
Keesokan harinya, mas Zio dengan perasaan cemas menunggu Sahira keluar dari kamar mandi.
Begitu Sahira keluar dari kamar mandi, mas Zio dengan tidak sabar langsung menanya hasil tes packnya.
"Gimana sayang?" tanya mas Zio pada Sahira yang baru keluar dari kamar mandi.
Sahira tidak menjawab, tetapi langsung memberikan hasil tesnya pada mas Zio.
Begitu diterima mas Zio, diapun sangat gembira sekali mengetahui hasil tes packnya positif.
"Alhamdulillah ya Allah aku akan mendapat keturunan," ucap mas Zio sambil memeluk Sahira.
Sahira juga sangat gembira karena dia memang sangat mengharapkan cepat-cepat dapat keturunan.
Mas Zio langsung menghubungi mamanya.
"Ma...., benar tebakan mama. Sahira positif hamil," ucap mas Zio saat menelepon mamanya.
"Alhamdulillah mama akan dapat cucu. Sahira jangan boleh terlalu capek ya Zio. Jaga yang betul kandungannya. Suru dia hati-hati karena sekarang ini dia lagi hamil muda. Biasa orang yang hamil muda rentan keguguran. Makanya kamu harus betul-betul menjaganya, jangan sampai terlalu capek," pesan mama Zio pada Zio.
"Iya ma, iya....., Zio pasti akan menjaganya," ucap Zio lagi.
Selesai sarapan pagi, mas Zio mengajak Sahira jalan-jalan di tepi pantai.
"Kamu pakai jaket ya Ra biar tidak masuk angin. Anginnya di tepi pantai sangat kencang," ucap mas Zio sambil memberikan jaket pada Sahira.
Kemudian mereka berjalan di tepi pantai. Mas Zio sambil merangkul pundak Sahira berjalan mesra di tepi pantai.
"Kita seperti pacaran saja ya mas," ucap Sahira saat berjalan.
"Memangnya hanya orang yang berpacaran saja yang bisa semesra ini," tanya mas Zio penasaran.
"Tapi biasanya, orang kalau berpacaran pasti jalan berdua selalu bergandengan tangan dan sangat mesra sekali. Begitu sudah menikah, kemesraannya dengan sendirinya akan hilang," ucap Sahira lagi.
"InsyaAllah mas tidak mau seperti itu. Kemesraan itu harus tetap kita tanam dan kita rawat sampai akhir hayat kita," ucap mas Zio sambil mempererat rangkulannya.
Sahira sangat terharu mendengar omongan mas Zio barusan.
"Benar ya mas, mas pegang omongan mas," ucap Sahira.
"InsyaAllah sayang....," ucap mas Zio sambil mencium rambut Sahira.
Keduanya berjalan bergandengan tangan dengan mesra, besenda gurau sambil tertawa. Kelihatan keduanya sangat ceria menyambut datangnya mentari pagi.
Pagi ini suasana sangat cerah, secerah hati Sahira dan mas Zio.
Ketika matahari sudah memancarkan sinarnya, Sahira dan mas Zio segera kembali ke kamar hotel.
Mereka ngobrol berdua di balkon kamarnya sambil menikmati keindahan tepi pandai.
"Coba kamu lihat ke arah sana Ra," ucap mas Zio sambil menunjuk kakek nenek yang sudah tua tetapi mereka berjalan masih bergandengan tangan.
__ADS_1
"Yang mana mas?" tanya Sahira sambil berdiri ke arah yang ditunjuk mas Zio.
"Yang itu sayang....," ucap mas Zio yang berdiri di belakang Sahira.
"Oh...., memangnya kenapa mas?" ucap Sahira sambil mengamati kakek nenek yang dimaksud mas Zio.
"Mas mau kita sampai tua nanti seperti kakek dan nenek itu sayang. Mereka sudah tua masih mesra," ucap mas Zio sambil memeluk pinggang Sahira dari belakang.
Sahira hanya tersenyum mendengar omongan mas Zio. Aku juga ingin seperti itu mas sampai akhir hayat kita, batin Sahira dalam hati.
***
Setelah menginap dua malam di hotel, akhirnya mas Zio dan Sahira pulang ke rumahnya.
"Kita pulang hari ini kan sayang?" tanya mas Zio pada Sahira.
"Iya mas. Besok mas kan sudah kerja," jawab Sahira.
"Kalau memang masih mau disini biar mas boking lagi hotelnya.
