
Hari ini tahun ajaran baru sudah dimulai, Mentari sudah berada di kelas XII. Mereka sudah tidak menjabat pengurus OSIS. Saat ini mereka fokus untuk mendapatkan nilai terbaik, hubungan persahabatan mereka juga masih terjalin dengan baik.
“ Ra, aku antar kamu pulang ya bentar, tapi aku antar Mentari dulu,” ujar Rio kepada Laura. Mereka sudah semakin dekat, bahkan sering jalan bareng tanpa sepengetahuan Mentari.
“ Iya, aku akan menunggu kamu sayang,” ujar Laura. Ia sudah sangat mencintai Rio, bahkan kini ia tidak akan melepaskan Rio.
“ Kalau begitu saya ke kelas duluan ya,”
Rio berjalan meninggalkan Laura. Ia sudah menerima perjodohan ini, tetapi belum memutuskan hubungannya dengan Mentari. Ia pun menjalani hubungan Backstreet dengan Laura.
Setelah masuk di dalam kelas, ia melihat Mentari, Azka, Radit dan Monika sedang berbincang-bincang. Ia pun mendekat dan menyimpan tasnya di bangkunya.
“ Maafkan saya ya sayang akhir-akhir ini tidak bisa menjemputmu," ujar Rio tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
“ Nggak apa-apa kok sayang,” balas Mentari.
“ Hai semuanya,” teriak Laura dan bergabung dengan teman-temannya.
“ Bahagia banget kamu Ra?” tanya Radit yang sedang duduk di samping Monik.
“ Iya dong, aku bahagia hari ini,” ujar Laura lalu duduk di samping Azka dan langsung menggandeng lengan Azka.
Azka lalu tersenyum dan mengusap rambut Laura yang terlihat manis dengan tingkahnya itu. Rio yang melihat itu menatap dengan tajam ke arah Azka.
“ Apa yang membuatmu bahagia ?” tanya Azka yang masih membiarkan Laura memeluk lengannya.
“ Masalah perjodohanku sudah clear, kami sudah memutuskan menerima perjodohan itu, dan dia akan memutuskan hubungannya dengan kekasihnya,” ujar Laura sambil melirik Rio yang sedang tersenyum ke arahnya.
“ Bagus dong kalau begitu, itu baru Laki kalau begitu,” ujar Radit dengan puas.
“ Kok saya malah sedih ya? Kamu nggak bisa manja di saya lagi dong,” ujar Azka yang pura-pura sedih.
“ Aku kan adik angkat kamu, aku masih bisa bermanja-manja denganmu, selama kamu belum nikah,” ujar Laura dengan bahagia.
“ Nggak boleh,” ujar Rio dengan tegas. Yang membuat sahabatnya heran dengan ucapan Rio. Menyadari jika ia salah bicara dengan cepat ia menjelaskan ucapannya.
“ Maksud aku, kamu nggak bisa seperti Ra, bagaimana pun kalian tidak ada hubungan darah, pasti calon suami kamu tidak senang dengan itu, kayak aku nggak suka kalau Mentari bermanjaan dengan laki-laki lain,” jelas Rio.
“ Benar yang dikatakan Rio Ra, kamu harus menjaga sikap untuk menghargai perasaan calon suami kamu.” Ujar Mentari.
“ Emang apa salahnya ? dia saja sampai sekarang masih jalan dengan kekasihnya itu, masa saya nggak bisa dekat dengan laki-laki lain,” teriak Laura yang tidak terima ucapan Rio dan Mentari.
“ Kenapa malah kalian berdebat gini sih ? sudahlah hentikan perdebatan kalian, itu bisa merusak persahabatan kita,” ujar Monika menengahi perdebatan sahabatnya itu yang mungkin akan berakhir dengan permusuhan.
“Maaf,” ucap Mentari dan Laura.
__ADS_1
Tanpa terasa bel masuk pun berbunyi. mereka kembali ke kelas masing-masing. Hari ini kelas Mentari tidak ada kegiatan pembelajaran karena guru yang mengajar di kelasnya izin tidak masuk.
Mentari pun berjalan-jalan ke taman kelas, ia mencari keberadaan Rio dan Azka. Tak lama kemudian ia melihat Azka yang duduk sambil meminum jusnya.
***
“ Itukan Laura dan Rio, sedang apa mereka di sana ? kenapa mereka terlihat dekat gitu ?” tanya Azka yang sedang menatap Laura dan Rio yang baru saja keluar dari kafe.
“ Sepertinya ada yang aneh dari mereka, apakah saya harus memberi tahukan Mentari nggak ya?” Azka masih berdiri menatap Laura dan Rio yang sudah naik di atas motor.
Azka pun tambah penasaran terhadap kedekatan keduanya setelah melihat Laura yang memeluk Rio di atas motor.
Setelah Laura dan Rio tak terlihat lagi, Azka pun berlari mengambil motornya dan mengenderainya pulang ke rumah. Dia akan memberitahu Mentari dengan apa yang ia lihat, ia mencurigai jika ada sesuatu yang disembunyikan Laura dan Rio.
“ Mana Mentari Dik ?”
