Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Hari-hari mereka lalui dengan penuh kegembiraan, persahabatan mereka semakin erat. Walaupun terkadang antara Azka dan Rio terlihat dingin karena kecemburuan masing-masing melihat kedekatan salah satunya dengan Mentari.


Tidak terasa Semester Genap telah hampir usai, sebentar lagi mereka akan ulangan kenaikan kelas. Mereka sudah mulai sibuk belajar bersama, walaupun mereka berbeda jurusan tetapi mereka tetap sering janjian belajar bersama. Azka, Rio dan Mentari yang mengambil jurusan IPA, sedangkan Radit, Laura dan Monika mengambil jurusan IPS.


***


“ Laura kamu mau kemana nak ?” Bu Maya menghampiri putrinya yang sedang berdiri di ambang pintu.


“ Ke rumah Azka Ma, mau belajar bareng,” Laura menghampiri mamanya dan menyalaminya.


“ Laura apa kamu sudah mengambil keputusan tentang pertanyaan papa semalam ?” kini suara itu bukan berasal dari mamanya, melainkan dari papanya yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang istrinya.


“ Laura kan sudah bilang, Laura nggak mau dijodohkan, kalau papa suka sama anak teman papa. Papa aja yang nikah dengannya,” Laura pun berlari meninggalkan papa dan mamanya.


“ Anak itu, entah kapan ia bisa menerima perjodohan ini ?” Pak Robi hanya bisa menghela napas secara kasar melihat penolakan putrinya itu.


“ Sabar pak, biarkanlah dulu seperti ini, kita dekatkan mereka secara perlahan,” Bu Maya nampak menenangkan suaminya.


***


“ Kenapa tuh wajah, sudah kayak pakaian nggak pernah distrika aja,” Azka menggoda Laura yang duduk di ruang tamu, dia terlalu cepat datang.


“ Aku jengkel sama papa dan mama aku,” ucap Laura dengan kesal.


“ Kenapa ?” tanya Mentari yang datang membawa minuman dan beberapa cemilan dari arah dapur.


“ Aku mau dijodohin,” bukannya kasian, Azka malah tertawa mengejek Laura. Laura pun semakin kesal dengan sahabatnya itu.


“ Kamu tahu dengan siapa kamu dijodohkan ? apa orangnya tua? Aatau dewasa ?” Laura menggeleng.


“ Aku belum bertemu dengannya, tapi kata papa dia seumuran dengan kita, masih muda.” Laura bercerita dengan raut sedihnya.


“ Lalu apa yang membuatmu menolak ? bukannya bagus, jadi kamu nggak mesti menjalani hubungan yang tidak pasti seperti berpacaran itu,” Mentari duduk di samping Laura, ucapan Mentari membuat Azka dan Laura menatapnya.


“ Kenapa kalian menatapku seperti itu ?” ujar Mentari dengan kesal.


“ Maksud kamu apa barusan Tar ? Apakah hubungan kita adalah hubungan yang tidak jelas bagi mu ?” Mentari terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya, suara yang tiap hari menemani hari-harinya.


Sontak mereka bertiga menoleh ke sumber suara, dan terlihatlah Rio yangberdiri bersama Radit dan Monika.


“ Bukan itu maksudku sayang,” Mentari lalu berdiri dan mendekati Rio.


“ Lalu apa maksud kata-kata mu tadi ? aku mendengarnya dengan jelas loh,” Rio masih berdiri di tempatnya, ia terlihat kesal dengan ucapan Mentari.


“ Duduklah terlebih dahulu sayang, nggak enak kita berbicara dalam keadaan berdiri,” Mentari menarik Rio duduk di depan Laura.


Radit dan Monika juga duduk di samping Azka dan Laura. Rio masih menatap Mentari meminta penjelasan atas ucapannya tadi.


“ Sayang dengarkan aku, “ Mentari memegang tangan Rio.

__ADS_1


“ Berpacaran itu menurut aku adalah hubungan yang belum pasti, karena apa pun bisa terjadi setelahnya, banyak pasangan yang berpacaran bertahun-tahun tetapi malah berakhir dengan minikahi orang lain,” Rio yang ingin berbicara ditahan oleh Mentari.