"Besok mas kan sudah masuk kerja," ucap Sahira lagi.
"Biar mas permisi tidak masuk kantor. Yang penting kamu senang," ucap mas Zio.
"Kita pulang saja ya mas," ucap Sahira.
Akhirnya mas Zio dan Sahira pulang ke rumahya.
***
"Alhamdulillah....., kita akan punya cucu ma," ucap pak Mahendra senang.
"Nanti malam mama suru mereka makan malam disini. Mungkin sore mereka baru nyampe," ucap bu Sisu.
"Masak makanan kesukaan Sahira ma, biar Sahira banyak makannya dan baby yang dikandungnya juga sehat," ucap pak Mahendra lagi.
"Iya pa. Tapi mama masih bingung apa kira-kira makanan kesukaan Sahira," ucap bu Sisu.
"Buahnya jangan lupa. Orang hamil harus makan, makanan yang bergizi biar baby nya sehat dan kuat," ucap pak Mahendra lagi.
Bu Sisu dan pembantunya sibuk memasak makanan kesukaan Sahira untuk menyambut kedangan mas Zio dan Sahira.
***
Habis zuhur kita pulang ya sayang," ucap mas Zio pada Sahira.
Setelah sholat zuhur mas Zio dan Sahira segera pulang ke rumah. Di pertengahan perjalanan mereka berhenti untuk beristirahat sebentar.
"Kamu capek sayang?" tanys mas Zio sambil melirik Sahira.
"Lumayanlah mas," jawab Sahira sambil melihat mas Zio yang sedang menyetir.
__ADS_1
"Kita berhenti di rest area ya sayang," tanya mas Zio.
"Terserah mas saja," jawab Sahira.
Setelah sampau di rest area, mereka pun berhenti untuk istirahat sebentar.
Begitu masuk rest area, Sahira melihat mas Arfi yang sedang istirahat dengan istrinya. Tetapi mas Arfi tidak melihat Sahira.
Sengaja Sahira mencari tempat duduk yang jauh dari mas Arfi supaya mas Arfi tidak melihatnya.
Kemudian Sahira memesan jus jeruk untuk mereka berdua.
"Mas, aku ke tiolet dulu ya," ucap Sahira pada Zio suaminya.
"Hati-hati sayang," ucap mas Zio.
Sedangkan Sahira hanya tersenyum pada mas Zio.
Saat keluar dari tiolet, tanpa sengaja Sahira berpapasan dengan mas Arfi. Mas Arfi jalan sambil menggandeng lengan istrinya. Istrinya sedang hamil besar.
"Eh...., sama siapa kamu Ra?" tanya mas Arfi pada Sahira yang keduanya terkejut saat ketemu.
"Itu sama suami aku," ucap Sahira sambil berlalu pergi.
Ternyata mas Zio juga ada di dekat situ. Diam-diam dia mengawasi Sahira. Mas Zio sempat nampak Arfi ada di dekat situ.
Saat Sahira dan mas Zio akan pulang, mereka ketemu lagi dengan mas Arfi dan istrinya di parkiran.
"Sudah mau pulang Ra?" tanya mas Arfi mendekati Sahira dan mas Zio.
"Iya mas ini sudah mau pulang," jawab Sahira dingin.
"Ini suami kamu ya," ucap mas Arfi.
"Oh iya mas, aku sampai lupa memperkenalkan suami aku," ucap sahira lagi.
Kemudian mas Zio dan mas Arfi bersalaman. Sedangkan istri mas Arfi hanya melihat dari jarak jauh.
Sesampai di dalam mobil, Sahira hanya diam saja memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Dia tidak menyangka bisa ketemu dengan mas Arfi dan istrinya.
"Gimana perasaan kamu ketemu mantan pacar Ra?" tanya mas Zio menggoda Sahira
"Tidak ada yang istimewah mas, biasa saja," ucap Sahira lagi.
"Apa kamu tidak ada perasaan lagi pada dia?" tanya mas Zio.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi mas. Perasaan cintaku yang dulu telah berubah menjadi perasaan benci. Yang kurasakan saat ini adalah benci yang luar biasa," jawab Sahira.
Mas Zio hanya terdiam. Kalaupun sekarang Sahira membenci mas Arfi, itu adalah hal yang wajar. Karena Sahira telah dihianatinya, batin mas Zio.
- Bersambung -
__ADS_1
Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.