Andika yang lagi asyik bermain game pun langsung terlonjak kaget sehingga ia terjatuh dari sofa, pasalnya Azka berteriak sambil berlari ke arahnya.
“ Aduh kak Azka bikin kaget aja sih, untung Dika nggak jantungan,” ujar Andika sambil berdiri dan duduk kembali ke sofa.
“ Aduh maaf, kak Azka buru-buru Dik, Mentari mana sih ?” tanya Azka sambil tertawa kecil melihat wajah kesal adiknya.
“ Biasalah lagi di kamar paling belajar, diakan ngebet banget kuliah di Oxford, jadi tiada hari tanpa belajar,” ujar Andika sambil menunjuk kamar Mentari dengan ekor matanya.
“ Aku mau ngomong bentar sama kamu Tar,” ujar Azka setelah masuk ke kamar Mentari.
“ Ngomong apaan Ka ?” Mentari menoleh ke arah Azka yang sudah duduk di pinggir kasurnya.
“ Tapi kamu janji jangan marah ya ?” ujar Azka. Mentari hanya mengangguk.
“ Tadi aku melihat Laura dan Rio berjalan keluar dari kafe sambil bergandengan tangan,” ujar Azka sambil menatap Mentari.
“ Lalu ?” tanya Mentari dengan malas.
“ Kok malah lalu ? apa kamu tidak cemburu ?” tanya Azka yang heran melihat ekspresi Mentari yang hanya biasa-biasa saja.
“ Azka, aku mohon ke kamu ya, kamu nggak usah mencampuri hubungan aku dan Rio, aku tahu kamu hanya ingin aku cemburu lalu marah ke Rio dan putus. Itukan mau mu ?” teriak Mentari dengan suara lantang, sampai-sampai suaranya terdengar di lantai satu.
“ Aduh apa-apaan sih tuh orang di atas, nggak kak Azka, Nggak Kak Tari bikin jantung aku mau copot aja,” Andika ngedumel gara-gara kaget mendengarkan teriakan Mentari. Ia pun berlari menaiki tangga.
“Aku serius Tar, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kok, bahkan mereka berpelukan di atas motor,” Azka masih mencoba meyakinkan Mentari yang kelihatan tidak mempercayai ucapannya barusan.
“ Cukup Ya Azka, aku minta ke kamu nggak usah ngarang cerita, mending kamu keluar deh, aku mau belajar,” Mentari berdiri lalu membuka pintu dan berdiri di sana.
“ Kalian kenapa ?” Andika bertanya dengan wajah keheranan melihat Mentari yang terlihat sedang menahan emosi.
__ADS_1
“ Aku bilang, kamu keluar !!!” teriak Mentari kepada Azka, Azka pun terlonjak kaget.
Dengan terpaksa ia berjalan keluar. Setelah berdiri tepat di hadapan Mentari, ia berbalik dan berbicara, “ Aku akan buktiin omonganku barusan Tar,”
Setelah mengatakan itu Azka berjalan meninggalkan Mentari yang diikuti Andika. Andika memilih pergi karena takut dengan ekspresi Mentari.
“ Palingan dia salah lihat, nggak mungkin Rio dan Laura mengkhianatiku,” gumang Mentari setelah menutup pintu kamarnya.
Di sisi lain..
“ Ada apa sih kak ? kenapa kak Tari terlihat emosi gitu kepada kak Azka ?” Andika mengikuti Azka sampai ke kamar Azka.
“ Tadi aku melihat Laura dan Rio keluar dari kafe sambil bergandeng tangan,” ujar Azka dengan lesuh.
“ Masa sih kak? Kakak salah lihat kali ?”
Andika juga tidak percaya dengan ucapan Azka, pasalnya mereka tahu jika Rio sangat mencintai Mentari dan Laura adalah sahabat Mentari jadi nggak mungkinkan mereka mengkhianati Mentari, itulah di pikiran Andika.
“ Sudahlah, kamu juga nggak percaya sama saya, mending kamu keluar, aku mau istirahat,” Ujar Azka lalu melemparkan dirinya ke atas kasur.
***
Keesokan harinya..
“ Sayang aku mau ngomong sama kamu,” Mentari menarik Rio ke taman belakang ruang UKS.
“ Mau ngomong apaan sayang ?” tanya Rio setelah mereka sudah sampai di taman tersebu.
“ Kemarin apa kamu dan Laura janjian ketemuan di kafe ?” pertanyaan Mentari membuat Rio kaget.
“ Kenapa kamu nanya itu sayang ?” tanya Rio setelah mernormalkan perasaannya.
“ Kemarin Azka melihat kalian keluar dari Kafe sambil bergandengan tangan,”
Mentari menceritakan apa yang dilihat Azka kemarin, dia ingin langsung mengkonfirmasi langsung ke Rio, ia tidak mau kalau terjadi kesalahpahaman dalam hubungannya.
“ Oh, kami nggak janjian sayang, kebetulan ketemu, dan soal bergandengan tangan, Azka salah lihat sayang, kami memang berjalan beriringan, lagian mana mungkin kami mengkhianatimu,” Rio mencoba meyakinkan Mentari.
“ Saya percaya sama kalian, iya Azka pasti salah lihat,” Mentari pun menggandeng tangan Rio..
***
Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏
Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏
__ADS_1