
Pramuniaga pria yang membawakan peralatan baby berjalan di belakang Zio.
Begitu sampai di area parkir, dengan cekatan pramuniaga itu mengeluarkan stroller baby dan tempat duduk santai baby untuk dimasukkan ke mobil Zio.
Zio segera membuka bagasi mobil dan membantu pramuniaga itu memasukkan peralatan baby ke mobilnya.
"Terima kasih mas." ucap Zio pada pramuniaga yang mengantar peralatan baby.
Dengan menganggukkan kepala, pramuniaga itu kemudian berlalu pergi sambil tersenyum pada Zio.
Dari kejauhan Nayla mantan pacar Zio melihat Zio berbelanja peralatan cukup banyak sehingga sampai harus diantar pramuniaga.
Saat Zio akan naik ke mobilnya terdengar suara ketukan sepatu yang semakin lama semakin dekat. Saat Zio melihat ke belakang, dilihatnya Nayla yang sedang jalan mendekatinya.
"Belanja apa kamu mas, aku lihat banyak sekali belanjaan kamu." ucap Nayla penasaran.
"Oh kamu... ini lagi belanja peralatan baby." kata Zio sedikit cuek dan segera masuk ke mobil.
Nayla hanya terdiam sambil posisi tetap berdiri disamping mobil Zio, sedangkan Zio langsung menghidupkan mobilnya.
"Duluan ya Nay." ucap Zio tanpa basa basi pada Nayla.
Dengan sangat kecewa Nayla hanya mengangguk tersenyum hambar. Dia mengharap akan ditawari mas Zio untuk pulang naik mobil dengannya. Tetapi jangankan untuk menawari pulang bersama, menanyakan kabar Nayla pun tidak ada.
Kenapa kamu bisa berubah sepertu ini mas. Padahal dulu kamu begitu perhatian dan sayang sama aku. Kamu selalu ada dalam hatiku.
Terbayang dalam ingatan Nayla saat-saat kebersamaannya dengan Zio. Saat mereka pergi ke mall ini berdua, menghabiskan waktu dengan berjalan bergandengan tangan. Membeli kebutuhan Nayla setiap bulannya mulai dari pakaian sampai kosmetiknya.
Mas Zio selalu memanjakannya dengan memberikan kesempatan Nayla untuk shoping di mall ini.
Setelah capek shoping, merekapun nongkrong di cafe sambil ngobrol berdua. Nayla sangat bahagia dengan semua itu.
Tetapi sekarang dia sangat terpukul menyaksikan mas Zio sudah bahagia dengan istrinya. Tentu hal ini membuat Nayla sakit hati dan sangat cemburu. Kenapa bukan aku yang merasakan kebahagian ini mas. Kenapa kebahagian ini kamu berikan pada wanita lain, sementara kamu kan tau kalau aku sangat mencintai kamu.
Tidak terasa dari sudut mata Nayla mengalir air yang begitu deras. Diambilnya tisu dari dalam tasnya dan segera dihapusnya sambil berjalan menuju pintu keluar dari parkiran.
Sepanjang jalan menuju tempat pemberhentian taxi, hatinya sangat sakit.
__ADS_1
Cemburu pada istri mas Zio yang sedang hamil besar dan akan segera melahirkan. Tentunya mas Zio akan sayang dan perhatian pada calon babynya dan juga pada istrinya.
Buktinya tadi dilihat mas Zio memborong peralatan baby. Hal ini menunjukkan kalau mas Zio sangat sayang pada istri dan calon babynya.
Aku akan membalas semua ini mas. Aku tidak mau kebahagiaku direbut oleh istrimu mas, batin Nayla dengan emosi.
***
Terdengar azan magrib berkumandang di mesjid saat Zio sampai di rumahnya. Segera dibuka bagasi mobil dan mengambil peralatan baby yang baru dibeli dari mall barusan. Zio pun berjalan masuk ke dalam rumah.
Begitu mendengar suara mobil Zio sampai di rumah, Sahira segera menghampiri suaminya.
"Kamu beli apa mas," tanya Sahira saat dilihatnya mas Zio membawa stroller baby masuk ke dalam rumah.
"Mas beli stroller baby dan tempat duduk santai baby kita." ucap Zio sambil memperlihatkan stroller yang sedang dibawanya.
Selesai sholat magrib, Sahira langsung melihat peralatan yang baru dibeli mas Zio.
