
Keesokan paginya, Zio dan Sahira bangun kesiangan.
"Mas...., sudah siang," ucap Sahira membangunkan Zio.
"Sudah jam berapa Ra," tanya Zio pada Sahira.
"Sudah hampir jam setengah delapan mas," ucap Sahira sambil berjalan ke jendela.
Kemudian Sahira membuka horden yang ada di kamarnya. Dilihat dari balik horden, matahari sudah memancarkan sinarnya.
"Apa ???" ucap Zio kaget.
"Kenapa kita sampai kesiangan seperti ini ya, padahal tidak pernah sebelumnya bangun kesiangan," ucap Zio lagi.
"Mungkin karena hujan tadi malam mas, makanya tidurnya nyenyak sekali," ucap Sahira sambil mengambilkan baju kerja Zio di lemari.
"Karena tadi malam merupakan malam pertama kita sayang....," kata Zio sambil memeluk Sahira dari belakang.
"Mas...., sudah cepat sana mandi. Sudah kesiangan bukannya cepat, ini semakin lambat. Kan malu sama teman kantor kalau sampai terlambat," ucap Sahira lagi.
"Pasti teman mas maklum, namanya pengantin baru. Lemburnya sampai pagi," ucap Zio sambil tertawa berjalan ke kamar mandi.
Sahira hanya tersenyum malu mendengar omongan mas Zio.
Kemudian Sahira berjalan ke dapur membuatkan minum untuk mas Zio.
"Mas sarapan di kantor saja ya. Kalau aku masakkan nanti kelamaan mas nunggunya," kata Sahira.
"Tidak apa Ra...., biar mas sarapan di kantor saja. Yang penting kamu sarapan jangan sampai telat ya. Mas pergi dulu ya sayang.....," ucap Zio sambil memeluk Sahira.
Setelah mas Zio pergi kerja, bi Ana pun tiba.
"Kelihatannya ibu baru bangun tidur ya. Karena biasa jendela-jendela sudah dibuka semuanya," tanya bi Ana saat masuk rumah.
"Iya bi, kami kesiangan tadi. Tadi malam hujan deras jadi nyenyak sekali tidurnya. Begitu terbangun sudah hampir jam setengah delapan. Jadi saya tidak sempat membuatkan sarapan untuk mas Zio," jawab Sahira.
"Jadi bapak tidak sarapanlah bu," tanya bi Ana lagi.
"Tidak bi. Tapi di kantor nantikan bisa sarapan," jawab Sahira.
Kemudian bi Ana segera memulai pekerjaannya.
***
Saat tiba di kantor, pak Mahendra langsung menegur Zio yang datang kesiangan.
"Kenapa terlambat Zi...., apa Sahira sakit lagi," tanya pak Mahendra.
"Kami tadi bagun kesiangan pa, makanya Zio terlambat," ucap Zio sambil terus masuk ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Belum sempat masuk ke ruang kerjanya, Zio berpapasan dengan Radit.
"Kenapa siang sekali baru datang Zi, apa Sahira sakit lagi," tanya Radit penasaran.
"Aku bangun kesiangan," jawab Zio dengan suara yang sangat pelan.
Raditpun tertawa terpingkal-pingkal membuat teman sekantornya pada melihat ke arahnya.
"Memangnya ada apa Radit," tanya pak Eko penasaran.
"Biasalah pak, pengantin baru lemburnya sampai pagi. Makanya bangunnya kesiangan," ucap Radit masih tertawa.
Semua teman kantor yang mendengar perkataan Radit pada tersenyum. Sedangkan Zio dengan perasaan malu cepat-cepat masuk ke ruangannya.
***
Saat jam istirahat makan siang, Zio menelpon Sahira.
"Assalamualakum, ada apa mas," jawab Sahira dalam teleponnya.
"Mas hanya mau nanya, kamu sudah makankan?" tanya Zio dalam teleponnya.
"Sudah mas, baru saja selesai. Mas sendiri sudah makan?" tanya Sahira lagi.
"Ini baru mau ke kantin. Mas kangen sama kamu, makanya nelepon kamu dulu," ucap Zio sambil menggoda Sahira.
"Dasar gombal....," ucap Sahira sambil menutup hpnya.
Selesai menghubungi Sahira, Zio langsung pergi ke kantin. Ternyata Radit masih ada di kantin juga.
