
"Gimana keadaan Sahira Zi.....," tanya pak Yusuf saat ketemu Zio di kantor.
"Alhamdulillah tadi malam sudah tidak demam lagi yah. Makanya bentar lagi Zio mau cepat pulang, kebetulan hari ini lagi tidak banyak kerjaan," jawab Zio.
"Syukurlah kalau keadaannya sudah lebih baik. Suru banyak istirahat dulu, jangan kerja dulu," ucap pak Yusuf lagi.
"Iya yah. Memang sudah Zio suru resign dari kerjaannya," ucap Zio lagi.
Sehabis zuhur Zio pun pulang ke rumh.
***
"Kenapa mas cepat pulangnya, apa tidak banyak kerjaan," ucap Sahira saat Zio masuk kamar.
"Tidak sayang...., kebetulan lagi tidak banyak kerjaan makanya mas bisa pulang cepat. Mas juga kangen sama kamu, pingin lihat wajah kamu" jawab Zio sambil memegang pipi Sahira. Sahira hanya tersipu malu.
"Mas sudah makan?" tanya Sahira.
"Ya belum. Mas pingin makan berdua sama kamu, makanya tadi tidak makan di kantor," jawab Zio.
"Tapi tadi aku sudah makan loh mas. Mama aku tawari makan tidak mau, jadi aku makan sendiri," ucap Sahira sambil berjalan ke meja makan.
"Ya tidak apa-apa. Temani saja mas makan ya. Oh ya Ra...., mama jam berapa pulang?" tanya Zio lagi.
"Mau dekat zuhur tadi pulangnya. Katanya jam dua mau ada acara tempat bu Rika. Anak bu Rika mau dilamar," ucap Sahira sambil menyiapkan hidangan di meja makan.
"Kamu tidak apa-apakan, tidak mas lamar seperti anak bu Rika," ucap Zio sambil menggoda Sahira.
Sahira hanya menggeleng. Dia merasa sangat sedih karena orang yang sudah melamar dirinya pergi dengan wanita lain.
"Kenapa Ra....., mas perhatikan kamu diam saja," tanya Zio saat makan.
"Tidak apa-apa mas," jawab Sahira sambil tersenyum.
Sahira masih teringat dengan mas Arfi yang sudah meninggalkan dia begitu saja.
***
Selesai jam kerja, Airin dan Afika datang ke rumah sahira.
"Gimana keadaan kamu sekarang Ra?" tanya Airin dan Afika bergantian memeluk Sahira.
"Alhamdulillah sudah baik Rin, Ka...," jawab Sahira sambil mempersilahkan mereka duduk.
"Mari silakan duduk," ucap Zio.
"Terima kasih mas," jawab Airin dan Afika bersamaan.
__ADS_1
"Bentar ya, biar aku buatkan minum dulu," ucap Sahira berdiri mau ke dapur.
"Tidak perlu repot-repot Ra...., kamu juga belum sembuh betul," ucap Airin sambil menarik tangan Sahira untuk duduk kembali.
"Biar mas saja yang buatkan minum. Kamu duduk saja ya," ucap Zio sambil melangkah ke dapur.
"Kamu kapan mulai masuk kerja Ra?" tanya Afika.
"Aku masih bingung Ka....., aku disuru mas Zio resign. Rasanya sayang kalau aku sampai resign," jawab Sahira.
"Berarti mas Zio memang benar-benar sayang sama kamu. Dia tidak mau kamu sampai capek. Turuti saja kemauan suami. Yang penting semua kebutuhan kamu terpenuhi," ucap Airin.
"Apalagi mas Zio punya perusahaan sendiri, penghasilan kamu tidak seberapa dibandingkan gaji dia," ucap Afika.
"Aku masih bingung mikirkannya," ucap Sahira lagi.
Zio di dapur bingung mau buat minum apa. Dilihatnya di kulkas ada minuman fanta kaleng. Kemudian fanta kaleng tersebut dibawa ke ruang tamu untuk Airin dan Afika.
"Silakan diminum ya. Mas kedalam dulu biar kalian enak ceritanya," ucap Zio sambil meninggalkan Sahira, Afika dan Airin.
"Terima kasih mas," ucap Airin dan Afika.
"Kelihatannya mas Zio itu orangnya baik sekali ya. Perhatian lagi," ucap Afika.
"Kamu harus bersyukur Ra, punya suami yang sayang dan perhatian sama kamu" ucap Airin.
"Kamu jangan pernah mikir mas Arfi lagi. Anggap saja dia sudah tidak ada," ucap Afika lagi.
Ketiganya pun tertawa. Sahira kelihatan sangat senang dijenguk temannya sehingga bisa ngobrol.
Setelah puas ngobrol, Airin dan Afika pamit pulang.
***
"Gimana kondisi Sahira ma....," tanya pak Mahendra pada istrinya.
"Sudah baik pa....., tadi malam sudah tidak demam lagi," jawab bu Sisu istri pak Mahendra.
"Syukurlah kalau begitu," ucap pak Mahendra lagi.
"Iya pa," ucap bu Sisu lagi.
"Kamu harus rajin kesana mengajak Sahira ngobrol biar dia tidak bosan di rumah saja. Karena tadi Zio cerita pada papa, katanya Sahira pingin tetap kerja lagi," ucap pak Mahendra menjelaskan.
"Jadi apa kata Zio pa," tanya bu Sisu.
"Ya Zio berkeras tidak mengizinkan," jawab pak Mahendra.
__ADS_1
"Mama pun tidak setuju kalau dia masih bekerja. Nanti terlali capek bekerja lama pula hamilnya. Sementara mama sudah pingin sekali punya cucu pa," jelas bu Sisu.
"Papa juga sudah sangat kepingin menimang cucu. Apalagi Zio anak kita satu-satunya. Dialah harapan kita yang bisa meneruskan perusahaan kita," ucap pak Mahendra lagi.
***
Saat jam makan malam, Sahira memberanikan diri untuk ngomong tentang pekerjaannya.
"Mas....," ucap Sahira tidak melanjutkan perkataannya.
"Hemm....., ada apa Ra....?" tanya mas Zio pada Sahira.
"Mas....., aku diizinkan untuk kerja lagi ya," ucap Sahira dengan suara yang sedikit pelan.
Zio hanya terdiam saja tidak menjawab perkataan Sahira.
Melihat ekspresi mas Zio hanya diam tidak menjawab, akhirnya Sahira pun diam juga.
Selesai makan, mas Zio langsung mencuci piring. Sedangkan Sahira membereskan meja makan.
Kemudian Zio menuju ke ruang tengah untuk menonton TV.
"Nonton TV kita yok," ajak mas Zio pada Sahira selesai membereskan meja makan.
Tanpa menjawab, Sahira mengikuti mas Zio ke ruang TV.
Keduanya menonton TV dalam keadaan diam. Masing-masing memandang ke TV tetapi pikirannya melayang.
Akhirnya mas Zio memulai percakapan.
"Tadi kamu minta izin mau kerja lagi. Semalam juga kamu minta diizinkan kerja, tapi mas katakan tidak. Coba kamu ceritakan pada mas, apa alasan kamu mau kerja lagi," tanya Zio sambil duduk merapat ke Sahira.
"Aku suntuk kalau di rumah saja mas. Aku sudah lama bekerja, jadi sudah terbiasa menjalankan aktivitas itu. Kalau sekarang di rumah saja, tidak ada teman ngobrol kan jadi suntuk," jawab Sahira pelan.
"Kamu mau mas beri kesibukan biar tidak suntuk?" tanya Zio sambil merangkul pundak Sahira dari belakang.
"Ya mau. Tapi kesibukan apa mas," tanya Sahira penasaran.
"Kamu cepat hamil biar bisa mengurus baby," bisik Zio ditelinga Sahira.
Sahira hanya terdiam tidak dapat menjawab. Sedangkan Zio semakin memperkuat rangkulannya. Ditatapnya wajah Sahira, tetapi Sahira semakin tertunduk malu.
"Kenapa tidak kamu jawab. Jawablah....., kamu terima tidak tawaran mas," ucap Zio sambil membelai rambut Sahira. Sahira hanya terdiam.
"Mas sangat sayang sama kamu Ra. Mas tidak mau kamu capek. Mas mau kamu di rumah saja mengurus anak-anak kita nantinya. Kalau kamu mau kerja, nanti setelah anak-anak kita sudah sekolah. Kamu bisa kerja di perusahaan papa, bukan di perusahaan orang lain. Tentu jabatan kamu bisa lebih tinggi," ucap Zio menjelaskan.
Sahira sangat terharu mendengarnya. Tidak dapat dibayangkan, ternyata mas Zio sangat besar perhatiannya padaku, batin Sahira dalam hati.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.