Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Pindah


__ADS_3

Zio kemudian menyampaikan keinginan Sahira pada papanya. Walau awalnya pak Mahendra tidak setuju dengan keinginan Sahira, tetapi setelah mendapat penjelasan dari Zio akhirnya pak Mahendra memakluminya.


"Kalau Sahira berkeras mau membeli rumah ayahnya, ya tidak apa-apa. Yang penting Sahira merasa tenang karena utang ayahnya sudah dibayar." ucap pak Mahendra pada Zio anaknya.


"Syukurlah kalau papa mau mengerti dengan keputusan Sahira." ucap Zio.


***


Setelah Zio membeli rumah ayahnya Sahira, mereka segera pindah ke rumah itu.


"Syukurlah Ra kalian pindah kemari. Kalau dijual sama orang lain kan sayang, karena pasti banyak kenangan dengan rumah ini." ucap bu Dini tetangga Sahira.


"Iya bu, banyak sekali kenangan dengan rumah ini. Mulai dari kecil Hira tinggal di rumah ini makanya sayang sekali kalau dijual." ucap Sahira pada bu Dini.


Sahira sudah kenal lama dengan bu Dini dan juga tetangga di komplek perumahan ayahnya. Sehingga tidak perlu beradaptasi lagi dengan tetangga di sekitar komplek itu.


***


Tante Ira dan tante Irma yang membantu Sahira membereskan barang-barang saat pindah.


"Kamu jangan terlalu capek sayang. Biar bi Ana saja yang membereskan." ucap Zio penuh khawatir.


"Iya Ra...., kamu duduk saja. Biar tante sama tante Ira yang membereskan semuanya." kata tante Irma.


"Terima kasih ya tante sudah merepotkan." ucap Sahira pada tante Irma.


"Kamu tidak perlu ngomong seperti itu. Kamu sudah tante anggap anak tante sendiri." ucap tante Irma.


Sejak kepergian ibunda Sahira, Sahira sangat manja pada tante Irma dan tante Ira. Kalau tante Ira rumahnya dekat dehan rumah ayah Sahira, sedangkan rumah tante Irma lebih jauh. Sehingga hampir setiap hari tante Ira datang ke rumah orang tua Sahira.


Bi Ana sejak tadi sibuk membereskan barang-barang baik di dapur maupun di ruang tamu.


Sedangkan tante Ira dan tante Irma membereskan lemari di kamar Sahira.


"Kamu sudah membeli semua perlengkapan baby Ra?" tanya tante Ira.


"Sudah tante," ucap Sahira sambil menunjukkan perlengkapan baby yang dibelinya.


"Syukurlah kalau sudah kamu beli." ucap tante Ira.


"Kapan melahirkannya Ra?" tanya tante Irma.


"Kalau menurut dokter dua minggu lagi tante." ucap Sahira.


"Sudah pernah USG Ra? Jenis kelaminnya laki-laki apa perempuan?" tanya tante Ira.

__ADS_1


"Kalau USG sengaja Hira tidak pernah nanya laki-laki atau perempuan tante. Bagi Hira laki-laki atau perempuan sama saja. Apalagi ini anak pertama tante. Yang penting babynya sehat." ucap Sahira.


"Iya memang. Kalau anak pertama biasanya orang tua tidak pernah mengharap laki-laki atau perempuan. Karena laki-laki atau perempuan sama saja." ucap tante Ira lagi.


"Operasi atau normal?" tanya tante Irma.


"Kata dokter bisa normal. Makanya Hira maunya melahirkan normal saja tante." jawab Sahira.


"Iya Ra. Kalau bisa melahirkan normal, lebih baik melahirkan normal saja tidak perlu operasi. Karena kalau selesai operasi lebih repot lagi menjaganya." ucap tante Ira.


"Doakan ya tante, Hira bisa melahirkan normal dan semuanya berjalan lancar." kata Sahira pada kedua tantenya.


"Aamiin...., pasti tante doakan." ucap kedua tantenya.


Hampir mendekati ashar, bi Ana dan kedua tantenya baru selesai membereskan barang-barang Sahira mulai barang yang di dapur, ruang tamu sampai di kamar di dalam lemari.


"Terima kasih banyak ya tante sudah capek membereskan barang-barang kami." kata Sahira sambil memeluk tante Irma yang akan segera pulang.


"Iya sayang. Kalau ada apa-apa jangan pernah segan minta pertolongan dari tante ya. Mulai sekarang kamu jangan sering bepergian, karena kandungan kamu sudah masuk bulannya untuk melahirkan." ucap tante Irma saat akan pulang.


"Iya tante, Sahira di rumah saja." ucap Sahira sambil tersenyum.


"Zio...., selalu kamu perhatikan si Hira ya. Jangan pernah lagi bepergian, karena kandungan Hira sudah masuk bulan untuk melahirkan." kata tante Irma pada Zio.


"InsyaAllah selalu Zio perhatikan tante. Tetapi Sahira terkadang keras kepala. Kemauannya harus dituruti." ucap Zio pada tante Irma.


"Kalau hari libur dedeknya suka minta jalan-jalan tante." ucap Zio sambil mengelus perut Sahira.


"Mulai sekarang tidak lagi tante." ucap Sahira sambil tersenyum.


"Yang terpenting mulai sekarang jangan pergi-pergi dulu sampai selesai melahirkan." ucap tante Irma sambil berjalan ke teras akan segera pulang.


"Om pamit pulang ya Ra...., jaga kandungan kamu. Jangan terlalu capek." ucap om Budi sambil mengelus kepala Sahira.


Sejak kecil Sahira selalu manja dengan om Budi karena sebelum om Budi menikah, om Budi tinggal di rumah Sahira.


"Iya om." ucap Sahira.


Setelah semuanya beres, tante Ira dan bi Ana segera pulang.


***


Selesai sholat magrib, Sahira dan Zio makan malam bersama.


Tiba-tiba hp Zio berbunyi ada panggilan masuk dari Nayla.

__ADS_1


Segera Zio mengangkat hpnya, tetapi saat diangkat hpnya mati.


"Siapa mas?" tanya Sahira ingin tau.


"Nayla sayang....." ucap Zio.


"Ngapaian dia nelepon mas." ucap Sahira curiga.


"Tidak tau. Mungkin mau menanyakan tentang lowongan pekerjaan." ucap Zio.


"Apa di perusahaan papa tidak bisa menerima pagawai baru mas." tanya Sahira.


"Memang di perusahaan papa lagi butuh satu orang tenaga wanita. Tapi.... " ucap Zio tidak meneruskan kata-katanya.


"Kenapa mas, tidak dilanjutkan kata-kata mas. " ucap Sahira lagi.


"Mas tidak mau nanti kamu cemburu. Walaupun mas sudah tidak ada perasaan apa-apa pada dia, tetapi mas menjaga perasaan kamu." ucap Zio sambil melihat ekspresi Sahira.


"Kalau tidak ada apa-apa lagi ngapain cemburu mas." ucap Sahira.


"Lebih baik dari sekarang mas jaga jarak sama dia karena mas tau dia seperti apa." ucap Zio sambil tersenyum.


Sahira hanya tersenyum mendengar penjelasan mas Zio. Ternyata mas Zio sangat menjaga perasaanku, batin Sahira dalam hati.


***


Selesai membereskan meja makan selesai makan malam, Sahira dan Zio ke ruang tengah sambil menonton TV.


Sahira sambil menonton TV membuka hp untuk melihat info terbaru di FB.


Tiba-tiba Sahira terkejut saat membuka FB mas Arfi. Tadi siang anak mas Arfi meninggal. Sahira sangat serius sekali membaca berita itu.


"Ada apa sayang....., kelihatannya kamu serius sekali melihat hpnya." ucap mas Zio pada Sahira.


"Tidak ada apa-apa mas." ucap Sahira sambil menutup hpnya.


Sahira hanya terdiam membayangkan mas Arfi. Kasihan sekali mas Arfi harus kehilangan anaknya.


"Ada apa sayang....., mas lihat wajah kamu tegang sekali." ucap mas Zio sambil melihat wajah Sahira yang gugup.


Akhirnya Sahira menceritakan tentang meninggalnya anak mas Arfi.


"Allah itu maha adil sayang. Arfi meninggalkan kamu disaat hari pernikahan kalian demi bayinya. Tetapi bayi yang diharapkannya ternyata tidak dapat dimiliki. Sekarang dia harus menebus kesalahannya pada kamu dengan kehilangan bayinya." ucap mas Zio dengan sedikit kesal.


- Bersambung -

__ADS_1


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2