Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Bahagiaku Bersamamu


__ADS_3

Semenjak lamaran dadakan yang dilakukan Yusuf kepada Mentari, keduanya sibuk mengurus persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan minggu depan. Mentari tampak menawan dengan senyuman yang selalu nampak di wajah cantiknya. Wanita itu masih belum percaya jika ia telah dilamar oleh lelaki yang mengisi hatinya.


Siang ini Mentari harus ke butik untuk melihat gaun yang akan ia kenakan nanti, kali ini dia ditemani oleh sang calon adik iparnya. Semenjak acara lamaran, keduanya tampak semakin dekat.


"Kak kau terlihat cantik, gaun itu sangat cocok dengan tubuh kakak,"


"Terima kasih dek," semburat merah menghiasi wajah cantik Mentari.


Tidak terasa mereka telah satu jam berada di butik, Nadia mengajak Mentari makan siang di sebuah restaurant dekat butik. Keduanya berjalan sambil bercengkrama, saling bersenda gurau. Karena keasyikan bercerita, tanpa sengaja Nadia menabrak seseorang.


Dukk


"Aduh," Sasa meringis kesakitan.


"Maaf ya mba, aku tidak sengaja,"


"Kamu itu punya Mata nggak sih? Pundakku kan jadi sakit," ujar Sasa sambil mengelus lengannya.


"Aku kan sudah minta maaf, kamu nggak perlu marah kayak gitu," Nadia kesal dengan gadis yang ditabraknya itu.


Mentari yang melihat wajah Nadia yang mulai kesal itu langsung mencoba menenangkan Nadia. Bukannya tenang, Nadia semakin geram dengan sikap Sasa yang semakin cerewet dan jutek.


"Liat aja kak, dia itu menyebalkan sekali. Aku kan sudah minta maaf lagian bukan sepenuhnya salah aku, dia jg salah jalan sambil main HP,"


"Kamu tuh, sudah salah sewot banget deh,"


"Kamu tuh yang bikin jengkel banget, kamu...."


Belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya, Sasa telah mengangkat tangannya hendak menampar Nadia. Tapi tangannya dihalang oleh seseorang, yang tidak lain Andika.


"Sayang kamu..."


"Cukup Sa, aku nggak suka dengan wanita kasar kayak kamu. Aku heran dengan sikap kasar kamu, cewek kok malah kasar kayak gitu."


"Sayang kamu salah, aku hanya Ingin merapikan rambutnya saja,"


"Bohong, jelas kamu tadi mau menampar gadis itu" Andika menoleh ke arah Nadia, dan matanya tertuju pada sosok yang telah lama dicarinya. Seketika wajahnya berubah cerah.


"Kak Tari," ucapnya lalu berjalan melewati Nadia dan memeluk Mentari.

__ADS_1


Mentari yang sedari tadi menatap Andika, Ia kini membalas pelukan Andika. Diusapnya bahu Andika, ada rasa rindu melihat sosok lelaki yang telah dianggapnya adik itu. Nadia dan Sasa menatap keduanya dengan keheranan namun tidak ada satu pun yang mengangkat suara.


"Kakak kemana saja? Aku, mama dan papa mencari kakak,"


"Kakak tinggal di pesantren milik teman kakak,"


"Aku minta nomor kakak dong, mama Ingin bertemu dengan kakak dan Ainun kak,"


Mentari mengambil hand phone miliknya di dalam tas, lalu mencari kontaknya dan menyerahkan handphonenya kepada Andika. Andika menyimpan nomor Mentari.


"Oya Dika, kakak akan menikah minggu depan, aku harap kamu, mama dan papa akan datang,"


"Benarkah? Aku sangat bahagia mendengarkannya, kami pasti akan datang. Oya kak, aku pamit, ada hal yang harus aku urus,"


Setelah berpamitan, Andika langsung menarik Sasa, ia Ingin menyelesaikan hubungan mereka. Mentari hanya tersenyum melihat kepergian keduanya. Nadia kini mendekati Mentari.


"Ayo kak kita pulang,"


Keduanya kini berjalan menuju parkiran tanpa perbincangan, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Mentari memikirkan bagaimana ia akan menjelaskan semuanya kepada orang tua Azka, ia takut dibenci. Sedangkan Nadia memikirkan wajah tampan Andika, lelaki itu sangat mempesona di mata Nadia. Ia sangat Penasaran siapa lelaki itu namun ia malu mempertanyakannya kepada Mentari.


***


Hari ini adalah hari penting bagi Mentari, ia tengah memandang wajahnya di sebuah cermin. Ia sangat terlihat cantik dengan gaun pernikahannya.



"Mama ?"


"Iya sayang, kamu sangat cantik sayang. Mama sangat bahagia bisa melihat kamu menikah dan Mama merasa senang mengetahui lelaki yang akan menikahimu itu adalah putra Kiayai Lukman, beliau teman ayahmu,"


"Oya ampun, Mama hampir lupa tujuan Mama kesini. Mama ingin memberikan ini, itu gelang bunda mu. Dia menitipkannya untuk mama berikan di saat kamu menikah,"


"Bunda ? Kapan Ma ?"


