Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Marah


__ADS_3

Setelah pak Mahendra memberikan foto istrinya yang sedang berduaan dengan lelaki lain, hati pak Yusuf tidak tenang.


"Bapak kenapa, apa bapak sakit? Saya lihat bapak sepertinya lemas dan tidak bergairah kerja," tanya pak Budi yang merupakan rekan kerja pak Yusuf.


"Saya tidak apa-apa, hanya sedikit capek," jawab pak Yusuf bohong.


"Biasa pak.... kalau usia sudah diatas empat puluh lima tahun, biasanya mudah lelah. Kena hujan dikit pilek, kena angin dikit masuk angin," ucap pak Budi menjelaskan.


"Memang seperti itulah pak. Semakin tua semakin banyak penyakit," ucap pak Yusuf sambil tersenyum.


"Usia bapak sudah berapa sekarang," tanya pak Budi ingin tahu.


"Bulan yang lalu genap empat puluh sembilan tahun," jawab pak Yusuf.


"Beda tipis saja kita ya pak. Saya bulan depan genap empat puluh sembilan tahun," kata pak Budi menjelaskan.


"Tidak terasa ternyata kita sudah tua ya," ucap pak Yusuf lagi.


"Sepertinya baru semalam kita kerja disini ya pak," tanya pak Budi lagi.


"Iya ya pak...., masih ingat dibenak saya pertama sekali saya kerja di sini. Waktu itu anak pak Mahendra si Zio masih kecil, sekitar tiga tahun. Kalau hari Sabtu Zio selalu ikut papanya kerja. Jam sepuluh baru istrinya menjemputnya. Kalau diajak pulang, Zio selalu nangis tidak mau pulang," ucap pak Yusuf.


"Iya...., saya juga masih ingat kecilnya Zio. Dia cingeng seperti anak perempuan. Kerjanya nangis saja," ucap pak Budi sambil tersenyum.


Kemudian mereka berduapun tertawa. Senda gurau pak Budi membuat pak Yusuf dapat melupakan kesedihannya untuk sementara waktu.


***


Saat jam kerja selesai, pak Yusuf cepat-cepat untuk bergegas pulang.


Sesampainya di rumah, dilihatnya Sahira sudah sampai rumah.


"Sudah lama kamu pulang Ra," tanya pak Yusuf pada Sahira anaknya.


"Habis ashar tadi yah," jawab Sahira sambil mencium tangan ayahnya yang baru pulang kerja.


"Bunda mana Ra....," tanya pak Yusuf pada Sahira.


"Tidak tau yah. Hira pulang kerja tadi bunda sudah tidak ada di rumah," jawab Sahira.


Kemudian pak Yusuf mencoba menelepon istrinya, tetapi hpnya tidak aktif.


Dengan wajah marah, pak Yusuf segera masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Menjelang magrib, bu Rangga istri pak Yusuf baru pulang.


Selesai makan malam, pak Yusuf segera menanyakan tentang foto itu.


"Kamu semalam itu pergi kemana dan dengan siapa bun!" tanya pak Yusuf suaminya.


"Kan sewaktu mau pergi semalam sudah aku katakan, kami pergi menjenguk teman yang sakit bersama teman yang lain. Jadi artinya perginya dengan beberapa orang," jawab bu Rangga bohong.


"Bukankah kamu pergi berdua dengan laki-laki!" tanya pak Yusuf lagi.


"Kenapa mas menuduh aku seperti itu. Mas sudah tidak percaya sama aku ya!!!" jawab bu Rangga marah.


Kemudian pak Yusuf mencampakkan foto kebersamaan bu Rangga dengan kekasihnya itu.


"Ini apa.... kamu masih mau mengelak juga!" ucap pak Yusuf sambil mencampakkan foto itu di depannya.


Kemudian bu Rangga terdiam sebentar setelah melihat foto itu.


"Sekarang zaman sudah canggih. Foto seperti ini bisa saja dibuat orang. Ini foto editan mas. Jadi jangan gampang percaya dengan foto seperti ini," ucap bu Rangga menjelaskan.