"Sampai berapa ronde tadi malam sampai bisa kesiangan," tanya Radit sambil tertawa becanda.
"Baru permulaan makanya agak lama," jawab Zio sambil berbisik ditelinga Radit.
"Apa....? Ngacau kamu Zi...., sudah hampir dua bulan tapi bilang baru permulaan," ucap Radit penasaran.
"Siapkan saja makan kamu. Tidak perlu dipikirkan, nanti bertambah lebar botak di kepala kamu," ucap Zio sambil tertawa juga.
Kemudian keduanya tertawa.
Zio dan Radit berteman sejak SMA dan sampai sekarang masih kompak.
***
Saat Zio pulang kerja, dilihatnya Sahira tidak ada di kamarnya.
"Sahira kemana bi," tanya Zio pada bi Ana.
"Baru saja pergi ke rumah tetangga sebelah. Tadi anaknya kecelakaan sewaktu naik sepeda di komplek kita. Makanya ibu melihat kesana pak," ucap bi Ana menjelaskan.
__ADS_1
"Oh gitu. Kalau bibi sudah mau pulang tidak apa bibi pulang sekarang, saya kan sudah di rumah," ucap Zio.
Bi Ana pun segera pamit pulang. Sedangkan Zio langsung masuk ke kamar dan pergi mandi.
Tidak lama kemudian Sahira pun pulang dari rumah tetangganya. Dicarinya bi Ana tidak ada.
Kemudian dia masuk ke kamar. Didengarnya ada suara orang yang sedang mandi. Berarti bi Ana sudah pulang karena mas Zio sudah pulang kerja, batin Sahira dalam hati.
Begitu keluar dari kamar mandi, dilihatnya Sahira sedang duduk di depan tiolet sambil berkaca. Zio langsung memeluk Sahira dari belakang.
"Kamu darimana sayang," ucap Zio sambil berbisik di telinga Sahira.
Sahira hanya tersenyum kegelian.
"Dari rumah bu Ratna mas. Tadi anaknya main sepeda di komplek ini. Kemudian karena terlalu kencang mengayun sepedanya, masuk ke selokan dan kepalanya bocor," jelas Sahira.
"Jadi sudah dibawa ke dokter?" tanya Zio khawatir.
"Sudah mas. Tadi langsung dibawa ibunya ke puskesmas," jawab Sahira.
Tiba-tiba hp Zio yang berada di meja tiolet berdering ada panggilan masuk. Sahira yang kebetulan duduk di meja rias tersebut melihat hp mas Zio.
"Mas hp kamu berdering ini," ucap Sahira sambil memberikan hp tersebut ke mas Zio.
"Dari siapa Ra....," tanya Zio sambil menerima hp tersebut.
"Lihat saja sendiri," ucap Sahira ketus.
Ketika dilihat Zio ternyata panggilan masuk dari Nayla. Dengan sedikit ragu Zio mengangkat telepon tersebut. Saat hpnya diangkat, telepon tersebut putus. Kemudian Zio meletakkan kembali di meja rias.
"Kenapa tidak jadi diangkat mas," tanya Sahira penasaran.
"Mau diangkat sudah putus. Biar sajalah. Kalau ada keperluan penting, pasti nelepon kembali," jawab Zio sambil melihat ke Sahira.
Dilihatnya ekspresi wajah Sahira agak sedikit lain. Kelihatan Sahira sedikit cemberut.
"Kamu cemburu ya," ucap Zio sambil merangkul Sahira.
Sahira yang sedang duduk di meja rias sedikit terkejut saat mas Zio memeluknya dari belakang.
"Siapa yang cemburu," ucap Sahira ketus.
"Siapa lagi kalau bukan kamu. Tapi mas senang loh kalau kamu cemburu. Berarti kamu sudah mulai cinta sama mas," ucap Zio sambil tertawa.
"Mas terlalu pede sih. Mana ada aku cemburu, ngapain pula cemburu," ucap Sahira.
"Ra....., mas kan tau apa yang kamu rasakan. Coba lihat wajah kamu di cermin. Kelihatan kan kalau kamu lagi galau," ucap mas Zio sambil berbisik ditelinga Sahira.
Sahira jadi malu sendiri. Ternyata mas Zio bisa menebak isi hatiku, batin Sahira dalam hati.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.