Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Kepercayaan


__ADS_3

Sudah hampir dua puluh tahun pak Yusuf bekerja di perusahaan pak Mahendra.


Pak Yusuf adalah salah satu pegawai yang cukup lama bekerja di perusahaan konveksi milik pak Mahendra. Karena kejujurannya dia menjadi tangan kanan pak Mahendra.


Setiap pagi sebelum pak Mahendra sampai ke perusahaan konveksi, pak Yusuf sudah sampai duluan. Dia sangat rajin dan disiplin. Hal itulah yang membuat pak Mahendra percaya sepenuhnya pada pak Yusuf.


Belakangan ini pak Yusuf kelihatan selalu murung kalau di kantor, sehingga membuat curiga pak Mahendra. Kerena pak Mahendra sudah sangat dekat dengan pak Yusuf, akhirnya pak Mahendra memanggil pak Yusuf.


Setelah pak Yusuf masuk ke ruang kerja pak Mahendra, pak Mahendra langsung mengintrogasi pak Yusuf.


"Kenapa belakangan ini saya lihat kamu selalu murung, ada apa Suf?" tanya pak Mahendra pada pak Yusuf.


"Biasa saja kok pak," jawab pak Yusuf bohong.


"Biasanya gimana.... saya kan tau, karena setiap hari kita kan ketemu. Biasanya kamu banyak ngobrol. Sekarang kamu banyak diam. Kalau gak ditanya, kamu gak ngomong," tanya pak Mahendra lagi.


Pak Yusuf hanya tersenyum saja, seakan ada yang ingin disampaikannya tetapi dia segan untuk menyampaikannya.


"Eh...," kata pak Yusuf dengan ragu.


"Katakan saja Suf, ada apa..... mudah-mudahan saya bisa bantu," jawab pak Mahendra.


Akhirnya dengan berat hati, pak Yusuf menceritakan semuanya pada pak Mahendra.


Bahwa rumah yang merupakan rumah peninggalan istri pertamanya telah tergadai karena menutupi utang istri keduanya. Istri keduanya mempunyai utang pada rentenir.


Karena belum bisa membayarnya, akhirnya surat rumahnya digadaikan pada rentenir.


Padahal rumah itu dibangun saat istri pertama pak Yusuf masih hidup. Pak Yusuf merasa bersalah pada almarhumah istrinya karena rumah itu akan diwariskan pada anak mereka satu-satunya yaitu Sahira.


"Jadi rumah kamu, kamu gadaikan demi menutupi utang-utang istri kedua kamu?" tanya pak Mahendra pada pak Yusuf.


"Iya pak. Makanya saya sekarang ini merasa berdosa pada almarhumah istri saya," jawab pak Yusuf sambil tertunduk.


"Memang berapa nilai nominalnya utang istri kamu?" tanya pak Mahendra lagi.


"Sekitar seratus juta pak. Rencananya saya mau menjual sawah saya yang dikampung pak. Saya punya sawah yang merupakan warisan dari orang tua saya. Saat ini sawah itu lagi dikerjai adik saya. Tapi saya bingung pak, kalau sawah itu dijual, berarti penghasilan adik saya akan berkurang karena dia hanya mengelola sawahnya sendiri," jawab pak Yusuf menjelaskan.


Mengapa Yusuf masih memikirkan adiknya, sementara dia sendiri lagi butuh uang, batin pak Mahendra dalam hati.


"Kenapa istri kamu mempunyai utang sampai sebanyak itu?" tanya pak Mahendra lagi.


"Waktu itu dia buka usaha jual pakaian dengan minjam modal pada rentenir sebesar dua puluh lima juta tanpa sepengetahuan saya. Karena tidak pernah dibayar pokok dan bunganya, lama kelamaan semakin banyak," jawab pak Yusuf lagi.


"Apakah keuntungannya gak mampu untuk membayar pinjaman modalnya?" tanya pak Mahendra lagi.

__ADS_1


"Dia mengalami kerugian pak. Pakaian yang dijualnya diutangkan semua. Yang berutang tidak membayar, makanya modal tidak kembali," jawab pak Yusuf menjelaskan.


"Oh gitu.... tahun depan saya ada rencana mau memperluas usaha konveksi ini dengan membuka cabang di kota lain. Disini saya yang pegang, disana biar anak saya si Zio yang pegang. Jadi kalau kamu mau, pakai dulu uang saya yang penting tahun depan kamu bayar. Gimana Suf?" tanya pak Mahendra.


Pak Yusuf hanya terdiam dan belum berani memutuskan.


"Jadi surat rumah kamu bisa segera kamu ambil dari rentenir. Kalau sawah kamu sudah laku baru kamu bayar sama saya. Saya minjamkan gak pake bunga loh Suf. Nanti kamu pikir saya membungakan uang pula," ucap Pak Mahendra.


"Setelah saya pikir-pikir, saya maulah pak menerima pinjaman dari bapak. Tapi apa jaminannya pak?" tanya pak Yusuf lagi.


"Jaminan apalagi.... karena saya sudah percaya sama kamu, jadi gak perlu ada jaminan," jawab pak Mahendra lagi.


Pak Yusuf hanya terdiam mendengar omongan pak Mahendra. Kenapa masih ada orang sebaik pak Mahendra yang meminjamkan uang dalam jumlah besar tetapi tidak pakai jaminan, batin pak Yusuf dalam hati.


"Tok, tok.... selamat siang papa," ucap Zio sambil membuka pintu ruang kerja papanya.


"Kok tumben kemari gak memberi kabar lebih dahulu," tanya pak Mahendra pada Zio anaknya.


"Mau buat surprise pa....," jawab Zio sambil becanda.


"Pasti ada sesuatu, makanya tiba-tiba kemari," tanya pak Mahendra lagi.


Kemudian pak Yusuf yang sedang berada di ruang kerja pak Mahendra segera permisi keluar karena dia segan menguping pembicaraan pak Mahendra dengan anaknya.


Pulang Kerja.


"Sudah lama pulangnya Ra?" tanya pak Yusuf pada anak semata wayangnya.


"Baru saja yah," jawab Sahira sambil mencium tangan ayahnya yang baru pulang kerja.


"Mana bunda kamu?" tanya pak Yusuf sambil masuk ke dalam rumah.


"Gak tau yah. Tadi saat Sahira sampai rumah, bunda gak ada yah," jawab Sahira.


Memang sudah menjadi kebiasaan istri pak Yusuf yang jarang di rumah. Hampir setiap hari keluar rumah. Kalau dilarang akan marah-marah pada suaminya. Karena pak Yusuf malas ribut, akhirnya setiap istrinya pergi dia diam saja gak pernah marah.


Menjelang magrib, bu Rangga Lestari istrinya pak Yusuf yang merupakan istri keduanya baru pulang. Melihat kedatangan istrinya, pak Yusuf diam saja. Dia malas nanya-nanya pergi kemana, dengan siapa, ada urusan apa. Dia gak mau ribut karena malu pada anaknya Sahira yang sudah gadis.


"Makan malam sudah siap ayah, bunda," panggil Sahira pada ayah dan ibu tiriny.


"Iya... bentar lagi ayah bunda kesana," jawab ayahnya dari ruang tengah yang sedang menonton TV.


Tidak berapa lama ayah bundanya pun sampai di meja makan.


"Persediaan beras kita sudah mau habis loh. Gula sama deterjen juga sudah mulai habis," ucap bu Rangga pada saat makan malam bersama.

__ADS_1


"Maaf bun.... Sahira belum sempat belanja. Hampir setiap hari lembur jadi pulangnya agak sore," jawab Sahira.


"Besok bunda saja yang belanja, biar ayah kasi uangnya," jawab ayah Sahira.


"Dimana tanggung jawab Sahira kalau ayah yang ngeluarkan uang semuanya untuk keperluan keluarga. Sahira kan sudah kerja. Jadi kan wajar kalau dia ikut membantu keperluan keluarga," jawab ibu tiri Sahira.


"Betul yah kata bunda. Biar Sahira saja yang ngeluarkan uang untuk membeli sembako," jawab Sahira.


Ayahnya hanya terdiam sedih melihat istrinya terlalu perhitungan pada anaknya Sahira. Sahira begitu perhatian pada ayahnya dan selalu mengalah pada ibu tirinya. Dia tidak pernah membantah apa kata ibu tirinya.


Walau kadang hati kecilnya menangis mendengar omongan ibu tirinya yang terlalu pedas dan tidak mempunyai perasaan.


Seandainya saja ibu masih hidup.... ah... aku gak boleh menyesali kematian ibu. Karena ini sudah takdir dari Allah. Tapi sampai kapan aku bisa hidup seperti ini, batin Sahira dalam hati.


- Bersambung-


Jika suka dengan novel ini, mohon beri like and vote ya... terima kasih.


Tokoh Cerita



Zio adalah lelaki tampan dan berwibawa. Dengan rambut lurus dan hidung mancung membuat Nayla tergila-gila padanya.



Sahira adalah seorang gadis lembut, polos dan manis. Dengan kulit putih bersih, membuat Zio jatuh hati padanya.



Arfi merupakan cowok ganteng yang tidak bisa melupakan mantan kekasihnya. Walaupun sudah bertunangan dengan wanita lain, tetapi dia belum bisa melupakan kenangan bersama mantan kekasihnya.



Naura merupakan mantan kekasih Arfi yang tidak pernah bisa dilupakan. Terlalu banyak kenangan indah bersamanya.



Nayla adalah wanita cantik tetapi terlalu banyak mengatur dan egois sehingga Zio memutuskan pertunangan dengannya.


Cerita ini hanya fiktif dan khayalan author saja.


Jika ada kesamaan kisah atau tempat, itu bukan unsur kesengajaan.


Jika nantinya banyak kesalahan dalam penulisan, author mohon maaf.

__ADS_1


Author sangat menunggu saran dan kritik yang dapat menyempurnakan karya ini.


Terima kasih.


__ADS_2