"Kamu pikir aku bisa percaya begitu saja dengan omongan kamu. Aku juga bisa membedakan mana yang editan dan mana yang tidak," jawab pak Yusuf lagi.


"Terserah mas kalau mas tidak percaya sama aku," jawab bu Rangga lagi.


Sahira yang mendengar pembicaraan ayahnya merasa sangat sedih. Kasihan ayah selalu disepelekan bunda.


***


Seperti biasa, masih jam tujuh kurang pak Yusuf sudah berangkat kerja. Sedangkan Sahira berangkat kerjanya jam tujuh lewat.


Setelah pak Yusuf berangkat kerja, kemudian bu Rangga memanggil Sahira.


"Sahira..... sini dulu. Ada yang mau bunda tanya," ucap bundanya pada Sahira yang saat itu masih di dalam kamarnya.


"Ada apa bun," tanya Sahira sambil keluar kamarnya.


"Siapa yang memberikan foto bunda pada ayahmu!" tanya bu Rangga.


"Siapa.... Hira tidak tau bun," jawab Sahira heran.


"Tidak mungkin kamu tidak tau. Kamu pasti tau," jawab bu Rangga ketus.


"Benar bun.... Hira tidak tau menau tentang foto bunda," jawab Sahira tegas.

__ADS_1


"Biar kamu tau Ra... foto itu foto editan. Bisa jadi ada orang yang tidak suka dengan bunda sehingga memfitnah bunda dengan mengirimkan foto itu ke ayah kamu," ucap bu Rangga berbohong.


Dia sengaja ngomong seperti itu untuk menarik simpati Sahira agar Sahira percaya dengan omongannya. Jadi seolah-olah itu bukan bundanya.


***


Setelah Sahira berangkat kerja, bu Rangga segera menelpon selingkuhannya. Dia mengajak lelaki itu untuk jumpa, tetapi bukan di tempat yang semalam melainkan di tempat yang lain lagi.


"Kita ketemu sekarang ya mas. Ada yang akan aku bicarakan. Alamatnya nanti aku kirim. Pokoknya aku tunggu ya," ucap bu Rangga pada kekasihnya saat bertelepon.


"Kenapa tidak di tempat biasa?" tanya lelaki itu dalam teleponnya.


"Nanti aku ceritakan semuanya," jawab bu Rangga dalam teleponnya.


***


"Selamat pagi sayang....," ucap Arfi saat tiba di kantor.


"Pagi juga....," jawab Sahira cuek.


"Maaf ya sayang, semalam aku lupa ada janji sama kamu," ucap Arfi sambil mendekati Sahira.


"Tidak apa-apa mas, aku sudah terbiasa kemana-mana sendiri. Jadi itu hal yang biasa," ucap Sahira lagi.


Saat istirahat jam makan siang, Sahira dan Dinda pergi ke kantin. Sedangkan Afika dan Airin masih di ruang kerjanya.


"Mbak.... ada yang mau aku sampaikan loh," ucap Afika pada Airin.


"Tentang apa Ka....," tanya Airin.


"Tentang Sahira," ucap Afika lagi.


"Kenapa dengan Sahira?" tanya Airin penasaran.


"Semalam sewaktu mas Tomi akan ke rumahku, dia berpapasan dengan mas Arfi. Mas Arfi membonceng cewek tetapi bukan Sahira. Cewek itu memegang pinggang mas Arfi erat sekali. Mereks seperti pscaran," ucap Afika menjelaskan pada Airin.


"Nanti mas Tomi kamu salah lihat Ka. Bisa saja wajahnya mirip," ucap Airin.


"Tidak loh. Mas Tomi kan sudah sering ketemu Sahira, jadi tidak mungkin salah lihat," ucap Afika lagi.


"Kalau memang benar, kasihan sekali Sahira ya. Diduakan oleh mas Arfi," ucap Airin sedih.


Airin dan Sahira sangat kompak. Sejak Airin menikah dan mengontrak rumah dekat rumah Sahira, mereka selalu kompak. Pergi dan pulang kerja selalu bersama. Sahira juga sering main ke rumah Airin. Kasihan sekali Sahira ya, batin Airin dalam hati.

__ADS_1


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2