Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Bekerja


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Setelah kelulusan Mentari dan Azka, mereka berdua langsung ke Inggris. Keduanya tinggal di Apartemen Pak Raihan. Apartemen itu sangat luas, memiliki Dua kamar.


Awalnya keduanya menginginkan Apartemen yang berbeda. Tetapi Pak Raihan memaksa mereka untuk tinggal bersama karena ia mengkhawatirkan Mentari hidup sendiri, setidaknya jika mereka tinggal di Apartemen yang sama maka akan lebih aman.


Mentari dan Azka dengan keterpaksaan harus menerima permintaan Pak Raihan, mereka memutuskan untuk melakukan perjanjian untuk menjaga privasi keduanya. Larangan mencampuri urusan masing-masing, mereka tidak ingin jika salah satunya mencampuri urusan yang lain.


Mentari yang kini menjaga sikap terhadap laki-laki tidak terkecuali Azka. Azka hanya bisa menerima keputusan Mentari. Meskipun berat baginya untuk menjaga jarak dengan wanita yang sangat dicintainya. Azka hanya bisa bersyukur setidaknya ia bisa melihat wajah gadis pujaannya.


“ Itu kamar kamu, jika kamu memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk memanggilku,” ujar Azka sambil menunjukkan sebuah kamar untuk Mentari.


“ Terima kasih, oya Ka, aku ingin privasi masing-masing harus terjaga ya, kita tidak perlu saling mencampuri urusan masing-masing,” ujar Mentari.


Tanpa menunggu jawaban Azka, Mentari masuk kamar dan langsung membereskan barang-barangnya. Azka hanya terdiam menatap pintu kamar Mentari yang sudah tertutup. Ada rasa kecewa di hatinya, tetapi untuk menghargai Mentari, ia hanya bisa menerima keputusan Mentari.


Setelah membereskan barang-barang dan membersihkan badan mereka, keduanya keluar untuk makan malam. Mentari masuk ke dapur dan membuat nasi goreng biasa dan telur ceplok, karena di dapur belum ada bahan makanan. Ia menghidangkan dua piring nasi goreng.


“ Malam ini makan ini dulu, belum ada bahan makanan di dapur, besok aku akan berbelanja bahan makanan,” ujar Mentari sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Azka.


Azka hanya mengangguk dan memakan nasi goreng tersebut dalam diam. Kenapa dia sedingin itu sih ? batin Azka sambil melirik Mentari.


Setelah mereka selesai makan, Azka langsung mengambil piring Mentari, “ Biar aku yang cuci, kamu bisa menungguku dulu kan, kita bicarakan peraturan di Apartemen ini agar kita nyaman tinggal bersama,” Azka berjalan menuju wastafel dan mencuci piringnya dan piring Mentari.


“ Apa kamu ada usulan untuk kenyamanan kita ?” tanya Azka lalu duduk di samping Mentari.


“ Aku sih tidak ribet, yang penting kita saling menjaga privasi masing-masing,” ujar Mentari dengan santai tanpa menatap Azka.


“ Oke, tapi seperti permintaan papa, kita akan selalu pergi bersama, aku akan mengantarmu kemana pun,” ujar Azka.


“ Baiklah,” Mentari mengangguk, bagaimana pun ia belum mengetahui seluk beluk kota ini.


“ Kalau begitu, beristrahatlah,” ujar Azka, Mentari kemudian berdiri dan berjalan memasuki kamarnya.


***


Pagi ini Mentari dan Azka ke Supermarket untuk membeli bahan makanan, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Arga, teman sekolah mereka di SMP dulu.


“ Hai, kalian ngapain di sini ?” tanya Arga menepuk pundak Azka. Azka dan Mentari menoleh ke arah Arga.


“ Seperti yang kamu lihat, kami lagi membeli bahan makanan,” jawab Azka sambil menunjuk troli belanjaan mereka.


“ Kalian sudah nikah ?” tanya Arga kembali. Azka hanya tersenyum.

__ADS_1


“ Kami di sini untuk menempuh pendidikan aja kok, kami belum nikah,” jawab Mentari sambil tersenyum.


“ Oh, kalian kuliah di mana ?” tanya Arga.


“ Kami daftar di Divisi Kedokteran di Oxford,” jawab Mentari.


“ Benarkah ? berarti kita akan ketemu lagi kalau gitu,” ujar Arga dengan semangat.


“ Maaf ya Ga, kami harus balik dulu,” ujar Azka setelah menyelesaikan pembayarannya di kasir.


“ Oke, sampai ketemu lagi,” ujar Arga sambil melambaikan tangan kepada Azka dan Mentari.


