Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Piknik


__ADS_3

Sejak menikah dengan mas Zio, Sahira tidak diperbolehkan bekerja lagi. Sehingga dia harus resign dari perusahaan tempat dia bekerja sekitar enam bulan yang lalu.


Walaupun Sahira sudah resign dari kantornya, Airin dan Afika masih rajin mengunjunginya.


Di hari Jumat ini setelah pulang kerja, Airin dan Afika datang ke rumah Sahira untuk bersilaturahmi.


"Gimana kabar kamu Ra, sudah hamil belum?" tanya Airin sambil memeluk Sahira.


"Belum Rin, doa kan ya aku cepat hamil," ucap Sahira sambil tersenyum.


"Ra...., kamu sudah dengar kabar tentang mas Arfi?" tanya Afika.


"Tidak, memangnya kenapa mas Arfi?" ucap Sahira penasaran.


"Ternyata dia meninggalkanmu karena sudah menghamili mantan pacarnya. Minggu lalu dia baru menggelar acara tujuh bulanan," ucap Afika.


"Oh iya...., aku baru dengar ini," ucap Sahira.


"Jangan pernah memikirkan dia lagi ya Ra, apalagi mengharapkannya. Anggap saja dia tidak pernah ada di hati kamu. Jangan pernah lihat ke belakang, tapi lihat saja ke depan. Pengalaman adalah guru terbaik," ucap Airin menjelaskan.


"Baik bu guru," jawab Sahira sambil tersenyum.


"Aku serius loh Ra," ucap Airin.


"Terima kasih ya Rin...., ya Ka...., kalian perhatian sekali sama aku. Mudah-mudahan sampai saat ini dan seterusnya aku tidak pernah memikirkan mas Arfi lagi. Hatiku terlalu sakit kalau mengingatnya. Aku juga yakin, semua ini ada hikmahnya. Kalau saja aku sampai menikah saat itu, sementara mantan pacarnya sudah hamil berarti akan semakin besar penderitaanku. Aku sekarang sudah ikhlas Rin. Aku sangat bersyukur kehilangan mas Arfi tetapi sudah dapat gantinya yang lebih sayang dan perhatian yaitu mas Zio," ucap Sahira dengan mata berkaca-kaca.


"Aku yakin kamu pasti kuat menghadapi semua ini Ra," ucap Afika.


"Aamiin....," ucap Airin dan Sahira bersamaan.


Sahira sangat bersyukur karena mempunyai teman yang sangat perhatian dan sayang padanya.


***


Saat Zio pulang kerja, dilihatnya Sahira sedang asik menonton TV.


"Nonton film apa sih...., kelihatannya serius sekali. Sampai suami pulang tidak tau," tanya Zio sambil merangkul dan mencium pipi Sahira.


"Biasa mas acara drama korea," jawab Sahira sambil tersenyum.


"Memangnya seru ceritanya?" tanya mas Zio lagi.


"Serulah makanya aku selalu menonton. Tapi lebih seru lagi kalau mas cepat mandi," ucap Sahira sambil tertawa.


"Kamu ya....," ucap mas Zio sambil menarik hidung Sahira yang mancung.

__ADS_1


Kemudian mas Zio pergi ke kamar mandi, sedangkan Sahira menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Selesai mandi, Zio dan Sahira kembali ke ruang tengah untuk menonton TV.


"Ra....., hari Sabtu ini kan hari libur. Gimana kalau kita pergi piknik pengganti bulan madu kita. Sejak menikah kita kan belum pernah berbulan madu," ucap Zio.


"Terserah mas sajalah," ucap Sahira.


Setelah Sahira dan Zio sepakat dengan tempat piknik yang akan dituju, Zio segera memboking hotel. Sahira maunya letak hotelnya pas di tepi pantai.


***


Tepat hari jumat setelah sholat Jumat, Sahira dan Zio pergi piknik berdua.


"Biar mas saja yang membawa tasnya Ra," ucap mas Zio saat melihat Sahira membawa tas yang berisi makanan menuju ke kamar hotel.


"Tidak apa-apa mas, lagian ini tidak berat. Mas sendiri sudah membawa koper kita," ucap Sahira sambil tetap membawa tas tersebut.


Keduanya segera memasuki kamar hotel yang letaknya di tepi pantai.


Kemudian Sahira membuka pintu balkon. Dia berdiri sambil memandang ke laut lepas. Sedangkan Zio istirahat di kamar sambil menonton TV.


