
Tidak terasa usia kandungan Sahira sudah menginjak tujuh bulan.
Sahira sudah tidak muntah-muntah lagi seperti diawal kehamilannya.
Mas Zio suaminya sangat sayang dan perhatian padanya. Sahira sering diajak jalan-jalan bahkan sering diberi bunga, karena mas Zio tau kalau Sahira suka akan bunga.
Begitu juga dengan hari ini. Pulang kerja mas Zio membawakan bunga bouqet untuk istrinya tercinta.
"Selamat ya sayang, kandungan kamu sudah memasuki usia tujuh bulan," ucap mas Zio dengan memberikan bunga tersebut sambil mencium kening Sahira dan kemudian memeluknya.
"Semoga anak kita lahir sehat wal afiat dan menjadi anak yang soleh nantinya, Aamiin...., " ucap mas Zio lagi sambil mencium perut Sahira.
"Terima kasih ya mas telah menjadi suami yang baik dan sayang pada aku," ucap Sahira sambil tersenyum.
Mas Zio selalu memberikan perhatian yang lebih pada Sahira, apalagi setelah Sahira hamil.
"Nanti malam kita makan di luar ya sayang...., Ini malamkan malam minggu," ucap mas Zio.
"Seperti orang yang sedang berpacaran saja," ucap Sahira tertawa.
"Memangnya hanya orang yang berpacaran saja yang bisa menikmati malam minggu," tanya mas Zio.
"Biasanya kan hanya orang yang berpacaran saja yang menikmati malam minggu mas," jawab Sahira.
"Anggap saja kita masih berpacaran. Kitakan belum pernah berpacaran, jadi setelah menikah baru kita pacaran," ucap mas Zio.
"Aku malu mas kumpul sama orang yang sedang pacaran, karena perutku sudah besar. Nanti pasti jadi perhatian orang," ucap Sahira.
"Orang akan semakin iri lihat kita karena sudah menikah tapi masih mesra," ucap mas Zio tersenyum.
Sehabis magrib m Zio dan Sahira pergi makan di luar. Saat mereka masuk ke sebuah cafe, pengunjungnya hampir semuanya remaja yang sedang pacaran.
Zio menggandeng mesra Sahira menuju ke sebuah tempat duduk.
Tidak lama kemudian pelayan mendatangi mereka dan menanyakan mau pesan apa.
"Coba kamu rasa udangnya. Enak loh, " ucap Zio sambil menawarkan udang yang ada di piring Zio.
Sahira hanya menggeleng pertanda tidak mau merasakan udang pesanan mas Zio.
Kemudian mas Zio mengambil udang tersebut dan memasukkan ke mulut Sahira. Sahira tidak dapat menolaknya karena udangnya sudah dekat ke bibirnya.
"Gimana rasanya Ra....," tanya mas Zio setelah memasukkan udang tersebut ke mulut Sahira.
"Masakannya enak mas," jawab Sahira.
__ADS_1
"Kamu pesan lagi kalau ada yang selera," kata Zio lagi.
"Tidaklah mas. Aku sudah kenyang," kata Sahira.
Setelah selesai makan, mereka tidak langsung pulang. Mereka mengobrol dulu. Setelah puas ngobrol, barulah mereka pulang.
***
Setiap hari minggu pagi, Zio dan Sahira jalan-jalan pagi keliling komplek perumahannya.
"Mas...., nanti setelah pulang belanja perlengkapan baby kita singgah ke rumah ayah ya," ucap Sahira pada Zio.
"Apa ayah sakit?" tanya Zio.
"Tidak mas. Tapi tiba-tiba aku pingin kesana saja. Rasanya rindu sekali sama ayah walaupun minggu semalam kita baru dari rumah ayah," jawab Sahira.
"Iya sayang...., untuk kamu apa yang tidak mas lakukan," ucap mas Zio tersenyum.
"Mas pintar sekali menggoda," ucap Sahira tersenyum.
***
Saat belanja perlengkapan baby, mas Zio banyak memilih perlengkapan yang warna pink, sedangkan Sahira warna biru.
"Mas....., katanya kalau suka yang warna pink, berarti baby kita perempuan. Kalau warna biru berarti baby kita laki-laki," kata Sahira menjelaskan.
"Memangnya mas pingin baby kita laki atau perempuan," tanya Sahira.
"Kalau mas terserah apa yang diberi Allah, yang penting sehat wal afiat," jawab mas Zio.
Setelah selesai berbelanja perlengkapan baby, mas Zio dan Sahira segera menuju ke rumah ayah Sahira.
***
Saat dalam perjalanan ke rumah pak Yusuf, hp Sahira berbunyi ada telepon masuk dari tante Ira.
"Assalamualakum tante. Ada apa tante?" tanya Sahira dalam teleponnya.
"Ra...., ayah barusan terjatuh di kamar mandi. Sekarang tidak sadarkan diri. Ini mau tante bawa ke rumah sakit Medistra," jawab tante Ira menangis.
"Apa.....? Kita jumpa di rumah sakit ya tante," ucap Sahira sambil menangis.
"Ada apa Ra?" tanya mas Zio khawatir.
"Ayah terjatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Sekarang sedang dibawa tante Ira ke rumah sakit Medistra," jawab Sahira sambil menangis.
__ADS_1
Segera Zio menyetir mobilnya ke rumah sakit Medistra.
Sampai di rumah sakit, tante Ira dan om Dana sedang menunggu di ruang tunggu.
"Gimana keadaan ayah tante dan gimana kejadiannya tante," tanya Sahira sambil memeluk tante Ira.
"Ayah masih ditangani dokter di ruang icu. Tadi sewaktu tante membersihkan dapur di rumah ayah, tiba-tiba terdengar suara ayah meraung kesakitan di dalam kamar mandi. Saat tante tanya, ayah tidak menjawab. Sampai tiga kali tante tanya, tidak menjawab juga. Akhirnya tante memanggil bu Dini tetangga ayah. Kemudian suami bu Dini mendobrak pintu kamar mandi dan ayah sudah tidak sadarkan diri dengan posisi duduk bersandar di tembok kamar mandi," jawab tante Ira menjelaskan.
"Apakah ayah ada terpeleset dan terjatuh tante," tanya Zio.
"Kalau tante rasa tidak ada terjatuh. Kalau terjatuh pastinya tante dengar karena tante sedang menyapu di dekat pintu kamar mandi," jawab tante Ira lagi.
Sahira hanya bisa menangis melihat kondisi ayahnya yang tidak sadarkan diri.
Tidak lama kemudian, dokter memanggil keluarga pak Yusuf. Mas Zio dan tante Ira yang masuk ke dalam mendengar penjelasan dokter tentang kondisi ayah Sahira.
Menurut dokter, pecahnya pembuluh darah pak Yusuf yang disebabkan tingginya tekanan darahnya. Memang pak Yusuf mempunyai darah tinggi. Sehingga jalan satu-satunya harus dioperasi hari ini juga.
Setelah keluarga setuju semua, akhirnya operasi dilaksanakan.
Tidak lama kemudian, om Budi adiknya ayah Sahira tiba di rumah sakit bersama istrinya tante Irma.
Om Budi juga sangat terkejut dan bersedih melihat kondisi abangnya seperti ini.
Setelah Zio menelepon kedua orang tuanya, pak Mahendra dan bu Sisu pun segera pergi ke rumah sakit.
"Kamu sudah makan Ra....," tanya mama mertuanya.
"Sahira belum mau makan ma. Dari tadi sudah Zio ajak makan, tapi belum mau," jawab Zio.
"Kamu makan dulu ya sayang. Kasihan baby yang ada di perut kamu," ucap tante Ira sambil membujuk Sahira.
Akhirnya Sahira nurut juga omongan tante Ira. Segera Zio mengajak Sahira pergi ke kantin untuk makan.
***
Selesai makan, Sahira dan mas Zio kembali menuju ke ruang tunggu. Sedangkan ayah Sahira masih di ruang icu tidak sadarkan diri.
"Nanti sore kamu pulang saja ya Hira. Biar om yang menjaga ayah disini," kata om Budi pada Sahira.
"Zio juga jaga disini om, biar Sahira pulang ke rumah mama," ucap Zio pada om Budi.
"Iya Ra....., kamu pulang saja biar mas Zio sama om Budi yang menjaga ayah. Kalau kamu mau tempat tante juga tidak apa-apa. Terserah kamu saja. Besok kita kemari lagi," ucap tante Ira.
Sahira tidak sanggup menjawab, dia hanya bisa menangis merenungi nasib ayahnya.
__ADS_1
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih.