Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Tetangga Baru


__ADS_3

Semalam siang bu Sisu kedatangan tetangga baru. Sedangkan tetangganya yang lama telah pindah ke Surabaya.


Sore harinya, bu Sisu mamanya Zio main ke rumah tetangganya yang baru itu.


"Perkenalkan saya bu Ida. Kami pindahan dari Palembang. Kebetulan suami saya pindah tugaa kemari," bu Ida memperkenalkan diri pada mamanya Zio.


"Saya bu Sisu, suami saya pak Mahendra," bu Sisu juga memperkenalkan dirinya.


"Maaf ya bu.... saya belum sempat main tempat ibu. Maklumlah masih repot membereskan barang-barang semuanya," jawab bu Ida lagi.


"Tidak apa-apa bu, saya maklum. Yang namanya baru pindah rumah ya pastinya repot. Seminggu juga tidak siap-siap membereskan barang-barang ini," ucap bu Sisu lagi.


"Ya memang begitu bu. Capeknya bukan main. Saya juga belum sempat lapor ke pak kepling. Rencananya besoklah baru ke rumahnya," kata bu Ida.


"Berapa anak ibu?" tanya bu Sisu pada bu Ida.


"Anak saya dua, yang besar di Bandung ikut suaminya, yang kecil disini masih cari-cari kerjaan. Kalau anak ibu sendiri ada berapa?" balas bu Ida bertanya.


"Anak saya satu bu. Sekarang sudah kerja bersama papanya," jawab bu Sisu.


"Ibu sudah lama tinggal disini?" Disini aman tidak bu," tanya bu Ida.


"Sejak menikah saya sudah tinggal disini bu. Disini aman," jawab bu Sisu.


"Syukurlah kalau memang aman," ucap bu Ida lagi.


***


Sejak pak Yusuf marah-marah pada istrinya, istrinya sekarang jarang keluar rumah. Kalau pak Yusuf pulang kerja, istrinya dengan setia selalu menunggunya. Perhatiannya pada pak Yusuf semakin besar.


"Mau tambah lagi nasinya mas," tanya bu Rangga pada suaminya saat makan malam.


"Tidak bun, ayah sudah kenyang," jawab pak Yusuf.


"Ini dimakan pepayanya," ucap bu Rangga lagi.


"Iya bun, terima kasih," jawab pak Yusuf tersenyum.


Pak Yusuf sedikit heran, kenapa sekarang istrinya sangat perhatian padanya. Apakah dia merasa bersalah atas kejadian semalam, sehingga untuk menebus kesalahannya dengan bersikap baik dan perhatian padanya. Syukurlah kalau bunda sudah sadar dengan perbuatannya, batin pak Yusuf dalam hati.


***


Keesokan sorenya, bu Ida yang merupakan tetangga baru Zio berkunjung ke rumah Zio beserta anak gadisnya.


"Assalamualakum, lagi ngapain bu," sapa bu Ida pada bu Sisu yang sedang asik memandang bunga anggreknya di halam depan.

__ADS_1


"Walaikumsallam, eh.....bu Ida, mari silakan masuk," jawab bu Sisu sambil mengajak tamunya masuk.


"Di sini saja bu ngobrolnya," kata bu Ida sambil menuju di teras depan.


"Silakan duduk bu," ucap bu Sisu mengajak tamunya duduk.


"Perkenalkan ini anak saya yang nomer dua namanya Yuyun," kata bu Ida pada bu Sisu.


"Cantik sekali anak ibu....," ucap bu Sisu sambil bersalaman dengan Yuyun.


"Ah.... ibu terlalu memuji," ucap bu Ida


"Tamatan dari mana?" tanya bu Sisu.


"Tamatan Akper bu, sekarang sedang cari kerja," jawab Yuyun ramah.


Saat sedang asik mengobrol, pak Mahendra dan anaknya Zio pun pulang dari kantor. Kemudian mereka berkenalan.


"Ini Zio anak saya," kata bu Sisu pada bu Ida.


"Anak ibu juga ganteng," ucap bu Ida.


"Ganteng apanya bu.... cewek saja belum ada," jawab bu Sisu sambil promosi.


"Iy ma.... nanti Zio tanya sama teman Zio," ucap Zio sambil masuk ke dalam.


"Kamu mau kemana," tanya mamanya pada Zio.


"Mau mandi duli ma, Zio sudah gerah," jawab Zio.


"Selesai mandi, temani Yuyun ngobrol ya," ucap mamanya pada Zio.


"Iya ma.... ucap Zio sambil cepat-cepat masuk ke dalam rumah.


Selesai mandi, Zio di kamar saja. Dia malas keluar nemani Yuyun ngobrol. Lebih enak di kamar sambil istirahat, batin Zio dalam hati.


"Zio..... keluar dulu. Yuyun mau pulang ini," panggil bu Sisu dari teras.


Kebetulan teras depan bersebelahan dengan kamar Zio, sehingga kalau dipanggil dari teras depan pasti dengar.


Karena tidak keluar juga, akhirnya bu Sisu masuk ke kamar Zio. Dilihatnya Zio tertidur, mamanya langsung keluar. Padahal Zio pura-pura tidur.


***


Saat makan malam, mama Zio promosi tentang Yuyun pada Zio. Sedangkan Zio dingin saja menanggapinya.

__ADS_1


"Zio..... Yuyun itu pintar masak loh. Kue bawang yang dibawanya tadi, itu buatan dia. Enakkan?" tanya mamanya Zio.


"Iya ma enak," jawab Zio santai.


"Anaknya juga cantik, ramah lagi," ucap mamanya.


Zio hanya tersenyum saja mendengar ucapan mamanya. Dia tau arah pembicaraan mamanya.


"Pasti mama mau menjodohkan Zio sama Yuyun kan?" tanya pak Mahendra pada istrinya.


"Mama hanya mencocokkan saja. Kalau keduanya setuju, mama juga setuju," jawab bu Sisu lagi.


"Memangnya zaman Siti Nurbaya, yang masih banyak perjodohan," ucap papa Zio sambil tertawa pada istrinya.


"Mama tidak memaksa, tetapi kita serahkan pada mereka berdua. Karena Zio kan sudah tidak punya pacar. Mana tau Yuyun bisa menggantikan posisi Nayla di hati Zio," ucap mamanya Zio.


"Mama jangan khawatir, pelan-pelan Zio cari pacar. Kalau terburu-buru nanti hasilnya tidak baik. Zio juga tidak mau pacaran, Zio mau langsung menikah. Begitu kenal, langsung menikah," jawab Zio menjelaskan.


Semenjak berkenalan dengan Zio, Yuyun jadi sering datang ke rumah bu Sisu. Ada saja yang dibawanya. Setiap habis membuat makanan, pasti bu Sisu diberi.


Hubungan bu Sisu dan keluarga bu Ida semakin rapat. Mereka sering bertukar makanan.


"Zio.... bisa kamu antar makanan ini ke rumah bu Ida. Mama tidak sempat. Mama masih repot ini," tanya bu Sisu pada Zio anaknya.


"Mama ini gimana sih, Zio kan laki-laki, malu lah bawa-bawa makanan ke sana," jawab Zio menolak.


"Tidak apa loh. Kebetulan bi Sarni lagi ke pasar, belum pulang," ucap mamanya lagi.


Dengan berat hati, akhirnya Zio mengantar makanan itu ke rumah Yuyun.


"Eh mas Zio, silakan masuk mas," ajak Yuyun masuk.


"Tidak usah Yun. Mas hanya mau memberi ini saja," ucap Zio sambil memberikan tuperware yang berisi makanan.


"Tidak masuk dulu mas," tanya Yuyun lagi.


"Terima kasih Yun, mas buru-buru lagi ada kerjaan kantor," jawab Zio lagi.


Setelah Zio menyerahkan tuperware itu pada Yuyun, dia pun langsung pulang. Padahal dia bukan sedang ada pekerjaan, tetapi sengaja tidak mau ngobrol dengan Yuyun lama-lama karena dia tidak tertarik pada Yuyun.


Setiap hari yang ada dalam pikirannya hanya Sahira. Padahal dia tau kalau Sahira sudah punya pacar, tetapi wajah Sahira masih selalu hadir dalam ingatannya. Sampai kapan aku bisa melupakan Sahira dihatiku ya, batin Zio dalam hati.


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2