
Sudah berbagai cara Nayla berusaha untuk menggoda Zio tetapi tidak kunjung menemui keberhasilan. Akhirnya timbul niat buruk dia untuk mengganggu Sahira istri mas Zio.
Kalau kutelepon Sahira dan kukatakan kalau aku sudah berhubungan terlalu dekat dengan suaminya, pasti Sahira akan marah. Ini akan membuat hubunngan rumah tangga mereka retak dan tentunya akan menjurus ke perceraian. Sambil tersenyum sendiri Nayla memikirkan waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada Sahira.
Diambilnya hp dari tasnya dan dengan lincah jari-jemarinya mencari no hp Sahira. Sambil tersenyum sendiri Nayla menghubungi Sahira istrinya mas Zio mantan kekasihnya.
Assalamualakum, ini dengan siapa ya? terdengar suara Sahira penasaran saat mengangkat telepon Nayla.
Aku Nayla mantan pacar mas Zio. Memangnya kapan kamu akan melahirkan? tanya Nayla sambil tersenyum sendiri.
Oh kamu......, ada urusan apa kamu mau tau kapan aku melahirkan! Sahira menjawab telepon Nayla dengan ketus.
Aku sebenarnya tidak peduli kapan kamu melahirkannya. Aku hanya kasihan saja, mas Zio belanja peralatan baby sendiri makanya aku yang menemani dia. Atau mungkin mas Zio hanya memikirkan babynya saja tanpa memikirkan ibu babynya. Karena yang diajaknya belanja orang lain bukan istrinya sendiri.
Nayla ngomong seperti itu untuk memancing emosi Sahira, padahal Nayla hanya jumpa mas Zio di parkiran.
Kenapa kamu lebih percaya sama orang lain daripada aku istrimu sendiri mas, batin Sahira sedih.
Dengan perasaan sedih bercampur marah, Sahira menjawab telepon Nayla. Dia juga tidak mau kalah.
Kalau memang mas Zio lebih mencintai kamu, kenapa kamu ditinggalkan dan lebih memilih aku. Dengan nada lantang Sahira menjawab telepon Nayla walaupun hatinya terasa sakit.
Dia terpaksa menikahi kamu karena memandang ayah kamu yang sudah bekerja cukup lama di perusahaan orang tuanya. Nayla menjawab dengan nada sinis.
Kemudian dia tersenyum sinis dan jemarinya mematikan hp yang ada di tangan kirinya dengan perasaan yang cukup puas.
Setelah Sahira mematikan hpnya, dia meletakkan hpnya di atas bopet sambil berjalan ke kamar dan duduk di tepi tempat tidurnya.
Tidak terasa air mata mengalir disudut matanya. Dengan terisak-isak Sahira mengambil tisu yang ada di meja rias di kamarnya.
Hatinya sangat sedih mendengar ucapan Nayla yang sepertinya membandingkan dia dengan dirinya.
Setelah capek menangis, Sahirapun tertidur.
***
Setelah ashar, Zio sampai di rumah. Dimatikannya mesin mobil dan dibukanya pintu mobil, Zio segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Biasanya kalau terdengar suara mobil Zio, Sahira menyambutnya dengan senyum ceria. Tapi hari ini Sahira tidak kelihatan di depan pintu rumahnya untuk menyambut suaminya.
Begitu masuk rumah, Zio melihat kekanan dan kekiri mencari Sahira. Dilihatnya Sahira tidak ada di ruang tamu, segera dia berjalan masuk ke kamar.
Dilihatnya Sahira sedang memasukkan pakaian ke lemari tanpa melihat Zio yang baru muncul ke kamar.
"Lagu ngapain sayang, serius sekali sampai tidak lihat mas pulang." ucap Zio begitu masuk kamar dan berdiri di belakang Sahira.
Pandangan Zio tertuju pada Sahira yang sedang jongkok memasukkan pakaian ke lemari.
"Hee....," ucap Sahira sambil melihat ke belakang. Dilihatnya Zio masih berdiri di belakang Sahira.
Terdengar langkah kaki Zio semakin dekat dengan Sahira dan kemudian Zio mengangkat pundak Sahira.
"Kenapa tidak menyuru bi Ana saja sayang, jadi kamu tidak terlalu capek." kemudian Zio memeluk pinggang Sahira sambil mencium rambutnya.
Sahira hanya terdiam saja tanpa berkata sepata kata, membuat Zio heran.
"Kamu kenapa sayang, wajah kamu cemberut saja." ucap Zio menatap Sahira heran.
Tiba-tiba tangisnya pecah begitu ditatap wajah suaminya. Sambil berdiri di hadapan Zio, Sahira menangis tersedu-sedu. Zio segera memeluk Sahira, tetapi Sahira berontak mengelak.
Namun tenaga Zio lebih kuat daripada tenaga Sahira sehingga Sahira tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan dirinya dalam pelukan Zio suaminya.
Setelah isak tangis Sahira redah, Zio baru melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Sahira heran.
Dihapusnya air mata Sahira dengan ujung jarinya sambil berkata, "ada apa sayang?"
Sahira hanya terdiam saja sambil tetap berdiri di hadapan Zio. Dia bingung memulai ceritanya darimana.
Zio segera menarik tangan Sahira untuk duduk di tepi tempat tidur. Kemudian dipandangnya wajah Sahira dalam-dalam sambil memberikan kesempatan pada Sahira untuk menjelaskan alasan dia menangis.
Kemudian Sahira pun menceritakan semuanya tetang kekecewaannya pada Zio karena lebih mempercayai orang lain daripada istrinya sendiri.
Dipandangnya wajah Sahira sambil tersenyum sendiri, sedangkan Sahira hanya tertunduk sambil memainkan jari-jemarinya. Dia sangat marah pada Zio sehingga muak untuk melihat wajah suaminya.
Segera Zio memegang pundak Sahira sambil menatap wajah istrinya yang sedang sedih.
__ADS_1
"Kamu....., walaupun dalam keadaan marah masih tetap cantik sayang. Apalagi kalau sedang tersenyum. Mas tidak tahan melihatnya." ucap Zio sambil membelai rambut Sahira.
"Gombal!" ucap Sahira lagi.
Zio pun tersenyum melihat ucapan Sahira.
"Kamu lebih percaya pada mas atau pada Nayla sayang"
Sahira hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Zio barusan.
"Kenapa kamu diam saja sayang. Jawablah pertanyaan mas barusan. Zio masih memperhatikan bola mata Sahira yang berwarna coklat.
"Kalau mas dibandingkan dengan Nayla, aku " "lebih percaya pada mas, tetapi ini, permasalahany beda."
Perkataan Nayla sangat meyakinkan kalau dia percaya dengan omongan Nayla.
"Kamu kan belum kenal dekat dengan Nayla. Jadi kenapa kamu lebih mempercaiyai dia." ucap Zio pada Sahira.
Sahira hanya terdiam dan merenung atas ucapan mas Zio.
"Mas semalam ketika ke mall berjumpa Nayla di area pakiran, hanya disitu. Mas juga tidak ada mengajak dia untuk berbelanja. Kami ketemunya secara kebetulan, tidak direncanakan. Mas berbelanja sendiri." ucap mas Zio.
Kemudian Sahira menatap wajah mas Zio dalam-dalam. Dilihat dari matanya, mas Zio jujur tidak berbohong. Karena kebohongan dapat ketauan dari bola mata seseorang.
"Kalau dia menelepon kamu lagi, katakan seperti ini 'terserah apa kata kamu, yang penting mas Zio tetap cinta pada diriku. Dari kami menikah sampai sekarang, kasih sayang mas Zio tidak pernah berubah apalagi berkurang. Semakin hari semakin besar cinta mas Zio pada diriku'. Katakan seperti itu sayang," ucap Zio sambil membelai rambut Sahira.
"Sahira hanya mengangguk menandakan kemarahannya sudah mulai reda. Akhirnya diapun tersenyum pada Zio suaminya.
"Maafkan aku ya mas, sudah berpikir negatif pada mas." ucap Sahira sedikit malu.
Kemudian mas Zio kembali memeluk Sahira, tetapi pelukan Zio tidak ditolak oleh Sahira.
Sahira hanya bisa tersenyum menatap mas Zio, sambil membalas pelukan suaminya dengan sangat erat.
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and like ya. Terima kasih.
__ADS_1