Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Kabur


__ADS_3

Belakangan ini pak Yusuf kelihatan bahagia. Dia selalu ceria setiap hari. Saat pak Yusuf menyerahkan laporan bulanan kepada pak Mahendra, pak Mahendra pun bertanya tentang perubahan yang terjadi pada dirinya.


"Belakangan ini saya lihat kamu selalu bahagia Suf," tanya pak Mahendra pada Yusuf.


"Saya rasa biasa saja pak," jawab pak Yusuf.


"Biasanya kamu banyak diam, wajah cemberut saja. Tapi belakangan ini ceria, sering nyanyi-nyanyi sendiri. Saya seperti menemukan dirimu yang dulu lagi," ucap pak Mahendra.


"Oh itu pak.... ternyata bapak selalu memperhatikan saya ya," kata pak Yusuf tersipu malu.


"Ya iyalah. Kamu sudah lama menjadi pegawai saya. Ya pasti saya tau bagaimana karakter kamu," jawab pak Mahendra tidak mau kalah.


"Belakangan ini istri saya berubah drastis pak. Perhatiannya pada saya semakin besar. Dia juga selalu di rumah saja, tidak pernah keluar lagi. Mungkin dia sudah sadar atas kesalahannya," ucap pak Yusuf.


"Syukurlah kalau memang seperti itu Suf.... berarti ada perubahan yang positif. Semoga rumah tangga kalian baik-baik saja. Aamiin...., " ucap pak Mahendra lagi.


"Terima kasi pak atas perhatian dan supportnya," jawab pak Yusuf lagi.


***


Saat istirahat jam makan siang, Sahira dan Afika bergegas ke kantin.


"Cepat Ra.... aku sudah lapar nih," ajak Afika pada Sahira.


Keduanya pun cepat-cepat ke kantin, sedangkan Airin dan Adel teman sekantornya masih jalan di belakang.


Setelah sampai kantin, Afika langsung pesan makanan. Setelah nasi yang dipesannya datang, dia pun segera melahapnya dengan cepat.


Kemudia setelah nasinya habis, dia pun pamit pada Sahira untuk ke kamar mandi.


"Ra.... aku ke toilet dulu ya," ucap Afika pada Sahira yang sedang menikmati makanannya.


Kemudian Afika berjalan ke kamar mandi. Saat mau menuju ke kamar mandi, dilihatnya mas Arfi sedang duduk dibawah pohon menerima telepon. Kelihatannya dia sedang asik dan tersenyum sendiri.


Afika pun segera masuk toilet wanita. Saat keluar toilet, dilihatnya mas Arfi masih asik menelepon. Afika semakin curiga, kemudian dia berusaha mengintip mas Arfi dari balik pohon.


Betapa terkejutnya Afika saat mendengar percakapan mas Arfi.


"Sabar sayang.... kita tunggu waktu yang tepat. Kamu tidak perlu takut, aku akan menjadi milikmu selamanya." ucapan mas Arfi dalam teleponnya.


Afika sudah tidak sanggup mendengar semua percakapan mas Arfi. Akhirnya dia pun segera menuju ke kantin lagi. Pasti Sahira sudah menunggu disana, batin Afika dalam hati.


"Kenapa lama sekali Ka...," tanya Sahira pada Afika.

__ADS_1


"Tadi antri di toilet," jawab Afika bohong.


Kemudian mereka ke mushollah untuk sholat zuhur. Selesai sholat zuhur, mereka kembali ke ruangan mereka lagi.


"Kenapa dari tadi diam saja Ka?" tanya Sahira pada Afika.


"Afika lagi puasa ngomong Ra.... makanya dari tadi tidak kedengaran suaranya," ucap Airin becanda.


"Mbak Airin ini ada-ada saja," jawab Afika sambil tertawa.


Setelah sampai ke meja kerja, merekapun melaksanakan aktivitasnya masing-masing.


Afika tidak bisa melupakan kejadian yang baru didengarnya tadi. Kasihan sekali Sahira kalau sampai tau hal ini. Apa tidak sebaiknya ku wa saja mbak Airin ya, biar bisa dicarikan solusinya, batin Afika dalam hati.


Kemudian dia segera me wa mbah Airin dan menceritakan kejadian barusan.


"Apa mungkin Arfi mau berbuat sekejam itu Ka?" tanya mbak Airin dalam wa nya.


"Tapi pembicaraannya tadi seperti itu. Aku juga sebenarnya tidak percaya mbak kalau tidak kudengar sendiri," ucap Afika dalam wa nya.


"Harus ada bukti yang kuat Ka, biar Sahira percaya. Tapi gimana cara membuktikannya ya?" tanya mbak Airin bingung.


Airin dan Afika merasa kasihan dengan Sahira yang diduakan mas Arfi. Apalagi pernikahannya tinggal sebulan lagi.


***


"Bang, uang sawahnya sudah diterima kak Rangga ya. Aku tadi buru-buru jadi tidak sempat menunggu abang," kata adik pak Yusuf.


"Oh iya... ya sudah tidak apa-apa. Makasi ya Kifli," kata pak Yusuf mengakhiri pembicaraan di telepon.


Sawah pak Yusuf yang di kampung telah laku dijual. Adiknya pak Yusuf yang telah menjualkannya. Rencananya uang hasil penjualan sawah tersebut untuk membayar utang pada pak Mahendra.


Pak Yusuf sangat bersyukur karena sawahnya sudah laku, biar cepat dibayar utangnya pada pak Mahendra.


***


Setelah jam kerja usai, pak Yusuf segera cepat pulang.


Sesampainya di rumah, Sahira sudah di rumah.


"Sudah lama pulang Ra?" tanya pak Yusuf pada anak gadisnya Sahira.


"Baru saja yah," jawab Sahira sambil mencium tangan ayahnya.

__ADS_1


"Mana bunda Ra," tanya pak Yusuf setelah keluar kamar.


"Sewaktu Hira pulang tadi, bunda sudah tidak ada yah," jawab Sahira lagi.


Kemudian pak Yusuf menelepon istrinya, tetapi hpnya tidak aktif.


Kemudian pak Yusuf masuk kamar dan akan segera mandi. Saat dia akan mengambil baju di lemari, betapa terkejutnya dia. Ternyata baju istrinya yang di dalam lemari sudah tidak ada semuanya.


Kemudian dia menemukan secarik kertas yang isinya "


"Mas... aku pergi dan jangan dicari. Aku telah menemukan lelaki pilihanku. Uang penjualan sawah telah kubawa. Anggap saja itu hadiah dari perpisahan kita. Rangga Lestari.


Setelah membaca surat dari istrinya, pak Yusuf terduduk lemas di tempat tidur.


Dia tidak menyangka, istrinya sanggup berbuat itu pada dirinya.


"Ra....," pak Yusuf memanggil anaknya Sahira.


"Iya yah....," jawab Sahira sambil berjalan ke arah suara tersebut.


Sesampai di kamar, Sahira hanya terdiam mendengarkan penjelasan ayahnya.


"Jadi gimana yah..... apa perlu kita lapor ke polisi!" tanya Sahira geram.


"Tidak usah Ra, ini masalah keluarga. Tidak enak kalau masalah internal keluarga harus kita lapor ke polisi. Kita selesaikan saja secara kekeluargaan. Kita cari dulu bunda. Kalau dia mau sama lelaki itu ya tidak apa-apa, ayah akan menceraikannya. Yang penting uang penjualan sawah itu kembali," jelas pak Yusuf pada Sahira.


"Ayah bersabar ya. Jangan terlalu dipikirkan, nanti ayah bisa sakit. Semoga Allah memberikan jalan terbaik buat kita. Aamiin," ucap Sahira menenangkan Ayahnya.


***


Sehabis magrib, ayahnya Sahira menelepon semua famili bunda, tetapi semuanya tidak ada yang tau.


"Yang sabar ya mas, kami akan berusaha mencari mbak Rangga," kata tante Ainun adiknya bu Rangga.


"Terima kasih ya Nun," jawab pak Yusuf pada adik iparnya.


"Kami atas nama keluarga minta maaf ya mas. Karena kakak kami, mas jadi seperti ini. Sejak bapak ibu meninggal mbak Rangga jadi jahat seperti itu. Padahal kami adik-adiknya sudah sering menasehatinya. Sama suami yang pertama juga begitu. Dia ketauan selingkuh makanya dicerai sama suaminya. Sama mas Yusuf, begitu lagi. Bahkan melarikan uang pula. Kalau tidak, lapor saja ke polisi mas, kami ikhlas mbak kami masuk polisi. Biar dia jerah, tidak mengulanginya lagi," ucap Ainun emosi.


"Tidak perlulah Nun. Kita selesaikan saja secara kekeluargaan. Mas kasihan kalau dis sampai masuk polisi," ucap pak Yusuf sabar.


Pikiran pak Yusuf tidak tenang. Dia memikirkan utang pada pak Mahendra. Bagaimana cara aku membayar utang aku pada pak Mahendra ya, batin pak Yusuf dalam hati.


- Bersambung -

__ADS_1


Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2