Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Prihatin


__ADS_3

Selesai sholat magrib, bu Sisu dan keluarga makan malam bersama.


"Pak Yusuf tadi cerita sama papa kalau istrinya semalam sore kabur dengan pacarnya," ucap pak Mahendra pada istrinya.


"Kasihan sekali pak Yusuf ya pa...., padahal kata pak Yusuf, istrinya sudah berubah drastis.Tapi mengapa dia berbuat setegah itu ya," ucap bu Sisu prihatin.


"Bisa jadi perubahan itu hanya untuk menarik simpati saja. Bukan dari hatinya yang paling dalam. Dia sengata mencari waktu yang tepat untuk meninggalkan suaminya. Artinya, kaburnya dia dengan pacarnya karena sudah direncanakan sebelumnya," kata pak Mahendra menjelaskan.


"Berarti istrinya memang jahatlah. Sudah punya suami, tapi mau diajak kabur oleh lelaki lain," ucap bu Sisu lagi.


"Yang membuat pak Yusuf kesal bukan karena istrinya yang lari saja, tetapi dia sudah membawa uang sebesar seratus juta untuk membayar utang pada papa," ucap pak Mahendra lagi.


"Ya Allah..... memang jahat betul istrinya itu. Pak Yusuf sudah susah payah mencari utangan untuk membayar utang istrinya pada rentenir, sekarang uang pak Yusuf puls dibawa kabur," ucap bu Sisu geram.


"Papa kasihan sekali lihatnya. Papa jadi tidak tega untuk menagihnya. Apalagi sebulan lagi anak gadisnya akan menikah, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ucap pak Mahendra lagi.


"Jagi bagaimana dengan pesta pernikahan anak pak Yusuf, sementara uang pak Yusuf sudah habis dibuat istrinya," kata bu Sisu prihatin.


"Tidak taulah ma, papa tidak sanggup membayangkannya. Ya, paling pestanya sederhana saja mengharapkan uang hantaran dari calon suaminya.


Zio yang sedang makan bersama papa mamanya hanya terdiam mendengarnya. Kasihan sekali ayahnya sahira, batin Zio dalam hati.


Kemudian Zio juga ingat saat ketemu kekasih Sahira yang sedang membonceng seorang wanita. Keduanya kelihatan sangat mesra. Bagaimana nasib Sahira kalau wanita yang diboncengnya ternyata selingkuhan kekasihnya. Kasihan sekali nasib Sahira," batin Zio lagi.


***


Afika dan Airin akhirnya tidak sabar untuk memberitau tentang kejadian beberapa hari yang lalu saat Arfi berteleponan.


"Mungkin itu hanya teman biasa saja Rin, Ka. Dia memang suka becanda. Semua orang dipanggilnya sayang," ucap Sahira saat mendengar penjelasan Afika.


Afika dan Airin hanya terdiam mendengar penjelasan Sahira seperti itu. Sahira sedikitpun tidak menaruh kecurigaan pada Arfi. Sahira terlalu lugu sehingga percaya saja dengan Arfi walaupun sudah beberapa kali dikecewakan.


Airin dan Afika tidak mampu berbuat apa-apa, karena Sahira sendiri tidak curiga. Gimana mau diselidiki kalau yang bersangkutan tidak percaya dengan omongan Afika.


***


"Zio.... kamu tidak keluar, inikan malam minggu," tanya mamanya Zio.


Dilihatnya Zio di rumah saja.

__ADS_1


"Keluar itu kan bagi yang punya pasangan. Zio kan tidak punya pasangan, jadi di rumah sajalah," jawab Zio santai.


"Oh iya Zi.... mama hampir lupa. Tolong pinjamkan resep kue donat sama bu Ida ya. Biar mama telepon bu Ida, kamu tinggal ngambil resepnya saja," ucap bu Sisu pada anaknya Zio.


Kemudian Zio pun segera pergi ke rumah bu Ida untuk mengambil resep yang dipesan mamanya. Sengaja bu Sisu menyuruh Zio ke rumah bu Ida, supaya Zio bisa ngobrol dengan Yuyun anaknya bu Ida.


Bu Sisu sangat setuju kalau Zio menjalin kasih dengab Yuyun. Makanya bu Sisu mencari cara supaya Zio bisa sering ketemu Yuyun.