"Kenapa mas cepat sekali membeli peralatan baby itu, sementara baby kita saja belum lahir." tanya Sahira penasaran.
"Yang namanya buat anak kita apa yang tidak mas lakukan. Mas akan melakukan yang terbaik buat anak kita." ucap mas Zio sambil tersenyum.
"Kenapa sayang......, apa kamu tidak suka dengan peralatan baby yang baru mas beli?" tanya Zio sambil memegang pundak Sahira.
Sahira mengerutkan keningnya kemudian menatap suaminya dalam-dalam.
"Sebesar apa cinta mas pada baby kita?" tanya Sahira.
"Yang pasti tidak bisa diukur karena terlalu besar." ucap mas Zio sambil tersenyum.
"Mas lebih cinta aku atau baby kita." tanya Sahira lagi.
Zio semakin heran dengan pertanyaan Sahira barusan.
"Kenapa kamu memberi pertanyaan yang tidak bisa mas jawab sayang.....," ucap mas Zio sambil mencubit hidung Sahira yang mancung.
Sahira hanya terdiam sambil berpikir. Kenapa mas Zio tidak bisa menjawabnya ya. Bukankah seharusnya tinggal menjawab aku atau baby kami.
__ADS_1
"Kamu dan baby kita tidak bisa dibandingkan sayang, karena keduanya sangat berarti bagi mas. Tapi kalau kamu tanya lebih sayang kamu atau bi Ana, mas bisa jawabnya." ucap mas Zio sambil tersenyun menatap mata Sahira.
Sahira kemudian tersenyum dan berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sambil tersenyum sendiri dia menata piring dan gelas.
***
Saat Zio dan Sahira menonton TV tiba-tiba hp Zio berdering ada telepon masuk. Zio segera beranjak dari tempat duduknya dan meranggai hpnya yang ada di atas bopet di dekat pintu kamarnya.
Dilihatnya panggilan masuk dari Nayla.
Ada apa Nay? tanya Zio datar.
Mas sudah sampai rumah? Gimana mas dengan pekerjaan yang sedang aku cari, apa sudah ada? tanya Nayla dalam teleponnya.
Magrib tadi aku nyampenya. Kan sudah aku katakan, kalau sudah ada lowongan segera aku kabari jadi kamu tidak perlu menghubungi aku. Jawab Zio dengan terburu-buru dan kemudian menutup teleponnya.
Zio sedikit kesal, karena hampir setiap hari Nayla menghubunginya hanya untuk menanyakan masalah lowongan pekerjaan.
Sahira yang mendengar pembicaraan mas Zio dengan Nayla bertanya-tanya dalam hati. Kenapa mas Zio menjawab magrib tadi dia sudah sampai rumah. Apakah mas Zio tadi pergi berdua dengan Nayla? Sahira semakin curiga. Sepertinya ada yang disembunyikan mas Zio dari aku, batinnya.
Apa tidak sebaiknya kutanya langsung saja ya. Hati Sahira dipenuhi rasa curiga. Kalau kutanya pasti mas Zio tidak akan mengaku, tapi tidak kutanya aku jadi semakin penasaran.
Perasaan Sahira dipenuhi dengan kebimbangan antara menanyakan atau tidak. Akhirnya dengan penuh keberanian, Sahira menanya juga pada suaminya.
"Apa mas tadi pergi berdua dengan Nayla!" Sahira dengan wajah cemberut menanyakan pada mas Zio.
"Kamu ini bicara apa sih sayang..... Mana pernah lagi mas pergi sama dia atau perempuan manapun." Zio berbicara menyakinkan Sahira.
"Tapi kenapa tadi mas jawab pulangnya saat magrib. Berarti dia kan nanya mas jam berapa sampai rumah!" ucapan Sahira sedikit ketus.
"Oh itu....., mas tadi waktu di parkiran ketemu dia. Kemudian dia nanya mas belanja apa. Itu saja yang kami bicarakan. Kemudian mas masuk mobil dan pulang." Zio menyakinkan Sahira agar tidak curiga.
Kemudian Zio berjalan mendekati Sahira yang sedang duduk di sofa sedang menonton TV.
"Kamu percaya sama mas kan." ucap Zio sambil tersenyum menatap Sahira.
Sahira hanya tertunduk malu dipandang mas Zio seperti itu.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.