"Sebelum bunda kamu berangkat ke Malaysia, sepertinya bundamu telah memiliki firasat jika itu hari terakhir kami bertemu," Setetes air jatuh di kedua pipi Santi dan Mentari. Keduanya merindukan sosok perempuan yang telah melahirkan Mentari.


Mentari memeluk Santi, kini ia tidak bisa membendung perasaannya. Ia merindukan bundanya, dan wanita yang ada dalam pelukannya itulah yang selama ini menjaganya selayaknya anaknya. Santi membalas pelukan Mentari, ia merasa malu dan bersalah kepada gadis itu karena ulah putranya masa depannya hancur.


"Maaf kak, tante, aku mengganggu kalian. Semua orang telah menunggu kak Tari, Kak Yusuf telah mengucapkan ijab Kabul. Aku kesini di suruh menjemput Kak Tari," Nadia mendekati keduanya.

__ADS_1


Ketiganya langsung bergegas berjalan ke Aula tempat akad nikah berlangsung. Mentari yang diapit oleh Nadia dan Mama Santi terlihat cantik. Semua mata menatap mereka, Mentari hanya bisa tersenyum ketika matanya bertemu dengan manik mata milik Yusuf. Lelaki itu terlihat tampan.


Ummi Kalsum langsung berdiri menghampiri wanita yang baru saja sah menjadi menantunya. Ia memeluk Mentari dengan penuh bahagia. Ummi Kalsum mendudukkan tubuh Mentari di samping Yusuf.


Mentari mencium punggung tangan Yusuf yang kemudian disusul sebuah kecupan yang di berikan lelaki tersebut di dahi Mentari. Keduanya kemudian menandatangani berkas pernikahan mereka. Semua terlihat bahagia menyaksikan prosesi pernikahan tersebut.


Ainun yang sedari tadi berada di samping Andika berlari dan memeluk Mentari dan beralih memeluk Yusuf.


"Apa kamu bahagia sayang?" Mentari tersipu malu mendengar panggilan sayang yang terlontar dari bibir suaminya itu.


"Tentu saja, aku sangat bahagia Mas," jawabnya dengan seulas senyum.


Keduanya saling berbisik, karena mereka telah berada di panggung pernikahan mereka. Yusuf menatap Mentari dengan penuh cinta, ia tidak menyangka mereka akan bersatu. Dia berpikir jika semua ini hanya mimpi, wanita yang ia cintai kini telah berstatus sebagai istrinya.


"Aku masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi, semua seperti mimpi. Aku tidak pernah membayangkan jika kita akan bersatu setelah kamu meninggalkanku,"


"Aku pun seperti itu Mas, aku masih tidak percaya. Aku harap semua nyata, bukan hanya sekedar mimpi,"


"Auwww Mas, apa-apaan sih ? Semua melihat kita," wajah Mentari merona karena malu, Yusuf tiba-tiba saja memberi kecupan di pipinya.


Lelaki itu hanya cengengesan, sedangkan semua mata telah menatap mereka. Hal itu membuat Mentari semakin malu.


"Kenapa sayang ? Apa kamu merasakan kecupanku?"


"Tentu saja, bahkan kecupan Mas membuatku menjadi pusat perhatian," ujar Mentari dengan kesal.


"Itu tandanya semua ini nyata sayang, semua bukan mimpi. Aku bahagia bisa bersamamu, aku harap kita akan saling menggenggam, tidak akan pernah melepas tangan kita, kita saling mengasihi dengan penuh cinta apapun yang akan terjadi nanti. Sebesar apapun ujian pernikahan kita, aku harap kamu akan terus tetap berada di sisiku," Mentari terenyuh dengan ucapan suaminya, dia mengharapkan yang sama. Ia berharap mereka akan terus bersama sampai maut memisahkan mereka.


"Aku harap Mas juga akan bersabar dalam membimbingku, aku masih memiliki banyak kekurangan. Aku harap Mas akan senantiasa mengingatkanku serta menegurku jika aku keliru,"


"Kita sama-sama belajar sayang, aku pun masih banyak kekurangan. Tetapi percayalah aku akan terus berjuang untuk menjadi imam yang baik di keluarga kecil kita,"


Mentari tidak bisa lagi membendung air matanya, tanpa ia sadari ia langsung memeluk tubuh lelaki yang kini berstatus suaminya itu. Ia sangat bersyukur atas apa yang telah ia miliki hari ini. Semua benar-benar nyata, ia kini semakin yakin dengan cinta Sang Maha Kasih, Sang pemilik hati. Doa yang selalu ia utarakan di akhir sujudnya kini telah terkabulkan.


Mentari percaya jika Allah SWT tidak pernah tidur, Allah tidak pernah memberikan ujian kepada hambanya dengan berlebihan. Kini ia yakin tidak ada hal yang mustahil jika Allah berkehendak. Mentari mulai terisak dalam pelukan Yusuf. Beberapa tamu terlihat mengusap wajah mereka, mereka hanyut dalam pemandangan yang mereka saksikan langsung di depan mata.


*


Terima kasih telah membaca🙏

__ADS_1


Maaf up nya terlalu lama 🙏


Saya usahakan untuk mulai rajin up ya walaupun cuman 1 episode perhari🙏


__ADS_2