
Keesokan harinya, rencana yang mereka susun dengan baik kini mulai dijalankan. Yusuf tersenyum melihat kedua gadis kesayangannya itu begitu bersemangat. Seulas senyum itu sirna seketika,ketika wajah Mentari muncul. Wanita yang amat dirindukannya, wanita yang tiada hentinya ia sebut dalam doanya. Ia selalu berharap jika mereka bisa bersatu. Apa sih yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak.
"Abang lagi mikirin apa sih?" tanya Rika yang memilih duduk di samping Yusuf.
"Nggak kok dek, Abang cuman lagi melihat kalian yang begitu bersemangat hari ini," Yusuf tersenyum menatap sepupunya itu.
"Kirain mikirin Kak Tari," Nadia ikut bergabung dengan keduanya.
Yusuf hanya tersenyum tanpa membalas ucapan sang adik, dia tidak bisa mengelak dan tidak bisa mengakuinya. Nadia dan Rika hanya saling melempar tatapan, keduanya bisa melihat bagaimana sang kakak yang masih mendamba Tari.
"Ya udah kami pamit dulu bang, kami harus segera menjalankan misi kita," Nadia memilih beranjat pergi, tapi sebelumnya ia menyalami sang kakak, Rika pun melakukan hal yang sama.
"Hati-hati ya dek," Teriak Yusuf karena keduanya sudah berlari meninggalkan Yusuf.
Nadia dan Rika mendatangi kediaman Nabila, semalam mereka telah janjian untuk ketemu. Karena hari ini mereka akan mengikuti aktivitas Nabila seharian, mereka merasa cara ini agak lebih baik untuk lebih mengorek informasi serta mencari tahu titik kelemahan Nabila.
Bukti percakapan mereka kemarin masih belum cukup untuk menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Mereka harus mengumpulkan bukti semakin banyak. Nadia dan Rika memencet bel berkali-kali, keduanya telah lama menunggu. Tidak berapa lama, seseorang membuka pintu dan wajah Nabila muncul di balik pintu.
"Ayo masuk, maaf tadi kakak baru selesai mandi. Dan rumah lagi kosong, pembantu lagi ke pasar," Nabila mempersilahkan keduanya masuk tanpa menaruh curiga.
"Nggak apa-apa kok kak," Nadia dan Rika mengikuti langkah Nabila.
"Kalian duduk dulu ya, kakak buatkan minuman dulu," Nabila menyimpan handphone miliknya di atas meja lalu bergegas menuju dapur.
Nadia dan Rika tersenyum menatap handphone yang berada di hadapannya itu, keduanya langsung mengambil dan mengotak atik handphone milik Nabila. Mereka menyadap wa Nabila, mereka yakin akan banyak informasi yang akan didapat melalui aplikasi itu. Setelah selesai Rika langsung buru-buru menyimpan handphone itu kembali. Selang beberapa menit Nabila kembali dengan membawa tiga gelas minuman dan setoples cemilan.
Nabila duduk di samping Rika, tanpa menaruh curiga dia langsung mengambil handphonenya. Nadia mulai membaca setiap chat yang masuk di WA Nabila dengan serius, dahinya berkerut ketika membaca sebuah kontak yang tidak asing di telinganya. Azka.
Baru saja Nadia ingin membuka chat tersebut tetapi Nabila langsung mengajaknya berbicara, ia langsung menoleh ke arah Nabila.
"Nad, gimana kabar Kak Yusuf? Aku dengar Mentari sudah balikan dengan mantan suaminya," Rika dan Nadia menatap heran kepada Nabila.
"Darimana kakak tahu? Aku saja adik Bang Yusuf nggak tahu kalau mereka putus dan Kak Tari balikan dengan mantan suaminya," Nabila gelagapan, ia bingung harus menjawab apa.
Sial kenapa aku malah bertanya itu, bisa-bisa mereka curiga.
__ADS_1
"Ehm itu itu ahh kemarin aku melihat Tari berjalan bergandengan tangan dengan Azka," Baru saja Nabila ingin bernapas legah, tapi sayangnya pertanyaan Rika membuatnya kembali bingung.
"Azka ? Darimana kakak tahu nama mantan suami Kak Tari itu Azka?"
Aduh sialan, ini anak bikin aku tambah bingung lagi. Ahhhh pusing aku mau jawab apa.
"Kak, kok melamun?" Rika memegang bahu Nabila lalu menoleh menatap Nadia, seolah mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Nabila. Nadia mengangguk seolah membenarkan maksud tatapan Rika.
"Ah, itu kakak pernah cerita dengan Mentari, dia pernah menyebut nama mantan suaminya itu," Nadia dan Rika tidak menjawab, hanya bibir mereka yang terlihat membentuk huruf O sambil mengangguk.
"Sudahlah, nggak usah dibahas. Eh kalian kok tumben ke sini?" Nabila memilih mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ya pengen aja, lagian semenjak kakak tinggal di sini kakak tidak pernah ke pondok menemui kami," ujar Rika, Nadia kini kembali memperhatikan dan membaca chat yang masuk di WA Nabila.
Nadia membuka chat dengan nama kontak Azka, matanya kini melotot. Tiba-tiba sebuah senyuman terukir indah pada wajah cantiknya. Sebuah informasi besar telah ia dapat, informasi yang akan membuat Nabila mau tidak mau harus mengakui kesalahannya.
