
Begitu azan subuh berkumandang di mesjid, Zio pun segera terbangun. Dia langsung pergi ke dapur untuk memasak air. Sambil menunggu air mendidih, dia segera mandi.
Dia masuk ke kamar dan membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Dilihatnya Sahira masih tertidur nyenyak.
Selesai sholat subuh, Zio pun membangunkan Sahira yang masih tertidur pulas.
"Ra....., sudah subuh. Apa kamu tidak subuh?" ucap Zio sambil memegang pipi Sahira.
"Sudah jam berapa mas?" tanya Sahira ketika sudah terbangun.
"Sudah jam setengah enam pagi. Kalau mau mandi, air hangat sudah mas siapkan ya," ucap Zio sambil berjalan ke luar kamar.
"Makasih ya mas Zio," ucap Sahira sambil menuju ke kamar mandi.
Kenapa mas Zio sangat baik dan perhatian sama aku ya. Padahal aku sudah menyakiti perasaannya tadi malam. Mas Zio tidak menunjukkan rasa marahnya. Dia biasa-biasa saja seperti tidak ada masalah tadi malam. Maafkan aku mas Zio sudah menyinggung perasaan kamu, batin Sahira penuh penyesalan.
"Ra...., ini sudah mas belikan sarapan kita," ucap mas Zio sambil berjalan ke dapur.
"Berarti saat aku mandi tadi, mas beli sarapan?" tanya Sahira.
"Maaf, mas tadi tidak sempat bilang sama kamu karena buru-buru," ucap Zio lagi.
"Pantas, selesai mandi tadi aku cari mas tapi tidak ada," ucap Sahira.
"Kenapa mencari mas, pasti kamu kangen ya," ucap Zio ditelinga Sahira.
Sahira hanya tersenyum malu.
Kemudian Sahira dan Zio sarapan bersama. Keduanya sedang menikmati sarapan mereka, sehingga tidak terdengar ada yang ngomong. Sesekali Zio menatap Sahira yang sedang asik memasukkan nasi ke mulutnya.
Saat mata mereka bertatapan, Sahira tertunduk malu. Zio hanya tersenyum melihatnya. Sepertinya Sahira sedikit malu karena telah kugoda barusan, batin Zio.
***
Hari ini Zio mulai masuk kerja sejak cuti saat pernikahan sampai Sahira masuk rumah sakit.
"Selamat pagi pak Zio," sapa salah seorang pegawai Zio yang bernama pak Amir.
"Pagi juga pak," jawab Zio.
"Gimana kondisi istri bapak, apa sudah sembuh," tanya pak Amir.
"Alhamdulillah sudah sembuh pak. Sudah pulang dari rumah sakit semalam. Hanya disuru banyak istirahat," jawab Zio pada pak Amir.
"Kalau pengantin baru harus banyak istirahat pak, biar bisa cepat punyak momongan," ucap pak Amir sambil tersenyum.
Zio hanya tersenyum mendengar omongan pak Amir barusan. Gimana mau punya momongan, malam pertama saja belum kujalani, batin Zio dalam hati.
"Gimana malam pertamanya Zi...., sukseskan?" tanya Radit menggoda Zio.
__ADS_1
Radit merupakan teman SMA Zio. Sejak tamat SMA dia bekerja di perusahaa orang tua Zio.
"Sukseslah," jawab Zio sedikit malu.
"Kamu harus poding yang cukup. Biar cepat punya keturunan," ucap Radit lagi.
"Kalau itu, sudah pasti," jawab Zio sambil tersenyum.
***
Tepat jam setengah delapan pagi, pembantu Sahira yang telah dicarikan bu Sisu pun datang.
"Saya bi Ana yang mau kerja di rumah ibu," kata pembantu Sahira yang bernama Ana.
"Oh iya bi, semalam mama sudah cerita sama saya. Bibi sudah tau kerjanya apa sajakan?" tanya Sahira.
"Sudah bu," jawab bi ana.
Bi Ana pun segera mengerjakan tugas yang sudah diberitau Sahira. Sahira juga tidak tinggal diam. Dia juga ikut membantu bi Ana.
"Bu...., biar saya saja yang mengerjakan semuanya. Ibu istirahat saja. Ibu kan tidak boleh capek," kata bi Ana.
"Tidak apa-apa bi. Saya biasa kerja. Jadi kalau di rumah diam saja tidak ada kerjaan semakin bingung," ucap sahira.
"Ibu duduk saja di meja makan, biar saya yang mengerjakan semuanya. Ibu cukup lihat-lihat saja," ucap bi Ana.
"Gimana kabar kamu Ra...., sudah tidak demam lagikan?" tanya bu Sisu pada menantunya.
"Alhamdulillah tidak ma," ucap Sahira.
"Kamu banyak istirahat ya. Tidak boleh capek, " kata bu Sisu lagi.
"Iya ma," jawab Sahira.
"Oh iya Ra....., itu mama bawakan ambal. Satu ambal yang besar, dan yang satu lagi ambal yang kecil. Kebetulan di rumah masih ada ambal yang lain. Jadi kalian tidak perlu beli ambal, ambal mama saja itu pakai," ucap bu Sisu.
"Terima kasih ma," ucap Sahira lagi.
Tiba-tiba hp Sahira berdering ada telepon masuk. Sahira segera mengangkatnya.
"Assalamualakum mas," ucap Sahira dalam teleponnya.
"Ra....., kamu lagi ngapain. Pembantu yang dicari mama sudah datang?" tanya Zio.
"Sudah datang mas, ini aku lagi ngobrol. Namanya bi Ana. Oh ya mas, ini mama baru saja datang. Bawakan ambal untuk kita," ucap Sahira.
"Oh iya...., yang penting kamu jangan ikut kerja ya. Kamu istirahat yang cukup," ucap Zio khawatir.
"Mas pulang kerja jam berapa?" tanya Sahira lagi.
__ADS_1
"Kenapa nanya jam berapa pulang kerja. Apa kamu sudah kangen," ucap Zio sambil tertawa.
"Mas...., aku nanyanya serius loh," ucap Sahira sambil tersenyum.
"Mas juga serius Ra. Mas nanti pulang lebih cepat dari biasa," jawab Zio.
"Kenapa?" tanya Sahira ingin tau.
"Karena mas kangen sama kamu," jawab Zio sambil menggoda Sahira.
Sahira sambil tersenyum menutup teleponnya. Bu Sisu dan bi Ana ikut tersenyum melihat ekspresi Sahira yang baru menerima telepon suaminya.
"Zio bilang apa Ra," tanya mama mertuanya.
"Katanya nanti pulang dari kerjaan lebih cepat dari biasa," ucap Sahira menjelaskan.
"Apa kalian ada rencana mau pergi," tanya bu Sisu.
Belum sempat Sahira menjawab, bi Ana sudah menjawab.
"Mungkin kangen bu. Maklumlah namanya pengantin baru, makanya pulang cepat," jawab bi Ana sambil tertawa.
Sahira tersipu malu mendengar ejekan bi Ana.
"Bi Ana masak apa hari ini?" tanya bu Sisu.
"Masak gulai daun ubi, ikan mas diarsit dan sambal ikan teri bu, " jawab bi Ana.
"Kalau bisa sering menyayur tauge. Katanya tauge bisa menambah kesuburan. Jadi bagi pasangan pengantin baru ini sangat cocok. Biar cepat punya momongan," jawab bu Sisu menjelaskan.
Sahira yang mendengar pembicaraan itu hanya tersenyum saja.
Selesai bi Ana masak, dia segera membereskan meja makan.
"Mama makan disini ya," ucap Sahira pada mama mertuanya.
"Mama biar makan di rumah saja Ra. Tadi sewaktu mau kemari mama sudah makan di rumah, jadi sekarang mama masih kenyang," ucap bu Sisu.
"Jadi Hira makan sendirilah ini," ucap Sahira lagi.
"Tidak apa-apa Ra. Kamu harus makan yang teratur, tidak boleh sampai telat. Apalagi kamu kan belum sehat betul," ucap mama mertuanya khawatir.
"Iya ma," jawab Sahira.
Sahira sangat bersyukur punya mertua yang sangat peduli dan perhatian padanya. Andaikan saja ibu kandungku masih hidup, pasti ibu akan perhatian seperti mama juga, batin Sahira.
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.
__ADS_1