“ Seperti halnya hubungan kita, kita tidak akan tahu akan seperti apa akhirnya nanti, tapi yakinlah, aku akan selalu berusaha menjaga hubungan ini, meskipun kita akan lama berpisah karena aku telah bertekad mengejar cita-citaku,” Mentari menatap Rio dengan tulus.


“ Aku tak kan memintamu menungguku, jika kita berjodoh, sejauh apa pun jarak antara kita, sebesar apa pun rintangan cinta kita, maka suatu hari nanti kita akan dipertemukan dengan caranya. Yakinlah sayang.” Lanjut Mentari.


***


“ Rio papa ingin berbicara denganmu nak,” Rio pun berjalan ke arah papanya yang sedang berbincang dengan kakaknya.


“ Papa mau bicara apa ?” Rio duduk di samping kakaknya.


“ Rio sebentar lagi kamu akan naik kelas XII dan tidak lama lagi kamu akan lulus...”


“ Langsung keintinya aja Pa, Rio capek,” Rio langsung memotong ucapan papanya. Ia tahu pasti papanya merencanakan suatu hal lagi untuk Rio dengan dalil demi kebaikannya.


“ Papa akan menjodohkanmu dengan anak teman papa,” ucap Pak Ibrahim dengan tegas.


“ Rio tidak mau dijodohkan Pa, Rio punya kekasih, Rio sangat mencintainya,” Rio menolak dengan tegas permintaan papanya itu.


“ Kamu harus menerimanya, ini demi kebaikanmu, atau paling tidak bertemulah dulu dengannya baru beri jawabanmu,” Pak ibrahim mencoba membujuk putra bungsunya itu.


“ Kenapa sih papa selalu mementingkan kemauan papa tanpa mempedulikan perasaan anak papa. Aku bukan seperti anak kesayangan papa yang selalu menuruti ide gila papa demi kejayaan papa,” Rio berteriak ke arah papanya. Rio menyindir kakaknya yang duduk di sampingnya.


“ Kalau kamu mau kekasihmu itu aman dan selamat, kamu harus menerima perjodohan ini,” Pak Ibrahim memperingati anaknya dengan suara yang mengintimidasi. Rio menatap sang papa dengan tatapan tidak sukanya.


Raihan hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan sendu, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan adiknya. Seperti apa yang dikatakan Rio, kakaknyaitu selalu menuruti kemauan papanya.


***


“ Laura bersiaplah, sebentar malam teman papa dan anaknya akan datang menemuimu,” Laura hanya bisa menatap tajam sang papa.


“ Bersikap manislah, jangan membuat papa malu di hadapan teman papa,” Pak Robi mengusap rambut putri kesayangannya itu.


“ Sayang kamu yang sabar ya, mama dan papa juga dulu dijodohkan, dan kamu lihat kami juga bahagia layaknya pasangan yang menikah atas dasar cinta. Cinta itu akan hadir seiring berjalannya waktu nak,” Bu Maya menasehati putrinya.


“ Lagian masa kamu kalah sama Monika, yang menerima perjodohan yang dilakukan papanya,”


“ Apa ? Monika juga mau dijodohkan Ma ? padahalkan dia punya pacar,” Laura terkejut dengan ucapan mamanya.


Lalu bagaimana hubungan monika dengan Radit, seperti itulah yang dipikirkan Laura.


“ Pacarnya yang sekarangkan yang dijodohkan dengannya, Mama dengar mereka berpacaran setelah menerima perjodohan itu,” Laura pun bernapas legah, ia juga baru mengetahui alasan kenapa kedua sahabatnya itu tiba-tiba berpacaran, ternyata mereka dijodohkan.


***


Malam ini kedua keluarga sedang bertemu untuk membahas penyatuan keluarga itu adalam ikatan pernikahan. Rio, Pak Ibrahim, Raihan dan Mita istri Raihan sudah datang di rumah Laura. Laura belum nanpak batang hidungnya, ia masih sedang dibujuk oleh mamanya agar mau menemui teman papanya itu.


Setelah dibujuk berjam-jam, ia pun akhirnya setuju turun dan menemui lelaki yang kelak akan dijodohkan dengannya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Rio yang duduk di antara orang-orang yang menunggunya.

__ADS_1


“ Rio ?”


