
Tiba-tiba perut Sahira terasa kontraksi. Zio melihat mimik wajah Sahira merintih kesakitan, segera membawa Sahira untuk duduk di tepi tempat duduk.
"Kenapa sayang, apa sudah menyakiti?" Zio memegang pundak Sahira sambil memandang wajah Sahira dalam-dalam.
"Sepertinya aku mau melahirkan mas...., perutku terasa sakit sekali," wajah Sahira menyengir kesakitan sambil memegang perutnya.
"Apa! Kamu mau melahirkan?" Zio pun kebingungan. Segera dia membuka lemari mencari pakaian yang mau dibawa ke rumah sakit.
"Pakaian yang mau dibawa ke rumah sakit sudah aku siapkan mas. Itu di tas di dalam lemari." Sahira menunjuk lemari yang di dalamnya ada tas yang sudah berisi pakaian yang mau dibawa ke rumah sakit. Syukurnya Sahira sudah menyiapkan pakaian yang mau dibawa ke rumah sakit sebelumnya.
Zio pun segera berjalan mendekati lemari dan membukanya. Dilihatnya didalam lemari ada tas yang berisi pakaian Sahira dan pakaian baby.
Diambilnya tas itu, kemudian dia berjalan mendekati Sahira yang sedang kesakitan di tepi tempat tidur.
"Ayok kita pergi sekarang sayang.....," ucap Zio pada Sahira.
Segera Sahira berdiri dan memegang lengan Zio.
"Kamu masih tahan tidak? Kalau tidak tahan biar mas gendong menuju mobil." Zio kemudian berdiri dan merangkul pundak istrinya.
"Masih tahan mas." ucap Sahira sambil menyengir kesakitan.
Sambil dirangkul dari belakang pundak Sahira, mereka jalan pelan-pelan menuju garasi mobil.
Setelah Sahira masuk ke mobil, Zio segera menutup semua pintu dan jendela rumah dengan terburu-buru.
Kemudian dia menghidupkan mobil dan membawanya menuju ke rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Zio setiap saat melihat kondisi Sahira.
"Kamu masih tahankan sayang......" tanya Zio penuh khawatir.
"Masih mas." ucap Sahira menyengir kesakitan.
Zio dengan secepat kilat mengendarain mobilnya supaya cepat sampai ke tujuan sambil sering-sering melihat ke arah Sahira.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di rumah sakit yang dituju. Segera Zio mematikan mesin mobilnya dan memapah Sahira ke ruang UGD.
Tidak lama kemudian suster rumah sakit yang di ruang UGD tersebut dengan sigap menangani Sahira yang akan melahirkan.
Dari ruang UGD, Sahira segera dibawa ke ruang bersalin.
"Maaf...., bapak nunggu di luar saja ya." ucap salah seorang suster yang ada di ruang bersalin.
Zio hanya mengangguk sambil berjalan ke luar ruangan. Setelah berjalan ke luar beberapa langkah, Zio menemukan bangku untuk duduk bagi pengunjung.
Zio pun berjalan menuju ke bangku tersebut. Diapun duduk diam di bangku tersebut, tetapi hati dan pikirannya tidak tenang.
__ADS_1
Dilihatnya ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada seorangpun yang dia kenal.
"Kelahiran anak ke berapa pak?" tanya seorang bapak separoh baya yang sedang duduk di samping kanan Zio.
"Anak pertama pak. Bapak sendiri sedang menunggu kelahiran anak keberapa pak?" ucap Zio gantian bertanya.
"Pantas....., saya lihat bapak dari tadi mondar-mandir seperti orang yang sedang bingung. Kalau menunggu kelahiran anak pertama memang seperti itu pak." ucap bapak itu sambil menatap Zio.
"Iya ya pak." jawab Zio dengan suara pelan.
"Oh...., kalau saya sedang menunggu kelahiran anak ke enam pak." jawab bapak itu dengan nada sedikit malu.
"Haaa....," ucap Zio spontan. Dia setengah tidak percaya mendengar ucapan bapak itu.
"Hmm... saya pingin punya anak laki-laki pak. Anak saya mulai dari yang kesatu sampai yang Kelima semuanya perempuan. Mudah-mudahan anak keenam kami laki-laki ya pak." ucap bapak itu memohon doa dari Zio.
"Aamiin...., saya doakan anak keenam bapak laki-laki." ucap Zio sambil tersenyum.
***
Papa dan mama Zio setelah mendengar berita Sahira akan melahirkan, segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Cepat sedikit loh ma....," ucap papa Zio tidak sabar.
"Bentar loh pa...., mama lagi pakai jilbab ini." ucap bu Sisu yang sedang memakai jilbab di depan tiolet.
Pak Mahendra sibuk berjalan kesana kemari di teras depan rumahnya. Sambil sebentar-bentar melihat jam tangannya.
Begitu bu Sisu muncul di hadapannya, segera pak Mahendra menuju mobilnya.
Pak Mahenda dengan terburu-buru masuk ke mobil diikuti bu Sisu yang masih berjalan di belakangnya.
Dihidupkannya mesin mobil dan dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih dari biasanya.
***
Begitu juga dengan tante Ira yang sibuk mau cepat ke rumah sakit setelah mendengar dari Zio kalau Sahira akan melahirkan.
"Cepat sedikit loh mas....," ucap tante Ira pada suaminya.
"Iya sayang....., ini aku kan sedang siap-siap." ucap om Dana pada istrinya.
Begitu om Dana selesai memakai kemeja, tante Ira segera menarik lengan om Dana agar segera menghidupkan mesin mobilnya. Setelah mesin mobilnya hidup, dengan segera om Dana menuju ke rumah sakit.
***
Sesampainya bu Sisu dan pak Mahendra di rumah sakit, segera mereka mencari Zio di ruang tunggu ruang bersalin.
__ADS_1
Dilihatnya Zio sedang duduk di ruang tunggu dengan pengunjung lainnya.
Tiba-tiba lamunan Zio dibuyarkan suara mamanya.
"Gimana Sahira Zi...., apa sudah melahirkan?" tanya bu Sisu penasaran.
Zio pun memandang ke arah mamanya sambil berkata "Sahira sedang melahirkan di dalam ma".
"Mudah-mudahan Sahira selamat begitu juga babynya, Aamiin....," ucap bu Sisu.
"Banyak berdoa Zio, semoga kelahiran babymu lancar tidak ada kendala apa-apa dan semuanya sehat." ucap pak Mahendra sambil menepuk pundak Zio.
"Aamiin....." ucap Zio.
***
"Gimana Sahira, Zio.....?" tanya tante Ira yang baru saja datang.
"Sahira lagi melahirkan di dalam tante," jawab Zio sambil memandang tante Ira yang baru datang.
Tiba-tiba suster keluar dan memanggil keluarga Sahira.
"Keluarga dari ibu Sahira!" ucap suster itu sambil melihat ke arah pengunjung yang sedang duduk di ruang tunggu.
"Saya suster," ucap Zio sambil mendekati suster tersebut.
"Bapak diperbolehkan masuk, istri bapak sudah melahirkan." ucap suster itu sambil tersenyum pada Zio.
Segera Zio masuk ke dalam untuk menjumpai istri dan anaknya.
"Gimana dengan ibu Sahira dan babynya sus....," tanya bu Sisu.
"Bu Sahira selamat, dan babynya laki-laki sehat dan ganteng," jawab suster itu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah....," ucap bu Sisu, pak Mahendra, tante Ira dan om Dana bersamaan.
"Setelah baby dan Sahira dibawa ke ruang perawatan, orang tua Zio dan tante, om Sahira pun masuk ke dalam.
"Subhanallah....., ganteng sekali," ucap bu Sisu dan tante Ira.
Pak Mahendra dan om Dana ikut mendekati sambil tersenyum bahagia.
Zio yang duduk di samping Sahira, tersenyum sambil memegang tangan istrinya. Kemudian dia pun menucapkan terima kasih pada istrinya yang telah melahirkan baby yang sehat dan ganteng.
"Terima kasih sayang....," ucap Zio sambil mencium pipi Sahira.
Keduanya tersenyum bahagia menyambut kedatangan baby mereka.
__ADS_1
- Tamat -