
Ummi Kalsum menatap Andika dan Nadya secara bergantian, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Bu santi. Mereka terdiam seolah menyelami pikiran masing-masing. Ummi Kalsum seolah tahu jika Bu Santi mengetahui sesuatu. Ummi Kalsum kembali menatap anak gadisnya yang terus menunduk.
"Untuk masalah pernikahan, bagaimana kalau kita tunggu mereka lebih bisa saling memahami dulu." Ummi Kalsum menimpali ucapan Ustadz Ismail tadi.
"Iya kita kasi mereka waktu untuk saling mengenal," Tambah Kiayai Lukman.
Ustadz Ismail menoleh ke arah putranya, ia mencoba meminta persetujuan Raihan. Raihan yang ditatap ayahnya mengangguk, baru saja Ustadz Ismail ingin berbicara, Nadya langsung bersuara yang membuat kedua orang tuanya kaget.
"Tidak abi, sesuatu yang baik tidak baik ditunda. Insyaallah Nadya sudah siap, selama Nadya tidak jauh dari ummi dan abi." Ujar Nadya, Raihan dan keluarganya bahagia.
"Tentu saja, kita masih di kota ini. Kita juga bisa sering berkunjung di pondok," Ujar Raihan dengan bahagia.
"Kalau begitu aku siap Ummi, Abi," Ujar Nadya dengan mantap.
"Tapi nak," Potong Ummi Kalsum.
"Sudahlah ummi, Nadya sudah menyetujui. Kita harus mendukung, apalagi memang niat baik tidak boleh ditunda," Ujar Yusuf, ia sebenarnya merasa aneh dengan kedua orang tuanya yang tiba-tiba seperti ragu.
"Baiklah, jadi kalian akan melangsungkan pernikahan kapan?" Tanya Kyai Lukman.
"Aku tergantung Mas Raihan saja," Jawab Nadya. Andika yang sedari tadi diam kini menatap Nadya dengan tatapan sendu, apakah ia sudah tidak memiliki kesempatan.
"Bagaimana kalau bulan depan bertepatan tanggal kelahiran Nadya," Ujar Raihan. Nadya tersenyum, ternyata lelaki yang akan menikahinya itu mengetahui tanggal lahirnya.
"Wah, bagus. Bagaimana?" Tanya Ustadz Ismail dengan bersemangat.
Semua orang mengangguk mengiyakan, kedua orang tua Nadya hanya bisa tersenyum. Mau bagaimana lagi, Nadya sendiri yang telah memutuskan. Semua lantas berdiri saling bersalaman dan berpelukan. Nadya menatap Andika, tanpa sengaja manik mata mereka bertemu. Ia bisa melihat kesedihan di mata lelaki itu, entah apa maksud kesedihan itu.
Ustadz Ismail dan rombongannya berpamitan, mereka sudah sepakat tentang tanggal pernikahan. Mereka hanya ada waktu sebulan untuk mempersiapkan semuanya.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, Andika langsung pergi meninggalkan ruangan bahkan Namira ia lupakan begitu saja. Hal itu membuat semua orang terpaku.
"Mbak Santi sepertinya ada hal yang harus kita bicarakan," ujar Ummi Kalsum setelah kepergian rombongan Ustadz Ismail.
"Maaf mbak, sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Kami pun harus pulang," Ujar Bu Santi.
Mentari dan Yusuf masih terdiam, mereka yakin jika telah terjadi sesuatu hal yang mereka tidak ketahui.
__ADS_1
"Ada apa ini ummi ? Apa telah terjadi sesuatu yang aku tidak ketahui ?" Tanya Yusuf sambil menatap setiap orang yang ada di ruangan itu seakan meminta penjelasan.
"Maaf ummi, abi, Kak Tari, Bang Yusuf, aku ke kamar dulu," Lebih baik dia kabur, sebelum diintrogasi. Nadya paham betul jika ummi dan abinya pasti sudah mengetahui sesuatu.
"Tidak ada yang boleh pergi, sebelum ada yang menjelaskan padaku. Apa yang terjadi ?" Ujar Yusuf dengan tegas. Mentari langsung mendekati suaminya dan langsung menggenggam tangannya. Seolah menyalurkan energi positif agar suaminya itu bisa menahan amarahnya.
"Nadya, ada yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Kyai Lukman.
"Tidak ada abi," Jawab Nadya sambil menunduk.
"Nadya !!! Sejak kapan kamu berbicara dengan abi tanpa melihat wajah abi?" Tegur Yusuf. Nadya langsung berlari, tangisannya pun seketika pecah. Lagi-lagi Mentari mencoba menenangkan suaminya. Diusapnya lengan Yusuf.
"Mas, ummi, abi biarkan Mentari yang berbicara dengan Nadya," Ujan Mentari yang diangguki ketiganya. Sedangkan Rika memilih menemani Ainun ke kamarnya.
Tok tok tok
"Nad, bisakah mbak masuk?" Teriak Mentari. Tidak berapa lama, Nadya membuka pintu dengan mata sembabnya.
Dengan langkah pelan, Mentari masuk ke kamar Nadya. Dia memperhatikan wajah adik iparnya itu lalu tersenyum. Nadya langsung memeluk Mentari dengan berurai air mata.
"Nadya mohon kak, jangan pertanyakan lagi. Aku juga bingung mau menjelaskan apa, aku rasa keputusanku sudah tepat. Aku tidak mungkin jika menunggu kepastian dari seseorang yang seolah tidak mengharapkanku," Ujar Nadya.
"Maksud kamu apa Nad ? Mbak tidak paham. Apa kamu mencintai orang lain ?" Tanya Mentari lalu mengurai pelukannya dan menatap manik mata adik iparnya itu. Nadya mengangguk.
"Apa laki-laki itu adalah Andika?"
Deg
Apa semua orang bisa dengan mudah membaca isi hatinya, apa ummi dan abinya juga sudah tahu. Ahh dada Nadya semakin sesak saja.
"Apa benar begitu Nad ?" Tanya Mentari kembali.
"Tapi semua tidak penting kak, aku tetap akan menikah dengan Mas Raihan. Aku sudah siap, belajar melupakannya dan belajar mencintai Mas Raihan," Jawab Nadya.
"Astagfirullah, kenapa kamu tidak cerita Nad? Andai kamu cerita dari awal, kami pasti tidak akan menerima lamaran Raihan. Apalagi laki-laki yang kau cintai kami kenal baik," Ujar Mentari agak kaget, sebenarnya dia sudah curiga sedari tadi. Dia hanya memilih diam. Sepertinya dia harus menemui Andika.
***
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain
"Kamu mau kemana Dika?" Tanya Papa Raihan, ketika melihat putra bungsunya itu membawa sebuah koper.
"Aku harus pergi menenangkan diriku Pa, aku tidak bisa melihat dia bersanding dengan lelaki lain," Ujar Andika.
"Dari awal papa sudah mengatakan padamu, jangan menjadi laki-laki pengecut, tapi kamu malah membuat keadaan semakin rumit dengan berpacaran dengan perempuan lain. Papa saja bingung melihatmu apalagi Nadya yang jelas-jelas tidak pernah tahu perasaan kamu bagaimana," Ujar Papa Raihan.
"Wanita butuh kejelasan nak, bukan hanya janji dan gombal. Perlakuan manis saja tidak bisa mereka percayai begitu saja tanpa ungkapan yang mempertegas semuanya. Nak masih ada sebulan, kamu harus jujur atas perasaan kamu. Biarkan Nadya tahu, dan biarkan ia memikirkan kembali. Apapun keputusannya kelak, kamu harus menerimanya," Ujar Mama Santi.
"Tidak ma, aku tidak bisa menghancurkan pernikahan sahabatku sendiri. Biarkan cintaku ku bawa pergi, aku hanya butuh waktu untuk menyendiri. Bukankah mencintai itu kita relah berkorban, relah melihatnya bersama lelaki lain asalkan ia bahagia,"Ujar Andika. Dia harus mundur. Dia tidak bisa egois memperjuangkan cintanya dan menyakiti sahabatnya. Apalagi sebagai laki-laki ia tahu betul jika sahabatnya mencintai Nadya dengan tulus.
Mama Santi hanya bisa memeluk putranya, ia tidak mampu lagi mengatakan apapun. Sejujurnya ia berharap Nadya menjadi menantunya, ia sangat menyukai gadis itu, tapi mau bagaimana lagi. Jodoh ada di tangan Tuhan, ia tidak bisa merubahnya.
"Pergilah nak, jadikan hal ini sebagai pembelajaran untuk dirimu kelak. Pemikiran antara laki-laki dan perempuan itu berbeda nak, mungkin bagi kita cinta hanya butuh pembuktian tapi tidak bagi perempuan. Bagi mereka sebuah ungkapan itu penting dan disertai perbuatan," Papa Raihan menepuk pundak putranya sembari memberi wejangan.
Andika hanya mengangguk, ia sadar jika selama ini ia telah salah mengartikan cinta. Ia mengira dengan memberi perhatian itu sudah cukup tetapi ternyata ia salah, semua butuh penjelasan. Kini ia mundur, memilih pergi untuk menenangkan dirinya. Rasa sakit akan sebuah penyesalan itu begitu besar, ia tidak sanggup jika harus melihat mereka bersanding. Air matanya kini jatuh, hatinya hancur bersama cintanya yang harus kandas.
Selama ini, ia telah mencoba mencintai wanita lain tapi apa yang terjadi, ia tidak bisa membuang perasaan cintanya pada Nadya. Gadis itu sudah memenuhi ruang di hatinya, membuat tidak ada celah untuk seorang gadis manapun masuk. Kini cinta itu harus terkubur bersama dengan kenangan mereka.
Andika kini berpamitan, ia berpesan untuk tidak memberitahukan pada siapapun tentang kepergiannya.
"Nak, sebaiknya kamu ke Singapore. Urus cabang di sana, siapa tahu pekerjaan bisa mengalihkan pikiranmu" Usul Papa Raihan.
"Iya pa, tapi aku harus menemui seseorang dulu. Setelah urusanku selesai, baru aku akan ke Singapore," Ujar Andika.
"Terserah padamu nak," Jawab Papa Raihan.
Andika memeluk kedua orang tuanya lalu pergi, ia diantar sopir papanya. Sebelum naik ke mobil, ia menoleh menatap rumah yang ia tempati selama ini.
"Semoga ketika aku kembali lagi ke sini, aku sudah bisa melihatnya berbahagia dengan lelaki lain," Ujar Andika lantas naik ke mobil.
~Bersambung~
Terima kasih atas dukungannya🙏
Jangan lupa like, komentar, hadiah vote nya🙏
__ADS_1