Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Curhat


__ADS_3

Sudah tiga tahun Sahira menjalin hubungan dengan Arfi, tetapi belum nampak niat Arfi untuk meminang Sahira. Padahal Sahira sangat mengharapkan Arfi cepat-cepat meminangnya, kemudian mengajaknya menikah.


Kalau aku sudah menikah nanti, aku akan tinggal dengan suamiku. Tentu aku tidak akan pernah mendengarkan omongan bunda yang begitu pedas, batin Sahira dalam hati.


"Hai Ra.....kok melamun. Tidak pulang?" ucap Airin teman dekatnya di kantor.


"Oh iya, tunggu ya...," jawab Sahira sambil membereskan berkas yang berserek di meja kerjanya.


Sahira kalau pulang selalu bersama-sama dengan Airin. Kebetulan rumah mereka berdekatan.


Airin sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Dia mengontrak rumah dekat dengan rumah orang tua Sahira. Sehingga pergi kerja dan pulang kerja sering selalu bersama.


Kebetulan rumah mereka juga dekat dengan perusahaan industri sepatu tempat mereka bekerja, jadi mereka pergi dan pulang kerja hanya berjalan kaki saja.


"Ra.... aku lihat belakangan ini kamu sering melamun. Ada apa sebenarnya Ra?" tanya Airin sambil berjalan keluar ruang kantor.


"Kita duduk di bawah pohon itu yok, ada yang akan aku ceritakan," jawab Sahira sambil menunjuk kearah pohon.


Akhirnya merekapun duduk di bangku di bawah pohon beringin.


"Aku mau curhat sedikit loh Rin," ucap Sahira sambil duduk di bangku yang ada di bawah pohon beringin.


"Ceritalah... aku siap mendengarnya. Mudah-mudahan aku bisa memberi solusi jika diperlukan," jawab Airin dengan tersenyum.


"Begini Rin.... aku dengan Arfi sudah tiga tahun menjalin hubungan yang serius. Umur kami juga sudah tidak muda lagi. Kalau kutanya kapan Arfi meminangku, dia hanya diam saja tidak ada respon. Sementara umurku semakin tahun semakin bertambah. Aku ingin cepat nikah agar bisa tinggal dengan suamiku. Kamu kan tau sendiri bagaimana ibu tiri aku memperlakukan aku. Aku sudah tidak tahan hidup dengan ibu tiri aku yang selalu banyak menuntut, dan ngomongnya selalu pedas. Bagaimana menurutmu Rin, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sahira pada Airin.


"Sebaiknya kamu harus tegas pada Arfi. Bilang pada dia. Kalau tahun ini tidak meminang juga, ya sudah kita putus saja. Umurku semakin tahun semakin bertambah. Aku pingin cepat-cepat punya keturunan. Mau sampai kapan aku menunggu kamu? Bilang saja seperti itu Ra...," jawab Airin memberikan ide.


"Kalau Arfi minta tempo, gimana Rin?" tanya Sahira lagi.


"Ya jangan mau. Kalau dia minta tempo, berarti dia memang tidak serius. Kalau dia tidak serius berarti dia tidak cinta. Ngapain dipertahankan lelaki seperti itu," jawab Airin.

__ADS_1


Ternyata apa yang dikatakan Airin ada benarnya juga. Untuk apa aku menunggu-nunggu Arfi kalau Arfi sendiri tidak ada niat untuk meminangku. Sementara umurku semakin bertambah.


Sebaiknya besok aku tanya lagi. Kalau dia belum siap juga, aku akan mengatakan seperti yang dikatakan Airin barusan, batin Sahira dalam hati.


Keesokan Hari.


Saat break jam sepuluh pagi, Sahira menjumpai Arfi di ruang kerjanya. Kebetulan Sahira dan Arfi bekerja di perusahaan yang sama. Arfi sebagai supervisor, sedangkan Sahira bendahara di perusahaan itu.


"Mas Arfi.... nanti pulang kerja kita pulang sama ya. Ada yang akan aku katakan," ucap Sahira pada Arfi.


"Tentang apa Ra, mas jadi penasaran ini!" ucap Arfi pada Sahira.


"Adalah....," jawab Sahira sambil berlalu pergi.


Pulang Kerja.


