Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Hasutan


__ADS_3

Sudah sepuluh tahun Mentari tinggal di pondok pesantren milik orang tua Yusuf, ia sudah mulai dekat dengan para santriwati di pondok pesantren tersebut. Putri kecilnya pun sangat bahagia tinggal di pondok itu.


Pak Lukman dan Ummi Kalsum menerima keberadaan Mentari dengan suka cita, bahkan mereka sangat berharap jika Yusuf dan Mentari bisa bersanding.


Kedekatan Mentari dan Yusuf menjadi bahan perbincangan di kalangan ustazah dan santriwati di pondok pesantren. Ada beberapa yang mendukung kedekatan mereka, dan adapula yang tidak setuju.


Salah satu ustazah yang tidak menyukai kedekatan Mentari dengan Yusuf adalah Ustazah Nabila. Ia selalu mencari cara untuk menjauhkan Mentari dengan Yusuf.


Sama halnya pagi ini, rahasia yang ditutupi keluarga Yusuf tentang ayah Ainun, kini tersebar di lingkungan pondok pesantren. Bahkan beberapa santriwati dan Ustazah di pondok pesantren tersebut terang-terangan menyindir Mentari.


Tentu saja, hal itu membuat Mentari menjadi khawatir, ia tidak ingin jika berita itu terdengar di telinga putrinya. Ainun yang berusia 9 tahun itu menganggap bahwa ayahnya telah meninggal. Mentari sengaja menyembunyikan identitas asli ayah Ainun, baginya Ainun tidak perlu mengetahui siapa ayahnya.


"Kamu kenapa Nak ?" Ummi Kalsum mendekati Mentari yang sedang duduk di atas dipan.


"Aku khawatir Bu, jika Ainun akan mendengar cerita masa lalu ku," Mentari menoleh ke arah Ummi Kalsum.


"Aku takut jika ia akan mempertanyakan keberadaan ayahnya,"


"Nak, suatu hari Ainun harus tahu siapa ayahnya sebenarnya, suatu hari nanti ia akan membutuhkan ayahnya Nak,"


"Tapi aku tidak mau bertemu dengannya lagi, aku tidak relah jika Ainun kelak memanggilnya dengan sebutan ayah,"


"Kamu tidak bisa menolak hal itu, bagaimana pun, dia berhak tahu jika ayahnya masih hidup,"


"Tapi ...."


"Nak, masa lalu adalah hal yang tidak boleh diingkari, jangan pernah membenci masa lalu, sepahit apapun, seburuk apapun masa lalu itu, jangan pernah mencoba membencinya. Jadikan sebagai sebuah pelajaran, pengalaman yang sangat besar," Ummi Kalsum memegang tangan Mentari.


"Nak berdamailah dengan masa lalu, sudah sepuluh tahun kamu hidup di bayang-bayang masa lalu yang membuat kamu menjadi seorang pendendam dan pembenci, belajarlah untuk memaafkan, belajarlah membuka hatimu," lanjutnya.


"Susah bagiku untuk melupakan semuanya Bu, aku tidak bisa," Ummi Kalsum menarik tubuh Mentari kedalam pelukannya.


"Nak cobalah membuka hatimu, lanjutkan hidupmu, Ainun butuh sosok Ayah, kalian membutuhkan figur seorang lelaki yang bisa menjaga kalian,"


"Aku merasa tidak pantas lagi untuk dicintai Bu, aku tidak bisa membalas perasaan siapa pun,"


"Nak, Yusuf sangat berharap kamu mau menerima pinangannya, dia sangat mencintaimu," Ummi Kalsum melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Mentari.


"Sebaiknya kamu memikirkan ucapan ibu, cobalah mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu, dan belajarlah menerima seseorang dalam hidupmu,"


"Baiklah Bu,"


Nabila yang mendengar percakapan Mentari dan Ummi Kalsum hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia pun mencoba memikirkan cara untuk membuat Mentari keluar dari pondok pesantren itu.


Lihat saja nanti, kamu akan meninggalkan tempat ini. Gumang Nabila dalam hati.

__ADS_1


***


Malam ini, Nabila mulai melancarkan aksinya. Ia mulai menghasut beberapa ustazah di pondok pesantren tersebut.


"Apa kalian mau jika pondok pesantren ini tercoreng namanya karena aib Mentari itu ?" Nabila mencoba menghasut Ustazah Rika dan Ustazah Nadia.


"Apa ada buktinya kalau mba Tari itu hamil di luar nikah?" Nadia merasa tidak yakin dengan cerita Nabila.


"Iya kita itu harus tabayun dulu, apakah cerita itu benar atau tidak, kita tidak boleh langsung mempercayai begitu saja segala informasi yang belum tentu kebenarannya," Rika mencoba mengingatkan kedua temannya itu.


"Tentu saja cerita ini benar, karena saya yang mendengar langsung percakapan Mentari dengan Ummi Kalsum," Nabila mencoba meyakinkan kedua orang di hadapannya itu.


"Astagfirullah, berarti kita tidak boleh membiarkan dia tinggal di sini, dan saya sekarang tidak setuju jika Mas Yusuf mau menikahi gadis seperti Mentari,"


Nadia kini merasa tidak menyukai keberadaan Mentari, dan ia tidak bisa menerima jika kakaknya akan menikahi gadis yang hamil di luar nikah.


"Betul Nad, kita harus bicara dengan Kyai Lukman dan Ummi Kalsum tentang ini,"


Rika mencoba mengusulkan untuk menemui orang terpenting di pondok pesantren ini. Nabila mulai tersenyum bahagia, usahanya untuk menghasut kedua temannya itu kini berhasil.


