
"Kamu sudah siap Zio.....," panggil mamanya dari luar kamar.
"Sudah ma, ini Zio segera keluar," jawab Zio dari dalam kamarnya.
"Jangan sampai keduluan tamu yang lain datangnya, papa malu. Pak Yusuf menyuruh papa menyambut kedatangan pengantin pria, jadi kalau keduluan pengantin pria kan tidak enak," jawab papanya.
Tidak lama kemudian, Zio pun keluar dari kamarnya dan mereka segera berangkat ke rumah pak Yusuf.
***
Hari ini merupakan hari yang paling bahagia bagi Sahira, karena ini hari pernikahannya dengan mas Arfi.
Sahira kelihatan sangat cantik sekali dengan memakai kebaya berwarna putih dengan bawahan batik yang senada dengan atasannya.
Jilbabnya juga berwarna putih dengan berhiaskan mahkota yang berkilauan, menambah sempurna kecantikannya.
"Cantik sekali kamu Ra....," ucap tante Janah saat masuk kamarnya.
"Subhanallah cantiknya....," ucap tante Ira saat melihat Sahira sedang dimake up di kamarnya.
Sahira hanya tersipu malu mendengarnya.
"Sahira tidak dimake up saja sudah cantik, apalagi dimake up dan didandani seperti ini. Seperti boneka barbie," ucap Afika yang berada di kamar juga nemani Sahira yang sedang dimake up.
Ayah Sahira kemudian masuk ke kamar Sahira melihat apakah Sahira sudah selesai berdandan atau belum.
"Kamu mirip sekali dengan almarhumah ibumu Ra....," ucap pak Yusuf pada anaknya Sahira.
Sahira hanya terdiam dan sedih.
"Andaikan saja ibumu masih hidup, pasti dia akan sangat bahagia sekali menyaksikan pernikahan anaknya," ucap ayahnya sedih.
"Ayah jangan bersedih, ibu sekarang juga sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang ini. Ibu orangnya kan baik," ucap Sahira menenangkan ayahnya yang kelihatan sedih.
Tidak lama kemudian Airin pun masuk ke kamar Sahira.
"Maaf ya Ra aku terlamat. Tadi pagi bagun kesiangan," ucap Airin.
"Tidak apa-apa loh Rin, lagian acara belum dimulai," ucap Sahira.
"Malam mingguan ya mbak, makanya kesiangan," ucap Afika becanda.
"Iya.... malam mingguan sama suami. Makanya cepat-cepat married Fika, biar ada teman malam mingguan sampe pagi," ucap Airin sambil becanda.
"Doakan saja ya mbak, habis Sahira nanti menyusul aku," ucap Afika tersenyum.
"Aamiin....," jawab Airin dan Sahira bersamaan.
__ADS_1
Semua urusan dapur dihandle oleh tante Janah dan tante ira dibantu tetangga dekat.
"Kasihan ya bang Yusuf, punya istri tapi istrinya jahat. Padahal bang Yusuf sangat perhatian dan sayang sama istrinya. Tapi istrinya tidak tau diri," ucap tante Janah pada tante Ira.
"Dari awal kan sudah aku bilang, jangan diambil mbak Rangga itu sebagai istri, tapi bang Yusuf saja yang tidak pernah dengar aku adiknya. Sudah begini siapa yang susah, kan kita juga," jawab tante Ira penuh emosi.
"Sudah.... yang lalu tidak perlu dibahas," kata tante Janah meredahkan emosi adik iparnya.
Kemudian mereka berdua kembali memberekan hidangan yang belum siap.
Tamu-tamu yang akan menghadiri acara pernikahan sudah pada berdatangan, termasuk keluarga pak Mahendra. Mereka semua menunggu di luar. Di luar sudah disediakan kursi-kursi buat tamu.
Pak Yusuf tampak gelisah menunggu tamu dari keluarga Arfi.
"Bang..... sudah lewat hampir satu jam, kenapa keluarga Arfi belum juga datang ya," tanya om Kifli adik pak Yusuf.
"Mungkin lagi ada kendala di jalan," jawab pak Yusuf.
"Tapi ini sudah hampir satu jam. Kalau terlambatnya setengah jam ya mungkin juga," ucap om Kifli khawatir.
Kemudian pak Yusuf masuk ke kamar Sahira.
"Ra....., coba telepon Arfi. Sudah hampir satu jam terlambatnya. Tidak enak sama tamu yang sudah pada datang," ucap pak Yusuf.
Kemudia Sahira menelepon mas Arfi, tetapi hpnya tidak aktf.
"Siapa ya kira-kira yang bisa dihubungi?" tanya ayahnya pada Sahira.
