Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan

Cintaku Bersemi Karena Keterpaksaan
Sakit


__ADS_3

Saat Zio masuk kamar Sahira, dilihatnya Sahira masih tergolek lemas di tempat tidurnya.


Kemudian Zio mendekati Sahira dan duduk ditepi tempat tidur sambil membawa sepiring nasi.


"Ra....., kamu makan dulu ya," ucap Zio sambil berusaha menyulangi Sahira.


"Mas...., aku mau ke kamar mandi dulu ya," ucap Sahira sambil bergerak akan duduk.


Tetapi karena badannya masih lemas, dia tidak dapat duduk sendiri dan harus dibantu untuk duduk.


"Aku gendong ke kamar mandi ya," ucap Zio pada Sahira.


Dengan sedikit malu, akhirnya Sahira mau juga digendong ke kamar mandi.


"Kamu mau bersih-bersih juga. Kalau mau bersih-bersih biar mas ambilkan baju kamu," tanya mas Zio.


"Tadi sore sudah mas, aku hanya mau pipis saja," jawab Sahira.


Setelah kembali ke kamar, Zio menyulangi Sahira.


"Mas...., aku bisa makan sendiri," ucap Sahira pada Zio suaminya.


"Kamu masih lemas Ra....., kamu juga jangan malu dan segan sama mas, karena mas sudah menjadi suami kamu.


Setelah selesai Sahira makan, Zio pun makan di dapur bersama pak Yusuf.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa kantukpun mulai melanda Zio. Dilihatnya Sahira sudah tertidur nyenyak. Zio ingin tidur, tetapi dia masih segan untuk tidur di tempat tidur bersama Sahira.


Dilihatnya ada ambal kecil di sudut kamar Sahira. Dibentangnya ambal di samping tempat tidur Sahira dan dia pun tidur di ambal.


Ketika Zio akan memejamkan matanya, terdengar Sahira mengigau memanggil nama Arfi. Hati Zio bagai teriris-iris mendengar istrinya mengigau memanggil tunangannya yang sudah pergi dengan wanita lain.


"Ra....., kamu kenapa," ucap Zio sambil memegang pipi Sahita.


Betapa terkejutnya Zio saat memegang pipi Sahira, ternyata panasnya bukan main.


Kemudian Zio memanggil ayah mertuanya. Setelah minta izin dengan ayah mertuanya, akhirnya Sahira dibawa ke rumah sakit.


Karena sudah larut malam, maka Zio sendirilah yang membawa Sahira ke rumah sakit.


"Ayah di rumah saja. Biar Zio yang membawa Sahira ke rumah sakit," ucap Zio pada ayah mertuanya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sahira tidur saja di mobil. Dia setengah sadar, sehingga tidak tau akan dibawa kemana.

__ADS_1


Tepat jam dua belas malam, Sahira sampai di rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit, Sahira langsung dimasukkan ke ruang UGD. Setengah jam kemudian baru dimasukkan ke ruang perawatan. Sengaja Zio memilih ruang perawatan yang vip supaya Sahira bisa lebih tenang.


"Mas...., aku dimana?" tanya Sahira saat masuk ruang perawatan.


"Kamu opname di rumah sakit. Badan kamu panas sekali, makanya mas bawa kemari," jawab Zio sambil mengelus-ngelus kepala Sahira.


"Ayah mana mas...," tanya Sahira lagi.


"Ayah besok baru kemari. Karena sudah larut malam, ayah tidak mas izinkan ikut," jawab Zio lagi.


"Mas....., aku haus," ucap Sahira pelan.


"Bentar ya mas ambilkan minum," jawab Zio sambil berjalan mengambil minum.


Kemudian Zio mengangkat badan Sahira setengah duduk supaya bisa minum.


Setelah Zio meletakkan gelas bekas minum Sahira, Zio pun duduk di kursi disamping Sahira sambil mengelus-ngelus kepala Sahira. Tidak lama kemudian Sahira pun tertidur.


Dilihatnya Sahira sudah tertidur, Zio pun menidurkan kepalanya di samping Sahira dengan posisi badannya tetap duduk dikursi.


***


Kemudian Zio memberi kabar pada mama papanya kalau Sahira masuk rumah sakit.


Selesai sholat subuh, Zio mendekati Sahira lagi. Dipandanginya Sahira yang sedang tertidur nyenyak.


Saat Sahira terbangun, dilihatnya Zio masih asik memadangnya. Sahira pun terkejut.


"Kenapa mas Zio memandang aku seperti itu," tanya Sahira ketus.


"Kamu sangat cantik Ra....., aku sangat bersyukur telah mendapatkan kamu," jawab Zio sambil menggenggam tangan Sahira.


Kemudian Sahira menarik tangannya, tetapi Zio semakin erat menggenggamnya.


"Mas lepaskan....," ucap Sahira sedikit malu.


"Kenapa, apa tidak boleh?" tanya Zio.


"Kita di rumah sakit mas.....," ucap Sahira lagi.


Tiba-tiba pintu diketuk suster. Dengan cepat Zio melepaskan genggamannya, sedangkan Sahira kelihatan malu.

__ADS_1


"Saya ukur panasnya ya mbak," ucap suster pada Sahira.


"Gamana hasil laboratorium tentang penyakit istri saya sus, sudah dapat hasilnya?" tanya Zio pada suster.


"Nanti saat dokter visit akan diberi tau hasilnya pak," jawab suster sambil keluar kamar.


***


Setelah mama papa Zio membaca wa dari Zio, merekapun segera beres-beres untuk pergi ke rumah sakit.


"Kasihan Sahira ya pa. Anaknya cantik, tapi nasibnya tidak secantik wajahnya," ucap mama Zio prihatin.


"Tidak boleh ngomong seperti itu ma. Semua musibah yang kita dapat pasti ada hikmahnya dibalik itu," ucap papa Zio.


"Kita pergi sekarang pa," ajak bu Sisu pada suaminya.


"Pergi sekarang masih terlalu pagi. Belum waktunya jam besuk. Bentar lagi saja ma," ucap pak Mahendra.


***


Saat dokter masuk dan memeriksa Sahira, Zio langsung menanyakan penyakit istrinya.


"Berdasrkan hasil Laboratorium, istri bapak terkena tipus. Jadi harus istirahat total. Tidak boleh capek," kata dokter menjelaskan.


Zio hanya terdiam dan merenung setelah dokter keluar.


Kasihan sekali Sahira. Begitu banyak masalah yang dihadapinya. Ayahnya terlilit utang karena ibu tirinya, sekarang dia harus menghadapi penyakitnya. Ini semua tentu akan menguras pikirannya.


"Mas, maafkan aku ya. Aku sudah merepotkanmu. Baru menikah kamu sudah kubuat repot," ucap Sahira.


"Ssstt...., jangan ngomong seperti itu sayang. Mas ikhlas merawat kamu sampai kamu betul-betul sembuh. Semua mas lakukan karena mas sangat mencintai kamu," ucap Zio sambil mengecup kening Sahira.


"Kenapa mas bisa ngomong seperti itu. Bukankah mas sudah punya pacar? Mas juga mau menikahi aku untuk menebus utang ayahku kan. Dengan mas menikahi aku, berarti utang ayahku lunaskan?" tanya Sahira pada Zio.


"Terserah tanggapan kamu seperti apa. Yang terpenting, sejak pertama sekali mas ketemu kamu di pesta pernikahan Afgan, mas jatuh hati padamu Ra.... Sejak itu mas selalu memikirkanmu. Mas sudah berusaha untuk melupakanmu, tetapi tidak bisa juga. Begitu semalam mas disuru menggantikan Arfi, mas senang sekali. Mas berharap suatu saat kamu akan bisa menerima mas seperti kamu menerima Arfi," jawab Zio menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang marah, -marah di mall waktu itu mas?" tanya Sahira ingin tau.


"Sebelum mas jatuh hati sama kamu, mas memang sudah bosan sama dia. Setelah kami bertunangan, sifat aslinya kelihatan. Mas tidak suka dengan sifat dia yang terlalu mengatur," jawab Zio lagi.


Sahira terdiam dan merenung. Apakah mas Zio benar-benar mencintai aku? Apa kelebihanku dibanding mantan tunangannya. Bukankah dia jauh lebih cantik dari aku. Mungkin saja mas Zio tipe laki-laki playboy. Aku tidak bisa sepenuhnya percaya dengan omongan mas Zio, ucap Sahira dalam hati.


- Bersambung -

__ADS_1


Jika suka dengan novel ini, like and vote ya. Terima kasih.


__ADS_2