"Kak kami permisi pulang dulu ya, Ummi chat aku barusan katanya aku harus pulang sekarang," Nabila dan Rika yang sedang asyik mengobrol menatap heran Nadia.
"Kenapa buru-buru?" Nabila menatap Nadia dengan heran, begitu pun Rika. Pasalnya mereka telah sepakat untuk menemani Nabila seharian ini.
"Hmm baiklah, tapi kalian janji bakal datang kesini kembali lain kali,"
"Insya Allah kak,"
Keduanya langsung pulang, Rika yang masih bingung dengan semuanya bermaksud meminta penjelasan Nadia, dia menatap Nadia yang dijawab sebuah anggukan yang malah membuat Rika semakin penasaran. Tahu jika sepupunya itu masih terlihat bingung, Nadia hanya membisikkan jika ia akan cerita di atas mobil.
"Kenapa kita pulang sih Nad? Kita kan mau....." Ujarnya setelah duduk di dalam mobil.
"Aku udah dapat informasi besar, bahkan informasi ini saya jamin akan membuat Bang Yusuf dan Kak Tari akan kembali bersatu,"
"Benarkah? Informasi apa?" Rika terlihat bersemangat, rasa penasaran semakin besar. Nadia langsung menyerahkan handphonenya dan menyuruh Rika membaca chat Nabila dengan Azka.
"Whatttt??? Apa-apaan ini? Gila tuh Azka, tega banget ama putrinya sendiri,"
"Iya, rasanya pengen aku jitak tuh kepala lelaki sialan itu,"
__ADS_1
"Kita harus memisahkan lelaki itu dengan Kak Tari, kasian kalau mereka kembali rujuk lagi,"
"Iya, ayo cepat ke kantor Bang Yusuf,"
Mobil berjalan menuju kantor Yusuf, mereka akan melaporkan informasi yang telah didapat. Mereka akan membicarakan rencana mereka selanjutnya. Nadia dan Rika langsung berlari menuju ruangan Yusuf. Untung saja hari ini Yusuf tidak terlalu sibuk.
"Kenapa kalian kesini?" Yusuf menatap keduanya dengan wajah bingung.
"Kami mau ngasih ini, kakak harus baca sendiri," Nadia menyerahkan handphonenya lalu duduk di sofa.
"Apa ini?" Dahi Yusuf berkerut menatap handphone yang ada di depannya.
Yusuf langsung membaca chat Azka dengan Nabila, tangannya mengepal menahan amarah. Dia begitu emosi mengetahui kelakuan keduanya. Bisa-bisanya mereka begitu tega bekerja sama untuk mencelakai Ainun. Yusuf benar-benar tidak mengerti jalan pikiran keduanya, terutama Azka. Di mana hati nurani lelaki itu? Kenapa tega melakukan itu terhadap putrinya sendiri? Apakah sebegitu besarnya kah cintanya kepada Mentari sehingga membutakan mata hatinya.
Yusuf tidak akan berdiam diri, dia akan merebut kembali Mentari. Dia tidak relah jika wanita yang ia cintai bersama dengan lelaki yang mampu menghalalkan segala cara hanya demi keinginannya. Yusuf langsung menghubungi pengacaranya, beberapa bukti ini bisa ia gunakan untuk menuntut keduanya.
***
"Sebaiknya Pak Yusuf menjebak orang yang menabrak Ainun, Nona Nadia bisa berpura-pura sebagai orang suruhan Nona Nabila untuk janjian bertemu untuk memberi uang sisa pembayaran orang itu yang sampai sekarang belum dibayarkan. Kita butuh seorang saksi, apalagi dia adalah saksi utama,"
"Bagaimana Nad? Kamu mau ?" Nadia tanpa berpikir dua kali langsung mengangguk mengiyakan. Ia telah bertekad untuk membantu kakaknya agar bisa bersatu kembali dengan wanita yang ia cintai.
"Baiklah, kalau begitu hubungi sekarang. Sore ini kita harus bertemu dengannya, karena besok dia dan Nabila janjian bertemu di taman xx. Sebaiknya kita ajak bertemu di taman xx agar dia tidak terlalu curiga,"
Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Nadia langsung menghubungi orang itu. Tanpa ada kecurigaan sama sekali orang itu siap bertemu. Keempatnya tersenyum puas, terutama Nadia. Dia berharap usahanya kali ini semoga berhasil untuk menyatukan kembali Yusuf dan Mentari.
Nadia masih terus merasa bersalah, walaupun sekarang ia tahu jika semua ini sudah direncakan Nabila dan Azka, tetapi ia tetap saja merutuki kebodohannya. Andaikan waktu itu ia tidak cepat terhasut semua ini tidak akan terjadi, Ainun tidak akan kecelakaan dan Mentari masih tetap bersama dengan Yusuf.
Yusuf menatap sang adik yang tengah terdiam, ia tahu betul jika adiknya itu masih menyimpan rasa penyesalan atas apa yang telah terjadi. Yusuf berjalan mendekati Nadia dan menepuk bahu gadis itu, ia seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Nadia yang menyadari tepukan di bahunya langsung menoleh dan memeluk Yusuf.
*
Terima kasih telah mampir🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏
__ADS_1