Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Pulang


__ADS_3

Saat waktunya jam besuk, ayah Sahira dan tante Ira sudah sampai di rumah sakit.


Setelah pengunjung sudah diperbolehkan masuk, merekapun masuk ke ruang perawatan Sahira.


"Gimana keadaan kamu sekarang sayang?" tanya tante Ira sambil memeluk Sahira.


"Alhamdulillah sudah mendingan tante," jawab Sahira.


"Sakit apa kata dokter Zi....," tanya ayah Sahira pada Zio.


"Sakit tipus ya. Sahira harus istirahat total," jawab Zio menjelaskan.


Saat ayah Sahira sedang asik ngobrol, pak Mahendra pun datang.


"Gimana keadaan kamu Ra...," tanya mama Zio pada Sahira menantunya.


"Alhamdulillah sudah mendingan ma," ucap Sahira pada ibu mertuanya.


Orang tua Zio sangat khawatir dengan keadaan menantunya.


Setelah tau penyakit yang diderita Sahira, mama dan papanya menyarankan Sahira untuk berhenti kerja.


"Iya Ra....., kamu berhenti kerja saja ya. Biar kamu bisa istirahat total. Ya mudah-mudahan dalam waktu dekat kamu bisa hamil," ucap mama mertuanyanya.


"Hira pikir-pikir dulu ma," jawab Sahira.


"Ini mama bawa brownis, tadi mama beli di Brownis Amanda. Enak....., dimakan ya," ucap bu Sisu sambil memberikan pada Sahira.


Pak Mahendra asik ngobrol dengan pak Yusuf dan om Dana suami tante Ira. Sedangkan bu Sisu asik ngobrol dengan tante Ira.


Sahira dan Zio mendengarkan mereka mengobrol saja.


Tidak lama kemudian kedua orang tua Zio pamit pulang dan Zio mengantarkan sampai ke halaman parkir.


"Gimana kalau setelah Sahira pulang dari rumah sakit langsung dibawa ke rumah baru kalian. Papa mama sudah merencanakan rumah papa yang di jalan Dahlia kalian tempati saja," ucap pak Mahendra.


"Bukankah rumah itu masih dikontrak pak Andi pa," tanya Zio pada papanya.


"Bulan semalam pak Andi sudah beli rumah baru, jadi rumah itu sekarang sudah kosong," jelas pak Mahendra lagi.


"Bukannya mama tidak mau kalian tinggal di rumah mama, tapi nanti Sahira segan. Makanya lebih baik kalian tinggal di rumah sendiri biar lebih mandiri," ucap bu Sisu.


"Nanti ya ma biar Zio bicarakankan sama Sahira dulu," jawab Zio.


Tidak lama kemudian, pak Yusuf dan tante Ira pun pamit pulang. Tinggallah Sahira dan Zio berdua lagi.


"Kamu makan ya biar mas sulangi," tanya Zio.

__ADS_1


"Aku masih kenyang mas. Nanti saja ya," jawab Sahira.


"Inikan sudah siang, sudah waktunya makan siang dan minum obat," ucap Zio sambil mengambil nasi untuk Sahira.


Kemudian Zio menyulangi Sahira walaupun awalnya Sahira belum mau makan, tetapi karena dipaksa Zio, akhirnya mau makan juga.


Setelah selesai minum obat, Zio pun mulai berbicara pada Sahira tentang pindah rumah.


"Ra.....," pulang dari rumah sakit nanti kita langsung pindah ke rumah kita yang baru ya?" tanya Zio pada Sahira.


"Pindah rumah," ucap Sahira.


"Iya... kita pindah ke rumah kita sendiri biar kita lebih mandiri," jawab Zio.


"Mas...., kitakan baru kenal," ucap Sahira sedikit ragu.


"Jadi kalau baru kenal kenapa. Atau kamu takut mas akan berbuat jahat sama kamu," tanya Zio sambil becanda. .


"Tidak seperti itu sih mas. Paling tidak kita kenal dekat dulu, setelah sudah kenal dekat baru kita pindah rumah," jawab Sahira.


"Di rumah kita nanti kita belajar saling mengenal," ucap Zio lagi.


Setelah diam beberapa saat, akhirnya Sahira memberikan jawaban.


"Terserah mas sajalah," jawab Sahira.


***


"Besok mama saja yang membeli perabot rumahnya. Jadi mereka tinggal masuk rumah saja. Kasihan Sahira kalau harus membeli isi keperluan rumahnya. Kalau bisa isi di kulkasnya juga sudah mama belanjakan," ucap Pak Mahendra.