"Pa.... menurut papa kalau Zio pacaran dengan Yuyun gimana, papa setujukan?" tanya bu Sisu pada suaminya.


"Kalau papa setuju saja. Tapi sekarang tergantung anaknya ma, tidak bisa dipaksakan," jawab pak Mahendra.


Tiba-tiba Zio sudah pulang dari rumah bu Ida sambil membawa resep kue donat.


"Cepat kali Zi....," ucap bu Sisu pada Zio.


"Mama hanya nyuru Zio ngambil resep kue donatkan?" tanya Zio pada mamanya.


"Iya memang. Tapi kenapa kamu tidak mengobrol sama Yuyun. Bukankah Yuyun di rumah!" ucap bu Sisu penasaran.


"Yuyun tadi memang di rumah. Tapi apa yang mau Zio obrolkan," tanya Zio pada mamanya.


"Ma.... Nayla itu pernah singgah di hati Zio tapi itu dulu saat pertama kali Zio kenal Nayla. Itupun hanya sebentar. Sedangkan hati Zio sudah terpaut pada wanita lain," ucap Zio semangat.


"Siapa wanita itu Zi.... mama pingin kenal," tanya mamanya lagi.


"Tapi wanita itu tidak mungkin Zio miliki, karena dia sudah bertunangan. Bahkan sebentar lagi akan menikah," jawab Zio lagi.


"Sudah tau mau menikah, kenapa kamu cintai Zi.... ?" tanya papanya.


"Itulah yang namanya cinta pa... cinta datangnya dari mata turun ke hati. Cinta juga tidak bisa dipaksakan. Karena cinta itu adalah anugrah terindah dari Allah," ucap Zio lagi.


"Kalau tidak mungkin nikah dengan dia, ya dari sekarang lupakan saja. Masih banyak perempuan lain yang bisa kamu cintai," ucap mama Zio lagi.


"Itulah ma pekerjaan yang terlalu berat buat Zio. Zio sudah berusaha dan belajar untuk melupakannya, tapi sampai sekarang belum bisa juga," ucap Zio.


Kasihan sekali kamu Zio, batin bu Sisu.


"Memangnya siapa wanita itu Zi....," tanya papanya.

__ADS_1


"Sahira pa....," jawab Zio pelan.


"Apa....!!!" jawab mama papanya bersamaan.


"Sahira anaknya pak Yusuf?" tanya papanya.


Zio tidak sanggup menjawab, dia hanya mengangguk pertanda setuju.


"Kamu harus belajar melupakan dia Zi... Dia sudah milik orang lain, jadi jangan kamu rusak pertunangan mereka.


"Zio sadar dan mengerti pa," jawab Zio pelan.


Pak Mahendra dan istrinya tidak menyangka kalau Zio mencintai Sahira anaknya pak Yusuf. Kenapa Zio mencintau Sahira yang sudah menjadi tunangan orang, sementara masih banyak gadis lain yang masih sendiri, batin pak Mahendra dalam hati.


***


Hari minggu siang Zio disuru mengantar mamanya ke supermarket.


"Zi.... antarkan mama ke supermarket ya. Mama mau belanja kebutuhan dapur," ucap mamanya pada Zio.


"Bentar lagi ya ma, Zio lagi ada kerjaan ini," jawab Zio yang sedang asik di depan laptop.


Tidak lama kemudian, Zio dan mamanya pergi ke supermarket.


Saat tiba di supermarket, Zio berpapasan dengan Arfi yang sedang menggandeng seorang cewek.


Bukankah itu tunangan Sahira, batin Zio dalam hati.


Kemudian Zio mengikuti mereka dari belakang. Saat mereka memilih-milih barang yang ada di rak, Zio juga pura-pura milih.


"Zio.... ayok kita pulang, mama sudah siap," ucap mamanya pada Zio yang sedang membuntuti Arfi dan kekasihnya.


"Iya ma," ucap Zio sambil mengikuti mamanya keluar dari supermarket.


Untung sempat aku foto tadi. Tapi bagaimana cara aku menyampaikannya pada Sahira, sementara aku tidak kenal dekat dengan Sahira. Atau foto-foto ini kuletakkan di meja pak Yusuf saja ya, biar pak Yusuf yang menyampaikan pada Sahira, batin Zio dalam hati.


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2