
Malam ini adalah waktunya memberi keputusan. Nadya menghela napasnya dengan kasar, ia sudah mengenakan baju kebaya pilihan Raihan. Sebagai tanda jika ia menerima lamaran yang diajukan Raihan. Nadya akan mencoba membuka hatinya, ia sudah tidak bisa mengharapkan cinta yang tidak pasti.
Tok tok tok
Ketukan pintu mengalihkan pikirannya, Nadya beranjak membuka pintu. Ia tersenyum melihat sahabat sekaligus sepupunya. Rika memasuki kamar Nadya, ia akan menemani Nadya di kamar sampai keluarga laki-laki yang melamar Nadya.
***
Di Kediaman Ustadz Ismail
Andika datang bersama Namira, mereka terlihat sangat serasi. Semua menatap mereka dengan wajah kagum kecuali seseorang, ia sangat tidak menyukai gadis di samping sahabatnya itu bagaikan rubah yang penuh tipu muslihat.
"Kenapa kamu membawanya kemari ?" Bagas menatap sinis Namira.
"Jangan terlalu membencinya, nanti kamu malah naksir Gas," Goda Andika tanpa memperhatikan wajah Namira yang mulai masam.
"Idih, amit-amit deh," Ujar Bagas.
"Ayo kita berangkat," Raihan datang menghampiri sahabat-sahabatnya itu.
"Siapa nih?" Tanya Raihan menatap Namira.
"Kekasihku, cantik kan ?" Tanya Andika, menggenggam tangan Namira, Namira tersenyum sinis ke arah Bagas lalu tersenyum manis pada Andika dan Raihan.
"Dasar wanita rubah," Gumang Bagas.
"Cantik, tapi lebih cantik lagi calon istriku. Kamu pasti akan menyukainya, Iya kan Gas ?" Tanya Raihan dengan senyum manisnya.
"Tentu, wanita yang cantik luar dan dalam. Wanita yang apa adanya, bukan karena ada apanya," Sindir Bagas, Namira hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Kamu begitu mengenalnya, apa kamu pernah bertemu dengannya ? Kenapa aku tidak diajak?" Andika sedikit kecewa.
"Tentu saja aku mengenalnya, bukan hanya aku, kamu pun juga sangat mengenalnya," Jawab Bagas.
"Benarkah ? Siapa ?" Tanya Andika
"Nanti juga kamu akan melihatnya," Ujar Raihan lalu bergegas berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
__ADS_1
Andika menyimpan motornya di parkiran rumah Raihan. Ia memilih naik ke mobil Bagas, begitu pun dengan Namira. Walaupun gadis itu sebenarnya ingin naik motor, ia malas menghadapi sikap ketus Bagas. Sedangkan Raihan memilih satu mobil dengan kedua orang tuanya.
Kedua mobil itu beriringan menuju rumah baru Yusuf, acara lamaran itu akan dilaksanakan di sana. Andika lebih banyak diam, entah mengapa dadanya terasa sesak. Apalagi ia sangat penasaran dengan gadis yang akan dilamar Raihan, kenapa Bagas mengenalnya dan mengatakan jika ia juga mengenal gadis itu.
"Kenapa kamu diam saja ?" Bagas melirik sekilas sahabatnya itu lalu kembali fokus memperhatikan jalanan.
"Aku hanya penasaran dengan gadis itu, siapa sih ?" Tanya Andika.
Aku kamu pernah bilang jika siapa pun dia tidak penting, yang penting sahabat kita bahagia," Ujar Bagas mengingatkan ucapan Andika tempo hari ketika ia menanyakan kepada Andika apakah ia tidak ingin mengetahui siapa gadis yang dilamar Raihan.
"Iya deh," Jawab Andika dengan lesuh, lebih baik dia diam aja, toh dia juga akan tahu nanti. Lebih baik menahan dulu rasa penasarannya.
Entah bagaimana reaksi kamu nanti jika melihat siapa gadis itu. Pikir Bagas.
***
Kembali lagi di Kediaman Yusuf
Semua keluarga Nadya telah bersiap-siap, makanan telah tertata rapi di atas meja makan. Sekarang mereka duduk santai di ruang tamu sambil menunggu keluarga calon besan mereka.
Tidak berapa lama terdengar dua buah mobil tiba di kediaman mereka, mereka pun segera keluar untuk menyambut tamu mereka.
Ustadz Ismail, Ummi Maryam, dan Raihan berjalan duluan. Andika, Bagas dan Namira berjalan di belakang sambil membawa bingkisan. Namira memeluk lengan Andika dengan mesra, mereka berjalan beriringan.
Andika belum melihat orang-orang yang berdiri menyambut mereka, ia masih santai berjalan. Sesekali ia tersenyum manis pada Namira, membuat gadis itu tersenyum bahagia.
"Selamat datang Ustadz," Ujar Kyai Lukman menyambut Ustadz Ismail beserta keluarganya.
" Suara itu kan, suara Abi Lukman," Gumang Andika ketika mengenali suara seseorang yang ada di hadapan mereka.
"Mama ? Papa ?" Gumang Andika ketika melihat kedua orang tuanya dan keluarga suami Mentari menyambut mereka. Dada Andika kini mulai bergemuruh, ia sudah mulai menduga siapa yang akan dilamar oleh Raihan.
Andika menoleh ke arah Bagas yang terlihat cuek dan biasa-biasa saja.
"Andika ?" Teriak Mamanya kaget melihat putra bungsunya datang bersama rombongan laki-laki. Padahal dia dan suaminya sengaja tidak memberi tahu hal ini kepada Andika.
"Mama ? Papa ? Kenapa kalian di sini ?" Tanya Andika.
__ADS_1
"Nak Dika, kamu kenal dengan Nak Raihan ?" Tanya Ummi Kalsum.
Baru saja Andika ingin menjawab, Kyai Lukman memotong pembicaraan mereka dan mengajak semuanya masuk ke dalam. Andika masuk dengan penuh tanda tanya, ia juga mencari sosok seseorang yang ia rindukan.
"Biar aku ke atas memanggil Nadya dan Rika ummi," Ujar Mentari. Ia langsung bergegas naik ke atas membuat dada Andika semakin bergemuruh. Pak Raihan dan Bu Santi hanya bisa menatap sendu putra mereka, pasalnya mereka mengetahui jika Andika menyukai Nadya.
Wajah Raihan terlihat cerah ketika melihat Nadya turun menggunakan kebaya pilihannya, sebagai tanda jika gadis itu menerima lamaran Raihan. Ustadz Ismail dan istrinya mengucap syukur ketika melihat Nadya menggunakan kebaya pilihan putranya.
"Alhamdulillah," Ujar semua orang di sana, kecuali Bagas yang masih menatap sendu sahabatnya, Andika dan Namira yang masih bingung, dan juga kedua orang tua Andika.
Langkah Nadya terhenti ketika manik matanya bertemu dengan manik mata Andika, ia kaget melihat keberadaan Andika. Setahunya Andika tidak datang, tapi kenapa laki-laki itu ada di sini.
Semua orang menatap bingung melihat Nadya yang berhenti melangkah, Rika yang melihat situasi itupun berbisik kepada Nadya, "Bersikap biasa-biasa aja Nad, semua orang menatapmu, kamu jangan langsung goyah begini. Lanjutkan langkahmu," Nadya tersentak kaget, ia pun mengubah ekspresi wajahnya, ia tersenyum kepada semua orang. Semuanya pun ikut tersenyum. Kecuali Andika, ia masih terdiam dari keterkejutannya.
Andika menoleh menatap Bagas yang duduk di sampingnya, "Kenapa kamu tidak memberi tahuku ?" Bagas hanya terdiam. Andika yang kesal langsung menendang kaki Bagas membuat lelaki itu meringis.
"Kamu kenapa Gas ?" Tanya Raihan yang duduk di samping Bagas.
"Tidak apa-apa kok," Matanya kini menatap tajam Andika.
"Bukankah kamu tidak peduli dengan Nadya, kamu sudah tidak mencintainya lagi. Ingat kamu sudah memiliki kekasih, jadi kamu biasa saja. Lagian kamu juga tidak bisa berbuat apa-apa, Nadya telah menerima lamarannya," Bisik Bagas.
"Darimana kamu tahu ? " Tanya Andika, mereka masih saling berbisik. Belum sempat Bagas menjawab, tiba-tiba Ustadz Ismail telah bersuara.
"Alhamdulillah lamaran kami diterima, jadi kita akan membicarakan pernikahan mereka malam ini," Ujar Ustadz Ismail dengan semangat.
"Maaf Om, Nadya kan belum menjawab," Potong Andika, pasalnya sedari tadi gadis itu hanya diam menunduk. Kapan ia menerima lamaran itu. Semua tersenyum mendengar pertanyaan Andika. Andika semakin bingung.
"Nak Dika ini seperti tidak terima keputusan saja," Goda Ustadz Ismail yang membuat yang ada di ruangan itu tertawa. "Begini Nak Dika, jawaban Nak Nadya itu dari baju yang ia pakai ini malam, kami memberi dua baju, jika ia memakai baju pilihan Raihan maka ia menerima lamarannya tapi jika ia memakai yang satu maka lamaran ditolak dan Alhamdulillah Nak Nadya memakai pilihan Raihan," Sambung Ustadz Ismail.
Andika kini terdiam, ia menatap Nadya yang masih setia menunduk. Ia kecewa dan merasa sakit menerima kenyataan ini, gadis yang masih dicintainya itu harus menikah dengan sahabatnya. Tanpa ia sadari setetes air mata jatuh membasahi pipinya, hal itu tertangkap mata oleh Ummi Kalsum dan Kiayai Lukman.
~Bersambung~
Maaf baru update karena sibuk di dunia nyata 🙏
Jangan lupa like dan komentar nya ya🙏
__ADS_1