
Sejak pertemuan malam itu, Naura selalu mengajak Arfi untuk bertemu. Ada saja alasan yang dibuatnya supaya mereka bisa bertemu. Arfi juga tidak bisa mengelak kalau sudah diajak Naura.
"Kamu mau diantar kemana Nau?" tanya Arfi ketika sampai kos Naura.
"Kita ke toko Sinar ya. Kebetulan ada yang mau aku beli," kata Naura pada Arfi.
Padahal Arfi telah buat janji sebelumnya pada Sahira akan menemani Sahira menjenguk temannya yang baru melahirkan.
Tetapi Arfi lebih memilih pergi dengan Naura dari pada dengan Sahira yang telah menjadi tunangannya.
Tiba-tiba telepon Arfi berbunyi ada panggilan masuk dari Sahira.
"Mas Arfi.... nanti jam berapa kita perginya?" tanya Sahira dalam teleponnya.
"Aduh Ra.... mas lupa pula. Mas sekarang sudah pergi dengan teman mas mancing. Maaf ya.... kamu pergi sendiri saja ya," jawab Arfi bohong.
"Ya sudahlah mas biar aku pigi sendiri," ucap Sahira sedikit kecewa.
Kemudian Sahira pergi sendiri ke tempat temannya yang baru melahirkan.
***
"Zio.... tolong belikan mama kapur ajaib. Di lemari buku banyak sekali semut," ucap mamanya pada Zio yang sedang asik menonton TV.
"Dimana belinya ma," tanya Zio pada mamanya.
"Yang pasti bukan di toko emas," jawab mamanya sambil bergurau.
"Kalau itu....Zio pun tau ma," jawab Zio lagi.
"Biasanya di Indomaret ada," ucap mamanya lagi.
Kemudian Zio pun pergi ke Indonaret untuk membeli kapur ajaib yang disuru mamanya.
Saat dalam perjalanan menuju Indomaret, dia melihat Arfi membonceng cewek dan kelihatannya mesra sekali.
Bukankah itu pacarnya Sahira. Lalu siapa wanita yang ada di belakangnya. Kenapa wanita itu memeluk pinggang pacar Sahira sangat mesra. Atau itu selingkuhan pacar Sahira. Kasihan sekali Sahira diduakan oleh pacarnya, batin Zio dalam hati.
***
"Kita nanti singgah di taman bunga ya Ar.... Sudah lama kita tidak kesana," ucap Naura pada Arfi.
"Tapi jangan lama-lama ya," kata Arfi.
__ADS_1
Kemudian Naura dan Arfi singgah ke taman bunga setelah pulang dari toko Sinar.
"Kamu masih ingat kan Ar, saat pertama kali kita kemari. Waktu itu aku terpeleset di pinggir kolam itu. kemudian kamu menolong aku, dan kamu juga ikut terpeleset," ucap Naura mengingatkan kembali kenangan manis bersama Arfi.
Arfi hanya tersenyum sendiri mengingatnya. Sudah terlalu banyak kenangan indah bersama Naura yang tidak bisa dia lupakan.
***
"Loh.... mana mas Arfi Ra," tanya Adel ketika melihat Sahira datang sendiri.
"Dia lagi pergi sama temannya. Dia sudah terlanjur janji sama temannya mau mancing ikan di kolam pemancingan. Kan tidak enak kalau dibatalkan. Lagian aku sudah terbiasa pergi sendiri. Jadi bagiku itu hal yang biasa," jawab Sahira tegar.
"Baguslah kalau begitu. Kita jadi wanita harus mandiri, tidak tergantung pada laki-laki. Jadi suatu saat kalau suami kita tidak di rumah, atau lagi pergi, kita dapat mengatasi semuanya," ucap Adel menjelaskan.
"Benar juga kamu bilang Del," ucap Sahira.
"Aku dengar kamu sudah bertunangan, kapan peresmiannya," tanya Adel ingin tau.
"Dua bulan lagi Del," jawab Sahira.
"Berarti sebentar lagilah ya," ucap Adel lagi.
***
Setelah seharian pergi keliling dengan Naura, akhirnya Arfi mengajak Naura pulang.
"Kenapa..... sudah capek ya," jawab naura.
"Lumayanlah. Kamu dari tadi ngajak jalan terus, sekarang kakiku pegal. Lagian sekarang sudah sore," ucap Arfi sambil memegang betisnya
"Nanti sampai kosku biar kukusuk," kata Naura bergurau sambil naik sepeda motor Arfi.
Arfi pun segera membawa Naura pulang ke kosnya.
"Masuk dulu yok," kata Naura setelah turun dari sepeda motor Arfi.
Kemudian Arfi pun segera masuk ke kos Naura. Naura tinggal sendiri di kos itu. Ada tiga kamar kos disitu.
"Kos yang sebelah kanan sama sebelah kiri kemana orangnya Nau," tanya Arfi saat melirik kos disampingnya tertutup.
"Oh itu.... yang satu semalam sore pulang kampung dan yang satu lagi tadi pagi ke tempat kakaknya pesta," ucap Naura menjelaskan.
Kemudian Naura membuatkan minum buat Arfi.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu ya Ar.... aku mandi dulu. Setelah mandi nanti kita ngobrol," kata Naura sambil berjalan ke kamar mandi.
Arfi pun duduk di ambal yang telah digelar Naura. Di ruang tamu itu hanya ada ambal dan bantal. Karena capek, Arfi tiduran di ambal sambil membuka hpnya.
Tiba-tiba terdengar suara Naura menjerit dari kamar mandi. Arfi pun segera berlari mendatangi arah suara itu.
"Ada apa Nau....," ucap Arfi khawatir.
Kemudian Naura membuka pintu kamar mandi dan membiarkan Arfi masuk.
"Itu Ar..... ada kecoak. Ihhh.... kecoaknya banyak," ucap Naura takut.
"Oh itu..... sini biar aku matikan," kata Arfi sambil mematikan kecoak itu. Ada tiga kecoak disitu dan kemudian disiramnya sampai tidak ada lagi.
Saat Arfi akan keluar, dilihatnya Naura hanya memakai kain basahan untuk mandi yang sangat tipis, sehingga bentuk lekuk tubuhnya sangat jelas kelihatan. Terutama yang bagian depan. Yang namanya lelaki normal, melihat pemandangan seperti itu pasti akan tergoda. Begitu juga dengan Arfi. Didekatinya Naura, dan Naura hanya terdiam dan pasrah. Terjadilah hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan.
Setelah semuanya terjadi, Naura hanya bisa menangis dan menyesali semuanya.
"Ar..... aku takut. Kalau sampai aku hamil bagaimana Ar....," ucap Naura khawatir.
"Kamu jangan khawatir. Kalau kamu sampai hamil, aku pasti akan bertanggung jawab," kata Arfi sambil membelai rambut Naura.
"Tetapi kamu kan sudah bertunangan," ucap Naura sedih.
Arfi hanya terdiam. Tidak lama kemudian Arfi pun pamit pulang dan meninggalkan Naura di ruang tamu sendiri. Pikirannya melayang tidak menentu. Gimana kalau aku sampai hamil, batin Naura dalam hati.
***
"Jalan-jalan kemana saja hari ini Ar," tanya ibunya saat melihat Arfi pulang.
"Arfi pergi ke rumah teman bu," jawab Arfi.
"Loh.... bukannya kamu pergi dengan Sahira," tanya ibunya lagi.
"Tidak bu," jawab Arfi datar.
Kemudian Arfi buru-buru masuk ke kamarnya, takut ditanya macam-macam sama ibunya.
Setelah mandi, Arfi pun merebahkan dirinya di tempat tidur. Pikirannya tidak tenang, memikirkan kejadian barusan bersama Naura. Gimana kalau Naura benar-benar hamil. Lambat laun pasti Sahira akan tau.
Bagaimana dengan keluargaku. Apakah mereka bisa menerima semua ini? Siapa yang harus aku pilih, Naura atau Sahira. Dibandingkan dengan Sahira, aku lebih mencintai Naura dibandingkan Sahira. Karena Naura cinta pertamaku yang tidak pernah bisa kulupakan.
Tetapi aku telah bertunangan dengan Sahira dan berjanji menikahinya dua bulan lagi. Arfi bingung memikirkan semua ini. Seandainya Naura tidak meninggalkan aku saat itu, pasti aku menikahinya walaupun orang tuanya tidak setuju, batin Arfi dalam hati.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih....