Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Putus


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, mama dan papa Zio ngobrol berdua di teras samping. Zio saat itu sedang menonton TV. Kebetulan ruang TV nya bersebelahan dengan teras samping, sehingga Zio mendengar pembicaraan papa mamanya.


Tetapi Zio tidak begitu peduli dengan pembicaraan mereka. Saat mendengar tentang keluarga Sahira, Zio baru sedikit menguping pembicaraan orang tuanya.


"Papa sebenarnya kasihan lihat si Yusuf loh ma," ucap pak Mahendra pada istrinya.


"Memangnya kenapa pak Yusuf pa," tanya istrinya.


"Dia harus menanggung semua utang istrinya. Istrinya pinjam uang pada rentenir untuk modal jual pakaian. Dia menjualnya secara kredit. Tetapi yang membeli pakaian tidak pada bayar, akhirnya modal beserta bunganya tidak terbayar ke rentenir. Makin lama ya makin bayak utangnya ke rentenir. Jadi sekarang surat rumahnya digadaikan pada rentenir," kata pak Mahendra menjelaskan.


"Ya Allah..... memangnya berapa utangnya pa," tanya istrinya pak Mahendra lagi.


"Awalnya dua puluh lima juta, sekarang sudah mencapai seratus juta," jawab pak Mahendra lagi.


"Jadi gimana sekarang pa," tanya istrinya pak Mahendra.


"Semalam itu papa pinjamin uang papa yang untuk membuka cabang usaha kita. Rencananya dia mau jual sawahnya yang ada di kampungnya. Kalau sawahnya sudah laku, utangnya akan dibayarnya," jawab pak Mahendra lagi.


"Kasihan ya pak Yusuf itu. Jangan-jangan itu permainan istrinya pa. Kan bisa saja utangnya sekian, tetapi dibilang sekian. Kita kan tidak tau. Kenapa orang yang berutang pakaian tidak ditagih terus," ucap istrinya pak Mahendra kesal.


"Tidak baik berburuk sangka ma....," ucap pak Mahendra.


"Istri pak Yusuf itukan istri kedua dan masih baru lagi. Melihat dari penampilannya, sepertinya istrinya itu suka bergaya, seperti ibu sosialita," ucap istri pak Mahendra lagi.


"Kita melihat orang jangan dari luarnya saja, tetapi lihat dalamnya juga. Bisa saja di luar jelek, tetapi di dalam bagus," kata pak Mahendra lagi.


Zio yang saat itu lagi menonton TV tidak sengaja mendengar pembicaraan papa mamanya.


Kemudian Zio keluar dan bergabung dengan papa mamanya yang sedang asik mengobrol.


"Papa jadi membuka cabang perusahaan kita?" tanya Zio pada papanya.


"Memanya kenapa Zi....," tanya papanya.


"Papa kan sudah sakit-sakitan. Ada masalah sedikit di kerjaan, sakit jantung papa kambuh. Kalau nanti Zio pegang perusahaan sendiri, papa juga pegang sendiri, gimana kalau ada masalah di kerjaan. Sedangkan papa tidak bisa menghadapi masalah sedikit saja," kata Zio menjelaskan.


"Jadi maksud kamu....," tanya papanya lagi.

__ADS_1


"Maksud Zio, batalkan saja rencana buka cabang pa. Biar papa ngawasi usaha disini saja. Zio nanti yang pegang. Jadi kita fokus satu perusahaan saja. Dari pada dua perusahaan tetapi tidak bisa kita kendalikan, bisa tumpur nanti kita," jawab Zio menjelaskan.


"Ide kamu bagus juga itu Zi....," ucap mamanya.


"Ya sudah, nanti papa pikir-pikir lagi," ucap pak Mahendra lagi.


***


Seperti biasa, setiap pagi Zio pergi ke kantor bersama dengan papanya. Belakangan ini dia selalu ke kantor papanya untuk belajar dengan papanya. Karena Zio belum paham betul bagaimana mengelola perusahaan, sehingga dia harus banyak belajar.


Mulai hari ini, Zio resmi diangkat oleh papanya sebagai manager perusahaan pengganti papanya.


"Suf.... tolong kamu bantu Zio untuk mengelolah perusahaan ini ya. Kalau dia kurang pahan, tolong kamu ajari. Saya sudah sering sakit, jadi biar Zio yang mengendalikan semuanya," kata pak Mahendra pada pak Yusuf yang merupakan orang kepercayaan pak Mahendra.


"Baik pak, saya akan siap membantunya," jawab pak Yusuf.


"Mengenai membuka cabang perusahaan, rencana tidak jadi. Saya mau fokus satu perusahaan saja. Dua perusahaan kalau morat marit untuk apa, karena saya sepertinya sudah tidak sanggup menghandle sendiri," kata pak Mahendra menjelaskan.


"Benar juga kata bapak. Satu saja yang penting fokus," ucap pak Yusuf.


"Mulai hari ini kamu banyak belajar dengan pak Yusuf ya Zio," ucap pak Mahendra pada anaknya Zio.


Sejak hari ini perusahaan sepenuhnya dikendalikan oleh Zio anak satu-satunya pak Mahendra.


***


Saat jam istirahat siang, Nayla datang ke kantor Zio.


"Maaf mbak.... mbak mau ketemu dengan siapa?" tanya satpam pada Nayla yang langsung masuk saja tanpa permisi pada satpam yang menjaga di pintu masuk.


"Saya tunangan Zio dan ingin ketemu dengan Zio pemilik perusahaan ini," jawab Nayla tegas.


"Bentar ya mbak. Mbak tunggu saja disana," ucap satpam sambil menyuru Nayla duduk di kursi tamu.


"Saya ini tunangannya. Apa tidak boleh saya langsung ke ruangannya!" ucap Nayla emosi.


"Makanya mbak duduk saja dulu disana, nanti saya beritau pak Zio dulu. Kalau kata pak Zio mbak disuru ke ruangannya, biar nanti saya yang antar kesana," jawab satpam dengan sopan.

__ADS_1


Kemudian satpam itu memberitau Zio melalui telepon.


"Mbak.... kata pak Zio mbak disuru menunggu, bentar lagi pak Zio datang.


Tidak lama kemudian, Zio pun muncul.


"Hebat sekali satpam kamu mas.... baru jadi satpam saja sudah sombong. Aku dilarangnya masuk ke ruangan kamu. Apa tidak bisa kamu cari satpam yang lebih profesional. Pecat saja satpam itu mas," ucap Nayla penuh emosi.


"Kamu kemari ada perlu apa!" tanya Zio datar.


"Aku kangen sama kamu mas. Setiap aku telepon tidak pernah kamu angkat. Aku wa juga tidak kamu balas," jawab Nayla.


"Kan sudah aku katakan semalam sama kamu, kalau kita tidak ada kecocokan. Mulai sekarang kamu cari saja lelaki pengganti aku. Karena perasaanku sekarang sudah berubah," jawab Zio tenang.


"Kita kan sudah bertunangan mas...," ucap Nayla.


"Orang yang sudah menikah saja bisa pisah, apalagi yang baru bertunangan," jawab Zio santai.


"Apa yang menyebabkan perasaan kamu berubah mas," tanya Nayla lagi.


"Perasaan aku berubah karena tingkah laku kamu sendiri," jawab Zio lagi.


Akhirnya Nayla pun pergi dengan perasaan kesal pada Zio.


Zio sengaja memutuskan hubungannya dengan Nayla karena tidak tahan dengan sikap Nayla.


Apalagi setelah mendapat info dari Abin teman SMA Zio.


"Kamu sudah bertunangan dengan Nayla?" tanya Abin saat Zio ketemu Abin di mall. Saat itu Abin juga membawa pacanya ke mall. Saat Nayla sedang memilih-milih sepatu, Zio sempat ngobrol dengan Abin.


"Apa tidak salah kamu pilih Nayla sebagai tunangan kamu. Dia itu sering ke diskotik. Aku kan banyak tau tentang dia Zi.... karena dia bekas pacar sepupuku. Setelah sepupuku tau dia sering ke diskotik, akhirnya diputuskan sama sepupu aku," jelas Abin.


Sejak saat itu perasaan Zio semakin berubah. Awalnya dia tidak suka dengan sikap Nayla yang suka mengatur, egois, mau menang sendiri.


Tapi setelah tau kalau Nayla juga sering ke diskotik, akhirnya perasaan Zio terhadap Nayla menjadi hambar, seperti masakan tanpa garam.


Akhirnya setelah dipikir masak-masak, Zio memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Apalagi belakangan ini mereka sering selisih paham dan akhirnya sering ribut kecil.

__ADS_1


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini beri like and vote ya, terima kasih....


__ADS_2