
"Mas berangkat kerja dulu ya sayang," ucap Zio sambil mencium pipi Sahira.
Kemudian Sahira menggandeng lengan Zio menuju ke teras samping. Kebetulan mobil Zio sudah dikeluarkan dari bagasi.
Dengan senyum yang tulus Sahira melepas kepergian suaminya sampai masuk ke mobil.
"Hati-hati ya mas." Sahira melambaikan tangannya ke arah Zio.
Zio membalasnya dengan senyum lepas.
"Kalau ada tanda-tanda mau melahirkan cepat kabari mas ya," ucap Zio saat sudah duduk di dalam mobil.
Setelah menghidupkan mesin mobilnya, Zio segera melajukan mobilnya menuju ke tempat kerjanya.
Di tengah perjalanan, dihidupkannya musik untuk memecah kesunyian. Diikutinya lirik lagu yang sedang didengarnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kelihatan Zio hari ini sangat bahagia sekali.
***
Setelah kepergian Zio ke tempat kerja, Sahira berjalan masuk ke dalam rumah. Sampai di ruang tengah, dia terbengong sebentar sambil mengerutkan keningnya. Kemudian dia berjalan santai menuju ke kamarnya.
Dibukanya lemari baby yang baru dibelinya minggu lalu. Kemudian dilihatnya baju baby satu persatu dengan membuka dari lipatannya.
Sambil tersenyum bahagia Sahira memandang baju baby yang lucu-lucu itu. Kemudian dilipatnya kembali dan dimasukkan ke lemari lagi.
Sahira sudah tidak sabar pingin melihat babynya memakai baju-baju yang lucu itu. Dengan baju yang lucu-lucu ini pasti babyku akan keluhan lucu dan menggemaskan, batinnya.
Sahira sangat bahagia menyambut kelahiran anak pertamanya. Tidak terbayangkan rupa dari wajah babynya nanti.
Babyku seperti siapa ya, seperti aku atau seperti mas Zio. Yang pasti kalau laki-laki pasti mirip dengan mas Zio. Sedangkan kalau perempuan pasti mirip dengan aku, batin Sahira.
Kalau seperti mas Zio, berarti postur tubuhnya tinggi, hidungnya mancung dan matanya bulat, batin Sahira dengan membayangkan mas Zio suaminya.
Sahira masih terhanyut dengan khayalannya
yang membayangkan rupa dari wajah babynya nanti, sambil senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba hpnya yang diatas meja rias berdering ada telepon masuk. Sahira yang sedang menghayal terlalu jauh sangar terkejut mendengarnya.
Segera Sahira berjalan mendekati arah suara bunyi itu. Kemudian diambil hpnya dan jemarinya yang lentik dengan lihai menekan panggilan masuk.
Terdengar suara mas Zio menyapanya.
"Kamu lagi ngapain sayang," tanya mas Zio dengan nada yang ceria dalam teleponnya.
__ADS_1
"Ini lagi menjawab telepon kamu mas....." jawab Sahira tertawa becanda.
Terdengar tawa Zio lepas.
"Kalau itu mas tau sayang....," ucap Zio sambil ikut tertawa juga.
"Aku lagi lihat-lihat pakaian baby kita mas. Semuanya lucu-lucu." Sahira menjelaskan pada suaminya Zio.
"Kamu ingat-ingat apa lagi yang belum dibeli, biar mas beli." ucap Zio menyuru Sahira mengingat kembali perlengkapan baby yang belum dibeli.
Sahira terdiam sambil berpikir dan mencari-cari perlengkapan apa yang belum dibelinya.
"Sepertinya semuanya sudah terbeli mas." jawab Sahira.
"Kalau sudah terbeli semua ya syukurlah. Manatau ada yang kelupaan biar cepat mas beli." ucap Zio lagi.
"Tidak ada mas." ucap Sahira.
"Oh ya sayang...., mas nanti pulang agak terlambat. Mas lagi ada urusan. Bi Ana suru nemani kamu sampai mas pulang ya." ucap mas Zio dalam teleponnya.
"Iya mas nanti biar aku sampaikan pada bi Ana. Tapi jangan terlalu malam pulangnya ya?" pinta Sahira dengan nanda manja.
"Iya sayang, selesai urusan mas langsung pulang." jawab Zio meyakinkan Sahira.
***
"Kamu tidak pulang Zio?" tanya pak Mahendra saat melihat Zio sedang asik di depan komputer.
"Sebentar lagi pa." Jawab Zio tanpa melihat papanya.
"Jangan lama sekali pulangnya. Kasihan Sahira sudah menunggu di rumah," cap papanya.
Pandangan Zio terhenti sejenak sambil berpikir sehingga kerut di keningnya tampak kelihatan jelas.
Kemudian Zio tersentak kaget sambil berkata "Astags...., hampir aku lupa," ucap Zio sambil memegang kepalanya.
Dengan terburu-buru Zio mematikan komputernya. Kemudian setengah berlari Zio menuju ke parkiran kendaraan.
Dengan sedikit kencang Zio membawa mobilnya agar cepat sampai ke tujuan.
Setelah masuk ke area parkir, dilihatnya tidak ada tempat lagi untuk memarkirkan mobilnya. Zio pun naik ke lantai berikutnya sambil sibuk menoleh ke kanan dan kekiri manatau masih ada tempat parkir yang kosong.
Zio pun menyetir mobilnya agak pelan sedikit sambil tidak hentinya melihat parkiran yang kosong.
__ADS_1
Begitu melihat ke kanan, dilihatnya ada mobil fortuner yang akan keluar dari parkiran. Zio pun dengan cekatan memarkirkan mobilnya di tempat mobil fortuner tadi.
Dicabutnya kunci mobil dan dia pun berjalan menuju mall.
Langkah demi langkah dilaluinya, tetapi barang yang dicarinya tidak kunjung ketemu juga. Akhirnya Zio menanya pada pramuniaga yang ada di dekat situ.
"Mbak..., peralatan baby dimana ya?" tanya Zio pada pramuniaga yang sedang melipat baju-baju baby.
"Maksud bapak seperti box baby, beby walker....," ucap pramuniaga terputus.
"Iya mbak." ucap Zio memotong omongan pramuniaga itu.
"Oh...., kalau itu disana tempatnya pak. Bapak jalan saja terus, kemudian lihat ke kiri. Di sebelah kiri akan kelihatan semua peralatan baby pak," ucap pramuniaga itu sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah yang dikatakan tadi.
"Terima kasih mbak," ucap Zio sambil berjalan ke arah yang diberitau tadi.
Setelah sampai pada arah yang ditunjuk tadi, dilihatnya banyak sekali peralatan baby. Mulai dari peralatan baby duduk sampai peralatan untuk berjalan baby juga ada.
"Ada yang bisa saya bantu pak? Bapak mau mencari apa?" tanya salah seorang pramuniaga yang menjaga stand peralatan baby dengan ramah.
"Saya mau mencari stroller baby mbak." ucap Zio sambil melihat ke beberapa stroller yang ada di situ.
"Memangnya anak bapak sudah berusia berapa bulan?" tanya pramuniaga itu lagi.
Dengan tersenyum malu Zio pun mengatakan sebenarnya.
"Anak saya belum lahir mbak, tetapi kemungkinan minggu ini akan segera lahir." jawab Zio.
"Oh begitu..... Disini ada yang roda dua, dan ada juga yang roda tiga pak. Kalau mau dipake sampai usia dua tahun, lebih baik bapak beli yang roda tiga karena lebih kuat menanggung beban. Tapi kalau hanya sampai usia satu tahun, roda dua saja sudah bisa." pramuniaga itu menjelaskan.
Setelah melihat beberapa stroller baby yang ada disitu, akhirnya pilihan Zio jatuh pada stroller baby yang berwarna coklat.
"Ada lagi pak yang mau dicari?" tanya pramuniaga itu.
"Saya mau mencari tempat duduk santai untuk baby mbak." ucap Zio sambil melirik kesana kemari mencari tempat duduk baby yang dimaksud.
"Itu disana tempatnya pak." jawab pramuniaga sambil menunjuk ke arah selatan.
Zio segera berjalan mengikuti pramuniaga itu dari belakang.
Setelah semuanya dibayar ke casier, Zio segera berjalan ke parkiran akan segera pulang.
- Bersambung -
__ADS_1
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih..