Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Mulai Cinta


__ADS_3

Tidak terasa sudah hampir dua bulan pernikahan Sahira dengan Zio. Tetapi hubungan mereka masih seperti awal pernikahannya. Mereka tidur satu kamar tetapi tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.


Sahira masih belum percaya sepenuhnya pada Zio, kalau Zio benar-benar mencintainya. Sahira merasa pernikahannya dengan Zio karena untuk menebus utang ayahnya pada keluarga pak Mahendra ayahnya Zio.


Walaupun Sahira masih bersikap dingin pada Zio, Zio tetap perhatian dan sayang pada Sahira. Lama kelamaan Sahira mulai mencintai Zio.


***


Setiap hari minggu pagi bi Ana pergi belanja ke pasar. Begitu juga dengan pagi ini.


Pulang dari pasar, biasanya bi Ana menyapu rumah dan halaman.


Setelah rumah dan halaman bersih, barulah bi Ana memasak.


Sedangkan Sahira kalau pagi merawat bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya.


Selesai sarapan, dia langsung merawat bunga-bunga kesayangannya. Sedangkan Zio membaca koran di teras depan.


"Bu...., masakannya sudah selesai semua," ucap bi Ana pembantu Sahira.


"Bibi jangan lupa bawa juga masakan yang sudah bibi masak," ucap Sahira pada bi Ana.


"Sudah bu. Sekarang saya permisi pulang ya bu," ucap bi Ana.


"Iya bi Ana. Hati-hati di jalan ya bi," ucap Sahira.


Hari minggu ini mama dan papa Zio berkunjung ke rumah Zio.


Sehingga bi Ana masak lebih banyak dari biasanya dan menunya juga bertambah.


Sekitar jam sebelas siang, kedua orang tua Zio sampai di rumahnya. Mereka disambut menantunya Sahira dengan ramah.


"Silakan masuk ma pa," ucap Sahira sambil mencium tangan mertuanya. Begitu juga dengan Zio.


"Gimana kabar kalian," tanya bu Sisu pada Zio dan Sahira.


"Alhamdulillah baik ma," jawab Zio.


"Alhamdulillah kami sehat-sehat ma," jawab Sahira.


"Syukurlah kalau kalian sehat semuanya," ucap pak Mahendra.


"Kenapa kalian sudah hampir tiga minggu tidak ke rumah mama. Mama sama papa kangen loh," ucap mama Zio.


"Maaf ma...., kami belum sempat karena mas Zio selalu sibuk. Setiap hari minggu ikut pertandingan volly di komplek sini. Minggu ini saja yang tidak ada pertandingan. Kalau hari biasa pulang kerja sudah sore, jadi sudah capek," ucap Sahira menjelaskan.


"Oh gitu...., mama pikir apa Sahira sakit," ucap mama Zio lagi.


"Alhamdulillah Sahira sudah tidak pernah sakit dan demam lagi ma," ucap Zio.

__ADS_1


"Maksud mama...., manatau Sahira sudah mulai hamil," ucap mama Zio sambil tersenyum.


"Oh...., sampai saat ini memang belum ma. Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat Sahira hamil. Iya kan sayang...," ucap Zio sambil merangkul pundak Sahira dari belakang.


"Kalau dalam setahun ini Sahira belum hamil juga, kalian harus segera ke dokter. Mama takut seperti mama pula, setelah tujuh tahun menikah baru hamil Zio," ucap bu Sisu.


"Benar apa kata mamamu Zio....," ucap pak Mahendra.


"Doa kan ya ma...., pa...., kami cepat diberi keturanan," ucap Zio.


"Aamiin....., pasti mama papa doakan," jawab mama Zio.


Sahira hanya tersenyum mendengar omongan mas Zio.


Di depan kedua orang tua Zio, Zio selalu menunjukkan kemesraannya bersama Sahira. Zio tidak mau kedua orang tuanya tau mengenai kondisi rumah tangga mereka.


Karena dari awal pernikahannya, Zio lah yang berkeras mau menikahi Sahira walau konsekuensinya akan seperti ini. Zio tetap sabar menerimanya.


Karena pernikahan ini bukan karena saling mencintai, tetapi Zio yakin dan percaya suatu hari nanti Sahira akan benar-benar mencintai dirinya.


"Coba kalian berdua banyak mengkonsumsi makanan yang bisa menambah kesuburan, supaya Sahira bisa cepat hamil," ucap pak Mahendra.


"Benar itu Zi kata papamu. Mama papa sudah tidak sabar pingin menimang cucu," ucap bu Sisu.


Sahira dan Zio hanya tersenyum saja.


"Bentar ya mas," ucap Sahira sambil berjalan ke dapur.


Sahira pun segera menyiapkan makanan untuk kedua mertuanya. Setelah hidangan disiapkan, Sahira segera mengajak kedua mertuanya untuk makan siang bersama.


"Bi Ana apa tidak datang Ra?" tanya bu Sisu.


"Datang ma, tapi kalau hari libur siap kerjaan langsung pulang. Karena mas Zio kan di rumah tidak kerja," jawab Sahira.


"Oh gitu..., " ucap bu Sisu lagi.


Kedua orang tua Zio sangat senang karena menantunya sangat baik dan ramah.


***


Sehabis magrib, Zio mengajak Sahira menjenguk istri pak Imam yang baru melahirkan di rumah sakit. Pak Imam merupakan tetangga mereka.


"Ihh gemasnya.....," ucap Sahira saat melihat baby pak Imam.


"Babynya besar ya pak," tanya Zio pada pak Imam.


"Iya pak Zio....., tadi saat baru lahir ditimbang 3,7 kg" ucap Pak Imam.


"Kalian kapan lagi dapat momongan," ucap pak Imam pada Zio.

__ADS_1


"Doakan ya pak, supaya Sahira cepat hamil.


"Aamiin," jawab pak Imam.


Setelah setengah jam di rumah sakit, Zio dan Sahira pun segera pamit pulang.


Saat akan pulang, tiba-tiba hujan turun. Sehingga sampai di rumah sekitar jam sepuluh malam.


Sampai di rumah mereka langsung sholat, kemudian tidur.


Saat tengah malam, Sahira dikejutkan dengan suara mas Zio yang setengah menjerit.


"Ada apa mas...., " tanya Sahira yang terbangun dari tidurnya.


"Ada kalajengking Ra," ucap Zio.


"Jadi sekarang dimana mas kalajengkingnya," tanya Sahira penasaran.


"Ini baru mas matikan," jawab Zio sambil menunjukkan kalajengking yang sudah mati.


"Tapi mas tidak digigitkan," tanya Sahira khawatir.


"Tidak Ra, tapi hampir digigit," jawab Zio.


"Mas tidur di tempat tidur saja ya. Inikan baru hujan. Biasanya kalau habis hujan kalajengking sama lipan berkeluaran dari persembunyiannya," ucap Sahira


"Kamu tidak terganggu kalau mas tidur di tempat tidur bersama kamu," ucap Zio.


Belakangan ini Sahira sudah mulai menunjukkan perhatiannya pada mas Zio. Karena belakangan ini perasaannya sudah mulai berubah. Sekarang dia sudah mulai mencintai mas Zio. Tetapi malu untuk mengungkapkannya.


Keduanya mulai merebahkan tubuhnya di tempat. Kemudian Zio menghadap Sahira, dilihatnya Sahira belum tertidur nyenyak.


Yang namanya lelaki normal, tidur berdua dengan wanita apalagi wanita itu adalah orang sangat dicintainya tentu tidak dapat mengendalikannya.


Dipandangnya wajah Sahira dalam-dalam. Saat Zio menatap Sahira, Sahira membuka matanya sehingga pandangan mereka saling bertemu. Kemudian Sahira tersenyum malu.


"Kenapa mas memandang seperti itu," tanya Sahira.


"Karena kamu cantik sekali," jawab Zio sambil memberanikan diri untuk mencium Sahira.


Sahira terdiam dan tidak menolak saat dipeluk Zio, sehingga tanpa ragu-ragu akhirnya Zio menjalankan kewajibannya sebagai suami yang sempurna. Keduanya melakukan atas dasar cinta, karena Sahira semakin hari semakin cinta pada Zio.


"Maafkan aku ya mas, sudah menunda malam pertama kita," ucap Sahira.


"Sst....., bagi mas tidak masalah. Yang terpenting kamu melakukannya dengan ikhlas, bukan dengan paksaan," ucap Zio sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir Sahira.


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2