
Perusahaan Konveksi Pak Mahendra.
"Sudah lama kamu sampai Suf," tanya pak Mahendra pada pak Yusuf.
"Baru saja pak," jawab pak Yusuf.
"Oh iya Suf.... anak kamu itu masih gadis apa sudah menikah?" tanya pak Mahendra.
"Masih gadis pak, tapi dalam waktu dekat ini akan dipinang sama pacarnya yang kebetulan satu kerjaan dengan dia," jawab pak Yusuf lagi.
"Memangnya kerja dimana anakmu Suf?" tanya pak Mahendra lagi.
"Kerja di industri sepatu pak. Dia kerja di bagian administrasinya," jawab pak Yusuf menjelaskan.
"Dia tamatan universitas mana Suf?" tanya pak Mahendra lagi.
"Saat dia tamat SMA dan akan kuliah, ibunya sakit parah pak. Ibunya terkena kanker rahim. Jadi semua uang kami, buat biaya operasi ibunya. Tapi yang namanya umur pak, Allah yang menentukan semuanya. Setelah seminggu operasi, ibunya meninggal. Sejak saat itu Sahira bekerja pak membantu ekonomi keluarga," jawab pak Yusuf dengan nada sedih.
"Oh gitu....," jawab pak Mahendra prihatin.
Ternyata kehidupan keluarga Yusuf sangat memprihatinkan, batin pak Mahendra dalam hati.
Perusahaan Industri Sepatu.
Begitu pulang kerja, Arfi buru-buru menjumpai Sahira. Dilihatnya di ruang kerjanya sudah tidak ada. Kemudian ditelponnya Sahira. Ternyata Sahira dan Airin baru saja keluar dari kantor itu. Mereka sudah sampai gerbang pabrik.
Kemudian Sahira menunggu Arfi di gerbang bersama dengan Airin. Tidak lama kemudian, Arfi pun muncul dihadapan mereka dan mengatakan kalau dia baru ditelpon keluarganya dan disuru menyampaikan pada Sahira kalau besok tepatnya hari Minggu keluarga Arfi akan berkunjung ke rumah Sahira. Betapa gembiranya Sahira mendengar kabar itu.
Keesokan Hari.
Hari ini merupakan hari yang paling bahagia buat Sahira. Hari ini keluarga Arfi akan datang ke rumahnya untuk meminangnya.
Persiapan untuk menyambut keluarga Arfi, sudah dipersiapkan Sahira dari semalam sore. Rumah ditata seindah mungkin agar kelihatan lebih menarik dari biasanya. Disetiap sudut ruangan dihiasi dengan bunga-bunga.
Sejak pagi tadi Sahira sudah sibuk di dapur membantu bundanya memasak makanan untuk tamu yang akan datang. Kebetulan hari ini hari Minggu, Sahira libur kerja sehingga dia dapat membantu bundanya di dapur.
__ADS_1
Tepat jam sebelas siang, keluarga Arfi pun tiba di rumah Sahira.
Arfi datang bersama dengan kedua orang tuanya, om dan tantenya dari pihak ayahnya, dan ada dua orang tetangga Arfi yang juga ikut.
Sedangkan dari pihak Sahira, mereka disambut ayah bundanya, dari keluarga ayahnya om Kifli dan istrinya tante Janah, om Dana dan istrinya tante Ira, dan tetangga dekatnya om Budi dan istrinya tante Irma.
Kedua orang tua Arfi kelihatan begitu ramah dan senang dengan Sahira. Begitu juga dengan om dan tantenya, semuanya rama pada keluarga Sahira.
Hanya bu Rangga yang merupakan bunda tirinya Sahira yang kurang rama pada tamunya.
Acarapun segera dimulai. Kedua belah pihak merembukkan kapan pernikahan akan dilaksanakan. Pihak Arfi minta tempo dua bulan lagi acara pernikahan dilaksanakan. Keluarga Sahira menyetujuinya, kecuali bunda tirinya Sahira menginginkan bulan depan dilaksanakan pernikahan.
"Maaf sebelumnya ya bapak ibu. Kami minta tempo dua bulan untuk melangsungkan pernikahan ini. Karena kan banyak yang harus kami persiapan. Mulai dari undangan, perabot dan perlengkapan pengantin, dan masih banyak lagi yang lainnya," kata salah seorang dari keluarga Arfi.
"Kalau memang seperti itu, kami setuju saja pak, bu," jawab om Kifli adiknya ayah Sahira yang merupakan perwakilan dari keluarga Sahira.
"Kalau menurut saya, sebaiknya dipercepat saja. Lebih cepat kan lebih baik," kata bu Rangga bunda tirinya Sahira.
Semua tamu yang hadir di rumah Sahira terkejut mendengar omongan bundanya.
"Maaf pak, ibu.... kami setuju kalau pernikahannya dilaksanakan dua bulan lagi. Karena semuanya harus dipersiapkan jauh sebelumnya. Tidak bisa mendadak begitu saja," ucap ayah Sahira dengan sedikit malu karena omongan istrinya barusan.
Akhirnya telah dapat kesepakatan bahwa pernikahan Sahira dan Arfi akan dilaksanakan dua bulan lagi dari sekarang.
Mengenai biaya untuk pesta, tidak ditentukan berapa nilai nominalnya. Tergantung kemampuan keluarga Arfi. Keluarga Sahira siap menerima berapapun yang diberikan Arfi nantinya. Itulah hasil kesepakatan dari kedua belah pihak.
Untuk mengikat hubungan Sahira dengan Arfi, Arfi memberikan cincin belah rotan pada Sahira. Tujuannya agar Sahira tidak tertarik dengan orang lain. Itu sebenarnya kebiasaan masyarakat zaman dulu, tetapi sampai sekarang banyak juga orang yang melaksanakannya termasuk keluarga Arfi.
Setelah acara selesai, semua tamu dipersilahkan menyantap hidangan yang telah disediakan.
Malam Hari.
Setelah sholat isya, Sahira pun segera masuk kamar untuk pergi tidur. Sebelum tidur, dia memposting foto saat acara pinangan tadi siang di fb. Dia sangat gembira melihat foto-foto kebersamaannya dengan Arfi.
Industri Sepatu.
__ADS_1
Sahira sedang sibuk dengan pekerjaannya. Matanya hanya tertuju pada komputer yang ada di depannya. Yang namanya akhir bulan pasti sibuk menyiapkan laporan keuangan akhir bulan. Sehingga dia tidak sadar kalau hpnya berdering sudah tiga kali. Kebetulan kalau lagi bekerja, Sahira selalu menonaktifkan suara hpnya.
Kemudian diangkat hpnya yang sedang bergetar. Ternyata bunda tirinya menelpon Sahira untuk memberi kabar pada ayahnya kalau adik bundanya baru saja meninggal dunia. Bundanya sudah menelpon ayahnya, tetapi hp ayahnya tidak aktif. Sehingga Sahira disuru bundanya menjumpai ayahnya di kantornya. Kebetulan jarak tempat kerja ayahnya dengan tempat kerja Sahira tidak terlalu jauh.
Kemudian Sahira meminjam sepeda motor Arfi untuk menjumpai ayahnya.
Sesampai di perusahaan konveksi pak Mahendra, Sahira ketemu dengan pak Mahendra yang sedang berjalan keluar gedung dengan buru-buru. Sahira pun menyapanya.
Kemudian Sahira disuru nunggu di ruang tunggu oleh satpam yang menjaga di pintu depan.
Ruang tunggu bagi tamu yang datang sangat indah. Disetiap sudut ruangan diletakkan bunga-bunga hidup sehingga menambah keindahan suasana di ruangan tersebut.
Kemudian dia mendekati salah satu pot bunga yang bunganya sangat cantik. Sahira ingin melihat dari dekat. Setelah dekat, bunga tersebut sempat dipegangnya.
Zio yang saat itu baru mengambil berkas dari ruangan kerja papanya terburu-buru. Papanya sudah menunggu di mobil. Sambil berjalan, perhatian Zio tertuju pada berkas yang dibawanya.
Akhirnya Zio menabrak Sahira yang sedang berdiri memandang bunga. Dengan cepat kilat Zio menarik pinggang Sahira agar dia tidak terjatuh. Tanpa sengaja Zio sudah memeluk Sahira. Begitu pandangan mereka bertemu, betapa terkejutnya Zio saat itu. Dia hanya terdiam dan menatap Sahira dalam-dalam. Sementara berkas yang dipegangnya berserakan di lantai. Zio jadi salah tingkah.
"Maaf pak.... berkas bapak jatuh," ucap Sahira sambil melepaskan pelukannya. Dia tertunduk malu.
"Eh maaf.... saya tidak sengaja. Saya buru-buru," ucap Zio sambil membereskan berkas yang terjatuh.
Sahira juga ikut membantu mengutip berkas yang berserakan di lantai.
"Ini pak...," ucap Sahira sambil menyerahkan sebagian berkas itu.
"Terima kasih mbak," jawab Zio sambil tersenyum.
Kemudian Zio berdiri dan meninggalkan Sahira.
Sambil berjalan keluar, dia memikirkan kejadian yang baru saja terjadi pada dirinya. Ya Allah.... betapa cantiknya anak pak Yusuf. Senyumnya...... matanya...... tidak dapat kulupakan. Kenapa jantungku berdetak tidak karuan. Aku ingin berlama-lama berada disamping gadis itu, batin Zio dalam hati.
- Bersambung -
Jika suka dengan novel ini, beri like and vote ya. Terima kasih....
__ADS_1