Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Membeli Rumah


__ADS_3

Setelah kepergian ayah Sahira, rumah ayahnya tidak ada yang menempati.


"Gimana kalau rumah ayah dijual saja tante, uangnya biar untuk membayar utang ayah pada pak Mahendra. Memang dengan menikahnya Sahira dengan mas Zio utang ayah dianggap lunas, tetapi Hira merasa perkawinan Hira karena menutupi utang. Hira merasa Hira seperti dijual tante." kata Sahira pada tante Ira.


"Kalau tante terserah kamu saja. Tapi apa tidak sayang kalau rumah ini dijual. Tentu rumah ini banyak meninggalkan kenangan sejak kamu kecil sampai dewasa. Terutama kenangan bersama ibu kandungmu Ra....." ucap tante Ira.


"Memang iya tante. Tetapi selama utang ayah tidak dibayar, selama itu pula Hira merasa berutang budi terus pada pak Mahendra dan mas Zio." ucap Sahira lagi.


"Kalau saran tante, apa tidak sebaiknya rumah kalian dijual. Uang hasil penjualan itu untuk membeli rumah ayah. Jadi kalian tinggal di rumah ayah saja yang banyak meninggalkan kenangan. Uang penjualan rumah ayah bisa untuk membayar utang pada mertua kamu." ucap tante Ira.


"Menurut Hira itu ide bagus tante." ucap Hira sambil tersenyum.


"Nanti kamu bertukar pikiran dulu sama suami kamu. Kalau katanya ok baru bisa kamu pindah ke rumah ayah. Kalau dia tidak mau, jangan kamu paksakan." kata tante Ira pada Sahira.


"Baik tante." ucap Sahira.


***


Hari ini rencananya Sahira dan Zio akan pulang ke rumah mereka.


"Jadi nanti kita pulang ke rumah kita sayang...." tanya mas Zio pada Sahira.


"InsyaAllah jadi mas. Pulang dari kerja nanti jemput aku." kata Sahira pada suaminya.


"Baiklah kalau begitu. Mas pergi dulu ya." ucap Zio sambil mencium kening Sahira.


Setelah Zio pergi kerja, Sahira membereskan rumah ayahnya.


Tidak lama kemudian tante Ira datang ikut membantu Sahira membereskan barang-barang ayahnya.


"Tante....., baju-baju ayah di lemari gimana?" tanya Sahira bingung.


"Kita sumbangkan sama orang yang memerlukan saja Ra. Yang penting dibungkus rapi atau dimasukkan ke kotak. Biar nanti atau besok tante suru pak Ujang membagikannya." ucap tante Ira.


Setelah baju-baju ayahnya dibungkus rapi, Sahira dan tante Ira membereskan peralatan dapur.


"Kalau tante mau perlengkapan dapur ini, tante ambil saja. Mana yang tante suka, tante bawa saja ke rumah." kata Sahira pada tantenya.


Iya Ra. Ra....., sudah jadi kamu cerita pada suami kamu tentang rumah ini." tanya tante Ira.


"Belum tante. Nunggu saat yang tepat saja. Tadi malam mau cerita, tapi mas Zio pulang kerja sudah kelihatan sangat letih. Makanya Hira tidak jadi cerita." jawab Sahira pada tantenya.


"Tunggu waktu yang tepat sajalah baru cerita." ucap tante Ira lagi.

__ADS_1


"Iya tante." jawab Sahira lagi.


Setelah barang-barang ayah Sahira selesai dibereskan semuanya, pak Ujang datang dan membawa baju-baju ayahnya untuk dibagi-bagikan.


Sedangkan peratan dapur sebagian dibawa pulang oleh tante Ira dan sebagian besar dibagi pada tetangga dekat pak Yusuf seperti piring dan gelas.


"Ini ya bu sebagai kenang-kenangan dari almarhum ayah ibu Hira." kata Sahira saat membagikan pada tetangga ayahnya.


Semuanya dibagi rata baik piring maupun gelas.


"Terima kasih ya Ra." kata bu Marni tetangga pak Yusuf.


Sahira merasa sangat puas karena semua barang-barang peninggalan almarhum kedua orang tuanya sudah dibagi pada orang yang memerlukannya.


***


Menjelang magrib Sahira sampai ke rumahnya.