Begitu jam kerja selesai, Sahira cepat-cepat menunggu Arfi di parkiran. Tidak lama kemudian, Arfi pun tiba di parkiran.


"Mas... kita pergi ke tempat biasa ya," tanya Sahira pada Arfi.


Sesampainya di cafe tempat mereka biasa bertemu, Sahira segera mencari tempat duduk di pojok agar pembicaraan mereka nantinya tidak dapat didengar orang lain.


"Apa yang akan kamu katakan Ra...," tanya Arfi penasaran.


"Begini loh mas.... Kitakan sudah lama berpacaran. Umur kita juga sudah tidak muda lagi. Apa tidak sebaiknya kita melakukan pernikahan di tahun ini saja?" ucap Sahira dengan sangat hati-hati.


"Eh..... bukannya mas tidak mau menikah dengan kamu, tapi untuk sekarang ini mas masih belum siap loh Ra," jawab Arfi dengan sedikit ragu.


"Belum siap dalam hal apa mas?" tanya Sahira heran.


"Mas belum punya tabungan. Sepeda motor juga masih kredit. Uang mas sudah habis untuk membiayai adik mas yang kuliah," jawab Arfi.

__ADS_1


"Kita mulai dari nol mas. Allah akan membukakan pintu rezeki bagi umatnya yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Aku juga tidak menuntut pesta yang meriah, yang terpenting ijab kabulnya," ucap Sahira menjelaskan.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Dalam waktu dekat mas dan keluarga akan datang ke rumah kamu untuk meminang tuan putri," jawab Arfi dengan tersenyum.


Sahira sangat bahagia mendengar jawaban Arfi. Aku akan bilang pada ayah dan bunda, agar mereka mempersiapkan semuanya kalau keluarga mas Arfi nanti datang meminang, batin Sahira dalam hati.


Sesampainya di rumah, Sahira langsung memberi kabar gembira ini pada ayah bundanya.


"Kira-kira tanggal berapa keluarga Arfi akan datang Ra?" tanya ayahnya pada Sahira.


"Tanggalnya belum tau yah, tapi yang pasti dalam waktu dekat ini," jawab Sahira.


"Kita buat pesta yang meriah ya mas, biar aku undang teman-temanku," ucap bu Rangga bunda tirinya Sahira.


"Gak perlu kita pesta meriah. Yang penting ijab kabulnya. Kita buat pesta yang sederhana saja. Kita undang keluarga dekat saja. Jadi biayanya tidak terlalu besar. Jadi sisa uangnya bisa kita gunakan untuk membantu membeli perlengkapan rumah Sahira nantinya," jawab ayah Sahira menjelaskan.


"Ya kita minta uang hantarannya agak dibanyakkan, jadi kita tidak ngeluarkan uang pribadi untuk keperluan pesta nanti," ucap bu Rangga lagi.


"Kita jangan terlalu mengharapkan uang hantaran itu bun. Kita terima saja berapa yang diberikan sama kita. Itupun sesuai dengan kemampuan Arfi. Jangan kita paksakan harus sekian, karena dia juga sudah habis habisan untuk membiayai adiknya kuliah," kata ayahnya Sahira menjelaskan.


"Kalau tidak ada uang, kenapa dia berani mau menikahi anak orang!" jawab bu Rangga ketus.


"Bukan dia tidak ada uang, tapi uang dia tidak banyak. Jadi kita buat pesta sesuai dengan kemampuan kita. Lagian menikah itukan ibadah, mengikuti sunah rasul. Jadi jangan karena uang, pernikahan batal," ucap ayahnya Safira lagi.


Akhirnya walaupun perasaan berat dan terpaksa, bu Rangga hanya diam saja mendengar omongan suaminya.


Sahira yang mendengarkan penjelasan ayahnya hanya terdiam dan bersyukur.


Ternyata ayah sangat mengerti dengan kondisi keuangan Arfi. Sedangkan ibu tirinya tidak pernah mau mengerti, apalagi kalau sudah membicarakan masalah keuangan.


Terima kasih ya Allah.... engkau berikan aku seorang ayah yang bijaksana dan cukup pengertian, batin Sahira dalam hati.

__ADS_1


- Bersambung-


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya.... Terima kasih.


__ADS_2