Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Perasaan


__ADS_3

Saat Zio sedang memasukkan pakaian ke lemari, keluarga Sahira datang.


Mereka disambut kedua orang tua Zio. Sedangkan Zio masih sibuk menyusun pakaian ke lemarinya.


"Zio, Sahira..., ini ayah sama tante Ira datang," ucap mama Zio.


"Iya ma....," jawab Zio dari dalam kamar.


"Mereka sedang apa mbak," tanya tanye Ira pada mama Zio.


"Tadi sedang membereskan pakaian ke lemari. Langsung saja temui mereka di kamarnya," jawab bu Sisu.


Tante Ira langsung berjalan ke kamar untuk menjumpai Sahira.


"Hira....," ucap tante Ira saat dekat pintu kamar.


"Masuk saja tante," ucap Sahira dari dalam kamar.


"Apa bisa Zio membereskan pakaian itu semua," tanya tante Ira heran melihat Zio sedang memasukkan pakaian ke lemari.


"Tante jangan khawatir, semua akan selesai Zio masukkan. Pekerjaan Zio juga rapi loh," ucap Zio becanda.


"Sebenarnya Sahira yang mau membereskan semuanya, tapi tidak diperbolehkan mas Zio tante," ucap Sahira pada tante Ira.


"Kamu kan belum sehat betul, makanya mas larang," kata Zio.


"Benar itu Ra kata Zio. Kamu harus istirahat total biar cepat sembuh," ucap tante Ira.


"Sudah sini biar tante yang meneruskan. Kamu ngobrol saja di depan," pinta tante Ira pada Zio.


Kemudian Zio pergi ke ruang tamu menjumpai ayah mertuanya dan om Dana suami tante Ira.


Bu Sisu kemudian ke depan menyugukan minuman untuk ayah Sahira dan om Dana.


"Ma, pembantu yang kerja di rumah Zio sudah dapat?" tanya Zio pada mamanya.


"Sudah Zi. Sudah Mama katakan pada dia, kerjaan rumah selesai dia pun boleh pulang," jelas bu Sisu.


"Kenapa tidak sampai sore ma. Maksudnya pulangnya setelah Zio pulang kerja. Jadi sebelum Zio pulang kerja biar nemani Sahira," ucap Zio.


"Oh...., kalau mau seperti itu biar besok disampaikan," ucap Mama Zio.


Zio sangat khawatir dengan Sahira kalau ditinggal kerja sampai sore. Karena Sahira belum sembuh total.

__ADS_1


"Jadi besok kamu sudah mulai masuk kerjakan Zio," tanya pak Mahendra.


"InsyaAllah besok Zio sudah kerja pa," jawab Zio.


"Ya sudah, biar besok mama kemari lagi nemani Sahira," ucap mama Zio.


***


Karena sudah sore, mama papa Zio pun pamit pulang diikuti dengan ayah dan tante Ira.


"Kamu baik-baik ya Ra...., kalau ada apa-apa cepat telepon tante," ucap tante Ira saat akan pulang.


Setelah semuanya pulang, tinggallah Zio dan Sahira di rumah itu. Sahira masih merasa asing terhadap Zio suaminya. Dia juga belum terlalu percaya sepenuhnya pada Zio yang katanya mencintainya.


Selesai makan malam, Zio mendapat telepon dari temannya. Kemudian dia mengangkat hpnya dan ngobrol di teras.


Selesai ngobrol di telepon, Zio pun kembali ke dapur untuk membereskan meja makan, tetapi dia terkejut karena Sahira sudah membereskan meja makan dan sekarang lagi mencuci piring.


"Ra ....., kan sudah mas katakan tadi. Biar mas saja yang bereskan semuanya. Kamu istirahat saja," bisik Zio di telinga Sahira sambil memeluk pinggangnya dari belakang.


"Mas, geli.....," ucap Sahira sambil melepaskan tangan Zio.


"Apanya yang geli......," bisik Zio lagi.


Zio semakin gemas melihat reaksi Sahira. Kemudian Zio membopong Sahira dan dibawanya ke kamar.


"Mas.....," jerit Sahira.


Kemudian Sahira direbahkan di tempat tidur.


"Mas mau apa!" tanya Sahira ketakutan.


