
Setelah Zio dan kekasihnya pergi dari hadapan Sahira, Sahira pun segera kembali ke tempat duduknya menjumpai Arfi.
"Kenapa lama sekali Ra... "ucap Arfi penuh khawatir.
"Iya, antri tadi disana," ucap Sahira bohong.
"Ada lagi yang mau dicari?" tanya Arfi lagi.
"Tidak ada mas.... pulang sekarang saja ya. Aku sudah ngantuk," ucap Sahira lagi.
Kemudian Sahira dan Arfi pun pulang. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Sahira diam saja.
"Kenapa diam saja Ra.... tidak seperti biasa," tanya Arfi dalam perjalanan pulang.
"Aku ngantuk mas, makanya malas ngomong," jawab Sahira.
Tidak lama kemudian, sampailah mereka di rumah Sahira. Setelah Arfi pamit pada ayah bunda Sahira, dia pun segera pulang.
"Pulang ya sayang....," bisik Arfi ditelinga Sahira.
Sahira hanya tersenyum malu melihat Arfi hampir mencium pipinya.
Sesampainya di kamar, dia langsung sholat isya. Kemudian ganti pakaian tidur dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hampir setengah jam di tempat tidur, dia tidak dapat tidur juga. Matanya terpejam, tetapi hati dan pikirannya tidak tenang, memikirkan kejadian barusan.
Tidak terasa air mata mengalir dipipinya. Apakah penampilan aku seperti orang kampung. Apakah aku seperti wanita penggoda, batin Sahira sedih.
Di Rumah Zio.
Sesampai di rumah, Zio langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Pikirannya tidak tenang mengingat kejadian barusan. Kasihan sekali Sahira mendapat hinaan dari Nayla. Gimana kalau aku nelpon Sahira dan minta maaf, batin Zio dalam hati.
"Malam Gan..., maaf ya mengganggu waktunya. Kamu ada no hpnya Sahira. Sahira anaknya pak Yusuf teman kamu sewaktu SMA. Aku ada perlu penting," ucap Zio pada Afgan yang merupakan teman SMA Sahira.
"Oh ada, bentar ya....," jawab Afgan.
Kemudian Afgan mencari no hp Sahira di hpnya dan mengirimkannya ke Zio.
Di Rumah Sahira.
__ADS_1
Tiba-tiba hp Sahira berdering, membuyarkan lamunan Sahira yang sedang bersedih. Kemudian diangkatnya.
"Assalamualakum, ini dengan siapa?" tanya Sahira menjawab telpon yang baru masuk.
"Walaikumsallam...., maaf ya Sahira mengganggu waktunya. Saya mas Zio," sahut Zio dalam teleponnya.
"Ada apa ya mas....," tanya Sahira dalam teleponnya.
"Mas mau minta maaf atas kejadian barusan. Mas tidak menyangka kejadiannya seperti itu. Apakah kamu baru menangis Ra.... ?" tanya Zio penuh khawatir.
"Tidak apa-apa mas. Saya hanya sedih saja. Apa penampilan seperti orang kampung, atau seperti wanita penggoda?" ucap Sahira sambil menahan tangisannya supaya tidak didengar Zio.
"Tidak Ra.... bahkan banyak lelaki yang lebih menyukai penampilan wanita yang sangat sederhana seperti kamu. Sehingga kecantikannya alami bukan karena polesan. Mas harap kamu jangan sedih ya, maafkan mas ya atas kejadian tadi," ucap Zio dalam teleponnya.
"Iya mas sama-sama. Saya juga minta maaf. Sudah ya mas, sudah malam. Assalamualakum." jawab Sahira dalam teleponnya.
Begitu hp ditutup Sahira, Zio terdiam sejenak. Pikirannya melayang tidak menentu. Kenapa aku sangat merindukan Sahira. Aku sangat kasihan melihat Sahira sedih seperti tadi, batin Zio dalam hati.
Setelah cukup lama Zio berbaring di tempat tidur, akhirnya lama kelamaan ngantukpun mulai terasa. Akhirnya jam menunjukkan jam dua belas, baru Zio tertidur nyenyak.
Saat jam istirahat siang, hp Arfi tiba-tiba berbunyi pertanda ada wa yang masuk. Kemudian dia membuka hpnya. Dilihat isi pesan di wa nya.
"Arfi.... aku ingin jumpa. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sehabis magrib nanti kita ketemu di tempat biasa ya."
Arfi hanya terdiam membaca isi wa Naura mantan kekasihnya.
"Ada apa mas....." tanya Sahira yang sedang duduk disampingnya.
"Eh.... ada teman yang nanya alamat teman kami sewaktu SMA dulu," ucap Arfi bohong.
"Oh....," ucap Sahira lagi.
Malam Hari.
Sesampai di rumah, Arfi masih bingung memikirkan isi WA Naura tadi. Kenapa Naura tiba-tiba mau ketemu dengan aku. Bukankah dia yang selama ini meninggalkan aku. Saat aku akan meminangnya, orang tuanya tidak setuju dan Naura kemudian meninggalkan aku begitu saja. Kutelepon tidak diangkat, ku sms, ku wa tidak dijawab. Tetapi sekarang dia ingin berjumpa denganku. Ada apa ya?
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Arfi memutuskan untuk menjumpai Naura. Ketika Arfi tiba di tempat yang telah ditentukan Naura, Naura sudah menunggu disana.
__ADS_1
"Maaf ya Nau.... sudah menunggu terlalu lama," ucap Arfi saat bertemu Naura.
"Tidak apa-apa Ar.... aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Karena aku banyak salah, aku sudah mengecewakan kamu," ucap Naura dengan nada sedih.
"Nau.... kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja. Kau gantungkan harapan aku untuk mendapatkanmu," tanya Arfi pada Naura.
"Kamu kan tidak tau sebenarnya apa yang telah terjadi pada diriku. Tidak ada sedikitpun niat dihatiku untuk meninggalkanmu. Sengaja orang tua aku tidak menerima lamaran kamu, karena orang tua aku telah mencari jodoh buat aku. Ibu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ini semua kemauan ayah tiri aku. Kalau aku menolak, maka aku dan ibuku akan diusir ayah tiri aku," jawab Naura sambil menangis.
"Jadi bagaimana dengan perjodohan kamu?" tanya Arfi ingin tahu.
"Belum sebulan kami pindah ke Batam, ibuku meninggal dunia. Kemudian aku lari dari rumah dan pergi merantau ke Jakarta. Sebenarnya aku ingin kembali kesini, tetapi aku malu pada kamu Ar....," ucap Naura menjelaskan.
"Lalu.... " tanya Arfi ingin tau kelanjutannya.
"Selama di Jakarta pikiranku tidak tenang. Aku selalu memikirkanmu. Seminggu yang lalu kuberanikan diri pulang kemari. Sekarang disini aku ngontrak. Alhamdulillah tadi aku mulai bekerja di pabrik semen di jalan Krakatau. Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi," jawab Naura.
"Nau...., maafkan aku sebelumnya ya. Sekarang aku sudah tunangan dan dua bulan lagi aku akan menikah," ucap Arfi dengan suara pelan.
"Apa???" Naura sangat terkejut mendengar ucapan Arfi barusan.
Kemudian dia menangis menyesali diri. Ternyata aku sudah terlambat. Sekarang aku sudah tidak punya harapan lagi untuk bisa menjadi istri Arfi, batin Naura dalam hati.
"Maafkan aku Nau... Sejak kamu pergi dari kota ini, harapan aku telah sirna untuk memperistri kamu. Aku hilang semangat hidup karena aku pikir kamu sudah menikah dengan lelaki lain," kata Arfi.
"Aku tidak bisa melupakan kamu Fi.... sampai detik ini," ucap Naura sambil menangis.
Kemudian Arfi menghapus air mata Naura.
"Mungkin kita memang tidak berjodoh Nau," ucap Arfi lagi.
Akhirnya keduanya terdiam merenungi perjalanan kisah cinta mereka. Setelah Arfi mulai mencintai wanita lain, dia harus dihadapkan pada pilihan yang membuatnya bingung.
Naura merupakan masa lalu yang tidak pernah bisa dilupakan. Sedangkan Sahira merupakan wanita yang membuat dirinya bangkit kembali setelah patah hati ditinggalkan Naura, bahkan hampir tidak mempunyai semangat hidup.
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya, terima kasih...
__ADS_1