"Ra....., kamu dimana?" tanya mas Zio.


Segera mas Zio berjalan ke teras menjumpai Sahira yang sedang duduk termenung memandang ke laut lepas.


"Kenapa kamu menghayal sayang....?" ucap Zio sambil memeluk Sahira dari belakang.


Sahira tidak menjawab, hanya matanya berkaca-kaca mengenang kebersamaannya dengan mas Arfi. Mas Arfi pernah mengajak Sahira jalan-jalan di tepi pantai ini. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Sahira. Sambil berpegangan tangan mereka berjalan di tepi pantai ini.


"Kenapa kamu diam saja," ucap mas Zio sambil mempererat pelukannya.


"Aku hanya takjub mas, ternyata laut diciptakan Allah memiliki keindahan yang luar biasa," jawab Sahira berbohong. Padahal Sahira sedang mengenang kebersamaannya dengan mas Arfi.


Kenapa aku masih memikirkan dia. Padahal dia sudah menyakiti aku. Aku harus bisa menggantikan posisi mas Arfi dengan mas Zio, batin Sahira dalam hati.


"Yok kita jalan-jalan di pinggir pantai," ucap mas Zio sambil menggenggam jemari Sahira.


Kemudian mereka berjalan di tepi pantai dengan bergandengan tangan. Bahkan tidak jarang mas Zio memeluk pundak Sahira.


"Kamu tidak terasa dinginkan?" tanya mas Zio khawatir.


"Tidak mas," jawab Sahira.


"Kalau terasa dingin biar mas ambil jeket," ucap mas Zio.

__ADS_1


Tiba-tiba Sahira merasa perutnya mual dan akan muntah. Zio yang memperhatikan keadaan Sahira, segera mengajak Sahira masuk ke kamar. Setelah sampai ke kamar hotel, Sahira pun muntah. Selesai muntah, Zio menuntun Sahira ke tempat tidur.


"Kamu berbaring saja ya, biar mas ambilkan air hangat," ucap mas Zio dengan penuh khawatir.


Kemudian mas Zio mengambil air hangat untuk Sahira.


"Kamu kenapa Ra?" tanya mas Zio.


"Tidak tau mas. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing," ucap Sahira sambil berbaring di tempat tidur.


Sedangkan mas Zio sibuk mengusuk kepala Sahira dengan minyak kayu putih.


Sahira merasa heran sendiri. Tadi tidak ada tanda-tanda sakit, kenapa tiba-tiba aku terasa mual ya, batin Sahira dalam hati.


Tiba-tiba hp Zio berdering ada panggilan masuk dari bu Sisu mamanya Zio.


"Jadi kalian piknik Zi?" tanya bu Sisu pada Zio anaknya.


"Jadi ma. Tadi sehabis sholat Jumat kami berangkat," jawab Zio.


"Hati-hati kalian disana ya. Sahira lagi ngapain Zi?" tanya bu Sisu lagi.


"Ini lagi tergolek. Barusan Sahira mual dan muntah-muntah ma. Tapi sudah Zio kusuk dengan minyak kayu putih, sekarang masih tergolek di tempat tidur," jawab Zio.


"Zio....., jangan-jangan istri kamu hamil," ucap bu Sisu menebak.


Zio segera mendekati Sahira yang tergolek di tempat tidur.


"Sayang....., jangan-jangan kamu hamil?" tanya mas Zio penasaran.


"Apa?" jawab Sahira terkejut.


Kemudian Sahira mengingat tanggal terakhir datang bulan. Seharusnya aku sudah datang bulan, tetapi sampai hari ini belum datang bulan. Berarti tebakan mas Zio ada benarnya. Tapi aku tidak boleh terlalu yakin sebelum tes dulu, batin Sahira dalam hati.


"Mungkin masuk angin biasa mas. Tadi kita waktu berjalan-jalan di tepi pantai anginnya kencang. Bisa jadi karena angin kencang itu membuat aku masuk angin," jawab sahira.


Aku tidak mau sampai mas Zio kecewa. Makanya tidak kuceritakan kalau aku sudah terlambat bulan. Besok kalau sudah dites dan hasilnya positif, baru aku bisa cerita, batin Sahira.


"Nanti mas beli tes pack ya biar besok pagi saat kamu bangun tidur dites," ucap mas Zio dengan gembira.


Sahira hanya tersenyum dan mengangguk pertanda setuju.


- Bersambung -


Jika kamu suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2