"Kenapa....., kamu takut," ucap Zio sambil memandang wajah Sahira yang sedang ketakutan.


Tiba-tiba pintu depan diketuk.


"Tok, tok, Assalamualakum.....," terdengar suara tamu yang datang.


Zio akhirnya keluar kamar membuka pintu.


"Oh, silakan masuk pak....," ucap Zio pada tamu yang datang.


"Maaf ya pak kalau mengganggu waktunya," ucap salah seorang tamu yang datang bernama pak Edi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak. Saya senang bapak-bapak mau datang ke rumah saya," jawab Zio ramah.


"Kami hanya mau berkenalan dengan bapak. Dari mesjid kami langsung singgah kemari," ucap salah seorang tamu itu yang bernama pak Arman.


"Terima kasih ya pak atas keringanan langkah bapak-bapak kemari. Saya belum sempat berkenalan dengan tetangga disini. Karena tadi siang kami baru pindah. Istri saya juga belum sehat betul pak. Tadi baru pulang dari rumah sakit.


"Oh iya...., memangnya sakit apa istri bapak?" tanya pak Edi.


"Sakit tipus pak," jawab Zio.


"Kalau sakit itu, harus banyak istirahat dan tidak boleh capek pak. Makanannya juga harus diperhatikan," ucap pak Fendi salah satu tamu yang datang.


"Semoga istri bapak cepat sembuh ya pak," kata pak Arman lagi.


"Terima kasih ya bapak-bapak," ucap Zio lagi.


Setelah tamunya pulang, Zio segera berwudhu akan sholat isya. Dilihatnya Sahira sedang sholat isya juga.


Setelah sholat isya, Zio pun segera mematikan lampu di ruang tamu, ruang tengah dan dapur. Dia kembali ke kamar dan akan segera tidur.


Tapi Zio bingung mau tidur dimana. Mau diambal tetapi tidak ada ambal, karena besok rencana mamanya mau membawakan ambal dari rumahnya.


Akhirnya dia pun tidur disamping Sahira. Dilihatnya Sahira diam saja, tidak menunjukkan reaksi apa-apa.


Yang namanya lelaki normal bila tidur berdampingan dengan wanita yang dicintainya, pasti akan mengalami perasaan yang lain. Begitu juga dengan Zio.


Kemudian Zio berbisik di telinga Sahira.


"Sayang....., malam pertama kitakan masih tertunda," bisik Zio di telinga Sahira.


"Aku tau mas. Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Apalagi mas sudah beli aku senilai seratus juta," ucap Sahira sambil membuka kancing baju tidurnya.


"Ra......, kancingkan kembali baju kamu. Mas mau menikahi kamu karena mas cinta. Bukan karena utang seratus juta. Mas tidak membeli kamu. Cinta mas pada kamu tidak bisa dinilai dengan uang. Mengenai utang piutang tidak ada hubungannya dengan cinta mas. Mas tidak akan menyentuh kamu selagi belum kamu cabut kata-kata kamu yang pedas itu," ucap Zio sambil keluar kamar.


Setelah Zio keluar kamar, Sahira merenung sendiri. Apakah benar mas Zio mencintai aku. Memang mas Zio begitu perhatian padaku. Dia selalu menunjukkan rasa sayangnya padaku. Dia dengan telaten mengurus aku. Tapi kenapa hatiku belum bisa menerimanya. Seandainya mas Zio adalah mas Arfi, aku akan sangat bahagia, batin Sahira dalam hati.


Kemudian Zio tidur di sofa di ruang tengah. Tengah malam saat terbangun, Zio masuk kamar untuk melihat kondisi Sahira. Dia sangat khawatir dengan Sahira.


Dipegangnya pipi Sahira. Dipandangnya Sahira dalam-dalam. Kalau kamu tau betapa besarnya cintaku padamu Ra. Aku tidak sanggup hidup tanpamu Ra. Baru beberapa hari aku dekat denganmu aku sangat bahagia, apalagi kalau kamu mencintai aku juga. Tidak bisa aku bayangkan bagaimana senangnya perasaanku jika kamu menjadi istri yang benar-benar mencintaiku," batin Zio dalam hati.


- Bersambung -


Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2