"Baik papa.... berarti mama harus mencari pembantu untuk mereka juga ya," tanya bu Sisu.


"Ya iya ma...., tapi cari pembantu yang pulang setiap hari. Maksudnya tidak tinggal di rumah mereka," ucap pak Mahendra lagi.


"Kenapa begitu pa," ucap bu Sisu lagi.


"Mama seperti tidak pernah pengantin baru saja. Kalau ada pembatu yang nginap di situ, mau bermesraan jadi segan. Namanya pengantin baru, dimana saja pasti bermesraan. Apalagi mereka baru kenal, jadi perlu beradaptasi untuk saling kenal. Kalau di rumah berdua, kan bebas bermesraan dimana saja," kata pak Mahendra menjelaskan.


"Oh iya...., mama tidak mikir sampai kesitu" ucap bu Sisu sambil tertawa.


***


Sahira kemudian memberitau tante Ira tentang rencananya untuk pindah rumah.


"Tante setuju Ra kalau kalian pindah rumah. Biar kalian lebih mandiri," jawab tante Ira dalam teleponnya.


"Tapi kasihan dengan ayah, sendiri di rumah," ucap sahira.

__ADS_1


"Kamu jangan khawatir dengan ayah. Kan ada tante yang dekat. Nanti biar tante yang masakkan setiap hari," ucap tante Ira.


Syukurlah rumah tante Ira dekat dengan rumah ayah, jadi setiap saat bisa melihat ayah manatau ayah sakit atau gimana, batin Sahira dalam hati.


***


Hari ini Sahira sudah bisa pulang. Kondisinya sudah sehat tetapi masih perlu istirahat yang cukup.


"Sudah sehat kan Ra....," ucap mama mertuanya sambil memeluk Sahira.


"Alhamdulillah sudah ma," jawab Sahira membalas pelukan mama mertuanya.


"Inilah rumah yang akan kalian tempati. Memang sih tidak besar, tetapi untuk pasangan pengantin baru sudah bisalah," ucap mama mertuanya lagi.


"Tidak apa-apa ma, Sahira sangat bersyukur bisa tinggal disini jadi tidak perlu mengontrak. Terima kasih banyak ya ma," ucap Sahira.


"Nanti kalau kita sudah punya uang, kita beli rumah yang lebih besar ya sayang," ucap Zio sambil merangkul pinggang Sahira dan berbisik di telinganya.


Sahira terseyum geli. Geli karena kumis Zio menyenggol telinganya.


Kenapa mas Zio kelihatan mesra sekali kalau di depan mama papanya, batin Sahira dalam hati.


"Kenapa mas Zio di depan orang tua mas menunjukkan kemesraan," tanya Sahira saat mereka membereskan baju-baju di lemari.


"Mas tidak mau mereka kecewa. Walaupun kamu tidak mencintai mas, paling tidak mas harus tunjukkan kalau kita sudah saling suka, saling cinta. Kalau kita bahagia, pasti mereka juga bahagi. Benarkan?" tanya Zio sambil memeluk Sahira dari belakang.


Bersamaan dengan itu mamanya yang sedang sibuk membereskan di ruang tamu melihat Zio sedang memeluk Sahira, spontan Sahira melepaskan pelukannya. Sedangkan mama mertuanya hanya tersenyum saja.


"Mas, mama lihat itu. Aku malu," ucap Sahira.


"Kalau malu, pintu kamarnya ditutup," ucap Zio sambil tersenyum.


"Ya lebih malu lagi. Dikiranya kita lagi ngapain," jawab Sahira.


"Mereka pasti maklum, kitakan pengantin baru," ucap Zio.


"Ra...., kamu golek di tempat tidur saja. Biar mas yang bereskan semuanya," ucap Zio karena melihat Sahira sibuk terus membereskan pakaian di lemari.


"Tanggung loh mas," jawab Sahira tanpa memperdulikan omongan Zio.


Karena tidak didengar juga omongan Zio, akhirnya Sahira yang sedang jongkok memasukkan pakaian ke rak paling bawah dibopong Zio ke tempat tidur.


"Mas...., lepaskan," ucap Sahira dalam gendongan Zio.


"Kalau kamu tidak dengar juga, akan aku cium," kata Zio sambil merebahkan tubuh Sahira di tempat tidur.


Spontan Sahira menutup mulutnya. Sedangkan Zio hanya tersenyum melihat ekspresi Sahira yang wajahnya merah padam setelah mendengar omongan Zio barusan.

__ADS_1


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2