***


“ Tari, aku mau ngomong,” menahan Mentari yang ingin ke dapur.


“ Besok aku akan mulai kerja sambilan,” ujar azka kemudian.


“ Kerja ? kerja apa ?”


Mentari heran, pasalnya mereka baru dua hari di kota Oxford ini, sedangkan Azka belum pernah keluar, kenapa dia sudah mulai kerja aja. Pikir Mentari.


“ Waitters di Coffee Shop, tempatnya tidak jauh dari sini kok, coffee shop itu milik anak teman papa,” jelas Azka.


“ Besok aku bicara dengan Michael, siapa tahu masih ada lowongan,” ujar Azka.


***


Azka memilih untuk bekerja sambilan untuk membantu biaya kuliahnya, ia tidak ingin bergantungan dengan uang kiriman sang papa. Meskipun ia berada di sini karena mendapat beasiswa tetapi ia tidak bisa hanya mengandalkan hal tersebut.


Azka ingin hidup mandiri, hidup di kota ini membutuhkan biaya yang sangat besar, tetapi untungnya di sini ia sangat mudah mendapat kerjaan sambilan yang bisa membantu keuangannya selama tinggal di sini.


Karena perkuliahan akan dilaksanakan minggu depan, maka untuk mengisi waktu kosongnya, ia mengambil dua sift. Tetapi ia sudah menyampaikan kepada pemilik Coffee Shop tersebut bahwa jika perkuliahannya dimulai, ia hanya bisa mengambil sift sore.


“ Azka apa kamu punya kenalan cewek yang bisa dipercaya, aku butuh kasir, soalnya kasirku yang dulu berhenti,”


“ Kebetulan banget, teman aku juga ingin daftar kerja di sini, saya bisa pastikan orangnya jujur, ia anak teman papaku,”


“ Oke, kalau gitu, kamu ajak dia besok ke sini,”


“ Oke,”


Setelah selesai bekerja, Azka berjalan pulang ke Apartemennya dengan berjalan kaki, karena Apartemennya berada tidak jauh dari tempat kerjanya. Ketika sedang berjalan kaki, ia melihat seseorang yang ia kenal.

__ADS_1


“ Maya,” teriak Azka sambil menghampiri Maya. Maya menoleh dan tersenyum kepada Azka.


“ Sedang apa kamu di sini Ka ?” tanya Maya.


“ Aku kan kuliah di Oxford, tadi aku dari tempat kerja,’ Maya hanya beroh ria mendengar ucapan Azka.


“ Oya, kalau kamu sedang apa di sini ?”


“ Suamiku juga sedang kuliah di sini, dia ambil kedokteran,”


“ Benarkah ? siapa namanya ? saya dan Mentari juga ambil kedokteran,”


“ Arga, namanya Arga. Oya, Mentari juga di kota ini ?”


“ Iya, oya, kalau begitu aku pulang dulu ya,”


***


Azka berjalan dengan riang, ia bersiul-siul sambil mendendangkan sebuah lagu. Suasana hatinya malam ini terlihat baik. Setiap orang ia jumpai, di sapa dengan senyum manisnya. Ia mempercepat langkahnya menuju Apartemen.


Sesampai di Apartemen, dilihatnya Mentari yang sedang menonton film Bollywood kesukaannya. Ia menghampiri Mentari lalu duduk di samping Mentari setelah melepas sepatunya. Mentari menoleh ke arah Azla, entah apa yang membuatnya tersenyum, pikir Mentari.


Kenapa sih nih anak tersenyum terus ?


Azka mengambil remote tv dan berniat memindahkan siaran tv, tetapi tangannya langsung dipukul Mentari, Mentari langsung melotot ke arah Azka, Azka yang melihat tatapan Mentari dibuat merinding.


“ Kamu kan sudah dari tadi nonton, aku juga mau nonton pertandingan sepak bola,” Azka menarik remote tv, mereka berdua tarik menarik, sehingga keduanya terjatuh dari sofa.


Mentari yang jatuh di atas Azka tercengang, ia buru-buru berdiri dan berlari masuk kamar, betapa malunya dia.


“ Besok kamu ikut aku kerja di tempat kerjaku ya,” Azka berteriak agar Mentari bisa mendengarnya.


“Benarkah ?” Mentari tiba-tiba keluar kembali setelah mendengar ucapan Azka. Azka melongo menatap Mentari.


“ Aich, benarkah yang kamu katakan barusan ?” Azka mengangguk cepat.


Serem juga tatapan mentari.


***


Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏


Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏

__ADS_1


__ADS_2