang salah kalau saya bertanya begitu ?" tanya Laura.
"Nggak sih," balas Monika sambil tersenyum.
***
Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏
__ADS_1
Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