“ Laura ?”


“ Kalian sudah kenal ? Baguslah kalau begitu, kalian sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk bersama.” Semua orang tertawa mendengarkan ucapan Pak Robi, kecuali dua orang yang menjadi bahan candaan orang-orang tersebut.


“ Duduklah nak, sini di dekat Om,” Pak Ibrahim menarik Laura duduk di sampingnya. Laura pun dengan berat hati menuruti permintaan papanya Rio.


Rio menatap Laura, begitupun Laura. Mereka sedang berbicara lewat tatapan. Entah apa yang mereka pikirkan. Setelah mereka bertatapan dan saling mengangguk, keduanya pun meminta izin untuk berbicara berdua. Tentu saja permintaan mereka disambut dengan senang hati kedua papa mereka.


“ Gila ya, bisa-bisanya kita dijodohkan, tadinya saya sudah pasrah mau menerima perjodohan ini, tapi karena tahu kamu yang mau dijodohkan denganku, sepertinya saya harus kembali menolak,” Laura berucap dengan kesalnya sembari duduk di bangku yang ada di dekat kolam renang.


“ Aku sih terpaksa ke sini, sampai sekarang aku masih tidak menerima perjodohan ini, kamu tahu kan aku sangat mencintai Mentari, dan kamu juga mendengar keseriusan Mentari menjalani hubungan kami ini,” Rio juga memilih duduk di samping Laura.


“ Aku sangat tahu tentang itu, jadi apa yang akan kita lakukan ? Asal kamu tahu ya Rio, papa aku orangnya sangat keras. Sangat sulit melawan kehendaknya,” Laura mendesah dengan kesal.


“ Aku juga pusing, papa aku juga orangnya keras, kamu lihat tadi laki-laki di sampingku ? itu kakakku, dia juga dijodohkan oleh papaku,” Rio mulai bercerita dengan kesalnya.


“ Oya, kamu pasti akan kaget dengar berita yang ku dapat,” Laura menatap Rio, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Laura langsung memalingkan wajahnya. Dia sangat malu, begitu pun Rio.


“ Berita apa ?” Rio kemudian bertanya, ia masih penasaran dengan ucapan Laura tadi.


“ Ternyata Monika dan Radit juga dijodohkan, dan mereka akan menikah setelah lulus sekolah,” Laura menatap ke depan, ia tak mau menoleh ke arah Rio, ia takut bertatapan dengannya. Rio yang mendengar itu pun sangat terkejut.


“ Benarkah ? Ternyata bukan hanya keluarga kita saja yang masih memegang tradisi kuno ini, tapi setidaknya mereka lebih beruntung karena mereka menikmati perjodohan itu,” Laura hanya tersenyum kecut.


Awalnya Laura berpikir jika ia juga mungkin suatu hari nanti bisa menikmati perjodohan ini, tetapi setelah mengetahu dengan siapa ia dijodohkan, ia jadi pesimis.


Lelaki yang tidak lain adalah kekasih sahabatnya itu sangat mencintai kekasihnya. Entah kenapa ada rasa kecewa yang menyelimuti hatinya.


“ Rio,”


Raihan berdiri di ambang pintu belakang rumah Laura, sontak membuat Laura dan Rio langsung menoleh dan tanpa sengaja kepala mereka bertabrakan karena posisi duduk mereka sangat dekat sehingga mereka langsung bertatapan, dan paling parahnya bibir keduanya pun bersentuhan.


Laura dan Rio melotot, mereka terkejut dan malu dengan tingkah mereka barusan. Raihan yang melihat keduanya hanya tersenyum.


“ Kalian lanjut besok mesra-mesranya, udah jam sepuluh, kita udah mau pulang” teriak Raihan.


Yang mebuat keduanya merah merona karena malu. Dengan terburu-buru Laura berlari meninggalkan Rio, karena pinggir kolam licin ia pun terjatuh, Rio yang ingin menarik Laura malah ikut terjatuh.


Byurrr...


Mereka terjatuh dalam kolam dengan posisi berpegangan, dengan sigap Rio memeluk tubuh Laura dan berenang ke pinggir kolam. Keduanya hanya bisa terdiam karena malu.


***


Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏


Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏

__ADS_1


__ADS_2