Begitu sampai di rumah, Zio langsung mandi supaya tidak ketinggalan sholat magribnya.


Sedangkan Sahira sudah mandi saat di rumah ayahnya.


"Mas mandi dulu ya ra, biar kita sholat magrib berjamah." ucap mas Zio pada Sahira.


Selesai magrib mereka langsung makan malam.


"Kita makan sekarang ya mas. Tadi aku bawa bekal dari rumah ayah. Aku sama tante Ira masak di rumah ayah tadi." ucap Sahira pada mas Zio.


"Memangnya masak apa Ra." tanya mas Zio lagi.


"Masak gulai ikan kakap sama tumis kangkung mas." jawab Sahira.


"Wah enak sekali itu Ra....." ucap mas Zio.


Mas Zio sangat lahap makannya membuat Sahira sangat senang.


"Enakkan mas....," ucap Sahira melihat suaminya makan.


"Kalau kamu yang masak tidak ada yang tidak enak sayang.... " ucap mas Zio sambil tersenyum.


"Mas pintar sekali menggoda." ucap Sahira.


Setelah selesai makan, Sahira dibantu mas Zio membereskan meja makan.

__ADS_1


Sahira yang membereskan meja makan, sedangkan mas Zio yang mencuci piring.


Sejak awal pernikahan mas Zio yang selalu mencuci piring kalau sehabis makan malam, jadi sampai sekarang kebiasaan itu tetap dilakukannya.


***


Sehabis magrib tetangga Sahira berkunjung ke rumahnya untuk mengabari ayah Sahira yang telah meninggal.


"Maaf ya Ra, ibu tidak datang saat ayah kamu meninggal karena ibu lagi berada di rumah anak ibu." ucap bu Inun tetangga Sahira.


"Ibu juga Ra...., ibu lagi bintek saat itu."ucap bu Ria yang juga tetangga Sahira.


"Tidak apa-apa bu saya maklum. Setiap orang pasti punya kesibukan sendiri. Saya yang berterima kasih pada ibu-ibu semua karena sudah perhatian pada kami sekeluarga." ucap Sahira.


Sahira sangat bersyukur karena tetangga Sahira sangat perhatian dan peduli pada keluarganya.


Saat ayah Sahira meninggal, tidak sedikit tetangganya yang datang untuk melayat. Hal ini menunjukkan kalau rasa kekeluargaan di lingkungan tempat tinggal Sahira sangat kuat.


***


Setelah tetangga Sahira pulang, Sahira berjalan menuju ke ruang tengah untuk menonton TV bersama suaminya.


"Mas...., gimana kalau rumah ini kita jual kemudian kita membeli rumah ayah. Uang penjualan rumah ayah untuk membayar utang ayah pada papa." ucap Sahira pada mas Zio.


Zio yang mendengar ucapan Sahira tertawa.


"Utang ayah sudah diikhlaskan sayang....., jadi tidak perlu dibayar," kata Zio menyakinkan istrinya sahira.


"Yang namanya utang ya tetap harus dibayar. Apalagi jumlahnya tidak sedikit. Selama utang ayah belum dibayar, selama itu pula aku merasa berhutang budi pada papa. Aku merasa jadi seperti dijual mas." ucap Sahira.


"Ya Allah Ra...., mas tidak pernah merasa membeli kamu Ra. Mas menikahi kamu karena memang mas cinta." ucap mas Zio sambil memegang pundak Sahira.


Kemudian Sahira menangis mengingat awal pernikahannya.


"Kalau kamu merasa dijual, ya sudah tidak apa-apa biar kita beli rumah ayah. Pasti rumah ayah menyimpan banyak kenangan yang tidak bisa kamu lupakan. Nanti kalau ada rezeki, kita rehab rumah itu ya." ucap mas Zio sambil memeluk Sahira.


"Terima kasih ya mas." ucap Sahira masih menangis.


"Mas tidak mau melihat kamu menangis. Kasihan anak kita pasti ikut bersedih." ucap mas Zio sambil menghapus air mata Sahira.


Mas Zio, kenapa kamu sangat baik dan sayang sama aku. Kamu sangat mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini, batin Sahira dalam hati.


- Bersambung -

__ADS_1


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2