
Akhirnya Sahira menyetujui mas Zio sebagai pengganti mas Arfi.
Semua tamu yang akan mengikuti ijab kabul segera masuk ke ruang tamu pak Yusuf karena acara akan segera dimulai.
Kemudian penghulu memulai acara ijab kabul
"Sah...," tanya penghulu pada tamu yang hadir disitu.
"Sah....," jawab hadirin semuanya.
Sahira hanya bisa menangis mendengarnya di dalam kamar. Aku sudah sah menjadi istri mas Zio. Tapi pernikahan seperti apakah yang akan aku jalani nantinya. Apakah mas Zio benar-benar mencintai aku, batin Sahira dalam hati.
Tidak lama kemudian, Sahira keluar kamar dan didampingi Airin dan Afika.
"Kamu harus kuat ya Ra," ucap Airin di telinga Sahira.
"Kamu juga harus tersenyum. Senyum pada suami kamu," ucap Afika.
Begitu Sahira keluar kamar, Zio tidak berkedip memandangnya. Cantik sekali Sahira, batin Zio dalam hati.
Kemudian Sahira mencium tangan mas Zio tanpa melihat ke wajahnya, dan mas Zio mencium kening Sahira yang hanya tertunduk saja.
Setelah itu Sahira mencium ayahnya dan ayahnya tersenyum, tetapi senyumnya seperti senyum yang dipaksakan.
"Jadilah istri yang patuh dan berbakti pada suami....," ucap pak Yusuf pada Sahira.
Sahira hanya bisa menangis sedih. Sedih karena orang yang seharusnya menjadi suaminya tetapi pergi dengan wanita lain. Sedih juga karena ibunya telah meninggal sehingga tidak sempat melihat pernikahannya.
"Jadi istri yang setia dan taat pada suami ya sayang," ucap tante Ira sambil memeluk Sahira.
Tangis Sahira pun pecah saat dipeluk tante Ira. Tante Ira sudah seperti ibunya sendiri. Karena Sahira sering curhat dan bermanja-manja padanya.
***
Setelah ijab kabul selesai, selanjutnya acara resepsi pernikahan. Acara resepsi pernikahan dibuat sesederhana mungkin. Ini semua kemauan Sahira karena dia tidak mau terlalu membebani ayahnya. Apalagi dia tau kalau ayahnya masih punya utang pada pak Mahendra.
"Kamu capek Ra....," tanya mas Zio yang melihat Sahira terduduk lemas di pelaminan. Dia bukan hanya capek jasmani saja, tetapi rohaninya juga lelah.
"Sedikit lelah mas....," jawab Sahira dingin.
"Kalau kamu capek biar kita masuk saja. Dari pada nanti kamu tidak tahan dan pingsan," ucap mas Zio.
"Tidak usah mas, aku masih tahan," ucap Sahira lagi.
Semua tamu yang hadir bersalaman dengan kedua mempelai, sehingga Sahira merasa sangat lelah. Apalagi pernikahannya tadi pagi hampir saja batal karena mas Arfi tidak datang. Semua ini menyita perhatian dan tenaganya.
__ADS_1
Sampai sore tamu yang datang tidak berhenti, membuat Sahira semakin lelah. Tiba-tiba Sahira merasa kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang.
Zio yang berada di sampingnya melihat Sahira seperti sempoyongan segera merangkulnya. Begitu Zio merangkul pundaknya, Sahira pun jatuh pingsan.
Semua tamu yang datangpun terkejut melihatnya. Dengan cepat Zio membopong Sahira dan dibawahnya kamar.
Sampai di kamar, Afika dan Airin sibuk mengipasinya. Sedangkan tante Janah sibuk mencari minyak kayu putih dan tante Ira sibuk mencari air putih.
Kemudian tante Janah memberikan minyak kayu putih di hidung Sahira. Setelah siuman, tante Ira memberikan air putih.
"Diminum dulu ya sayang," ucap tante Ira khawatir.
"Gimana Sahira, Ra...., " tanya pak Yusuf pada adiknya Ira.
"Sudah sadar mas, dia hanya kecapean dan perlu istirahat saja," jawab tante Ira.
Zio kebingungan melihat kondisi Sahira yang seperti ini.
"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit tante," tanya Zio khawatir.
"Tidak usah saja Zi.... Sahira hanya kecapean saja. Kalau istirahat bentar, pasti juga pulih," ucap tante Ira.
Bu Sisu dan pak Mahendra juga khawatir dengan kondisi Sahira.
"Gimana kalau kita bawa saja Sahira ke rumah sakit," tanya bu Sisu pada tante Ira.
Bu Sisu sibuk memijit-mijit kepala Sahira. Airin dan Afika memijit-mijit kaki Sahira. Semuanya sangat khawatir dengan keadaan Sahira.
Sedangkan Zio hanya bisa melihat dari depan pintu kamar. Dia masih segan dan malu untuk mendekati Sahira walaupun telah menjadi istrinya.
"Terima kasih bu, saya sudah mendingan," ucap Sahira pada mama mertuanya.
"Panggil saya mama. Saya kan sudah menjadi ibu mertua kamu," ucap bu Sisu.
"Maaf ma, Hira lupa," jawab Sahira tersipu malu.
"Jangan sama mas Zio saja ingat, sama mamanya lupa," ucap Afika becanda.
"Kalau sama mertua lupa biasa, jangan pula sama mas Zio lupa juga," ucap Airin lagi.
Semua yang dikamar tertawa dan Zio yang mendengar di depan pintu kamar hanya tersenyum malu.
Saat Zio melihat ke arah Sahira, Sahira juga melihat ke arah Zio. Akhirnya keduanya pandang-pandangan, dan Sahira tertunduk malu melihat Zio memandangnya.
Tidak berapa lama bu Sisu dan yang lainnya keluar kamar Sahira.
__ADS_1
Saat Afika dan Airin akan ikut keluar, Sahira menarik tangan mereka.
"Kalian di sini sajalah temani aku," kata Sahira sambil menarik tangan mereka.
"Kamu sekarangkan sudah punya suami, jadi minta ditemani suami kamu saja ya," ucap Airin sambil tersenyum. .
Kemudian Airin dan Afika pun keluar kamar dan menyuruh Zio masuk.
"Mas Zio kami mau di luar, kebetulan masih banyak kerjaan di luar sana. Jadi mas Zio yang nemani Sahira ya," ucap Afika pada Zio yang masih berdiri di depan pintu kamar.
Kemudian mas Zio masuk ke kamar Sahira dan duduk di kursi disamping tempat tidur Sahira. Sahira masih tergolek di tempat tidurnya.
"Gimana perasaan kamu sekarang Ra, sudah mendingan," tanya mas Zio sambil memegang tangan Sahira.
"Sudah mas," jawab Sahira sambil menarik tangannya.
Zio hanya bisa tersenyum dan maklum dengan semua ini. Mungkin Sahira masih malu, batin Zio dalam hati.
Dipandanginya wajah Sahira dalam-dalam. Rasanya seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hanya dalam hitungan jam, Sahira sudah menjadi istrinya.
***
Menjelang magrib tamu-tamu sudah berpulangan semua. Tinggal tante Ira, tante Janah dan beberapa orang tetangga dekat.
Kemudian mereka membereskan piring dan gelas yang masih berserakan di luar. Zio juga ikut membereskan semuanya.
Setelah semuanya beres, tante Irma, tante Ira dan tetangga dekat yang ikut membereskan semuanya pada pulang.
"Bang kami pulang ya, besok pagi kami kemari lagi memberekan dalam rumah," ucap tante Ira dan tante Janah.
Setelah mereka pulang, tinggallah yang di rumah pak Yusuf, mas Zio dan Sahira.
"Sahira sudah makan Zi....," tanya pak Yusuf pada Zio menantunya.
"Belum yah, ini baru mau Zio ambilkan makan," jawab Zio yang masih mengambilkan nasi untuk Sahira.
Kemudian pak Yusuf masuk ke kamar Sahira.
"Gimana Ra.... apanya yang sakit?" tanya pak Yusuf.
"Tidak ada yah, hanya tinggal lemasnya saja," jawab Sahira.
Pak Yusuf merasa sangat sedih dengan kondisi Sahira. Apakah Sahira memikirkan Arfi, sehingga kondisinya seperti ini," batin pak Yusuf dalam hati.
- Bersambung -
__ADS_1
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.