
Hari ini Radit mengikuti Rio, ia juga ingin memastikan kecurigaan Azka. setelah mengikuti Rio , tetapi ia merasa jika tidak ada yang aneh.
Sudah hampir dua minggu ia mengikuti Rio, sampai suatu malam, ia melihat Rio berboncengan dengan Laura, mereka sedang menuju sebuah restoran.
Ia pun mengikuti keduanya. Setelah melihat keduanya masuk ke Restauran tersebut, Radit turun dan ingin masuk.
“ Maaf mas, Restaurannya sudah tutup,” ujar salah satu karyawan di restauran ini.
“ Tapi saya melihat tadi ada dua orang yang masuk ke dalam.” Ujar Radit sambil menoleh masuk ke restauran tersebut.
“ Restauran kami sudah dipesan untuk acara pertunangan dua orang tadi mas,”
Deg..
“Apa ? mereka bertunangan ini malam mba ?’ tanya Radit yang terkejut dengan ucapan Karyawan restauran tersebut.
“ Iya mas, jadi silahkan anda meninggalkan restauran ini mas,” ujar karyawan itu dengan sopan.
Dengan sejuta pertanyaan yang muncul di benak Radit, ia mengambil motornya dan mengendarainya ke rumah Monika.
“ Sayang kamu dari mana ?” tanya Monika ketika ia melihat Radit yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“ Sayang apa kamu mempercayaiku ?” tanya Radit. Monika langsung menatap penuh tanya kepada Radit.
“ Tadi aku melihat Laura dan Rio masuk ke restauran, dan kata karyawan restauran itu mereka bertunangan ini malam,” ujar Radit sambil menatap Monikah.
“ Apa ? jadi kecurigaanku selama ini betul dong,”
“ Maksud kamu apa sayang ? jadi kamu juga mencurigai mereka ?”
“ Iya, semenjak hari di mana Azka melihat Rio dan Laura di lapangan basket, saya sudah mulai curiga. Nggak mungkin kan Azka berbohong,” ujar Monika.
“ Jadi apa yang harus kita lakukan ? kita tidak mungkin kan diam saja, apalagi gara-gara masalah ini, Azka dan Mentari bermusuhan lagi,” ujar Monika lagi.
“ Ayo kita ke rumah Azka, kita ajak Mentari dan Azka ke Restauran itu, pasti pestanya belum selesai, nggak mungkinkan pesta hanya sejam, dua jam,” ujar Radit.
Monika lari mengambil tasnya dan berpamitan kepada bibinya, karena kedua orang tuanya sedang ke pesta anak temannya. Setelah berpamitan mereka langsung menuju rumah Azka.
__ADS_1
“ Ayolah Tar, kami lagi ingin mentraktir kamu,” Monika mencoba membujuk Mentari agar ia mau ikut dengannya.
“ Aku hubungi Rio kalau gitu..”
“ Nggak usah Tar, kamu boncengan sama Azka aja, Rio tadi sudah dihubungi sama Radit,” ujar Monika lagi.
“ Iya, tadi saya suruh dia menjemput Laura,” ujar Radit dengan gugup.
“ Baiklah,” Mentari pun mengambil tasnya.
Dengan terpaksa Mentari menaiki motor azka, ia hanya berpegangan di motor Azka. sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara keduanya.
Azka hanya sesekali melirik Mentari lewat kaca spion motornya. Ada rasa bahagia yang menjalar di dalam tubuhnya, ia bahagia bisa berboncengan dengan Mentari, walaupun mereka tidak saling berbicara.
“ Restauranya tutup tuh Dit,” ujar Mentari ketika turun dari motor Azka.
“ Ayo kita ke sana dulu deh bertanya,” ujar Radit.
Mereka pun berjalan ke Restauran tersebut. Azka hanya diam mengikuti langkah ketiga sahabatnya.
“ Aduh mas lagi, tadikan sudah saya katakan jika di dalam ada pesta,” ujar salah satu karyawan restauran tersebut.
“ Apa-apaan sih kalian ? ayo kita ke tempat lain aja,” ujar Mentari sambil menarik Monika.
Langkah mereka terhenti ketika dua orang yang mereka kenal keluar dari restauran itu sambil bergandengan tangan.
“ Laura, Rio” ujar Mentari ketika mengenali dua orang yang keluar dari restauran itu.
“ Mentari ?” teriak keduanya, keduanya juga kaget melihat Mentari dan ketiga sahabatnya berdiri di depan restauran tempatnya mengadakan acara lamaran.
“ Kalian ngapain di sini ?” tanya Mentari sambil menatap tangan keduanya yang masih bergandangan.
Rio dan Laura langsung melepaskan tangan mereka. Belum sempat mereka menjawab, tiba-tiba Raihan keluar dan menghampiri keduanya.
“ Rio langsung antarkan Laura pulang, pasti dia kelelahan gara-gara acara pertunangan kalian ini, jangan keluyuran kemana-mana,” ujar Raihan yang masih tidak menyadari dan mengenali orang yang ada di hadapan adiknya itu.
“ Apa mereka temanmu ? kenapa kamu tidak mengajak mereka masuk tadi ?” tanya Raihan kembali setelah menyadari keberadaan orang lain di dekat adiknya.
__ADS_1
“ Iya kak, kami temannya Rio, tapi kami terlambat datang tadi,” ujar Radit mendekat ke arah Mentari.
“ Sayang sekali ya kalian tidak mengikuti acara tadi, tapi tenanglah, nanti kalian harus datang ke pesta pernikahan mereka bulan depan”
Bagai disambar petir, Mentari pun kaget mendengar ucapan kakaknya Rio. Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya, ia mengepalkan tangannya menahan emosinya.
“ Tentu saja kak, kami akan usahakan datang,” ujar Monika.
“ Tari, maafkan kami,” ujar Laura mendekati Mentari ketika Raihan telah pergi.
“ Aku mohon, dengarkan penjelasanku sayang,” ujar Rio mendekati Mentari.
“ Azka ayo kita pulang,” Mentari pun berbalik dan berlari menarik Azka.
“ Kalau ini bukan tempat rame, sudah kupukuli wajahmu itu brensek” ujar Radit menatap tajam ke arah Rio. Lalu menarik Monika meninggalkan Laura dan Rio.
***
“ Jangan langsung pulang ya Ka, kita ke pantai dulu,” ujar Mentari sambil terisak di atas motor Azka.
“ Maafkan aku Ka, yang tidak mempercayaimu selama ini,” ujar Mmentari setelah mereka sampai di sebuah pantai.
“ Sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah tahu kebenarannya,” ujar Azka, ia pun menarik Mentari ke dalam pelukannya.
“ Aku bodoh banget ya, tidak percaya padamu, aku malah mempercayai Rio.” Ujar mentari yang sedang menangis dalam pelukan Azka.
“ Sudahlah, kamu lupakan semuanya,” sambil mengelus jilbab Mentari.
***
Semenjak malam itu hubungan Mentari dan Rio berakhir, persahabatannya pun kini mulai hancur. Bahkan Monika juga menghindari Laura, ia merasa kesal dengan sikap Laura yang tega membohongi mereka.
Hari-hari Mentari pun berubah, kini ia lebih banyak menyibukkan diri belajar dan belajar. Dengan begitu ia bisa sedikit melupakan pengkhianatan Rio. Ia bertekad untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Hubungannya dengan Azka juga biasa-biasa saja, Mentari seolah menutup dirinya dari laki-laki.
***
Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏
__ADS_1
Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