Dengan emosi yang mulai menguasai dirinya, Nadia menarik Rika berjalan menuju rumahnya. Ia akan meminta kepada kedua orang tuanya untuk mengusir Mentari. Ia tidak ingin jika keberadaan Mentari di pondok pesantren mereka, akan membuat nama baik pesantren itu tercoreng.


Dengan langkah tergesa-gesa, Nadia memasuki rumahnya dan diikuti oleh Rika dan Nabila. Ummi Kalsum yang melihat putrinya merasa heran dengan tingkah Nadia yang terlihat penuh emosi.


"Ummi, Nadia mau bicara dengan Ummi dan Abi,"


"Maaf Ummi, soalnya saya terbawa emosi, ada hal penting yang harus Nadia bicarakan,"


"Hal apakah itu Nak? sampai-sampai membuatmu lupa mendoakan Ummi," Ummi Kalsum mencoba tenang menghadapi putrinya itu.


"Nadia akan bicara jika Abi dan Mas Yusuf ada di sini," Nadia masih bersikeras untuk bertemu dengan ayah dan kakaknya.


"Ada apa ini ummi ? Kenapa suara Nadia keras begitu ?" Pak Lukman keluar dari kamarnya dan menghampiri keempat orang di ruang tamu itu.


"Entahlah Mas, katanya Nadia ingin berbicara sesuatu dengan kita dan juga abangnya," Ummi Kalsum melirik putrinya yang kini terdiam di sampingnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Nak ?" tanya Pak Lukman setelah duduk di ruang tamu.


"Aku ingin bicara jika Mas Yusuf ada di sini,"


Ummi Kalsum segera memanggil putranya, ia juga penasaran entah apa yang ingin dibicarakan oleh putrinya itu. Tidak berapa lama Ummi Kalsum datang bersama Yusuf. Di belakangnya ada Mentari yang juga berjalan mengikuti langkah kaki keduanya.


Nadia menatap tidak suka kepada Mentari, tatapan tidak suka itu jelas terlihat di matanya. Pak Lukman yang mulai menyadari ketidaksukaan putrinya itu mulai memahami arah pembicaraan mereka nanti.


"Aku tidak ingin jika ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita," Nadia berbicara sambil melirik Mentari.

__ADS_1


Ummi Kalsum dan Yusuf terkejut dengan ucapan Nadia yang jelas jika ucapan itu ditujukan kepada Mentari. Rika dan Nabila berniat untuk meninggalkan ruangan itu.


"Bukan kalian yang harus pergi, tapi seseorang yang tidak pantas berada di tempat ini,"


Nabila yang mendengar ucapan Nadia tersenyum licik, sedangkan Mentari masih bingung. Ia tidak mengetahui kenapa sikap Nadia tiba-tiba berubah.


"Nadia ! Apa maksud ucapanmu barusan?" Yusuf tidak menerima sikap dan ucapan Nadia terhadap Mentari.


"Kenapa mas membela gadis itu? Apakah cinta membutakan mata mas?"


"Nadia cukup ! Ada apa denganmu Nak ? Kenapa ucapan dan sikapmu kasar seperti itu?" Ummi Kalsum mendekati putrinya,ia memegang pundak Nadia.


"Seharusnya Nadia yang bertanya kepada ummi dan Abi, kenapa membiarkan gadis kotor itu tinggal di pondok pesantren kita?" Nadia menatap tajam ke arah Mentari.


Mentari yang kini menyadari ketidaksukaan Nadia, ia pun ingin pergi dari ruangan itu. Tetapi Yusuf melarangnya.


"Tari tetap di ruangan ini, kamu harus tetap berada di ruangan ini, kita bicarakan baik-baik,"


"Kalian harus memilih, dia atau saya yang harus keluar dari pesantren ini? Gadis sepertinya tidak boleh tinggal di sini, gadis itu akan merusak nama baik pesantren ini,"


"Apa maksud kamu Nak? Apa yang dilakukan Mentari sehingga merusak nama baik pesantren ini?" Ummi Kalsum mencoba menenangkan putrinya yang lagi emosi.


"Ummi tidak perlu berpura-pura tidak tahu apa yang ia telah lakukan di masa lalunya itu? Ummi tahu persis, bagaimana masa lalu gadis itu dan siapa ayah Ainun sebenarnya ? Dia masih hidup kan ?"


Mentari hanya bisa menahan Isak tangisnya, cerita masa lalunya yang telah bertahun-tahun ia sembunyikan kini terkuak juga.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata mendengarkan percakapan mereka. Ainun yang berdiri di balik pintu dapur, mendengar semua percakapan orang-orang yang berada di ruang tamu.


Ainun yang masih berumur 9 tahun, kini sudah mampu memahami pembicaraan yang ia dengarkan itu.


"Ayah Ainun masih hidup? Kenapa Bunda membohongi Ainun ? Bunda jahat !!!" Ainun pun keluar dari balik pintu dan berteriak mempertanyakan ayahnya sebenarnya.


"Ainun, sejak kapan kamu di situ Nak?" Mentari terkejut melihat Ainun yang tiba-tiba berdiri di depan pintu, ia langsung mendekati Ainun.


"Bunda jahat ! Bunda pembohong ! Ainun membenci Bunda !!!" teriak Ainun. Ia langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut.


Mentari berlari mengejar Ainun, air matanya jatuh semakin deras. Luka yang bertahun-tahun ia tutupi kini terbuka kembali. Putrinya kini menganggap dirinya sebagai seorang pembohong.


Ainun yang berlari dengan perasaan penuh kekecewaan itu tidak memperhatikan sekelilingnya. Ia terus berlari dan berlari.


Tiba-tiba sebuah mobil berlaju sangat kencang ke arah Ainun, dan seketika itu mobil tersebut menabrak tubuh kecil Ainun.


"Ainuunnnn," teriak Mentari.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan comentnya 🙏


__ADS_2