Tiba-tiba pak Yusuf dipanggil om Kifli.
"Bang bisa keluar bentar, ada yang mau aku katakan," kata om Kifli dari luar kamar.
Kemudian pak Yusuf keluar kamar Sahira dan menemui adiknya.
Keduanya pun berbicara sangat serius dan tiba-tiba pak Yusuf oyong dan hampir terjatuh.
Dengan cepat om Kifli menangkapnya dan merangkulnya dari belakang.
Kemudian Om Kifli memanggil adiknya yang paling kecil yaitu tante Ira.
"Ra..... ambilkan air putih buat bang Yusuf," ucap om Kifli pada adiknya Ira.
"Abang kenapa sampai oyong seperti ini," tanya tante Ira khawatir.
Kemudian om Kifli mengajak Ira ke kamar Sahira dan menceritakan pada Ira pada Sahira kalau Arfi tidak datang karena dia kabur bersama mantan kekasihnya yang bernama Naura.
Seperti disambar petir disiang bolong rasanya Sahira mendengar berita itu.
__ADS_1
Sahira hanya menangis dan terduduk lemas di kamarnya.
"Yang sabar ya Ra.....," ucap Afika dan Airin yang saat itu lagi di kamarnya Sahira.
"Jadi gimana ini bang....., apa yang harus kita lakukan. Selesai ijab kabul resepsi pernikahan digelar. Walaupun pestanya tidak besar, tetapi pasti famili dan undangan pada datang," ucap tante Ira pada abangnya.
Tidak lama kemudian pak Mahendra masuk ke dalam rumah pak Yusuf mau menanyakan kenapa keluarga mempelai pria belum datang juga.
Saat masuk ke ruang tamu, dilihatnya pak Yusuf sedang terduduk lemas. Dia pun sangat terkejut.
"Kenapa kamu Suf," tanya pak Mahendra.
"Saya lagi dilanda banyak permasalahan pak. Utang saya belum terbayar, sekarang muncul masalah baru. Calon Sahira kabur dengan wanita lain. Apa yang harus saya lakukan pak," ucap pak Yusuf bingung.
Sambil berpikir-pikir, akhirnya pak Mahendra menawarkan Zio anaknya menjadi suami Sahira karena dia tau Zio jatuh hati padanya.
"Tidak usah kamu pikirkan tentang utangmu, kita besanan saja. Kebetulan Zio jatuh hati pada Sahira," ucap pak Mahendra.
Akhirnya pak Yusuf menyetujui permintaan pak Mahendra karena pak Yusuf tau kalau Zio itu orangnya baik dan sopan.
"Tapi saya tanya Sahira dulu ya pak," ucap pak Yusuf.
Kemudian pak Yusuf menceritakan pada adiknya om Kifli dan tante Ira tentang permintaan pak Mahendra.
"Ra......Arfi kan sudah tidak bisa diharap lagi, sementara tamu-tamu sudah pada berdatangan. Kalau pernikahan ini batal, yang malu kita semua keluarga disini. Gimana kalau Arfi digantikan Zio anaknya pak Mahendra, kamu mau kan?" tanya om Kifli.
Sahira hanya diam dan menangis. Apakah aku bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Gimana nasib rumah tangga aku nantinya. Kenapa kamu setega ini mas Arfi...., pergi dengan wanita lain disaat pernikahan kita, batin Sahira sedih.
"Kamu maukan Ra menikah dengan anaknya pak Mahendra," tanya tante Ira sambil mengelus kepala Sahira.
Sejak ibunya Sahira meninggal, dia sangat manja pada tante Ira, kebetulan rumah mereka juga dekat.
Sahira hanya mengangguk setuju. Dia tidak mau melihat ayahnya bersedih. Afika dan Airin hanya bisa menitikkan air mata melihat kesedihan Sahira.
"Kamu yang kuat ya Ra..... Aku yakin dan percaya, anak pak Mahendra akan bisa menjadi imam yang baik buat kamu," ucap Airin.
"Iya Ra.... kamu harus semangat ya," ucap Afika juga.
Merasa kurang puas, kemudian pak Yusuf masuk ke kamar Sahira dan berbicara berdua. Ayahnya menceritakan semuanya tentang tawaran pak Mahendra.
"Kalau kamu tidak mau, ya tidak apa-apa. Ayah tidak akan memaksa," ucap ayahnya pada Sahira.
"Sahira mau yah. Sahira akan belajar untuk mencintainya," jawab Sahira sedih.
Sebenarnya Sahira sangat berat untuk menerima Zio sebagai suaminya, tetapi dia tidak tega melihat ayahnya bersedih. Aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik buat suamiku nanti, batin Sahira dalam hati.
- Bersambung -
__ADS_1
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.